
Meka masih tak habis pikir dengan apa yang di perintahkan Khodamnya itu. Bagaimana bisa Khodamnya menyuruh pemuda bernama Rudy bisa membantu Meka dan Kakek tua. Meka tidak tau bahwa ada yang tersembunyi di dalam ucapan Khodamnya.
Kemudian Meka dan Kakek tua mulai duduk diantara kumpulan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Ustadz, bisa kita laksanakan sekarang?" tanya Khodamnya.
"Baik, kami sudah siap untuk membantu menyelesaikan semua ini," jawab Ustadz Ahmad dengan yakin.
"Hei pemuda, kau bisa ikut serta dengan mereka. Sekarang duduklah disamping Meka," suruh Khodamnya.
Semua yang ada dalam ruangan itu bisa melihat kehadiran Khodamnya Meka dalam wujud manusia.
"Kenapa saya harus ikut, apa yang akan mereka lakukan?" tanya pemuda yang bernama Rudy. "Saya tidak mau!" serunya.
"Kau harus mau, karena ini sudah jalannya. Kau yang ingin ikut mengaji. Dan itu sudah menjadi jalanmu untuk membantu mereka," sahut Khodamnya dengan mata yang tegas.
Rudy bukannya takut, dia justru menantang tatapan dari Khodamnya Meka.
"Saya tidak mengenal mereka. Dan saya tidak punya urusan dengan apa yang mereka hadapi," tegas Rudy.
Mereka yang ada di situ menjadi tegang melihat perdebatan antara Rudy dan Khodamnya Meka.
Meka menarik nafas beratnya dan menatap ke arah pemuda itu. Lalu dia mendekat dan berkata
"Kau memang tidak tau masalah apa yang aku hadapi. Tapi ini sangat membantu untukku. Apakah kau tidak mau membantuku untuk menyelesaikan masalah yang banyak manfaatnya," ucap Meka dengan menjelaskannya.
Ntah kenapa Meka memberanikan dirinya untuk mendekati laki-laki itu. Dia tidak menyadari tatapan dari Zain yang menatapnya dengan tajam.
Rudy yang memang sudah terpesona dengan Meka dan ntah kenapa dia tidak bisa menolak permintaan Meka. Dia merasa terpanggil untuk menemani Meka menghadapi masalah ini.
"Baiklah, aku akan membantu mereka," balas Rudy.
Kemudian Rudy berjalan ke arah tengah dimana Kakek tua sudah duduk bersila di tengah-tengah kumpulan orang-orang yang mengaji.
Begitu juga dengan Meka, dia berjalan di belakang Rudy dan mulai duduk bersila disamping Rudy dan Kakek tua. Mereka bertiga sudah duduk bersila.
"Baik, sekarang pejamkanlah mata kalian dan berkonsentrasi lah. Saya akan menuntun kalian ke rumah dukun itu. Masalah iblis itu urusan saya. Karena dia bukan tandingan kalian. Tugas kalian hanya menghancurkan ritualnya saja dan memusnahkan dukun itu," terang Khodamnya Meka.
"Kami mengerti," jawab mereka bertiga.
Kemudian ketiganya memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi. Hingga dalam hitungan menit, jiwa mereka lepas dari raganya. Meka dan Kakek tua sudah membiasakan dirinya untuk melihat tubuh mereka sendiri.
Sedangkan Rudy masih syok dan kaget melihat dia melayang dan terpisah dari tubuhnya.
"I--itu tubuh saya kan?" tanya Rudy yang masih tak percaya.
"Iya benar, sekarang kamu sedang tidak bersatu dengan tubuhmu," jawab Meka.
Kakek tua sepertinya bisa menebak kenapa Rudy ikut membantu Meka. Namun itu hanya pikirannya saja. Benar atau tidaknya dia tidak bisa memastikannya.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Rudy yang sedikit rewel.
"Kamu ikutin saja saya," jawab Meka yang sedikit kesal dengan Rudy yang banyak bertanya.
Kakek tua hanya senyum-senyum melihat kedekatan mereka berdua.
Sementara Zain yang melihat ketertarikan Rudy terhadap istrinya menjadi tidak suka. Dia pun mulai kepikiran tentang kepergian mereka. Zain mulai cemburu melihat Rudy yang membantu Meka. Tapi demi masalah ini cepat selesai, dia memendam rasa cemburunya.
Sedangkan mereka yang ada di ruangan itu masih mengaji dan semakin fokus. Mereka duduk berdekatan karena malam ini tepat sudah bulan purnama dimana iblis itu melancarkan aksinya.
Suara longlongan anjing mulai terdengar di luar rumah Ustadz Ahmad. Tak hanya itu gangguan-gangguan mulai terdengar kembali.
Namun karena mereka teringat pesan Ustadz Ahmad untuk tidak menghiraukan apapun yang terjadi, mereka melanjutkan mengajinya.
Namun itu hanya sementara, gangguan terjadi kembali di rumah itu.
"GUBRAK," suara pintu di dobrak dari luar berulang kali. Hingga membuat jantung orang yang berada di ruangan itu hampir copot dari tempatnya.
"Astaghfirullahal'adzim...., apa itu Ustadz?" teriak muridnya bersamaan. Mereka sedikit menciut nyalinya saat mendengar pintu di dobrak dengan sangat keras.
Ummi dan Nenek kembali ketakutan. Mereka berdua saling berpegangan tangan.
"Nek, kok keadaannya semakin mencekam seperti ini ya, saya agak merinding nih nek. Apa Nenek gak merasakan hawa disini sangat tidak nyaman?" tanya Ummi.
"Iya, Nenek juga merasakannya. Udara disini semakin dingin Nenek rasakan," jawab Nenek tua.
Keduanya menoleh ke arah pintu dengan wajah yang sedikit cemas. Mereka tak tenang mengaji, pikiran keduanya masih ke arah pintu rumah itu.
Sementara di alam ghaib, Meka dan Kakek tua beserta Rudy sekarang sudah berada di dekat rumah dukun itu. Mereka melihat begitu banyak penjaga mahluk ghaib berwujud genduruwo.
"Gimana ini kek, disana banyak banget genduruwo dan mahluk lainnya. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Meka yang masih menunggu perintah Khodamnya Meka.
"Nak Meka dan nak Rudy bisa berjalan ke sana mendekati rumah kecil itu. Buat mahluk itu pecah konsentrasi hingga yang menjaga pintu rumah itu terkecoh dengan kehadiran kalian. Begitu mereka mendatangi kalian, saya akan masuk ke dalam dan menyerang dukun itu," ucap Kakek tua menjelaskan.
"Bagaimana mungkin Kakek menghadapi dukun itu sendirian?" tanya Meka bingung.
"Kamu tenang Meka, saya yang akan menghancurkan dukun itu. Sedangkan iblis itu urusan Khodamnya kamu. Jadi lebih baik sekarang kalian jalani apa yang saya suruh," jawab Kakek tua.
Rudy menoleh ke arah Meka dengan wajah tenangnya. Dia tersenyum menatap Meka.
Meka yang ditatap menjadi salah tingkah. Dia tidak menyangka Rudy membuatnya sedikit canggung.
"Ayo Meka kita jalani apa yang di suruh Kakek tua ini," ajak Rudy.
"Ta--tapi gimana kita menghadapi mahluk-mahluk itu? Kamu tidak memiliki kekuatan. Dan saya juga tidak mampu menghadapi mahluk-mahluk itu," seru Meka protes.
"Kamu jangan khawatir Meka, nak Rudy yang akan membantu kamu," balas Kakek tua.
Meka masih berpikir, kenapa laki-laki ini akan melindunginya. Tapi Meka harus tetap menjalaninya karena ini sudah jalannya.
"Baik, ayo kita berjalan ke arah sana. Dan memancing mahluk-mahluk kelaparan itu menoleh ke arah kita," ajak Meka yang akhirnya menerima tugas ini.
"Kami akan kesana kek. Berhati-hatilah, karena dukun itu sekarang sedang melakukan ritualnya. Dan ini kesempatan kita untuk menghentikannya," balas Rudy.
"Baik, kita jalankan masing-masing tugas kita, berhati-hatilah," ucap Kakek tua itu juga.
Kemudian mereka mulai menjalankan tugasnya masing-masing. Meka dan Rudy mulai berjalan santai ke arah rumah itu. Mereka berpura-pura tidak melihat adanya mahluk-mahluk ghaib disekitar rumah itu.
Genduruwo-gendueuwo itu terkejut melihat kehadiran kedua jiwa yang tersesat.
"Siiaaapaaa kaaliiiaaan.....!" bentak genduruwo itu yang berada di halaman rumah itu.
Namun Meka dan Rudy berpura-pura tak mendengar apa yang diucapkan genduruwo itu. Hingga mahluk lainnya mengepung mereka berdua.
"Hahahaha, kiiitaaa aadaaa saantaapan maalaaam...!" ucap mahluk lain yang berupa siluman.
"Aaayooo kiitaa taangkaap...! Iinii maaakaaanaan leezaaat," balas genduruwo.
Keduanya masih berpura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan mahluk-mahluk jelek itu. Mereka terus melangkah tanpa menghiraukan keberadaan mahluk itu. Hingga salah satu genduruwo itu menarik tangan Meka dengan keras sampai Meka tertarik ke arah genduruwo itu dan..