Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
apisode 124: Malam minggu II


"Ran.... Kirana!"


seru Vino sambil berlari, namun Nurul tak menghiraukan nya.


"Alisha Kirana..! Nurul.."


ia menaikkan suara nya tapi tetap tak di gubris, Nurul malah semakin cepat berjalan.


"SAYANG..."


pekik Vino.


jddarr!!


telinga Nurul seperti di hampiri geledek karena mendengar kata 'sayang'. ia berbalik badan dan menatap Vino dengan mata melotot.


"bapak mau Nur lempar nampan?!"


"nggak.. mau nya di cium.."


ujar Vino sambil memainkan mata nya.


"iya sini, Nur cium pakai nampan!"


Vino menarik paksa Nurul ke tempat yang agak sepi. "nurut atau saya bilang nih ke tante Rianti kita pacaran" ancam nya.


"bilang aja! nggak takut!" Nurul menabok tangan Vino dengan nampan berbahan stainless itu.


"ohh.. kamu senang ya pacaran sama saya?"


Vino menghadang Nurul yang hendak berbalik dengan dada bidang nya.


"bisa mingkem nggak pak?"


"nggak"


"hih!! minggir pak!" Nurul mendorong tubuh Vino, ia hampir jatuh karena di belakang nya ada kolam ikan. namun Nurul sekuat tenaga menarik kemeja Vino agar ia tak jatuh hingga membuat beberapa kancing nya lepas.


Beruntung Vino tak jadi jatuh, dada nya yang setengah terbuka malah berpapasan langsung dengan wajah Nurul.


sontak saja Nurul membelalakkan mata nya karena melihat dada kekar nya Vino.


"kamu dengar detak jantung saya Ran?"


bisik Vino sambil melingkarkan tangan nya ke pinggang Nurul.


Nurul mendongakkan pandangan nya, namun ternyata pemandangan di atas lebih mendebarkan lagi karena wajah Vino yang basah kuyup karena keringat.


jedagg jedug dddarrr...!


jantung Nurul hampir meledak karena pemandangan mendebarkan itu, mau pingsan tapi nggak bisa. tetap sadar tapi rasa nya seperti mau pingsan.


"bibir mu cantik..." Vino membelai lembut bibir bawah Nurul dengan ibu jari nya.


lalu ia menjilat ibu jari nya.


"mmmhh.. manis.."


Nurul mematung tak berdaya di hadapan Vino.


"plis.. pingsan Nur.. pingsan aja Nur.." namun entah kenapa ia tak bisa pingsan. akan lebih baik


jika pingsan di situasi ini pikir nya.


"what are you doing?" tanya Steve/papa nya Vino yang ntah muncul dari mana.


Vino spontan melepaskan tangan nya dari pinggang Nurul, barulah Nurul mendapatkan kekuatan nya dan langsung berlari secepat mungkin dari sana.


"wat ar yu dueng. wat ar yu dueng! ganggu aja lu bule nyasar. nggak lihat apa anak nya lagi usaha"


sewot Vino dengan suara medok meledek sang papa.


"apa yang kau lakukan dengan anak kecil? ck..ck..ck.. kau ini.." Steve geleng geleng kepala lalu pergi meninggalkan anak bujang tua nya. hubungan mereka memang seperti teman sebaya, bukan seperti anak dan papa.


Vino kembali ke depan dengan raut wajah kesal.


"dasar aki aki gondrong nggak punya adap, nongol tiba tiba bikin malu aja lu.." gerutu nya.


"what?!" Steve tak mengerti perkataan anak nya itu.


"nothing papa.. your very handsome"


"ohohohoho.. of course.." sahut Steve percaya diri.


Vino kembali duduk ke tempat teman teman nya masih dengan baju terbuka hingga menampakkan seluruh dada nya.


"gila.. di apain kamu sama aki aki bule itu?"


ejek teman teman nya Vino sambil tekekeh kekeh.


"sembarangan kalian! babe ku itu!"


"upps.. iya nya? sori sori Vin, terus baju mu kenapa?"


"habis nakutin kupu kupu tadi.."


sahut Vino tersenyum nakal.


...~~~~...


"nih.. spesial untuk bumil ku.." Dimas memberikan sepiring jagung dan ayam yang ia panggang sendiri untuk menjaga kesterilan nya.


"terimakasih papa..." balas Fani tersenyum manja.


"sini Mas suapin.."


"jangan malu malu.. nanti cantik kamu nambah loh"


"ahh.. masa iya Mas? kalau gitu Fani mau malu terus ah biar makin cantik"


"kamu itu mau gimana pun tetep cantik kok sayang..." Dimas mengecup kening Fani cukup kuat hingga Fani hampir terjungkal.


"pelan pelan dong Mas.. kalau Fani kejungkal kan nggak lucu"


"hahaha iya maaf maaf, anak anak papa sini cium juga.." Dimas menciumi perut Fani dan langsung mendapat tendangan kecil dari si dimdim. ketagihan lah si Dimas membuat si dimdim terus menendang nendang.


Di sisi lain...


"sini aku potongkan.." Riko merebut pisau dari tangan Mila.


"aku aja.. kau sana saja balik sama temen temen yang lain.."


"lihat tuh..." Riko menunjuk semua orang yang sedang asik menyuapi istri dan anak nya, ada sekitar 12 pasutri di sana termasuk orang tua Vino dan Dimas.


Mila mengedarkan pandangannya, memang semua berkumpul jadi satu duduk kesehan di atas tikar, tapi masing masing sibuk dengan istri nya karena momen ini identik dengan malam minggu.


Sedangkan Vino dan para jones lain nya memasang wajah jengah melihat adegan uwuu di depan mata mereka, Bian saja sampai ikutan gigit jari melihat keromantisan para pasutri itu.


Nurul dengan wajah panas dingin duduk di dekat Dika, tak jauh di depan nya ada Bian dan Vino.


"Aaak..." mereka serempak menyuapkan potongan ayam kepada Nurul.


Nurul kebingungan dan gugup, tentu saja ia malu karena banyak keluarga nya di sana.


"aammm... " secara bersamaan pula Dimas memakan suapan Vino sementara Dika memakan suapan Bian.


"hihh! makan ya makan, tapi nggak usah di jilat juga kali tangan ku. jijik oyy"


ucap Vino, ia mengelap jari nya menggunakan tissu.


"nggak sengaja.. tapi nikmatkan??" ledek Dimas. Vino mendengus kesal dan mengangkat bibir atas nya.


Sementara Bian gugup dong, niat nya nyuapin Nurul eh malah abang nya yang mangap.


"lagi??" tawar Bian agar suasana tak canggung.


"boleh.. pakai sambel nya ya pak.." sahut Dika tertawa kecil. jarang jarang kan di suapin dosen sendiri.


...---...


"hoeekkkkk!!!!"


Mila memuntahkan makanan nya secara tiba tiba sementara Riko menadahi nya dengan kedua tangan.


"ehh? kau tidak apa apa?"


tanya Riko panik.


"aarrghhh!! seperti nya asam lambung ku kumat.." Mila meringis, seketika tubuh nya panas dingin seperti orang demam.


"jangan jangan Bu Mila hamil?"


celetuk Fani.


Mila langsung melotot tak percaya.


"nggak.. nggak mungkin.. kami kan baru melakukan nya beberapa kali.. masa iya cepet banget?" batin nya tak yakin.


Riko sudah membasuh tangan nya di wastafel dekat situ. "apa tanda nya orang hamil begitu?"


"hoekkk!!!!"


baru saja duduk, Riko kembali harus menadahi muntahan Mila lagi.


"kau yakin tidak apa apa??" Riko semakin panik.


"tidak.. tidak apa apa ggrhhhh...


maaf ya semua nya.. maaf" Mila merasa sudah mengacaukan acara makan makan itu.


Beruntung sebagian besar orang sudah siap memakan makanan nya. walaupun memang menjadi sedikit kacau acara nya.


"dek ambilkan tas saya di kursi belakang ya.."


pinta nya pada Nurul.


"iya pak.."


"apa ada kamar kosong di dalam pak Dimas?"


Dimas: "ada.. ada.."


Bian: "tolong bawa istri nya kedalam ya pak.."


Riko pun bergegas membopong Mila ke rumah Rianti, dalam sekejap Mila tampak sangat lemas dan pucat, keringat juga terus mengucur dari dahi nya.


"aku akan memperlakukan mu dengan baik jika kau tidak apa apa.." ucap Riko, ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Mila yang mendadak drop itu.


"pak... tas nya" Nurul menyerahkan tas kerja nya Bian. nafas nya tersengal sengal karena mengejar Bian.


"makasih sayang.."


ucap nya tanpa sadar, lalu ia segera berlari menyusul ke dalam rumah.


"hahh??" Nurul seketika ngebug dan merasa otak nya perlu di instal ulang mendengar Bian memanggil nya sayang.


...*******...