Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 77: Aku menyukai mu


"pak..bisa tolong telfonkan staff ku?"


pinta Zey dengan nafas terpotong potong kepada pengawal kantor Dimas.


ia juga celingukan karena takut ada yang melihat nya.


"baik nona.." ujar pengawal itu, ia pun membawa Zey masuk dulu agar keamanan nya terjaga.


"kok masih terang pak? memang nya sedang ada lembur?" tanya Zey.


"Pak Dimas dan yang lain sedang disini karena ada sesuatu yang harus di kerjakan" sahut pengawal.


Setelah beberapakali mencoba menelfon para staff dan juga manajer Zey,tak ada satupun yang tersambung.


ya,sudah jadi kebiasaan di Agensi itu saat ada skandal mereka akan mematikan ponsel mereka agar terhindar dari panggilan awak media.


"tidak ada yang aktiv bagaimana ini?"


ujar pengawal itu.


"agrrhh!!!! mereka benar benar pecundang!" pekik Zey kesal.


"ada apa?" suara Dimas tiba tiba mengejutkan Zey.


"Bapak belum lihat berita?"


Dimas langsung membuka ponsel nya,benar saja ratusan artikel mengenai kasus Sean bermunculan di notifikasi nya.


"astaga..! siapa pelakunya"


gumam Dimas heran.


"lalu kenapa kau malah berkeliaran?"


"begini pak.." Zey pun menjelaskan situasi yang yang sangat sial ini, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Mendengar itu,Dimas merasa kasihan karena Zey masih berstatus terikat kontrak dengan nya.


karena tak tega membiarkan nya terluntang lantung tak jelas,Dimas pun mengajak Zey ke tempat yang bisa ia tinggali sementara.


"masuklah ke mobil mu dan ikuti aku"


titah Dimas.


...-...


...-...


Setelah beberapa menit perjalanan,mereka pun sampai di salah satu hotel milik perusahaan nya.


"berikan saya satu kunci kamar"


ujar Dimas pada resepsionis hotel itu.


"baik pak"


"apa satu kamar? apa Pak Dimas mengajak ku tidur bersama?" sempat sempat nya Zey berpikiran kesana.


"nah.. tinggal lah sampai situasi aman. aku sudah menyuruh mereka mencaritahu nomor staff mu yang bisa di hubungi" Dimas melemparkan kunci kamar itu kepada Zey,lalu pergi dengan wajah datar bak kanebo baru.


Dimas juga memastikan kepada para pegawai hotel agar privasi Zey terjaga,jangan sampai ada wartawan yang tau.


"mari saya antar Bu" ujar resepsionis itu, Zey pun menuruti sambil menahan malu yang amat sangat karena lagi lagi ia kepe-de an.


...~~~...


"sayang.. maaf ya Mas lama.."


ujar Dimas yang baru saja sampai,tak lupa ia memberi kecupan hangat kepada sang istri.


"Mas udah lihat berita?"


"udah sayang.. tadi Mas juga mengantarkan Zey ke hotel kita ....bla ..bla..bla.." Dimas menceritakan panjang lebar dan detail yang terjadi pada Zey.


"Mas nganter ke hotel?"


"i..iya.." sahut Dimas bingung.


"berduaan gitu di mobil?!" Fani melebarkan bola mata nya.


"nggak sayang.. dia pakai mobil sendiri,kalau nggak percaya lihat deh kamera dasboard mobil Mas"


"terus abis Mas anter?? Mas nggak ikut masuk ke kamar hotel kan?!!"


"hahah.. ya nggak lah sayang. Mas langsung pulang kok"


Fani tak menjawab,lirikan mata nya ia hunuskan setajam mungkin hingga terasa merobek robek wajah Dimas.


"duhh...sayang ku gemesss banget kalau cemburu"


Dimas menguyel ngunyel pipi Fani yang mulai bertambah chuby itu.


"awas aja bohong. Fani sunat sampai habis Mas๐Ÿ˜"


"jangan dong.. nanti yang cetak dimdim season 2 siapa?"


"2 anak udah cukup kok"


"Mas mau empat..


lagian emang kamu tahan nanti kalau Mas nggak bisa nyuntik?"


"ya maka nya jangan bohong kalau mau tetap utuh senjata Mas"


Fani semakin melebarkan mata nya demi menambahkan kesan killer,namun bukan nya serem Dimas malah semakin gemas.


"kan kamu sih sebut sebut senjata Mas,jadi berdiri tuh tanggung jawab"


"nggak mau wekk๐Ÿ˜›" Fani malah kabur ke dapur.


"sayang... kamu lo yang mancing mancing"


"iya ... Fani ambil makan dulu laper,Mas juga belum makan kan?" seru Fani menggema dari dapur.


...~~~~...


Sementara Vino yang sedang asik melihat pameran di Museum terusik oleh nitifikasi ponsel nya yang terus terus an masuk.


ya berita terkini malam itu menyerbu bar notifikasi ponsel nya Vino.


"hah!!?"


"kenapa pak?" tanya si bocil.


Vino tak mendengar pertanyaan Nurul,ia langsung sibuk menelpon Zey.


bagaimana berita yang mereka tutup rapat ini bisa bocor? jika sudah begini pasti akan ada berita lanjutan yang lebih menggegerkan. lalu siapa dalang di balik semua ini?


Di sisi lain Zey sudah hampir 1 jam berdiri di meja resepsionis,ia berusaha menelpon Vino namun karena tak terlalu ingat nomor nya ia pun terus salah sambung.


Hingga setelah yang ke ratusan kali nya baru ia tersambung oleh Vino.


"hallo..."


"siapa?" tanya Vino heran,sebab nomor nya bukan dari telepon genggam.


"aku Vin... bisa minta tolong??"


"Zey? astaga kau di mana sekarang.."


"nanti aku ceritakan padamu.. bisa kah kau mengambilkan dompet dan dan ponsel ku di hotel? aku tidak bisa ke sana karena wartawan sudah menunggu"


ujar nya terburu buru,ia takut ada yang mengetahui keberadaan nya.


"baiklah,berapa kode pintu nya?"


"ada apa sih Pak?"


Nurul masih heran dengan kerisuhan yang melanda Vino tiba tiba.


"ini...


mau bantuin saya nggak?" ide pun muncul,ya Jika Nurul yang memasuki kamar itu pasti mereka tidak curiga kan? karena ia masih mengenakan seragam sekolah nya.


tanpa menunggu jawaban Nurul,Vino langsung menggandeng tangan nya pergi.


...~~~~...


Sesampai nya di hotel tempat Zey menginap,Vino mengajak Nurul masuk dan berpura pura berakting kalau itu kamar papa nya,sementara Vino menyamar menjadi wartawan juga dengan alat seadanya.


"permisi.. saya mau masuk"


ujar Nurul pada para reporter yang menghadang di pintu.


"anda siapa?"


"apa anda ada sangkut paut nya dengan Zey?"


"apa hubungan nona dengan nya"


para wartawan langsung sibuk menyodorkan microphone ke arah Nurul.


"saya Kirana.


maaf sebelum nya tapi Zey itu siapa?"


wartawan: "Bukan nya ini kamar nya Zey? model terkenal itu?"


"ini kamar papa saya,dan saya kesini karena ada barang yang tertinggal" sahut Nurul dengan tampang kurang meyakin kan. baru kali ini ia berbohong dengan banyak orang pula.


Para wartawan itu langsung saling memandang bingung,apa mungkin mereka salah alamat?


"guys aku melihat nya barusan meninggalkan baseman dengan mobil agensi nya" seru Vino dengan wajah sangat yakin.


para wartawan yang sangat haus akan berita itu pun langsung berhamburan keluar termakan omongan Vino.


Setelah situasi aman,Vino pun segera masuk ke kamar Zey.


"ayo cepat.. mereka pasti kembali nanti"


ujar Vino.


"fffuhhhh... sumpah Nur deg deg an banget pak"


ia terduduk di atas tempat tidur sambil mengatur nafas nya.


"jangan duduk disana!!" tukas Vino.


"bentar pak.. janji nggak Nur berantakin"


"duduk lah di kursi.."


Dengan wajah sebal Nurul pun berjalan ke arah sofa di sudut ruangan.


"pelit banget sih.. padahal bukan kamar dia juga"


gumam Nurul yang tanpa sadar di dengar Vino.


"bukan pelit bocil..aku tak bisa mengendalikan diri melihat mu duduk di atas kasur"


batin Vino sambil terus mencari letak dompet nya Zey.


"nah..dapat,ayo keluar"


baru saja menghempaskan bokong nya, Vino sudah menarik tangan Nurul lagi.


Nurul pun hanya bisa pasrah dengan wajah kusut mengkirut bak cucian belum di setrika.


...~~~~...


Hotel Gold ivy..


"tunggu sebentar ya..saya antar ini dulu.."


pinta Vino.


"iya.." jawab Nurul datar.


hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan bagi nya.


tok..tok..tok..


"Zey.. buka lah,ini aku"


seru Vino.


Zey pun membuka kan pintu nya dan menarik Vino masuk.


"ssttt.. jangan panggil nama ku!"


"hah? baik lah.. kalau begitu aku pergi.."


Vino menyerahkan barang nya Zey.


"bisa kah kau tetap di sini menemani ku?"


"tidak bisa.. kau istirahat lah.."


Vino menepuk bahu Zey lalu berbalik badan,tapi entah apa yang ada di pikiran Zey ia malah memeluk Vino dari belakang.


"aku takut Vin..." ujar nya lirih.


Vino melepaskan lengan Zey yang melingkari pinggang nya.


"apa yang kau takutkan hm?? kau aman di sini,tenang lah. aku akan menghubungi staff mu agar mereka menemani mu"


Zey yang sedari tadi sudah di hujani kecemburuan pun tak tahan lagi saat menatap Vino.


dengan jemari lentiknya ia meraba dada Vino lalu mencium bibir nya.


"hentikan Zey! apa yang kau lakukan?!"


Vino mendorong tubuh Zey menjauh.


"kenapa? bukan kah kita juga melakukan nya waktu itu?


aku menyukai mu Vino.. sangat menyukai mu"


"maaf Zey,tapi aku..."


"iya aku tau,kau menyukai gadis kecil itu bukan? tentu saja kau lebih memilih dia di banding aku yang kotor ini" ujar nya merendah diri,air mata pun menitik di pipi nya.


"bukan soal kesucian Zey.."


Vino malah menyosor balik bibir nya Zey dengan penuh penghayatan.


(bibir buat uji coba ๐Ÿ˜Œ)


"aku pun sama kotor nya,


tapi lihat.. aku tidak merasakan hal yang spesial bahkan saat mencium mu.


aku tidak merasakan jantung ku berdebar karena mu,bukan soal kesucian diri mu,hanya saja aku memang tidak memiliki rasa itu untuk mu.


aku harap kau mengerti"


Vino meninggalkan Zey yang termanggu lemas di sana dengan wajah hambar nya.


...********...