
Vino menggenggam erat tangan Nurul.
"sayang.. kamu hargai saya dong.
masa kamu bahas bahas begituan
di depan suami mu!"
Tentu saja Nurul bingung, ia pikir
Bian berbicara tentang sabuk celana yang
kepala nya sedang di genggaman Bian.
"loh.. kenapa Mas? apa salah nya??"
"tunggu.. jadi kamu udah pernah
lihat punya dia?!!"
tatapan tajam Vino seakan mengintrogasi
Nurul.
Sementara Bian hanya tersenyum.
"seperti nya kamu benar benar bahagia
sekarang dek."
batin nya saat melihat tingkah konyol
mereka berdua.
Dahi Nurul mengkerut, apa salah nya
melihat sabuk. kok Vino sampai sebegitu
terkejut? pikir nya.
"udah.."
sahut Nurul pelan dan ragu.
"udah????
kapan? dimana??!"
"i..itu udah lama Mas.."
"DIMANA???"
tanya Vino lagi, lubang hidungnya
sampai mengembang 3 kali lipat
karena menahan emosi.
"di kamar nya bang Bian..
Nur juga nggak sengaja kok lihat nya."
Vino menarik nafas panjang.
kemudian menatap sinis kearah Bian.
"kenapa kau mengajak nya melihat itu?!
kau pasti memaksa nya kan?!"
Bian mengangkat kedua bahu nya.
"diam lah.. aku hendak menyuntikkan
anti nyeri."
"jangan salah tempat."
titah Vino takut suntikan Bian meleset.
"baiklah.."
sahut Bian fokus ke titik yang di tuju.
"untung saja aku sakit, kalau tidak
sudah ku hancurkan isi kepala mu."
rutuk Vino.
Bian berbisik di sertai senyum smrik.
"ck.. jangan berlebihan, dia melakukan nya
hanya sekali. sedangkan kau berkali kali,
apa dia pernah mempermasalahkan itu?"
"sshh!! kau ..!"
akhir nya Vino menenangkan kepala nya.
jika di pikir pikir benar juga sih, toh
Vino mendapatkan Nurul utuh.
...~~~~...
Gaby dan teman sekelasnya berhamburan
keluar karena jam pelajaran sudah selesai.
sebagai kandidat bucin terbaru, Gaby
senyum senyum sendiri saat berbalas
pesan dengan suami masa kecil nya.
"kamu di mana?"
pesan singkat dari Dika, walau terlihat
dingin namun pesan itu sudah cukup
membuat jantung Gaby berdebar dahsyat.
"baru keluar nih kak, mau pulang❤️"
balas Gaby, ia memberikan banyak emot
hati kepada Dika.
Saat sedang berjalan, Gaby melihat Mei
yang juga hendak pulang dengan raut wajah
pucat. karena rasa persahabatan nya
masih kental, Gaby pun berinisiatif
untuk menghampiri nya.
"Mei..?
kamu kenapa? sakit lagi?"
Mei mengeleng, ia memang tengah menahan
perih di perut dan juga di sekujur tubuh
karena bekas jahitan waktu itu kembali
terinfeksi bakteri.
"aku antar kamu ke kos ya?"
"nggak usah By, aku naik taksi aja."
"nggak apa apa, aku juga naik taksi.
kita bareng aja yuk.."
Gaby benar benar prihatin melihat keadaan
Mei yang sekarang. bagaimana tidak?
di saat diri nya terpuruk dan butuh dukungan,
tak ada satupun keluarga nya yang perduli.
"boleh.."
Mei mengangguk dan tersenyum kecil.
"DITAAA...."
panggil Dika dengan suara lantang
dari lokasi parkir.
"hhhh???"
Gaby terkejut sekaligus malu karena
semua mata yang ada di sana melihat
ke arah Dika. tentu mereka tak tau bahwa
yang di panggil oleh Dika itu Gaby.
Dika berjalan kearah Gaby, kaki jenjang
serta sorot wajah nya yang dingin membuat
kaum hawa mabuk seketika.
"ayo.."
ajak Dika, ternyata dia sengaja stanby di sana
supaya bisa mengantarkan Gaby pulang.
Bingung dong Gaby, sebab ia sudah
mengajak Mei pulang bersama.
"ee.. kakak kesini mau jemput aku?"
"mau ambil bansos.
ya iya lah mau jemput kamu.."
Mei langsung melepaskan gandengan
tangan Gaby dari lengan nya.
"nggak apa apa By, aku pulang sendiri
bisa kok."
"t..tapi.."
Gaby benar benar merasa tak enak
sekaligus khawatir karena keadaan Mei.
Melihat situsasi itu, Dika langsung paham.
"tidak apa apa, lagi pula kita searah."
benci terhadap Mei sebenar nya belum
hilang. namun ia melakukan itu karena tak ingin
Gaby merasa khawatir.
Dika berbalik badan menuju ke mobil nya
di susul Gaby yang menuntun Mei perlahan.
Dika agar tidak menyalakan mobil nya dulu.
"bentar deh kak, kaya nya kacamata aku
ketinggalan di kelas."
"besok aja, besok juga masih masuk kan?"
"libur kak.."
Gaby menatap manja ke Dika.
"ya udah, saya ambilkan."
"eh nggak usah kak, aku aja..
kakak tunggu bentar ya.."
Gaby langsung membuka pintu mobil
dan berlari secepat mungkin.
"jangan lari..."
seru Dika.
Sepergi nya Mei, Dika juga hendak keluar
karena merasa gerah. namun ia melihat
tangan Mei yang jahitan nya mengeluarkan
nanah.
"kenapa tangan mu?
kamu nggak pernah kontrol ulang?"
tentu saja dampak nya bahaya apabila
di biarkan seperti itu.
Sigap Dika mencari kotak P3K di tas nya.
ia menuangkan beberapa tetes alkohol
di atas kapas untuk mensterilkan luka Mei.
"sini tangan mu."
Mei menjulurkan lengan nya ke arah Dika
dari kursi belakang, namun ia tak berani
menatap ke arah Dika.
"ssh!!"
tangan Mei sedikit kejang merasakan
perih nya sapuan alkohol yang di usapkan.
"aduh..!"
ia merintih lagi, namun Dika tak
menggubrisnya.
"awwh!! sakit Dok."
"ck.. tahan saja!"
ketus Dika, raut wajah nya benar benar
tak memperlihatkan belas kasihan.
"rasa sakit ini bahkan tak sebanding
dengan apa yang ibu mu lakukan kepada
kami!" gerutu Dika, rahang nya terlihat
kaku menonjol karena menahan amarah.
...~~~~...
Di rumah sakit..
Nurul duduk di ruang tunggu sambil
mengayunkan kaki nya. ia sedang menunggu
Ayu dan Duma yang akan menggantikan nya
sementara ia pulang ke rumah nanti.
sementara Vino, ia tertidur setelah di beri
suntikan anti nyeri oleh Bian.
"minum dulu.."
"hhh!!"
Nurul terkejut saat Bian tiba tiba meletakkan
minuman dingin di tangan nya.
"besok suami mu baru bisa pulang dek,
ini hasil ronsen dan keterangan yang sudah
saya tulis mengenai apa yang boleh dan tidak
boleh di lakukan selama masa pemulihan."
ia menyerahkan lembaran kertas yang di balut
amplop hijau mengkilat.
"separah itu ya bang?
apa dia bisa beraktivitas seperti biasa?"
"tidak juga, hanya saja ada beberapa
saraf yang terganggu akibat benturan
dengan pinggiran meja."
Bian menahan tawa nya sebisa mungkin
untuk menjaga perasaan Nurul.
bagaimana bisa manusia setua itu bertindak
ceroboh dengan bermain di pembatas tangga.
"ketawa aja bang, nggak apa apa.
Nur paham gimana pikiran abang."
celetuk nya saat melihat mimik wajah Bian.
"hhhahah...
maaf, maaf.. saya tidak habis pikir
aja dengan suami kamu."
ia sudah berusaha semaksimal mungkin
menahan tawa nya.
"sama bang..
Nur rasa anak balita juga paham kalau
itu berbahaya, eh malah yang tua kurang
kerjaan. haduhhhh... coba abang bayangin
kalau di bawah itu meja kaca.
apa nggak jadi zombie tu Mas Vino."
Seketika rasa canggung di antara mereka
pudar dengan sendiri nya.
"ssstt... nanti suami kamu dengar
ngambek pula hahhah..."
"hahahaha..
biar aja, habis aneh..
Nur nggak bayangin gimana malu nya
dia nanti kalau di ledekin El.
pasti El ketawa lebih keras di bandingkan
kita, habis lah Mas Vino di bully 7 hari
7 malam hahahha..."
Tanpa sadar tangan Bian mengusap usap
rambut Nurul sambil tersenyum.
"hahahahah...
masih cerewet ya kamu, gemes de.. eh.?"
Bian langsung menarik tangan nya.
"ya ampun Bian!
istri orang ini woyy!!" batin nya.
😱
gglekkk....
Nurul menatap kosong ke arah Bian.
"nggak!! ini bukan sekingkuh kan?
ya ampun Nur! jaga batasan mu!!"
rutuk nya dalam hati.
"khmm..!
itu ada resep obat yang harus kamu
ambil di apotik. saya permisi dulu."
Bian melenggang tanpa menatap Nurul.
"loh??? kok nggak minta maaf sih?"
lirih Nurul terheran, sebab Bian yang ia
kenal adalah pria yang sangat menghargai
wanita.
"sshh.. bodo ah..
semoga Mas Vino nggak lihat,
kalau lihat bisa perang dunia ke 3 nanti."
...*******...