
Rombongan Ustadz Ahmad sebentar lagi akan sampai di pelataran belakang rumahnya.
"Kita hampir sampai," ucap Ustadz Ahmad memberitahu.
"Saya merasakan aura iblis itu berada di sini. Meka...," Kakek tua memikirkannya.
"Apa....Meka?" tanya Papanya bingung. "Oh ya ampun bagaimana dengan anakku di rumah itu?!" seru Papanya Meka yang bertambah gelisah.
Mereka yang ada di dalam mobil merasa gelisah memikirkan Meka di rumah itu. Saat ini Kakek tua saat ini tidak bisa mendeteksi keberadaan Meka. Karena Rudy sudah menyamarkan aura dan aroma Meka dari mahluk ghaib dan mereka yang memiliki kelebihan tinggi.
"Maaf saya tidak bisa merasakan keberadaan Meka di sana bagaimana," sesal Kakek tua.
"Ustadz, ayo cepat kita harus segera sampai di sana," Kakek tua pun ikut gelisah.
Akhirnya mereka sampai di belakang rumah Ustadz Ahmad.
"Ayo, kita masuk ke dalam," Papanya Meka tidak mau membuang waktunya. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan duluan meninggalkan yang lainnya. Karena rasa khawatir yang cukup besar, dia melupakan sesuatu.
Papanya Meka tidak menggunakan alas kaki saat berjalan. Karena saat di dalam mobil dia melepaskan sandalnya sementara. Namun ketika sampai, dia lupa untuk menggunakannya kembali.
Tidak ada yang menyadarinya sampai semuanya sudah berada di belakang pintu rumah Ustadz Ahmad.
"Buka Bu pintunya, cepat," suruh Ustadz Ahmad.
Istri Ustadz Ahmad buru-buru mengambil kunci pintu belakang rumah mereka. Setelah kunci dapat, dia segera membukanya.
"Alhamdulillah, ayo kita masuk," ajak Ustadz Ahamd.
Mereka semua masuk ke dalam rumah itu. Sesampainya di dalam Papanya Meka tidak menemukan keberadaan Meka di ruangan itu. Dia pun panik dan berlari ke sana sini mencari Meka.
"Meka nak..., dimana kamu?!" teriak Papanya Meka.
Semua orang sibuk mencarinya. Lalu Kakek tua memusatkan pikirannya dan mulai berkonsentrasi.
"Namun dia tidak bisa merasakan keberadaan Meka di rumah itu juga.
Lalu Papanya Meka frustasi karena kehilangan anaknya dan dia berteriak. "Hei jin.....kau bawa kemana anakku...!" teriaknya dengan wajah memerah karena amarahnya.
Sang Khodam pun muncul di hadapan mereka. Dia menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Meka sudah kembali ke Istana jin. Rudy sudah membawanya saat iblis itu lengah tadi. Dia mengambil kesempatan itu untuk menyelamatkan Meka. Dan aura serta aroma tubuh Meka sudah di samarkan sehingga iblis dan mahluk ghaib lainnya serta kalian yang memiliki kemampuan tinggi tidak bisa mendeteksi keberadaan Meka," jelas Khodam itu.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu semua menjadi tenang," balas Ustadz Ahmad.
Tiba-tiba suara gemuruh terdengar di atas atap rumah Ustadz Ahmad.
"Apa itu, apa mau turun hujan?" tanya Papanya Meka.
"Bukan, iblis itu mengeluarkan kekuatannya untuk menekan aura panas hingga masuk ke dalam rumah ini. Itu untuk membuat Meka kegerahan seperti orang kesurupan sehingga Meka akan keluar dari dalam rumah. Tapi iblis itu tidak tau, Meka sudah tidak ada di sini. Kalian bersiaplah menerima amukan iblis itu jika dia tau tumbalnya hilang dua-duanya," ungkap Khodam itu.
Suara gemuruh diatas atap rumah itu membentuk awan hitam yang hanya bisa di lihat oleh mahluk ghaib. Mahluk-mahluk ghaib yang ada di sekitar rumah itu ketakutan dan menjauh dari sana. Karena aura panas itu bisa menghanguskan mahluk ghaib yang ada di gumpalan awan hitam.
"Lebih baik kalian berdo'a. Aku tidak bisa berada di sini. Karena awan itu sangat berbahaya untukku," ucap Khodam itu.
"Apa yang akan terjadi ketika iblis itu menyadari kalau Meka tidak ada?" tanya Ustadz Ahmad.
"Dia tidak akan bisa melakukan apapun dengan kalian, karena aku sudah memberikan pagar ghaib sekitar rumah ini dengan lebih kuat," ucap Khodam itu lagi.
Mereka bertiga mengangguk mengerti dengan ucapan sang Khodam.
"Lebih baik kita menjalankan Sholat berjama'ah sekarang. Karena ini sudah masuk Dzuhur," ajak Ustadz Ahmad.
"Ustadz benar, mari," balas Papanya Meka.
Awan hitam itu terus menggumpal memperlihatkan warna pekatnya yang akan menghisap mahluk ghaib yang berada di bawahnya.
Hingga sejam lebih, tidak ada yang keluar dari rumah itu. Iblis pun merasa heran. Kekuatannya sudah mulai berkurang, dia tidak mungkin mengeluarkan lebih besar kekuatannya.
Akhirnya iblis itu menyerah. Karena amarah dalam dirinya memuncak akibat tidak mendapatkan janin Meka, iblis itu menghempaskan awan hitam pekat itu ke atap rumah Ustadz Ahmad.
Suara benturan keras dan gempa lokal terjadi di rumah Ustadz Ahmad.
"Astaghfirullahal'adzim....," ucap si Nenek karena merasakan gempa lokal.
"Ustadz, ini gempa?" tanya istrinya.
"Ini bukan gempa, melainkan kekuatan besar yang terbentuk dari amarah iblis itu," jawab Kakek tua.
"Sepertinya iblis itu mengetahuinya," ucap Kakek tua lagi.
"Apa kita bisa melihat keluar?" tanya Ustadz Ahmad.
Tiba-tiba angin kencang berhembus di atas atap rumah Ustadz Ahmad.
"Ini belum berakhir," ucap Kakek tua memberitahu.
Angin kencang itu menghantam rumah Ustadz namun tidak bisa menembus pembatas pagar ghaib. Iblis itu semakin ngamuk.
"Aawaas kaauu.......maanuusiiaa...aakuu aakaan meendaapaatkaanmuu....!" teriak iblis itu dengan amarah yang besar.
Di dunia ghaib, Rudy dan Khodamnya Meka menyaksikan kejadian di alam nyata melalui cermin besar milik Rudy.
"Iblis itu sangat menginginkan bayi dalam perut Meka. Aku tidak bisa mengembalikan Meka ke alam nyata. Walaupun dia masih memiliki darah manusia, tapi itu akan membahayakannya," ucap Rudy sambil melihat perbuatan iblis itu.
"Berapa lama lagi dia akan melahirkan bayi itu?" tanya Khodam Meka.
"Meka akan lebih cepat melahirkan dibanding manusia normalnya," jawab Rudy. "Bagaimana dengan laki-laki itu? Kenapa dia tidak bisa menerima keadaan Meka? Bukankah dia sangat mencintai Meka?" tanya Rudy lagi.
"Aku juga tidak tau apa yang ada dalam pikirannya. Tapi sepertinya saat ini hatinya mulai mendua karena kebimbangan," jawab Khodam itu.
"Hah, laki-laki tak bertanggung jawab. Setelah Meka memberikan hatinya dengan tulus, dia justru tak mau menerima Meka apa adanya. Aku khawatir Meka akan sangat terluka," Rudy sangat memikirkannya.
Khodam itu juga memikirkan hal yang sama. Meka akan sangat terluka jika laki-laki itu benar-benar meninggalkannya. Khodam itu tidak bisa menyesali apa yang sudah dilakukannya. Dia memang egois karena mengorbankan perasaan dan hidup Meka.
"Apakah karena bayi itu kau mengorbankan kehidupan dan hati Meka?" tebak Rudy yang menatap tajam ke arah sang Khodam.
Khodam itu membalas tatapan Rudy tanpa daya. Lalu dia menunduk dan menganggukkan kepalanya dengan rasa bersalah.
Tanpa di duga, Rudy langsung menyerang sang Khodam dengan melemparkan bola berwana biru ke arahnya.
Khodam itu kaget dan tidak bisa menghindarinya hingga dia terhempas ke tembok. Lalu Rudy mengarahkan tangannya hingga sinar berupa tali mengikat Khodam itu hingga terangkat ke udara.
"A--apa yang kau lakukan....!" bentak Khodam itu dengan suara tercekat.
"Kau sudah menghancurkan Meka....!" balas Rudy yang mengamuk.
"Tu--turunkan aku, ini sakit. Tolong lepaskan," ucap Khodam itu yang sudah melemah.
Tali itu tidak hanya mengikat leher sang Khodam, namun juga melemahkan kekuatan sang Khodam. Rudy tidak ingin memusnahkan Khodam itu. Dia hanya memberinya pelajaran. Lalu dia menurunkan Khodam itu.
Rudy berjalan menghampirinya dan berjongkok di hadapan Khodam.
"Aku harap kau akan menjelaskannya setelah kelahiran bayi Meka. Dan lepaskan Meka," pintanya.
Sang Khodam menyunggingkan senyumnya dalam kesakitan. "Kau benar-benar keturunannya. Kekuatanmu tak di ragukan lagi. Kau pantas bersama Meka dan melindunginya," puji Khodam itu dengan tulus.