
Karena Sean sudah di tahan,Fani meminta kepada Dimas untuk kembali ke rumah mereka.
namun Dimas masih khawatir dengan keadaan Fani yang belakangan ini sering drop,ia meminta untuk tinggal beberapa hari lagi di sana agar Dimas tidak khawatir meninggalkan nya saat ke kantor.
tapi Fani tetap ingin kembali ke rumah mereka,ia mengatakan dirinya lebih nyaman di rumah mereka di banding di rumah orang tua Dimas.
Demi kenyamanan sang istri Dimas pun menuruti nya,karena ia tak mau ketidaknyamanan menganggu psikis Fani yang nanti nya akan berdampak buruk kepada anak anak nya juga.
Setelah mengemasi semua pakaian nya,mereka berdua pun berpamitan dan kepada semua yang ada di rumah.
"apa mereka bertengkar? padahal Fani kelihatan kurang sehat. kenapa malah ingin cepat pulang? bukan kah lebih baik jika di sini agar Fani ada yang menemani?" pikir Rianti saat memeluk Fani.
wajah Dimas dan Fani memang tampak sangat kusut,jadi wajar saja jika rianti menduga mereka sedang bertengkar.
lagi Fani tak seceria biasa nya,wajah nya pucat dan tampak murung karena masih kepikiran oleh ayah nya yang muncul tiba tiba dan tak mengenali nya.
"kita pulang ya ma..." ujar Dimas sambil mencium punggung tangan Rianti.
pikiran Dimas yang sedang kalut pun membuat bibir nya enggan mengeluarkan senyuman hangat nya kepada sang mama.
"iya nak.. hati hati ya... bye sayang.." Rianti melambaikan tangan nya mengiri Dimas dan Fani yang menuju ke mobil.
Melihat ekspresi anak lelaki nya datar,Rianti pun semakin kepikiran.
"beneran bertengkar kah?? semoga hanya masalah ringan dan semoga Dimas bisa mengendalikan emosi nya"
batin Rianti sembari mengelus dada nya yang bergemuruh karena khawatir.
ia hafal betul tabiat nya Dimas yang kalau marah tak mau mendengarkan lawan bicara nya.
memang dulu Dimas adalah anak lelaki yang baik dan lembut,namun karena dua kali perceraian sebelum nya membuat Dimas menjadi lebih sensitif dan tempramental.
"bisa pasang sabuk nya sayang??"
tanya Dimas memastikan.
"bisa Mas.." jawab Fani lemas.
Dimas hanya tersenyum kecil saat melihat sang istri yang sangat badmood itu.
ia tak tau harus bagaimana agar mood Fani kembali bagus,sedari tadi dia sudah berusaha mencari topik yang di sukai Fani,sudah menawarkan berbagai macam hal kesukaan Fani tapi tetap saja mood Fani tak kunjung baik.
jalan satu satu nya sekarang hanya diam dan menuruti apa keinginan sang istri.
Walaupun Dimas sedikit kesal,tapi ia tetap bersabar dan menuruti semua perkataan Fani. karena ia tau faktor besar yang menyebabkan Fani bersikap begitu pasti hormon kehamilan nya.
jika di suruh memilih pasti Fani pun juga tak ingin di hadapkan dengan hal hal yang memperburuk keadaan kan?
"Mas.. mau itu.." pinta Fani sambil menunjuk makanan yang tertera di spanduk papan iklan berukuran besar di depan Ruko.
"seblak??" Dimas mengernyitkan dahi nya.
"iyaa...☺️" jawab Fani dengan wajah berbinar.
ya,semangkuk seblak di spanduk itu merubah mood Fani seketika.
"tapi itu kan pedas sayang.. nanti perut kamu sakit gimana? kamu dari kecil nggak bisa makan pedas,dan sekarang kamu lagi hamil sayang nggak baik makan makanan pedas..
kemarin udah makan bakso mercon banyak banget cabe nya,terus kemarin nya lagi pecel ayam pake sambel 2 mangkok dan tadi pagi di kantor Jaksa kamu makan mie ayam pedes banget gitu nanti kalau kamu menc*ret terus lemas gimana? kamu lagi hamil dan nggak cuma satu loh anak kita di dalam perut kamu kalau kamu sampai lemas kan bisa bahaya buat anak kita juga sayang."
kecepatan bicara Dimas mengalahkan seorang yang sedang nge-Rap.
seperti nya ia mencoba melampiaskan semua unek unek yang terpendam seharian dengan cara itu.
"tapi pengen Mas.. tuuh liat ludah Fani sampai mencair.. boleh ya Mas,, janji nanti pesen nya yang nggak pedas"
bujuk nya sambil memasang wajah manja.
Melihat wajah gemoy sang istri Dimas jadi tak tega untuk melarang nya.
"hhhhfff....."
"Mas.... boleh yaaa..." kali ini Fani mendekatkan wajah nya ke arah Dimas.
"cium dulu..." ujar Dimas sambil mengetuk pipi nya dengan jari agar Fani mencium nya.
"mmmmmuuaccchhhhh......."
bukan di pipi,Fani mendarat kan ciuman nya di bibir seksi sang suami.
Dimas yang tadi nya pasang wajah jual mahal pun langsung mleyot kegirangan mendapatkan kecupan dari Fani,karena sudah 2 hari ini ia tak bisa mencium sang istri.
"ya udah ayo.. mau berapa mangkok. tapi janji nggak pedas yaa"
ucap nya girang sambil melepaskan sabuk pengaman.
"dua..." sahut Fani tak kalah girang nya.
akhir nya suasana pun kembali mencari berkat semangkuk seblak yang terpajang di spanduk tersebut.
...~~~~...
"Papa nekat banget ih, nyuruh Mila menikah. padahal kita belum kenal banget sama lelaki itu"
ujar Sarah sambil fokus memandangi foto berlatar belakang biru milik Mila dan Riko.
"Mama mau anak kita jadi perawan tua? papa bersyukur banget malah kita datang di waktu yang tepat" sahut Bara yang tetap fokus menyetir mobil.
"tapi gimana kalau nanti nya Mila nggak bahagia sama lelaki itu Pa, dia kelihatan nya nggak cinta sama si Riko itu"
"sejauh ini memang mama pernah lihat Mila jatuh cinta sama laki laki?"
"enggak sih pa.."
"nah ya itu.. kalau kita menunggu Mila jatuh cinta,bisa bisa sampai kita berdua meninggal juga nggak bakalan nikah tu anak. lagian papa memaksa mereka nikah karena papa lihat Riko itu cinta sama anak kita,dan firasat papa bilang kalau si Riko itu yang bisa mencintai anak kita yang kaya gerandong itu.
masalah cinta,, seiring mereka tinggal bersama nanti pasti tumbuh. bukti nya dulu mama juga terpaksakan nikah sama papa,tapi langgeng sampai punya anak segede itu"
tutur Bara panjang lebar,ia seperti sedang memberikan wejangan untuk sang istri yang merasa bimbang.
...~~~~...
Di sisi lain...
Baru 30 detik orang tua Riko juga berpamitan,Mila langsung mengepalkan tangan nya dengan wajah emosi. ia menatap Riko sangat tajam seperti seekor banteng yang siap menyeruduk lawan.
"astaga...!! kenapa kau?" Riko sangat terkejut ketika berbalik badan dan mendapati wajah Mila yang lebih seram dari biasa nya.
"kenapa?? kau harus membiasakan diri dengan wajah ku! jika kau keberatan maka jangan setujui penikahan nya!!!" pekik Mila.
"chh.. aku menyetujui karena merasa harus bertanggung jawab atas perbuatan ku"
Riko masih saja senang melihat Mila marah marah begitu.
"tanggung jawab apa?! karena kau mencium ku hah!? kalau cuma karena itu aku tidak akan menuntut mu. jadi katakan pada papa ku kau membatalkan pernikahan nya!"
"kau ingat malam setelah pernikahan Pak Dimas? kita tidur bersama kan? dan aku membuka segel mu malam itu.. dan kemarin dengan sangat yakin kau mengajak papa mu untuk Visum?? ck..ck...
jika dia benar benar mengiyakan nya pasti kau sudah di anggap pembohong"
ujar Riko setengah berbisik dengan senyuman picik nya. tentu saja itu hanya omong kosong yang sengaja ia karang agar kepala Mila tambah panas.
"APA?!!! kau bilang kita tidak melakukan apa apa saat itu!! dasar baj*ngan!!!!"
Mila hampir saja menjambak rambut Riko dengan sekuat tenaga nya. namun Riko berhasil mengunci kedua lengan Mila.
"maka bersyukurlah kau karena aku mau menikahi mu" ucap Riko sambil mendekatkan wajah nya ke wajah Mila.
"fffhhhh....!!!"
Mila meniup helaian rambut nya yang terjuntai menutupi mata nya.
"baiklah! maka batalkan saja pernikahan nya!! aku tidak keberatan jika harus menjadi perempuan murahan!!" Mila menarik kedua tangannya dari cengkraman Riko.
"Bodo amat aku sudah melakukan hal menjijikan itu dengan mu!! yang penting aku tidak menikah dengan manusia seperti mu! manusia psikopat! manusia aneh!!" kebringasan Mila semakin menjadi jadi. ia benar benar di buat frustasi oleh keadaan.
"lalu kau akan menikah dengan Elvan.."
imbuh Riko dengan santai nya sambil melewati Mila. ia pun duduk di sofa tempat insiden itu bermula.
Mila: "TIDAK!!"
"maka menikah saja dengan ku"
sahut Riko sambil tersenyum sinis penuh kemenangan.
Menyadari situasi nya bak buah simalakama,Mila langsung terduduk lemas di lantai.
"yaa.. kau benar.. lebih baik aku menikah dengan mu dari pada dengan buto ijo itu"
ucap Mila penuh keputusasaan.
sesaat ia bepikir akan lebih mudah hidup dengan Riko walaupun setiap hari akan seperti kucing dan anying. dari pada harus hidup dengan si Elvan manusia hiperngeres dan sangat posesif itu.
(belum tau aja dia gimane ganas nya si Riko)
Lagi lagi Riko tersenyum penuh kemenangan,
sebenarnya ia juga ingin seperti laki laki lain yang bersikap lembut kepada wanita nya,tapi ntah kenapa sulit untuk melakukan itu dengan Mila.
jiwa Riko lebih bahagia kala melihat Mila yang tertindas oleh cinta nya yang tak terucapkan.
...*******...