Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 50


Setelah pembahasan selesai, mereka keluar dari kamar menuju meja makan.


"Meka, buat sarapan apa kamu nak?" tanya Tantenya bermanis-manis.


"Eh Tante, ini Meka buatin nasi goreng untuk kita sarapan," jawab Meka saat mendengar suara Tantenya.


"Harum nasi gorengnya, biar Tante siapkan ya semuanya kedepan."


"Iya Tante, makasih ya Tante udah bantuin Meka," ucap Meka tulus.


"Iya...."


Lalu keluarga yang lainnya juga datang, ada adik Papanya beserta suami dan salah satu anaknya, dan sepupu Meka dari Omnya.


"Meka pergi panggil Papa kamu sama Dosga kamu biar sarapan bareng," Tantenya menyuruh Meka kekamar Papanya.


"Iya Tante, Meka panggilkan dulu ya." Meka pergi berlalu dari hadapan mereka semua menuju kamar Papanya.


"Tok tok tok. Pa..,Meka masuk ya?" tanya Meka dari luar.


"Masuk aja nak," jawab Papanya.


Meka pun masuk kedalam kamar Papanya dan melihat Papanya sedang menatap bingkai foto Mamanya.


"Pa, ayo kita sarapan. Udah ditungguin sama yang lainnya. Meka juga udah masakan nasi goreng buat Papa," ucap Meka sambil duduk disamping Papanya.


"Papa kangen sama mereka Meka..Papa belom sempat ketemu Mama kamu dan adik kamu saat itu. Rasanya Papa masih belom bisa merelakan mereka nak," ucap Papanya dengan wajah sedihnya.


"Pa, gak boleh rapuh begitu. Kalau Papa rapuh, gimana dong dengan Meka. Siapa yang membuat Meka bersemangat lagi Pa untuk menjalani kehidupan ini?" tanya Meka yang ikut bersedih.


"Maafin Papa ya nak, kamu jadi ikutan sedih lagi. Ya sudah sekarang yuk kita sarapan. Kamu udah kasih tau Zain untuk sarapan, Meka?" tanya Papanya.


"belom Pa, setelah ini Meka akan kekamar Pak Zain untuk ngajak sarapan. Sekarang kita keluar yuk Pa. Nantikan kita mau pergi ke Pemakaman Mama dan Biyu. Jadi Papa sarapan dulu ya," Meka mengingatkan Papanya akan kegiatan hari ini.


Mereka berdua keluar dari dalam kamar. Papanya berjalan kearah meja makan dimana sudah berkumpul keluarga dari Papanya. Sedangkan Meka berjalan kearah kamarnya Zain.


"Tok tok tok, Pak...!" panggil Meka.


"Pak Zain sudah bangun belom?" tanya Meka karena tidak ada sahutan.


Lalu pintu kamar terbuka lebar dan memperlihatkan sosok Dosganya yang tampan sekali saat bangun pagi.


"Pak Zain baru bangun tidur ya?" tanya Meka saat melihat wajah Dosganya.


"Tadi sudah bangun subuhan, habis tuh tertidur balik," jawab Zain cuek.


"Udah, Pak Zain cuci mukanya gih biar sarapan. Udah ditungguin itu sama Papa," ucap Meka yang meminta Zain segera bersihin wajahnya.


"Kamu gak mau masuk kedalam, bantuin aku buat cuci wajahku?" ucap Zain yang masih sempatnya menggoda Meka dipagi hari.


"Jangan aneh-aneh deh Pak disini, buruan gak enak sama yang lainnya ditungguin sarapan," celetuk Meka.


"Iya sayang, aku cuci muka dulu ya."


Lalu Meka menyusul Papanya gabung dengan keluarga yang lainnya. Dimeja makan, Meka melihat sepupunya yang centil itu berdandan sangat cantik pagi ini.


"Kamu mau kemana, rapi begitu penampilannya," celetuk Meka tiba-tiba.


Sepupunya mendongak menatap kearah Meka.


"Oh...gak kemana-mana Meka. Hanya ingin rapi aja pagi ini," kilahnya.


"Tumben rapi banget," balas Meka.


"Ya lagi pengen aja sih Meka. Biar enak dipandang mata," sindir sepupunya terhadap Meka. Karena tampilan Meka biasa saja tidak seperti sepupunya yang sudah wangi dan rapi.


"Oh...., baguslah kalau ada perubahan yang positif. Aku akan Eris mendukungmu," ucap Meka tersenyum.


Lalu Zain datang dengan penampilan yang nyantai. Dia memilih duduk disamping Meka dan Papanya Meka.


"Iya Om," sahut Zain yang mulai mengunyah nasi gorengnya. Seketika Zain merasa takjub dengan rasa dari nasi goreng buatan Meka. Rasanya benar-benar enak.


"Kenapa Pak Zain?" tanya Papanya Meka bingung melihat ekspresi Zain.


"Rasanya enak banget Pak. Saya suka banget nasi gorengnya," Zain memuji Meka yang pinter masak. Dia menoleh kearah Meka. Namun yang dilihat, biasa saja.


"Oh..syukurlah, saya kira Pak Zain tidak suka. Ayo dilanjut Pak," balas Papanya Meka.


"Iya Om."


Suasana di meja makan hening, mereka menikmati nasi goreng buatan Meka. Hingga Abang dari Papanya membuyarkan keheningan diantara mereka.


"Dek, habis sarapan mungkin Abang akan pergi sebentar keluar. Abang ada perlu," ucap abangnya.


"Oh..Abang mau kemana?" tanya Papanya Meka.


"Ada perlu aja dek, Tapi Abang hanya sendiri. Kakakmu tinggal dirumah," jelas Abangnya.


"Papa nanti hati-hati dijalan ya. Jangan lama-lama pulangnya," istri Abangnya memberi perhatian palsu terhadap suaminya didepan semua orang.


Lalu mereka melanjutkan menikmati sarapan paginya. Setelah selesai, Papanya Meka serta Zain bersiap-siap untuk pergi ke Pemakaman menemui kuncen perkuburan itu.


"Sayang, nanti kalau aku udah selesai, aku akan kekamar kamu ya," ucap Zain.


"Iya Zain. Aku siap-siap dulu ya. Aku tunggu kamu dikamar aku. Karena ada yang ingin aku sampaikan nanti."


Zain pun mengangguk mengiyakan permintaan Meka. Dia masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap. Sedangkan Meka mengantar Papanya terlebih dahulu kekamarnya untuk bersiap. Kemudian dia kembali ke kamarnya untuk bersiap juga.


Selang beberapa menit mereka melakukan persiapan, Zain mendatangi Meka dikamarnya. Dia tidak mengetuk pintu kamar Meka. Tapi dia langsung nyelonong masuk kedalam kamar Meka. Zain melihat Meka sudah siap dan sedang merapikan tempat tidurnya.


"Sayang, kamu udah siap?" tanya Zain.


"Sudah Zain. Duduklah disini, aku mau bicara," pinta Meka.


Zain melangkah menghampiri Meka dan duduk disamping Meka.


"Ada apa sayang? Kamu mau bicara tentang apa?" tanya Zain yang menatap Meka dengan lekat.


"Zain, kemaren malam saat aku tertidur didepan pintu depan, apa ada orang lain yang mengetahuinya?" tanya Meka penasaran.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Zain lagi.


"Aku gak mau yang lain merasa aneh denganku. Kamu kan ingat perkataan Papaku, bahwa jangan ada yang mengetahui aku memiliki khodam dan kelebihan, karena itu bahaya buatku," Meka berusaha mengingatkan Zain kembali.


"Iya sayang, aku ingat kok pesan Papa kamu waktu itu. Tapi memang tidak ada kok yang ngelihat aku menggendong kamu masuk kedalam kamarmu. Mereka semua sudah pada terlelap,"


"Oh syukurlah Zain. Ya sudah, sekarang kita kekamar Papa, biar cepat menemui kuncen itu. Aku penasaran dengan apa yang akan disampaikannya," ucap Meka penasaran.


Zain menuruti perkataan Meka dengan bergegas kekamarnya Papa Meka.


Saat mereka berjalan kearah kamar Papanya, ternyata Papa Meka baru saja keluar kamar dan melihat kedatangan anaknya.


"Loh, Papa baru aja mau kekamar kamu nak!" ucap Papanya sembari berjalan kearah mereka berdua.


"Gimana Pa, sudah siap mau kesana?" tanya Cha berharap Papanya siap untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan kuncen itu.


"Iya ,Papa siap kok nak, yuk bernagakt," ajak Papanya.


Mereka bertiga keluar dari dalam rumah dan masuk kedalam mobil. Zain yang menyetir mobil duduk bersama Papanya Meka. Sedangkan Meka duduk sendirian dibelakang.


"Kira-kira apa yang mau disampaikan kuncen kuburan itu ya Meka?" tanya Papanya lagi.


"Meka juga gak tau Pa, tapi begitulah pesannya kemaren terhadap kami, ya kan Pak Zain?" tanya Meka terhadap Dosganya.


"Iya Om, kami juga bingung kemaren kenapa tiba-tiba ada kuncen Pemakaman yang ingin ngobrol dengan keluarga Meka. Pasti ada yang serius Om," jelas Zain.