
hai..hai.hai....πππππ
otor balik lagi nih beb...π
kemarin ada yang usul buat novel baru aja,
tapi sayang kontrak nyaπ jadi otor lanjutin di sini aja yaaπππ
Happy reading..ππ
jangan kupa like,komen,vote nya.
yg gk like komen otor santet ntarπ€£
SEASON II
4 tahun kemudian....
Seorang anak lelaki berusia 4 tahun tengah memegang lembaran surat yang sudah lama di simpan oleh nenek nya.
dia adalah Elzio Giandra, ya tak salah lagi dia adalah anak Vino dan Zey. wajah nya benar benar mirip dengan Vino, alis yang rapi, mata tajam serta senyum manis nya benar benar foto copyan Vino. hanya hidung nya yang nurun dari sang mama.
Sejak bayi, Vino memboyong El kerumah mama nya Zey di London agar lebih mudah untuk mengontrol perusahaan papa nya.
"El.. ada lagi yang mau di bawa? nenek sudah mengemasi semua mainan kesukaan kamu"
"ini nek.." El memberikan foto mama nya kepada sang nenek.
Bocah berusia empat tahun itu di karuniai kecerdasan yang sangat luar biasa.
di usia nya yang sekarang ia sudah bisa membaca, bahkan bicara nya sangat lancar walau ada beberapa huruf yang belum bisa ia lafalkan dengan jelas.
"mom.. bagaimana? semua sudah siap?"
tanya Vino kepada ibu mertua nya itu.
entah pantas atau tidak ia memanggil nya mertua karena sampai sekarang Vino dan Zey tidak menikah.
Mereka akan kembali ke Indonesia.
Vino berjanji kepada mama nya akan membawa cucu nya pulang ke Indonesia. setelah mendapat izin dari orang tua Zey, Vino membulatkan keputusannya bahwa ia akan membawa El tinggal di Indonesia.
"apa itu nak?" Vino menanyakan apa yang sedang di pegang putra nya itu.
"surat Ayah.. tapi ini surat rahasia jadi ayah tidak boleh membaca nya" sahut El dengan bahasa indonesia nya yang fasih. sedari dulu memang Vino mengajarkan anak nya untuk memakai bahasa Indonesia.
"ohh.. baiklah, Ayah tidak akan baca.
ayo kita berangkat.. dan jangan lupa pamit dulu pada mama mu" Vino mengecup pipi mungil anak nya itu.
El meletakkan surat nya lalu berlari ke arah dinding di mana foto Zey terpajang.
"mama.. El dan Ayah akan ke Indonesia.
mama di sini baik baik ya, El bawa kok foto mama. El pasti selalu doakan mama agar tuhan memberikan tempat yang indah untuk mama beristirahat" ia mengecup foto Zey lalu berlari ke arah Ayah nya.
Vino memeluk putra kecil nya itu sambil meneteskan air mata, bagaimana tidak.
dari bayi hingga sekarang ia harus tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang ibu. "anak pintar.." lirih Vino sambil mengecup kening anak nya.
Zey meninggal tepat satu jam setelah baby El di lahir kan, ia mengalami pendarahan hebat yang membuat nyawa nya tak bisa tertolong.
sebelum hari kelahiran El, Zey sempat menuliskan beberapa lembar surat untuk El. ia menitipkan surat itu kepada mama nya agar di berikan kepada El saat dia sudah pandai membaca.
Vino sempat terpuruk selama setahun setelah Zey meninggal, ia merasa takdir yang di berikan untuk Zey tak adil. kenapa Zey tak di berikan kesempatan untuk bahagia? kenapa tuhan tidak membiarkan Zey mengusap bayi nya bahkan sekali saja. dan yang membuat Vino paling terpukul adalah kenapa tuhan tak membiarkan diri nya mencintai Zey.
Elzio Giandra
...~~~~...
Di kediaman keluarga besar Dimas.
Mereka sedang mempersiapkan acara ulang tahun si kembar yang ke 5. acara itu akan di gelar sangat meriah atas permintaan oma Rianti.
"Difa.. ayo sini jangan ganggu..."
seru Dimas memanggil sang anak yang sedang asik bermain pita untuk dekorasi.
"Difa.. nak.." Dimas menghela nafas panjang karena Difa mengabaikan nya.
"mau papa gigit kamu hah.." ia mengangkat Difa lalu mengayunkan nya hingga Difa tertawa terbahak bahak.
"Mas kaya nggak tau aja tabiat anak Mas itu gimana" imbuh Fani yang sedang menyuapi Ica makan siang.
Entah siapa yang mengajari nya, Difa tak akan menggubris jika di panggil. ia hanya akan merespon jika orang memanggil nya Keenan.
mungkin nama Difa kurang estetik di pikiran nya :)
"Kinan itu nggak suka kalau di panggil Difa ma..
Ica pernah di marah sama dia, kata nya kalau Keenan itu ganteng" oceh Ica sambil mengunyah nasi nya.
Fani tersenyum lembut kepada putri nya.
"oh ya.. kalau Ica? suka nggak nama nya Ica? atau Ica mau ganti panggilan juga?"
"emm.. nggak. Ica cantik.."
"kalau papa ganteng nggak sayang?" Dimas malah ikut nimbrung di sana. padahal ia tau kalau Difa dan Disha tak bisa akur saat bersama.
"Papa Mas ganteng.. mama cantik.. Ica cantik..
Kinan jelek.. muka nya kaya beruang.."
ntah kenapa Ica ini suka sekali memancing keributan.
"ihhh.. Ica cantik..!" ia mencubit tangan saudara kembar nya. di balas lah oleh Keenan dan tak bisa di elakkan jika begini baku pukul akan terjadi.
"hehh!! berantem terus mama masukin karung mau?" Fani membelalakkan mata nya, mereka pun langsung terdiam. sedangkan Dimas hanya tertawa kecil melihat anak anak nya yang sangat takut dengan Fani.
"ayo minta maaf cepet.." ucap Dimas sambil menciumi kening anak anak nya.
"maaf.." ujar Ica dengan wajah masam.
mereka pun berpelukan sambil tersenyum.
"nah gitu dong.. baru anak mama sama papa"
Fani mengusap lembut rambut anak kembarnya itu. lalu ia menatap bahagia kearah Dimas.
Dimas membalasnya dengan tatapan tak kalah indah nya, sampai Fani terhanyut akan tatapan cinta yang di hunuskan oleh Dimas.
...~~~~...
"sayang.. ini tas kamu ketinggalan.."
ujar Bian kepada Nurul yang terburu buru turun dari mobil.
"oh iya hehehe..."
"kebiasaan ya kamu ini.. untung cantik nya nempel di wajah, coba kalau nggak sudah ketinggalan dimana mana tu cantik nya" ucap Bian dengan senyum manis nya.
"ya sudah Nur masuk ya abang Bian tersayang...
nggak enak pasti yang lain lagi pada sibuk" ucap nya lalu memberikan flying kiss sambil berlari ke dalam rumah nya.
"bye..." Bian juga membalas flying kiss kepada Nurul. lalu ia masuk ke mobil nya karena sebentar lagi tiba waktu nya masuk sift 2.
Mereka sudah berpacaran selama 2 tahun, sesuai janji nya. Nurul akan mempertimbangkan Bian lebih dulu saat ia sudah siap untuk berpacaran.
karena sering menghabiskan waktu bersama, rasa nyaman antar kedua nya pun berubah menjadi cinta. hubungan mereka benar benar bahagia dan sehat. tak seperti remaja pada umum nya, Nurul seperti mendapatkan perhatian yang tak biasa dari Bian, mungkin karena ia jauh lebih dewasa.
...-...
...-...
"yeeyyy... bina pulang..."
sorak Keenan dan Ica saat melihat Nurul masuk ke rumah. bina adalah panggilan khusus dari mereka, saat di tanya apa alasan nya. mereka menjawab bina adalah singkatan dari bibi Kirana.
"ulululu.... sini cium dulu.."
Nurul mencium mereka satu persatu.
"Bian mana nak? kok nggak di ajak mampir?"
tanya Rianti yang sibuk mengurus dekor untuk acara ulang tahun.
"dia masuk sift 2 hari ini ma.. tapi besok dia libur kok jadi pasti bisa dateng"
"ohh.. syukur lah kalau gitu, mama lanjut dulu ya,kamu cepetan makan sudah di masakin rendang tuh sama bibik"
"iya ma.. ntar dulu Nur masih pengen main sama dimdim.."
"bina nggak sama om Bian?
Ica mau tanya perut Ica sakit banget soal nya
kira kira Ica sakit apa ya.."
"mm? om Bian kerja sayang.."
"mana yang sakit? sini om periksa.."
celetuk Dika yang baru saja pulang dari rumah sakit. setelah lulus kuliah tepat nya setahun yang lalu, ia langsung di dapuk oleh rumah sakit yang sama dengan Bian untuk menjadi dokter spesialis kanker termuda di sana. bahkan baru setahun ia berhasil mendapatkan 7 piagam sekaligus karena telah berhasil menyembuhkan 87 pasien dengan kanker serius.
"ini Om.. perut Ica sakit banget.."
"mm.. ini kamu kurang minum air putih"
ucapnya sembari meletakkan stetoskop di perut Ica.
...-...
...-...
"oh.. kamu sudah mau berangkat nak?" Duma sedang berbicara dengan Vino melalui telepon.
"iya ma.. 15 menit lagi kami terbang.."
"berarti besok bisa dong dateng ke ulang tahun si kembar.."
"kalau nggak kecapek an bisa ma..
El juga nggak sabar mau ketemu sama Keenan kata nya"
"oh ya..? mana dia coba mama mau ngomong.."
"dia ketiduran ma.. kasihan banget Vino lihat nya"
"oalah.. ya sudah kalian hati hati ya, kamu jangan lengah Vin, perjalanan kalian jauh loh. jangan sampai cucu mama kenapa kenapa.."
"iya ma.. ya sudah Vino tutup dulu ya ma.."
mereka pun mengakhiri pembicaraan itu.
...**********...