Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 99: Adek


Perawat memberikan salep memar untuk kening nya Nurul, pendarahan di hidung nya juga sudah di obati dan berhenti.


"kamu sih.. nggak hati hati"


ucap Vino.


"Nur kan mau kasih handphone bapak"


"ya tidak usah lari lari juga..


udah tau lantai nya licin"


"ya Nur takut bapak keburu pergi"


"pergi kemana,orang saya mau ngerokok doang ke luar"


"ya mana Nurul tau pak"


"lain kali kalau ngejar orang liat liat tempat"


"iya Nurul salah sih,orang yang di kejar padahal nggak kemana mana. malah Nurul yang nyungsep" ujar nya sambil tertawa geli,hanya karena ia khawatir Vino pergi tanpa ponsel nya ia sampai babak bundas begitu.


Vino langsung terdiam mendengar kata kata Nurul yang sangat bermakna bagi nya. ia memandangi Nurul dengan tatapan penuh penghayatan.


"ke..napa pak?"


Nurul heran karena Vino tiba tiba bersikap aneh.


"saya suka sama seseorang,tapi orang itu nggak sadar sadar kalau saya suka dia.


kalau kamu jadi saya rem atau gas?" Vino mulai melancarkan simulasi nya untuk mendapatkan kisi kisi.


mau nembak langsung Nurul masih terlalu muda dan kalau sampai di tolak Vino bisa kena mental luar dalam.


Butuh waktu untuk Nurul mengerti alur yang tiba tiba berubah ini.


"kok tiba tiba keluar dari jalur pak?"


Vino: "jawab saja..."


Nurul: "mm..gas mungkin..


aduh nggak paham Nur yang gitu gitu pak. terserah bapak aja"


Vino: "kira kira apa yang membuat orang itu belum peka sama saya?"


Nurul: "dia masih muda?"


Vino: "masih.."


"mungkin karena bapak udah tua..hahahhahaha"


Nurul tertawa terbahak bahak melihat ekpresi Vino yang langsung berubah.


"ssshhh! serius Ran..."


Vino terlihat frustasi mendengar jawaban Nurul.


"hahahahahah ......


ya mana Nur tau pak,hati orang kan beda beda.


kalau bapak mau jawaban serius tanya aja langsung sama orang nya,ngapain tanya Nurul"


saran dari Nurul tampak nya perlu di coba,tapi Vino belum siap jika harus mendapatkan penolakan dari gadis pujaan hati nya.


"iya saya belum tanya langsung sih,


kalau kamu sendiri suka nggak sama saya?"


"suka lah.. kan kita saudara"


sahut Nurul enteng.


Jlebbbb🔪🔪


Vino langsung mati kata mendengar jawaban Nurul. kalau sudah begitu anggapan nya akan semakin susah bagi Vino untuk memenangkan hati Nurul.


...~~~~...


Di sisi lain..


karena Vino tak kunjung datang,Zey yang sudah sangat lapar terpaksa keluar. ia berjalan kaki ke toserba terdekat untuk membeli mie instan.


sedari tadi ia mencoba menelpon Vino,namun nomor nya tidak aktiv karena ponsel Vino mati saat kebanting oleh Nurul tadi.


Biasa nya Zey menelpon layanan delivery,namun restaurant tempat Zey memesan makanan satu satu nya itu sedang tidak buka.


kalau dia keluar dan sampai ada orang yang lihat,habis lah diri nya pasti di bully orang orang dan di geruduk wartawan.


Namun kali ini seperti nya ia harus keluar karena tak ada seorang pun yang bisa di mintai tolong.


Zey memakai topi,kacamata dan juga masker agar tidak ada orang yang mengenali nya.


"semoga tidak ada orang yang menyadari penyamaran ku" gumam nya,dengan penuh keyakinan ia pun keluar dari rumah nya.


jantung nya dag dig dug tak karuan,sungguh perjuangan yang keras hanya untuk sesuap makanan.


...-...


...-...


Setelah mengambil beberapa cup mie intsan dan roti,Zey ke kasir dan hendak membayar.


namun apes nya lagi ia tak membawa uang tunai,jadi mau tak mau ia menggunakan ATM yang tentu saja atas nama nya.


Zey hanya bisa berharap semoga kasir itu tidak mengenali nya.


"total nya 278 ribu kak.."


ucap kasir itu.


Zey langsung memberikan kartu ATM nya kepada kasir itu.


"Shu Zeyra?" kasir itu spontan terkejut karena ternyata yang belanja seorang artis terkenal.


"sssttt" Zey mengisyaratkan agar kasir menutup mulut nya. namun terlambat,orang orang di sana langsung menyadari kalau itu Zey.


mereka pun langsung mengeluarkan ponsel nya lalu memvideo Zey.


Menyadari posisi nya tak aman,ia segera pergi dari toserba itu. namun orang orang itu mengikuti nya dan memberitahu ke semua orang di jalan bahwa itu Zey.


Dalam hitungan detik ratusan orang berkerumun dan memojokkan Zey,tak hanya mencaci maki mereka juga melemparkan sampah dan telur kepada Zey.


"dasar ******!!"


"pengganggu suami orang!!"


Sampah dan pecahan telur terus menghujam ke tubuh Zey,tak hanya itu seseorang juga menarik masker juga topi Zey hingga membuat wajah nya terlihat jelas di kamera.


Zey tak bisa berbuat banyak,yang bisa ia lakukan hanya lah bungkam dan melindungi diri nya dari kroyokan para haters itu.


di saat yang bersamaan Vino datang dengan sapu tangan menutupi wajah nya lalu membawa Zey yang berlumuran sampah pergi dari sana.


...-...


...-...


Sesampai nya di rumah Zey hanya menangis sesenggukan sambil membersihkan sisa sisa telur yang menempel di rambut nya.


"hiks...hiks..hiks..."


"maafkan aku,seandai nya aku datang lebih cepat pasti kau tidak akan begini"


ucap Vino sambil menepuk bepuk bahu Zey.


ia benar benar tak tega melihat Zey di perlakukan seperti tadi.


"iyaa.. aku tidak apa apa hiks..hiks..


aku pantas menerima itu,tidak apa apa"


Zey berusaha menghentikan tangis nya,ia pun merasa bahwa itu pantas ia dapatkan sebagai balasan atas kebohongan nya terhadap publik.


"kau lapar??"


Zey menganggukkan kepala nya sambil terisak.


"iyaa..."


Vino memeriksa kulkas Zey,hanya ada telur dan daun bawang di sana.


semua belanjaan Zey hancur karena kerusuhan tadi,jadi Vino berniat membuatkan Zey nasi goreng ala kadar nya.


Dengan lihai ia memotong bahan bahan itu dengan sangat cepat dan rapi,tampak nya ia sudah terbiasa memasak.


melihat kepiawaian Vino,bunga bunga cinta di hati Zey semakin bermekaran bak awal musim semi.


...~...


Di rumah sakit.


"kamu udah ngabarin mama dek?"


tanya Dika memastikan.


"udah kak,tapi Ayu demam di rumah jadi mama nggak bisa datang.


tadi mama bilang sudah nyuruh beberapa pengawal kesini kata nya biar kak Fani aman"


Dika: "ya udah nggak apa apa,yang penting kita sudah ngabarin mama. toh kak Fani juga baik baik aja"


"pengawal? apa kalian dalam bahaya?"


tanya Bian penasaran,dari tadi ia hanya mendengarkan mereka sambil memantau perkembangan di rahim Fani.


"nggak Pak,cuma ya nama nya orang tua pasti mengkhawatirkan anak nya" sahut Fani.


"dek,kak. Dika pulang sebentar nggak apa apa ya,gerah ini dari pagi keliling mulu belum mandi"


"ya udah gih.. pantes bau banget dari tadi.."


ucap Fani mengiyakan.


Kini hanya mereka bertiga di ruangan itu,para suster sesekali mengecek jika ada yang di butuhkan oleh Bian.


tak lama kemudian Fani pun tertidur karena pengaruh obat yang ia minum membuat nya ngantuk berat.


Tinggallah mereka berdua di sana,Nurul tengah asik membaca komik online favorit nya.


sedangkan Bian tengah sibuk mencatat apa saja yang di perlukan agar Fani bisa segera pulih.


"pak,ini makan malam nya.."


seorang pelayan rumah sakit membawa dua piring nasi lengkap dengan lauk nya.


"iya..." sahut Bian.


"ayo dek makan dulu.."


Bian meletakkan buku nya lalu duduk di kursi.


"adek..?


sa..ya maksut bapakk?"


Nurul terkejut mendengar Bian memanggil nya adek.


"iya kamu.. sini makan dulu"


Bian ikut ikutan memanggil Nurul adek seperti kakak kakak nya karena mereka belum saling kenalan.


Dengan wajah canggung Nurul duduk di depan nya Bian.


"Bastian..." Nurul membaca name tag di saku nya Bian.


"panggilan saya Bian..


kalau kamu nama nya siapa?"


"Nurul pak.."


"oh.. tapi lebih enak manggil adek sih, nggak apa apa kan?" ucap Bian sambil menguyah makanan nya.


"iya pak nggak apa apa.."


emang masih adek adek kok🌝 pikir Nurul.


"umur kamu berapa?"


"tujuh belas Pak.."


"ohh.. nggak jauh berarti"


Nurul tak mengerti apa yang di maksut Bian tak jauh. obrolan mereka pun berlanjut ke seputar sekolah,pengetahuan,dan saling berbagi wawasan seperti murid yang sedang mengobrol dengan guru nya.


sesekali mereka juga tertawa saat mencerikan hal hal random.


Bisa di bilang lingkungan Bian hanya sebatas rumah sakit dan kampus,dari dulu ia memang di kenal sebagai si otak emas karena kepintaran nya di atas rata rata. dan tentu saja itu membuat sehari hari nya hanya berkutat di seputar pelajaran. sampai sudah bekerja pun lingkungan nya tak pernah berubah,sehari hari hanya berhadapan dengan pasien dan murid murid di kampus nya. jadi ia jarang mengobrol dan bergaul dengan teman teman atau pun rekan kerja nya.


membosankan? tidak juga. Bian sangat menikmati kesibukan nya sampai ia tak pernah punya waktu untuk berkencan atau semacam nya.


...**********...