
Melihat raut sedih Nurul, Vino jadi
merasa bersalah karena mungkin
kata kata nya barusan menyinggung
perasaan nya.
"khm... maafin Saya ya,
tidak seharus nya Saya berkata begitu."
ia menarik tubuh mungil Nurul kedalam
dekapan nya.
"nggak Mas, harus nya Nur yang minta
maaf karena belum bisa jadi istri yang
sempurna.."
"hei.. jangan ngomong gitu ah.
kamu itu sempurna, sangat sempurna..
maaf karena memaksamu dalam hal ini."
Lagi pula sudah perjanjian dari awal
kalau Nurul ingin fokus dulu untuk
mengejar cita-cita nya.
Kecupan hangat di layangkan Vino
ke kening Nurul.
"kamu jangan berfikiran negatif ya
karena ucapan Saya tadi.
kamu fokus saja dengan kuliah mu,
jadi lah wanita hebat, tangguh, dan
bersinar. kamu bebas melakukan apapun
selama kamu ada dalam genggaman
Saya."
"makasih Mas.."
sahutnya tersenyum manis sembari
meresapi kehangatan yang di berikan Vino.
...~~~~...
Di garasi depan, Ayu dengan seragam
sekolah nya mondar mandir karena
ia tak mendapati seorang supir pun di sana.
"isss!! ini pada kemana sih??
ada urgent apaan coba sampe pak supir
pergi semua. mana kak Dika udah berangkat lagi." rutuk nya kesal.
"loh.. Yu, kok belum berangkat?"
tanya Adit yang habis joging mengelilingi
halaman rumah.
"Pak supir nya pada kemana ya Pa?
Ayu kok di tinggal.."
"Pak Budi sih nganter mama ke rumah
tante Gita tadi, dia udah lahiran kata nya.
kalau Pak Rizal jemput si kembar sama kak
Fani tadi, kata nya Mas mu mendadak ada
meeting luar kota."
"Pak Anto?"
tanya Ayu lagi.
"mmm.. dia Papa suruh antar berkas
ke kantor, soal nya ada klien penting
yang nunggu."
"laah.. terus Ayu sekolah nya gimana Pah.."
rengek nya, bisa saja sih naik taksi.
cuma jam segini biasa nya jarang ada
taksi yang lewat.
"Vino? udah berangkat dia?"
"udah Pa.. Papa yang anterin Ayu ya..
pliss...ππ
Ayu ada tugas penting yang harus
di kumpul Pa.."
"hmm.. iya iya.. tapi naik motor ya.
Papa lagi pengen motoran heheh.."
perut buncit Adit ikut goyang kala ia
menunjukkan tawa kepada anak bontot nya.
"Sippp.. yang penting nyampe.."
sahut Ayu girang sambil mengikuti langkah
Papa nya.
ZZZRTTTTT!!!
Hampir saja Adit jantungan karena sebuah
mobil sedan hitam ngerem mendadak di
depan rumah nya.
Si pengemudi yang tak lain adalah Rey pun
turun tergesa gesa sampai
lupa menutup pintu mobil nya.
"Pak. Saya mau ambil dokumen kontrak
yang..."
"saya suruh Anto antar ke kantor."
potong Adit cepat.
"lah? kapan?"
"baru 15 menit yang lalu.."
Rey hanya bisa garuk kepala, udah ugal ugalan
ngalahin valentino rosi, eh malah Zonk.
"memang nya siapa yang handle?"
Adit tampak khawatir, karena biasa nya
hanya Dimas yang bisa meyakinkan klien
untuk tekan kontrak.
"Pak Riko Pak.."
"ohhw.. syukur lah.."
ia langsung lega saat mendengar nama Riko.
ya, Direktur paling kompeten yang terkenal
seantero gedung kantor.
Baru hendak pamit undur diri, tiba tiba
Adit menarik lengan Jas Rey.
"kamu ada kerjaan?sibuk nggak?"
"e.. tidak Pak.."
"jangan bilang Papa nyuruh si luwak itu
untuk nganterin aku."
batin Ayu sudah mulai tak enak.
"anterin anak Saya ya.. supir pada pergi.
searah kan? bisa?"
Di tolak nggak enak, di terima ya ogah..
"t..tapi Pak.."
"tuh, sama Rey aja ya. Papa gerah mau mandi."
"ih.. Papa..! sama Papa aja looh.. plisss..
kata nya mau motoran gimana sih.
nanti kena angin motor seger tuh Pa.."
bujuk Ayu bersikeras.
"Papa tiba tiba nggak mood."
ucap nya enteng.
"hhhhfff..."
Ayu hanya mendengus kesal sembari
memutar bola mata nya.
"hiss! Ayo buruan.."
ketus Ayu memasuki mobil Rey.
"eh.. nggak sopan kamu, Saya bukan
supir kamu." balas Rey tak kalah ketus.
"nyenyenyii...."
ledek Ayu jengkel.
Mereka berdua memang terbilang labil.
kadang adem, kadang kisruh seperti sekarang
ini. adakalanya sikap Rey yang sangat peka
membuat Ayu lembut. ada pula waktu dimana
Ayu jengkel karena Rey selalu mengucapkan
apa yang ia ketahui walau di depan orang orang.
Misal nya Ayu sedang berusaha menahan
kentut. maka Rey yang bisa membaca
ekpresi Ayu langsung saja nyeletuk
siapa coba yang tidak malu?
"loh kok belok ke sini?"
Ayu heran saat Rey berbelok ke arah lain.
"rumah Saya nggak jauh dari sini."
sahut nya dingin.
"jangan macem macem ya Pak!"
Ayu jadi sedikit panik,
siapa yang tau kalau Rey ternyata
punya niat terselubung. tengil tengil gini juga
bodi Ayu bisa buat para Buaya klepek klepek.
"nggak usah ge'er deh kamu.
Saya cuma mau ambil laptop.
lagian kamu bukan tipe Saya."
Ayu nggak berharap lebih sih, tapi mendengar
ucapan Rey barusan kok nyelekit ya di hati.
Sampai lah mereka di rumah Rey, rumah
bergaya minimalis yang terletak di tengah
pepohonan rindang. bisa di bilang perumahan
komplek sih, cuma jarak nya cukup jauh dari
satu rumah ke rumah lainnya.
Ayu menunggu di mobil sambil mengunyah
permen karet.
"rumah sama orang nya sama aja.
sama sama angker.."
ia bergidik saat mengamati sekeliling yang
sedikit gelap karena rindang nya pepohonan.
"omong omong lama banget sih?
pingsan apa tu orang?"
Ayu pun turun karena sudah hampir 20 menit
Rey di dalam rumah.
"Pak...?
waaahhhhh....."
Ayu di buat takjub dengan pemandangan
interior di sana.
"tunggu aja di mobil. Saya bentar lagi ke sana."
seru Rey dari kamar nya.
Ayu mengernyit heran, kok sedikit mencurigakan?? ia pun memutuskan untuk
melihat sebenar nya sedang apa Rey di dalam sana.
"ambil laptop atau buat laptop? lama amat."
gumam nya heran sekaligus jengkel.
Sesampai nya di depan kamar Rey, ia lebih
tercengang lagi saat melihat desain yang amat mewah di kamar Rey.
Nuansa Hitam dan Abu-abu yang membalut
menimbulkan kesan mewah di setiap inci
ruangan itu. di tambah susunan rak yang
amat rapih di penuhi buku buku, membuat
Ayu insecure. ya jika di bandingkan dengan
susunan kamar nya jauh banget..
bagaikan pinang di belah petir.
Rey yang tengah merapikan sesuatu
menyadari kehadiran Ayu di sana.
ia langsung berdiri menghampiri Ayu.
"apa yang kamu lakukan hah?
bukankah sudah kubilang tunggu saja
di luar?!" hardik nya sembari mendorong
bahu Ayu untuk menjauhi kamar nya.
Mungkin Rey tipe orang yang introvet,
sehingga ia sangat marah jika ada orang yang
mengganggu privasi nya.
Sementara Ayu tak bergeming, ia menatap
dalam wajah Rey yang kelihatan sangat
marah atas tindakan nya.
"m..maaf.. Ayu cuma.."
"lain kali jangan merusak privasi orang lain.!"
Rey mencengkram bahu Ayu.
Ayu yang ketakutan pun hanya bisa menunduk
sembari mengatakan "i..iya maaf..."
Rey kembali masuk ke kamar untuk
membereskan barang nya. maksut hati ia
akan segera kembali dan melanjutkan
untuk mengantar Ayu, namun ia lupa
mengatakan tunggu.
Sedangkan Ayu yang merasa tak enak,
memilih untuk segera keluar dari sana.
ia merasa sangat bersalah karena membuat
Rey marah.
Ia melangkah cepat keluar menuju jalan lintas
dan mencari angkutan umum yang bisa di
tumpangi, lagi pula untuk apa dia tetap di sana?
toh Rey tak menyuruhnya menunggu tadi,
bukan kah itu sama saja dengan mengusir nya.
batin Ayu kesal bercampur sedih.
...~~~~...
Di kampus...
Jam pelajaran terakhir telah usai.
tampak Gaby dan Nurul bergandengan
untuk mampir sebentar ke kantin.
"gimana? udah jadian kalian?"
goda Nurul pada sahabat nya itu.
Mendengar pertanyaan itu, Gaby tersipu malu.
"heheh.. belum Na.."
"serius? kirain kalian langsung jadian
begitu tau satu sama lain."
"emang belum sih, tapi tau nggak kak Dika
bilang apa? dia bilang mau langsung ngelamar
dong kalau aku udah wisuda. so sweet kan??
πππ"
"ya ampun... masih lama kali By..
keburu di srebet orang kamu nya hahahah.."
"aku? nggak kebalik? aku malah khawatir
kak Dika yang di srebet. abis ganteng banget."
kalau sudah membahas Dika, keluar dah tu
moyang bucin yang bersemayam di tubuh nya.
"nggak bakal By.. tenang aja kamu.
dia kalau di luar rumah dingin nya beeehhh
ngelebihin frezeer nugget hahahah.."
ttttzzzc...tttiiiiitttt...
(suara mic berdengung)
Tes..tes...tes...
untuk mahasiswi bernama Alisha Kirana.
mohon segera ke parkiran karena Saya sudah
40 menit menunggu.
Sekali lagi... untuk mahasiswi
bernama Alisha Kirana, mohon segera...
"udah udah! ganggu ketertiban kampus aja..!"
(ketus Bian yang tak sengaja suara nya masuk
kedalam pengeras suara)
V: "kalau bantu yang niat dong..!"
B: "matiin nggak? atau kau yang ku Off kan!"
V: "tunggu..sayangjsbgsjdkbbbbgsgegff"
Suara mic terputus karena di rebut paksa.
"By.. aku duluan ya...."
Nurul langsung berlari meninggalkan Gaby.
entah apa yang akan terjadi jika ia telat sedikit
saja.
...**********...