Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 41: Si alex


Vino membawa Nurul kekamar nya.


begitu pintu di tutup, ia langsung mendekap


tubuh mungil Nurul erat erat.


"hhhikkkk.....( bengek )


Pak.. ya ampun, remuk tulang Nur.."


"saya kangen banget sama kamu...


muuahh....😘 "


ia mengecup kening Nurul.


"apaan sih pak, baru sehari nggak


ketemu..." elak nya tersipu malu.


padahal dalem ati


rindu juga... rindu banget malah😍


"peluk saya juga dong..."


pinta Vino.


"s.. susah pak.."


Nurul menyeringai karena Vino


meletakkan kedua tangan Nurul


di bahu nya. tentu saja susah mengingat


perbedaan tinggi badan mereka yang


cukup jauh.


Vino langsung memindahkan


tangan Nurul ke pinggang nya agar


bisa di peluk.


"kalau begitu gini aja..."


Tanpa di suruh, Nurul memeluk erat


Vino dan melepaskan semua rasa rindu nya.


"hangat...." ucap nya menikmati


kehangatan dari tubuh Vino.


"dasar bocil... rindu juga kan kamu


sama saya.. pake acara gengsi segala.."


batin Vino tersenyum kecil.


tttuuuiiiingggggg 🥒


Nurul merasakan ada benda keras


yang menyenggol perut nya.


reflek ia melonggarkan pelukannya


dan melihat ke TKP di mana terlihat jelas


si asep sedang berdiri tegap di sana.


"sial.. ngapain sih ini si alex berdiri!!


duhh.. dia sadar tidak ya.."


batin Vino ketar ketir takut di kira


yang nggak nggak sama Nurul.


padahal memang iya.


gllekkk.....


tenggorokan Nurul gersang seketika.


"apa itu...? jika berdiri itu tanda nya..."


Nurul langsung melepaskan pelukannya


dan menjauhi beberapa langkah.


wajah nya merah padam, serta kaki nya


menggigil seketika.


"dia sadar ternyata..."


Vino mengusap hidung nya dan berusaha


merubah suasana canggung ini.


"El kemana Pak?/ kamu sudah mandi?"


ucap mereka bersamaan.


"mandi????"


pikiran Nurul semakin melayang,


jangan jangan tujuan Vino mengajak nya


ke sana untuk mandi bersama?


"nggak.. nggak! gawat nih!!"


"aih.. mulut ku ini..


makan.. seharusnya tanya sudah makan.


kenapa malah jadi mandi sih.. arrhhg!!!"


rutuk Vino dalam hati nya.


tak bisa di elakkan suasana pun semakin


canggung.


Tanpa sengaja tatapan mata mereka


bertemu membuat suasana semakin panas.


Nurul pun bingung, akhirnya ia memilih


beranjak keluar dari sana.


namun saat hendak melangkah, kaki nya


malah tersandung karpet dan terhuyung


ke arah Vino.


Alhasil Vino yang gagal menjaga


keseimbangan pun juga terjatuh


ke lantai dengan Nurul di pelukannya.


deg..deg...


deg..deg...


deg..deg...


Posisi Nurul yang telungkup membuat


dada Vino merasakan dengan jelas


gumpalan yupi milik Nurul.


kenyal kenyal nyoi.....


Begitu juga dengan Nurul, karena


posisi nya ia bisa merasakan jelas


sengatan si asep yang jedat jedut


konslet akibat pengaruh gumpalan


yupi si Nurul.


"kamu... milikku..."


bisik Vino, ia menarik wajah Nurul mendekat


dan mengecup lembut bibir nya.


"Ayah.."


panggil El sambil membuka pintu


kamar nya.


😳😳😳😳


Nurul langsung panik dan bangkit,


namun karena tak sadar ia malah


menjadikan si alex sebagai tumpuan


lutut nya untuk berdiri.


kkkkrrrtttttkkkkk⚡🥚🍳


"AAAAGGGH!!!!!!!"


teriak nya kesakitan tak sadar


menjambak rambut Nurul.


"aduhh!! kok di jambak Pak?!!"


tukas Nurul kesakitan juga.


"aduh.. pecah Ran..."


rintih Vino berguling ke samping.


Nurul mengusap kepala nya yang


hampir botak di buat Vino.


"apa nya? auuhh..."


"Ayah sama bunda lagi bertengkar?"


tanya El kebingungan.


ia mendekati Ayah nya dengan tatapan


marah karena melihat Nurul di jambak.


"El, tolong kamu jangan salah paham..


Ayah... uughhh..."


bahkan untuk bicara ia tak kuasa karena


pusat perkembangbiakan nya terasa


nyut-nyutan.


"panggil kan Dika tolong...


saya perlu konsultasi pribadi."


pinta nya sembari tertatih berusaha


naik ke kasur.


"emang bapak kenapa??


sakit? kok tiba tiba??"


"ihh.. bawel banget...


buruan panggilkan..."


"ya tapi bapak ini kenapa??"


pikiran Nurul jadi tak tenang


melihat raut wajah Vino.


Vino menarik kepala Nurul mendekat


lalu berbisik.


"Anu saya kena lutut kamu tadi..


sakit banget tau.."


"tapi kan Om Dika dokter kanker Ayah..


bukan dokter anu." celetuk El,


ternyata ia mendengar perkataan Ayahnya.


ya walaupun dia tidak tau apa


anu yang di maksut Ayah nya.


satu hal yang pasti ia tau Dika bukanlah


dokter spesialis anu.


"Ran..?"


"hah?" sahut nya terkejut.


"oh iya.. otewe nih.."


terakhir sih dia melihat Dika sedang di


teras depan ngobrol sama pak supir.


...-...


...-...


Sementara itu, Dika baru saja selesai


mandi.


"hhhff... mandi udah..


waktu nya rebahan.."


ucap nya sambil mengambil


teman sejati siapa lagi kalau bukan


setan gepeng.(hp)


klung.. klung...


peringatan daya rendah berbunyi.


"ya ampun.. nggak enak banget sih..


charger mana charger..."


ia membongkar tas kerja nya


tapi tak menemukan charger.


Dika baru ingat kalau charger nya


di pinjam Nurul tadi siang.


"hishh.. dasar istri si duda itu.


udah ku bilang kembalikan kalau


habis pakai." rutuk nya kesal.


Sambil manyun manyun ia menyeret


kaki nya melangkah ke kamar Nurul.


karena pintu terbuka, ia pun masuk saja.


"buk duda.. charger ku mana.."


ucap nya, namun tak ada yang menjawab.


pandangan nya mengedar ke segala


sudut namun tak menemukan sosok


benda yang di cari.


Lagi asik konsentrasi mencari, tiba tiba


telinga nya menangkap suara shower


dari kamar mandi.


"lagi mandi ternyata..


kerjain ah..." gumam nya tersenyum jahil.


ya, itung itung balas dendam karena


pinjem charger nggak di kembalikan.


tap...


Dika mematikan saklar lampu nya.


"rasain hahahah..."


bisik nya.


Dika mengambil selimut lalu menutupi


kepala nya dan berdiri tegak di depan


pintu kamar mandi.


sudah ia duga,pasti sebentar lagi Nurul


keluar untuk menghidupkan lampu.


Benar saja, tak lama pintu bergerak


dan....


"BAAAAAAAA!!!!!!!"


teriak Dika sambil sedikit melompat


agar tampak seperti hantu pada


umum nya.


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!"


teriak Gaby sangat nyaring hingga


seruling telinga Dika terasa pecah.


gubrakkk!!!


Dika tumbang karena mendapat


tendangan kejut dari Gaby.


"aduhhh.. sakit de..k..?"


hampir hilang akal nya saat melihat


ternyata ia salah sasaran.


"kak Dika???!!"


"kok..kamu??!!"


Dika terbelakak kaget.


"jahil banget sih??


nggak.. nggak.. sok akrab banget


jadi nya.


kakak ngapain sih??


kakak nyari siapa?


kak nggak apa apa?


sial.. ngomong apa nih...😬


mana dia diem aja lagi.."


batin Gaby berkecamuk kebingungan.


Dika berdiri lalu membelakangi


Gaby yang masih menggunakan


handuk.


"k.. kamu lihat charger?"


"charger?? nggak kak..."


"oke.."


sahut Dika datar lalu pergi dari sana.


"wahh.. gila sih.. manusia jenis apa dia??


ternyata bener yang di bilang Kirana


kalau dia sebenarnya jahil?


uuuuwwwhh😍 cute banget sihh....


makin gemessshhhh...."


Gaby senyum senyum sendiri


membayangkan tingkah laku Dika


barusan.


"tapi parah sih.. masa nggak minta maaf,


main pergi aja .. uhhh


untung ganteng.."


...-...


"loh.. itu kan kak Dika? ngapain dia


dari kamar ku?"


Nurul langsung mengejar Dika dari


lantai satu.


"kak.... tunggu..."


...~~~~...


Di rumah Evi..


"Cindy.. sebelum nya ibuk minta maaf..


kamu berhenti kuliah aja ya.."


pinta Evi menatap berkaca kaca.


"kenapa? karena aku nggak sepintar


kakak?"


"bukan.. bukan begitu nak..


bapak kamu sudah nggak ada..


ibuk nggak bakal sanggup biayain sekolah


kalian semua."


"ibuk ini bodoh banget sih?


bapak itu meninggal di tabrak kan?


minta dong pertanggungjawaban


dari pelaku nya. dia udah membunuh


tulang punggung keluarga, jadi dia


harus bertanggungjawab atas hidup


kita selanjut nya."


oceh Cindy tak terima.


Cindy memang tak tau apa yang terjadi


sebenar nya karena dia baru saja tiba


pagi ini. sedangkan Mei, dia sudah tau


semua nya....


"kita nggak berhak minta dia


bertanggungjawab. karena dia


anak kandung bapak.."


timpal Mei dengan tatapan kosong.


"dari kecil dia nggak pernah dapat


kasih sayang bapak, karena bapak


membesarkan kita yang bukan anak nya.


apa pantas menyalahkan dia?


yang pantas di salahkan itu ibuk!!


karena ibuk yang menghancurkan


dia.. dan juga kita..!!"


tangis Mei tak terbendung lagi.


hancur.. semua nya hancur..


sekarang semua orang sudah tau siapa


dia sebenarnya.


"tenang lah Mei..


ini bukan kali pertama kehidupanmu


berjalan tak sesuai harapan.."


batin nya menahan perih yang melebur


relung jiwa nya.


...********...