Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 124: Hujan geluduk


...Bebeb readers yang baek hati😘......


...like atuh, komen, biar pupolaritas otor nggak ngesot ngesot😌 sedih tau kadang pembaca sampe 50 ribuan tapi yang like nggak sampe 3 ribu. like yaa.. yaa.. ya... biar otor makin semangat gitu😘 kalian nggak kasihan apa? episode otor udah banyak tapi masih ngesot terus. buat yang selama ini rajin like,komen,kasih Vote dan hadiah otor doain hari hari nya bahagia selalu dan di beri semangat penuh untuk menjalani kehidupan yang pait ini 😁...


...love u semua nyaa♥️♥️♥️♥️♥️♥️...


Kita lanjut.....


"kapan terakhir ibu datang bulan?"


tanya Bian, ia sedang memeriksa tekanan darah Mila.


"baru 3 minggu yang lalu pak.." sahut nya merintih lemas.


Karena masih sulit memeriksa secara manual, maka jalan satu satu nya untuk memastikan adalah tespek. karena asam lambung Mila sedang baik baik saja jadi Bian memikirkan kenapa bisa sampai muntah muntah begitu.


"kita tespek aja ya.."


"aduhh!! yang bener aja dong pak! saya berdiri aja nggak kuat nih.. gimana pipis nya coba? lagian saya nggak kebelet" ketus Mila.


"iya juga ya.." pikir Bian.


akhir nya ia hanya memberikan obat pereda mual


untuk ibu hamil.


"biarkan istirahat sebentar.. saya keluar dulu ya"


pamit nya pada Riko.


"iya dokter.."


Riko mengusap keringat di dahi nya Mila.


sedari tadi ia berdoa di dalam benak nya mudah mudahan Mila benar benar hamil.


...~~~~...


Di tengah ramai nya orang yang berbisik menanyakan keadaan Mila, Nurul malah termenung bingung dengan Bian yang memanggil nya sayang. ya memang kelihatan nya nggak sengaja sih, tapi kan banyak panggilan lain ntah nama,ntah siapa gitu kan. kenapa salah nya harus 'sayang'.


"Bu Mila hamil dok?" tanya Fani antusias.


"belum tau.."


"chh.. dokter macam apa yang di tanya keadaan pasien nya jawab nggak tau.." celetuk Vino kesal.


"saya bilang belum tau. bukan nggak tau"


sahut Bian sedikit kesal, ia memang paling tidak suka jika ada orang yang meremehkan pekerjaan nya.


"itu kan sama saja.." ucap Vino lagi.


Tak mau berkepanjangan, Bian pun meninggalkan Vino. ia menghampiri Nurul yang sedang duduk termenung di pondok kecil yang berada di tengah taman. ia membawakan sebatang jagung bakar untuk bahan obrolan nya.


"dek.. makasih ya untuk tas nya.."


"eh.. iya pak sama sama.."


"nih.. yang rasa keju, kamu belum coba kan"


Bian memberikan jagung bakar itu.


"makasih pak.. tapi Nur males makan nya karena nyangkut terus di gigi"


"jadi nggak mau ni?"


"heheh.. nggak pak, bapak aja yang makan deh"


"mmm.. oke lah.." Bian pun mengunyah jagung nya.


"bintang nya pada kemana ya..." ujar Nurul memperhatikan kilauan bintang yang perlahan menghilang.


"iya.. mendung deh kaya nya dek.."


sahut Bian.


"bintang nya ada di sini..." imbuh Vino tiba tiba sambil mengusap usap kepala Nurul.


Nurul tak menanggapi nya, ia malah memandang ke arah baju Vino....


"loh pak! itu kan.." ia terkejut karena Vino menggunakan peniti bross milik nya sebagai ganti kancing baju.


"apa? kamu mau lihat lagi?" ucap Vino memainkan mata nya.


"lihat apa?" Bian menyela mereka.


"jangan banyak tanya.. kenapa kau tidak pulang saja! acara kan sudah selesai" sewot Vino.


Bian: "aku masih punya pasien di dalam"


Vino: "maka pergi lah ke dalam, untuk apa kau masih di sini?"


"kau sendiri kenapa tidak pulang?" ketus Bian.


mereka saling bertatapan seperti mengalirkan sengatan listrik yang sangat tinggi.


Nurul sampai merinding berada di tengah tengah mereka.


JJJDDEEERRRRRRRR!!!!!!!!!!!!!!⚡⚡⚡⚡


"AA!!" teriak Nurul terkejut karena petir tiba tiba menggelegar di sertai angin kencang.


tapi Vino dan Bian tak bergeming dari tatapan mereka.


JDDERRRR!!!⚡⚡⚡


kembali petir menggentarkan suara nya.


baru lah Bian mengalihkan pandangannya karena teringat sang mama sendirian di rumah.


"dek.. saya pulang dulu ya..


mama saya paling takut kalau mau hujan begini"


"loh.. Bu Mila gimana Pak?"


"suruh saja suaminya ke rumah sakit ya..


Bian segera berlari di tengah rintikan air hujan yang mulai turun.


"pak.. tas nya ..!"


pekik Nurul, namun Bian keburu sudah masuk ke mobil nya jadi tak mendengar.


"biarkan saja.. ngapain kamu repot repot.."


sahut Vino.


Nurul mengangguk.


"iya juga.. besok biar di ambil, jadi bisa ketemu lagi sama pak Bian"


"kamu senang ketemu sama dia?"


Nurul mengangguk lagi, namun ia tak berani menatap Vino.


Vino: "kamu suka ya sama dia.."


Nurul: "ya suka..."


"suka yang kaya mana?" Vino mendekatkan wajah nya hingga Nurul bisa merasakan jelas hembusan nafas nya.


"kaya gitu.. suka karena dia ganteng, baik lagi"


jawab Nurul gugup.


"emang saya nggak ganteng?"


"yaa.. ganteng sih.."


Vino menyibakkan rambut Nurul ke belakang.


"terus kenapa kamu nggak suka sama saya?"


"suka kok.."


"mm.. suka nya yang kaya gimana?"


ujar Vino berbisik membuat Nurul merasa semakin gugup.


Di momen yang hampir menegangkan itu, hujan turun sangat deras di sertai angin kencang.


posisi mereka yang di pondok taman itu pun ikut terkena air hujan yang terbawa angin.


"lari yuk... bisa basah kuyup kita nanti"


ajak Vino sambil menggenggam tangan Nurul.


"tapi kalau kita lari juga bakal basah pak"


sahut Nurul setengah berteriak agar suara nya terdengar jelas.


Jarak pondok taman itu lumayan jauh, sekitar 200 meter dari teras belakang rumah.


mau memanggil orang pun tak bisa karena sudah pada masuk ke dalam rumah.


Vino memetik daun ketapang yang lumayan besar untuk payung mereka.


"sini.. kamu di depan biar nggak basah"


"bapak?"


"saya basah sedikit nggak masalah.."


karena memang daun yang paling besar dan bisa di gapai hanya itu.


"siap.." Vino meletakkan daun itu di atas kepala nya. Nurul mengangguk ragu.


"hitungan ketiga lari ya..


satu.. dua.. tiga.." mereka berlari sebisanya menembus deras nya hujan dan kencang nya angin.


Karena daun nya tak cukup menutupi mereka,


punggung Vino basah kuyup karena sebagian besar bagian daun itu ia payungkan ke Nurul.


"aduh..." hampir saja mereka kepeleset karena rerumputan sangat licin.


"hhahahhaha.. hahahhahahaha...."


mereka tertawa geli.


Nurul mendongak dan menatap wajah Vino sejenak..


bbbrrrrhhhhhh....💨🍃🍃


daun yang di pegang Vino malah terbang kebawa angin. basah kuyup lah mereka bedua jadi nya.


"aaggrhhh!! percuma lari lari ujung ujung nya basah" ujar Vino sambil tersenyum.


"bapak sih megang nya nggak kuat"


sahut Nurul juga tersenyum tipis.


Vino hanya tersenyum, ia menarik tangan Nurul lalu memeluk nya dengan erat.


kesempatan dalam kesempitan selalu bisa Vino ciptakan dalam situasi apapun.


"ih pak!!" Nurul berusaha melepaskan diri tapi tak bisa.


"sebentar saja..." lirih Vino.


Merasa risih dan takut di lihat keluarga nya, Nurul tak punya pilihan lagi. ia menggigit lengan Vino sekuat kuat nya.


"Aaaarrhh!!!" spontan Vino melepaskan tangan nya, dan Nurul pun langsung berlari.


"anak itu benar benar.." gumam Vino meringis.


...*******...


sedikit dulu ya beb.. maaf karena kemarin nggak upload karena lagi mondar mandir antar kecamatan😌 nanti kalau semper otor upload 1 episode lagi yaa😘😘