Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 67: Salah tanggap


Vino menggenggam erat tangan Nurul.


"sayang.. kamu hargai saya dong.


masa kamu bahas bahas begituan


di depan suami mu!"


Tentu saja Nurul bingung, ia pikir


Bian berbicara tentang sabuk celana yang


kepala nya sedang di genggaman Bian.


"loh.. kenapa Mas? apa salah nya??"


"tunggu.. jadi kamu udah pernah


lihat punya dia?!!"


tatapan tajam Vino seakan mengintrogasi


Nurul.


Sementara Bian hanya tersenyum.


"seperti nya kamu benar benar bahagia


sekarang dek."


batin nya saat melihat tingkah konyol


mereka berdua.


Dahi Nurul mengkerut, apa salah nya


melihat sabuk. kok Vino sampai sebegitu


terkejut? pikir nya.


"udah.."


sahut Nurul pelan dan ragu.


"udah????


kapan? dimana??!"


"i..itu udah lama Mas.."


"DIMANA???"


tanya Vino lagi, lubang hidungnya


sampai mengembang 3 kali lipat


karena menahan emosi.


"di kamar nya bang Bian..


Nur juga nggak sengaja kok lihat nya."


Vino menarik nafas panjang.


kemudian menatap sinis kearah Bian.


"kenapa kau mengajak nya melihat itu?!


kau pasti memaksa nya kan?!"


Bian mengangkat kedua bahu nya.


"diam lah.. aku hendak menyuntikkan


anti nyeri."


"jangan salah tempat."


titah Vino takut suntikan Bian meleset.


"baiklah.."


sahut Bian fokus ke titik yang di tuju.


"untung saja aku sakit, kalau tidak


sudah ku hancurkan isi kepala mu."


rutuk Vino.


Bian berbisik di sertai senyum smrik.


"ck.. jangan berlebihan, dia melakukan nya


hanya sekali. sedangkan kau berkali kali,


apa dia pernah mempermasalahkan itu?"


"sshh!! kau ..!"


akhir nya Vino menenangkan kepala nya.


jika di pikir pikir benar juga sih, toh


Vino mendapatkan Nurul utuh.


...~~~~...


Gaby dan teman sekelasnya berhamburan


keluar karena jam pelajaran sudah selesai.


sebagai kandidat bucin terbaru, Gaby


senyum senyum sendiri saat berbalas


pesan dengan suami masa kecil nya.


"kamu di mana?"


pesan singkat dari Dika, walau terlihat


dingin namun pesan itu sudah cukup


membuat jantung Gaby berdebar dahsyat.


"baru keluar nih kak, mau pulang❤️"


balas Gaby, ia memberikan banyak emot


hati kepada Dika.


Saat sedang berjalan, Gaby melihat Mei


yang juga hendak pulang dengan raut wajah


pucat. karena rasa persahabatan nya


masih kental, Gaby pun berinisiatif


untuk menghampiri nya.


"Mei..?


kamu kenapa? sakit lagi?"


Mei mengeleng, ia memang tengah menahan


perih di perut dan juga di sekujur tubuh


karena bekas jahitan waktu itu kembali


terinfeksi bakteri.


"aku antar kamu ke kos ya?"


"nggak usah By, aku naik taksi aja."


"nggak apa apa, aku juga naik taksi.


kita bareng aja yuk.."


Gaby benar benar prihatin melihat keadaan


Mei yang sekarang. bagaimana tidak?


di saat diri nya terpuruk dan butuh dukungan,


tak ada satupun keluarga nya yang perduli.


"boleh.."


Mei mengangguk dan tersenyum kecil.


"DITAAA...."


panggil Dika dengan suara lantang


dari lokasi parkir.


"hhhh???"


Gaby terkejut sekaligus malu karena


semua mata yang ada di sana melihat


ke arah Dika. tentu mereka tak tau bahwa


yang di panggil oleh Dika itu Gaby.


Dika berjalan kearah Gaby, kaki jenjang


serta sorot wajah nya yang dingin membuat


kaum hawa mabuk seketika.


"ayo.."


ajak Dika, ternyata dia sengaja stanby di sana


supaya bisa mengantarkan Gaby pulang.


Bingung dong Gaby, sebab ia sudah


mengajak Mei pulang bersama.


"ee.. kakak kesini mau jemput aku?"


"mau ambil bansos.


ya iya lah mau jemput kamu.."


Mei langsung melepaskan gandengan


tangan Gaby dari lengan nya.


"nggak apa apa By, aku pulang sendiri


bisa kok."


"t..tapi.."


Gaby benar benar merasa tak enak


sekaligus khawatir karena keadaan Mei.


Melihat situsasi itu, Dika langsung paham.


"tidak apa apa, lagi pula kita searah."


benci terhadap Mei sebenar nya belum


hilang. namun ia melakukan itu karena tak ingin


Gaby merasa khawatir.


Dika berbalik badan menuju ke mobil nya


di susul Gaby yang menuntun Mei perlahan.


Dika agar tidak menyalakan mobil nya dulu.


"bentar deh kak, kaya nya kacamata aku


ketinggalan di kelas."


"besok aja, besok juga masih masuk kan?"


"libur kak.."


Gaby menatap manja ke Dika.


"ya udah, saya ambilkan."


"eh nggak usah kak, aku aja..


kakak tunggu bentar ya.."


Gaby langsung membuka pintu mobil


dan berlari secepat mungkin.


"jangan lari..."


seru Dika.


Sepergi nya Mei, Dika juga hendak keluar


karena merasa gerah. namun ia melihat


tangan Mei yang jahitan nya mengeluarkan


nanah.


"kenapa tangan mu?


kamu nggak pernah kontrol ulang?"


tentu saja dampak nya bahaya apabila


di biarkan seperti itu.


Sigap Dika mencari kotak P3K di tas nya.


ia menuangkan beberapa tetes alkohol


di atas kapas untuk mensterilkan luka Mei.


"sini tangan mu."


Mei menjulurkan lengan nya ke arah Dika


dari kursi belakang, namun ia tak berani


menatap ke arah Dika.


"ssh!!"


tangan Mei sedikit kejang merasakan


perih nya sapuan alkohol yang di usapkan.


"aduh..!"


ia merintih lagi, namun Dika tak


menggubrisnya.


"awwh!! sakit Dok."


"ck.. tahan saja!"


ketus Dika, raut wajah nya benar benar


tak memperlihatkan belas kasihan.


"rasa sakit ini bahkan tak sebanding


dengan apa yang ibu mu lakukan kepada


kami!" gerutu Dika, rahang nya terlihat


kaku menonjol karena menahan amarah.


...~~~~...


Di rumah sakit..


Nurul duduk di ruang tunggu sambil


mengayunkan kaki nya. ia sedang menunggu


Ayu dan Duma yang akan menggantikan nya


sementara ia pulang ke rumah nanti.


sementara Vino, ia tertidur setelah di beri


suntikan anti nyeri oleh Bian.


"minum dulu.."


"hhh!!"


Nurul terkejut saat Bian tiba tiba meletakkan


minuman dingin di tangan nya.


"besok suami mu baru bisa pulang dek,


ini hasil ronsen dan keterangan yang sudah


saya tulis mengenai apa yang boleh dan tidak


boleh di lakukan selama masa pemulihan."


ia menyerahkan lembaran kertas yang di balut


amplop hijau mengkilat.


"separah itu ya bang?


apa dia bisa beraktivitas seperti biasa?"


"tidak juga, hanya saja ada beberapa


saraf yang terganggu akibat benturan


dengan pinggiran meja."


Bian menahan tawa nya sebisa mungkin


untuk menjaga perasaan Nurul.


bagaimana bisa manusia setua itu bertindak


ceroboh dengan bermain di pembatas tangga.


"ketawa aja bang, nggak apa apa.


Nur paham gimana pikiran abang."


celetuk nya saat melihat mimik wajah Bian.


"hhhahah...


maaf, maaf.. saya tidak habis pikir


aja dengan suami kamu."


ia sudah berusaha semaksimal mungkin


menahan tawa nya.


"sama bang..


Nur rasa anak balita juga paham kalau


itu berbahaya, eh malah yang tua kurang


kerjaan. haduhhhh... coba abang bayangin


kalau di bawah itu meja kaca.


apa nggak jadi zombie tu Mas Vino."


Seketika rasa canggung di antara mereka


pudar dengan sendiri nya.


"ssstt... nanti suami kamu dengar


ngambek pula hahhah..."


"hahahaha..


biar aja, habis aneh..


Nur nggak bayangin gimana malu nya


dia nanti kalau di ledekin El.


pasti El ketawa lebih keras di bandingkan


kita, habis lah Mas Vino di bully 7 hari


7 malam hahahha..."


Tanpa sadar tangan Bian mengusap usap


rambut Nurul sambil tersenyum.


"hahahahah...


masih cerewet ya kamu, gemes de.. eh.?"


Bian langsung menarik tangan nya.


"ya ampun Bian!


istri orang ini woyy!!" batin nya.


😱


gglekkk....


Nurul menatap kosong ke arah Bian.


"nggak!! ini bukan sekingkuh kan?


ya ampun Nur! jaga batasan mu!!"


rutuk nya dalam hati.


"khmm..!


itu ada resep obat yang harus kamu


ambil di apotik. saya permisi dulu."


Bian melenggang tanpa menatap Nurul.


"loh??? kok nggak minta maaf sih?"


lirih Nurul terheran, sebab Bian yang ia


kenal adalah pria yang sangat menghargai


wanita.


"sshh.. bodo ah..


semoga Mas Vino nggak lihat,


kalau lihat bisa perang dunia ke 3 nanti."


...*******...