
Di dalam pesawat, Vino meninggalkan putra nya sebentar untuk ke toilet.
"nak sebentar ya.. Ayah mules banget"
"hmm.." El mengangguk sambil tersenyum.
Karena penasaran dengan surat yang di berikan nenek nya, ia pun mengeluarkan surat itu dari amplop yang ia selipkan di sweter nya.
surat itu terdiri dari beberapa lembar kertas yang di staples menjadi satu. El pun perlahan membuka lembaran pertama lalu membaca nya.
Dari mama untuk El tersayang.
Hai nak..
saat kamu membaca surat ini, mama yakin kamu sudah tumbuh menjadi anak yang pintar.
mama yakin kamu pasti mirip banget sama ayah kamu. mata mu, bibir mu, rambut mu, bahkan dagu mu semua nya mirip ayah mu.
"tidak.. aku mirip mama.."
gumam nya, lalu ia lanjut membaca lagi.
El, ini surat rahasia. jadi pastikan ayah mu tidak membaca ini, berjanjilah pada mama, bisa kan?
mama tidak tau di umur berapa kamu membaca ini, yang pasti mama akan menyampaikan semua keinginan mama di sini. jika kamu belum mengerti dengan apa yang akan mama tuliskan ini, maka simpan lah dan baca lagi setelah kamu mengerti.
Pasti ada saat nya nanti kamu tinggal di indonesia nak, di sana cukup hangat. dan kamu pasti memiliki banyak saudara di sana.
dan mama ingin mengenalkan kamu pada salah satu saudara angkat ayah mu.
nama nya Kirana, ayah mu lebih sering memanggil nya Ran.
Ayah mu sangat mencintai wanita bernama Kirana itu. ayah mu tidak pernah melupakan wanita cantik itu bahkan sampai saat kamu di lahirkan. tapi itu bukan kesalahan ayah mu nak, mama lah yang salah karena telah memisahkan ayah mu dengan cinta sejati nya.
Saat kamu kembali ke Indonesia, bisakan kamu berjanji kepada mama?
kalau ayah mu ingin mencari bunda baru untukmu, pastikan dia orang nya.
mama akan marah padamu kalau kamu membiarkan ayah menikah dengan wanita selain Kirana. mama percaya El anak yang pintar,
jadi El pasti mengerti dan bisa mengabulkan permintaan mama. i love u sayang♥️
peluk cium dari mama di surga..
El menitikkan air mata saat membaca surat dari mama nya itu, rasa rindu akan pelukan mama menyelimuti diri nya yang tak pernah merasakan hal itu. lalu El membalik lembaran berikut nya, dan di dapati foto Nurul di sana.
"bunda.." ia mengangguk seakan mengiyakan permintaan sang mama untuk menjadikan Kirana sebagai bunda nya.
"El.. maaf ya ayah lama.."
El langsung menutup surat itu agar tak di baca oleh Vino.
"surat rahasia dari mama?"
tanya Vino.
"iya.. ayah tidak boleh baca loh!" tegas El.
"hahah... iya nak, ayah akan menghargai privasi kamu" Vino mengusap lembut kepala anak pintar nya itu.
"oh iya.. besok Keenan dan Ica ulang tahun, El mau datang?"
"wahh.. mau dong yah. El tidak sabar bertemu langsung dengan Keenan. El akan kasih mainan favorit El untuk Keenan" ucap nya sangat antusias.
Walaupun tak pernah pulang ke Indonesia,dari dulu, Vino sering melakukan panggilan Video pada keluarga nya agar El mengenal siapa saja saudara nya. hanya saja Vino selalu minta kepada mereka semua agar merahasiakan itu dari Nurul.
ia tak mau kalau Nurul tau kehidupan nya sangat berantakan di sana. bahkan Nurul tak di beritahu kalau Zey sudah tiada. yang ia tau Vino bahagia dan baik baik saja di sana bersama keluarga baru nya.Vino juga meminta kepada semua orang untuk merahasiakan kepulangan nya dari Nurul.
ia berpikir kehadirannya kembali hanya akan membuat Nurul memandang nya sebelah mata karena hidup nya yang sangat berantakan.
...~~~~...
Hari ulang tahun Keenan dan Disha.
"bang... sini..." Nurul melambaikan tangan nya ke arah Bian. para tamu sudah mulai berdatangan siang ini, kerabat, teman hingga kolega Dimas tampak meramaikan acara ulang tahun ini.
"ya ampun.. sayang kamu cantik banget sih.."
Bian menepuk nepuk kepala Nurul.
"siapa dulu... Nurul gitu loh..."
ia menyibakkan rambut nya sambil menyombongkan diri, lalu tertawa lepas.
"jadi pengen cepat ngelamar.." goda Bian dengan senyum manis nya.
"eheheh.. sabar ya... setahun lagi,awas kalau abang meleng ke perempuan lain"
"saya setia dek, malah saya takut kamu yang meleng"
"hahahha.. udah yuk masuk, mama udah nanyain abang dari tadi"
Nurul pun menggandeng Bian masuk ke dalam rumah nya.
...-...
...-...
"Vino! kamu ngapain sih pakai masker segala?"
"tau nih, segitu nya menghindari Nurul." imbuh Dimas.
"hai El.. mau gabung sama Keenan nggak?"
Dimas menyapa keponakan nya itu.
"mau Om, El sudah bawa hadiah ni untuk Keenan"
Dimas pun menuntun El untuk bergabung bersama anak anak lainnya.
El langsung terperangah saat melihat Nurul yang sedang menyanyikan lagu bersama anak anak lainnya.
Happy birthday Keenan...
Happy birthday Disha...
Happy birthday to twins....
El langsung menaiki dua anak tangga di depan nya itu dan menarik tangan Nurul.
"bunda...." panggil El dengan wajah polos nya.
sontak saja semua orang yang ada di sana menoleh ke arah mereka.
"iya..?" sahut Nurul, ia tak tega melihat El,
ia pikir El keliru mengenali ibu nya.
selama ini Nurul memang tak pernah tau wajah El, karena keluarga nya kompak berjanji untuk itu pada Vino.
"paman jangan pegang bunda El.." ia menepis tangan Bian yang menggandeng Nurul.
Menyadari itu, Vino langsung berlari menghampiri El. ia segera menggendong El lalu pergi dari sana.
"maaf ya.." ucap nya seraya menghindari pandangan Nurul.
"eh.. iya nggak apa apa.." sahut Nurul dan Bian.
mereka saling menatap heran, sebab di antara ribuan tamu hanya Vino yang memakai masker dan topi.
"El ngapain nak? emang nya El nggak takut nanti tante nya marah?"
"dia bukan tante, dia bunda nya Ayah dan El."
tukas El sedikit kesal.
"bunda? El jangan sembarangan ngomong loh.
itu bisa menyinggung orang, kalau orang nya tidak terima terus marah gimana?"
"kata mama bunda orang nya baik, jadi tidak mungkin bunda marah sama El." sepertinya El tak menyadari kalau dirinya keceplosan bicara.
"Vino.. ngapain kamu gendong El begitu, biarin dong dia main sama saudara nya" bisik Rianti.
"iya Vin.. kamu beri dong El kebebasan, kalau kamu takut Nurul tau. mending kamu tunggu di mobil atau pulang sekalian dari pada ngekang El kaya begitu" ujar Duma juga tak terima.
"tapi dia ngawur ma. masa manggil Ran bunda.
Vino belum siap bertemu lagi sama Ran.."
"nah itu, Bunda Kirana kan nama nya.."
celetuk El lagi.
"El.. jangan sembarangan panggil orang begitu, atau ayah akan marah sama El" tegas Vino.
El mengangguk pelan dengan tatapan sedih.
sebenar nya tak tega melihat sang anak begitu, tapi mau bagaimana lagi.
Nurul terus memandang ke arah Vino. ia memperhatikan punggung Vino dari kejauhan, tentu saja ia merasa tak asing dengan punggung milik orang yang selama ini tak pernah pergi dari ingatan nya.
"El di sini aja ya sama oma...
biar ayah pulang, soal nya kepala ayah sakit kata nya" ucap Duma. El dengan senang hati mengiyakan permintaan oma nya itu.
"tu Vin.. mendingan kamu pulang deh dari pada kaya maling mindik mindik begitu"
"iya ma.. seperti nya lebih baik begitu.
El.. ayah pulang ya, jangan nakal dan nurut kata oma ya" Vino mengecup kepala El lalu segera beranjak.
Saat berbalik badan, betapa terkejut nya dia karena Nurul berdiri di belakang nya.
"astaga... maaf" Vino menundukkan kepala lalu berlari secepat nya dari sana.
"ihh.. aneh banget tu orang." gumam Nurul.
"ma.. tante, di tunggu kak Fani di sana, potong kue nya akan di mulai" ucap Nurul, namun pandangannya terfokus kepada El.
"eh.. ini anak nya siapa tante?"
"El, kamu di tanya tuh sama tante nya, coba jawab El anak nya siapa?" Duma sengaja membiarkan El yang menjawab.
"El anak nya ayah, dan bunda.." El menunjuk Nurul sambil tersenyum.
...********...