
Vino membawa Nurul kekamar nya.
begitu pintu di tutup, ia langsung mendekap
tubuh mungil Nurul erat erat.
"hhhikkkk.....( bengek )
Pak.. ya ampun, remuk tulang Nur.."
"saya kangen banget sama kamu...
muuahh....😘 "
ia mengecup kening Nurul.
"apaan sih pak, baru sehari nggak
ketemu..." elak nya tersipu malu.
padahal dalem ati
rindu juga... rindu banget malah😍
"peluk saya juga dong..."
pinta Vino.
"s.. susah pak.."
Nurul menyeringai karena Vino
meletakkan kedua tangan Nurul
di bahu nya. tentu saja susah mengingat
perbedaan tinggi badan mereka yang
cukup jauh.
Vino langsung memindahkan
tangan Nurul ke pinggang nya agar
bisa di peluk.
"kalau begitu gini aja..."
Tanpa di suruh, Nurul memeluk erat
Vino dan melepaskan semua rasa rindu nya.
"hangat...." ucap nya menikmati
kehangatan dari tubuh Vino.
"dasar bocil... rindu juga kan kamu
sama saya.. pake acara gengsi segala.."
batin Vino tersenyum kecil.
tttuuuiiiingggggg 🥒
Nurul merasakan ada benda keras
yang menyenggol perut nya.
reflek ia melonggarkan pelukannya
dan melihat ke TKP di mana terlihat jelas
si asep sedang berdiri tegap di sana.
"sial.. ngapain sih ini si alex berdiri!!
duhh.. dia sadar tidak ya.."
batin Vino ketar ketir takut di kira
yang nggak nggak sama Nurul.
padahal memang iya.
gllekkk.....
tenggorokan Nurul gersang seketika.
"apa itu...? jika berdiri itu tanda nya..."
Nurul langsung melepaskan pelukannya
dan menjauhi beberapa langkah.
wajah nya merah padam, serta kaki nya
menggigil seketika.
"dia sadar ternyata..."
Vino mengusap hidung nya dan berusaha
merubah suasana canggung ini.
"El kemana Pak?/ kamu sudah mandi?"
ucap mereka bersamaan.
"mandi????"
pikiran Nurul semakin melayang,
jangan jangan tujuan Vino mengajak nya
ke sana untuk mandi bersama?
"nggak.. nggak! gawat nih!!"
"aih.. mulut ku ini..
makan.. seharusnya tanya sudah makan.
kenapa malah jadi mandi sih.. arrhhg!!!"
rutuk Vino dalam hati nya.
tak bisa di elakkan suasana pun semakin
canggung.
Tanpa sengaja tatapan mata mereka
bertemu membuat suasana semakin panas.
Nurul pun bingung, akhirnya ia memilih
beranjak keluar dari sana.
namun saat hendak melangkah, kaki nya
malah tersandung karpet dan terhuyung
ke arah Vino.
Alhasil Vino yang gagal menjaga
keseimbangan pun juga terjatuh
ke lantai dengan Nurul di pelukannya.
deg..deg...
deg..deg...
deg..deg...
Posisi Nurul yang telungkup membuat
dada Vino merasakan dengan jelas
gumpalan yupi milik Nurul.
kenyal kenyal nyoi.....
Begitu juga dengan Nurul, karena
posisi nya ia bisa merasakan jelas
sengatan si asep yang jedat jedut
konslet akibat pengaruh gumpalan
yupi si Nurul.
"kamu... milikku..."
bisik Vino, ia menarik wajah Nurul mendekat
dan mengecup lembut bibir nya.
"Ayah.."
panggil El sambil membuka pintu
kamar nya.
😳😳😳😳
Nurul langsung panik dan bangkit,
namun karena tak sadar ia malah
menjadikan si alex sebagai tumpuan
lutut nya untuk berdiri.
kkkkrrrtttttkkkkk⚡🥚🍳
"AAAAGGGH!!!!!!!"
teriak nya kesakitan tak sadar
menjambak rambut Nurul.
"aduhh!! kok di jambak Pak?!!"
tukas Nurul kesakitan juga.
"aduh.. pecah Ran..."
rintih Vino berguling ke samping.
Nurul mengusap kepala nya yang
hampir botak di buat Vino.
"apa nya? auuhh..."
"Ayah sama bunda lagi bertengkar?"
tanya El kebingungan.
ia mendekati Ayah nya dengan tatapan
marah karena melihat Nurul di jambak.
"El, tolong kamu jangan salah paham..
Ayah... uughhh..."
bahkan untuk bicara ia tak kuasa karena
pusat perkembangbiakan nya terasa
nyut-nyutan.
"panggil kan Dika tolong...
saya perlu konsultasi pribadi."
pinta nya sembari tertatih berusaha
naik ke kasur.
"emang bapak kenapa??
sakit? kok tiba tiba??"
"ihh.. bawel banget...
buruan panggilkan..."
"ya tapi bapak ini kenapa??"
pikiran Nurul jadi tak tenang
melihat raut wajah Vino.
Vino menarik kepala Nurul mendekat
lalu berbisik.
"Anu saya kena lutut kamu tadi..
sakit banget tau.."
"tapi kan Om Dika dokter kanker Ayah..
bukan dokter anu." celetuk El,
ternyata ia mendengar perkataan Ayahnya.
ya walaupun dia tidak tau apa
anu yang di maksut Ayah nya.
satu hal yang pasti ia tau Dika bukanlah
dokter spesialis anu.
"Ran..?"
"hah?" sahut nya terkejut.
"oh iya.. otewe nih.."
terakhir sih dia melihat Dika sedang di
teras depan ngobrol sama pak supir.
...-...
...-...
Sementara itu, Dika baru saja selesai
mandi.
"hhhff... mandi udah..
waktu nya rebahan.."
ucap nya sambil mengambil
teman sejati siapa lagi kalau bukan
setan gepeng.(hp)
klung.. klung...
peringatan daya rendah berbunyi.
"ya ampun.. nggak enak banget sih..
charger mana charger..."
ia membongkar tas kerja nya
tapi tak menemukan charger.
Dika baru ingat kalau charger nya
di pinjam Nurul tadi siang.
"hishh.. dasar istri si duda itu.
udah ku bilang kembalikan kalau
habis pakai." rutuk nya kesal.
Sambil manyun manyun ia menyeret
kaki nya melangkah ke kamar Nurul.
karena pintu terbuka, ia pun masuk saja.
"buk duda.. charger ku mana.."
ucap nya, namun tak ada yang menjawab.
pandangan nya mengedar ke segala
sudut namun tak menemukan sosok
benda yang di cari.
Lagi asik konsentrasi mencari, tiba tiba
telinga nya menangkap suara shower
dari kamar mandi.
"lagi mandi ternyata..
kerjain ah..." gumam nya tersenyum jahil.
ya, itung itung balas dendam karena
pinjem charger nggak di kembalikan.
tap...
Dika mematikan saklar lampu nya.
"rasain hahahah..."
bisik nya.
Dika mengambil selimut lalu menutupi
kepala nya dan berdiri tegak di depan
pintu kamar mandi.
sudah ia duga,pasti sebentar lagi Nurul
keluar untuk menghidupkan lampu.
Benar saja, tak lama pintu bergerak
dan....
"BAAAAAAAA!!!!!!!"
teriak Dika sambil sedikit melompat
agar tampak seperti hantu pada
umum nya.
"Aaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!"
teriak Gaby sangat nyaring hingga
seruling telinga Dika terasa pecah.
gubrakkk!!!
Dika tumbang karena mendapat
tendangan kejut dari Gaby.
"aduhhh.. sakit de..k..?"
hampir hilang akal nya saat melihat
ternyata ia salah sasaran.
"kak Dika???!!"
"kok..kamu??!!"
Dika terbelakak kaget.
"jahil banget sih??
nggak.. nggak.. sok akrab banget
jadi nya.
kakak ngapain sih??
kakak nyari siapa?
kak nggak apa apa?
sial.. ngomong apa nih...😬
mana dia diem aja lagi.."
batin Gaby berkecamuk kebingungan.
Dika berdiri lalu membelakangi
Gaby yang masih menggunakan
handuk.
"k.. kamu lihat charger?"
"charger?? nggak kak..."
"oke.."
sahut Dika datar lalu pergi dari sana.
"wahh.. gila sih.. manusia jenis apa dia??
ternyata bener yang di bilang Kirana
kalau dia sebenarnya jahil?
uuuuwwwhh😍 cute banget sihh....
makin gemessshhhh...."
Gaby senyum senyum sendiri
membayangkan tingkah laku Dika
barusan.
"tapi parah sih.. masa nggak minta maaf,
main pergi aja .. uhhh
untung ganteng.."
...-...
"loh.. itu kan kak Dika? ngapain dia
dari kamar ku?"
Nurul langsung mengejar Dika dari
lantai satu.
"kak.... tunggu..."
...~~~~...
Di rumah Evi..
"Cindy.. sebelum nya ibuk minta maaf..
kamu berhenti kuliah aja ya.."
pinta Evi menatap berkaca kaca.
"kenapa? karena aku nggak sepintar
kakak?"
"bukan.. bukan begitu nak..
bapak kamu sudah nggak ada..
ibuk nggak bakal sanggup biayain sekolah
kalian semua."
"ibuk ini bodoh banget sih?
bapak itu meninggal di tabrak kan?
minta dong pertanggungjawaban
dari pelaku nya. dia udah membunuh
tulang punggung keluarga, jadi dia
harus bertanggungjawab atas hidup
kita selanjut nya."
oceh Cindy tak terima.
Cindy memang tak tau apa yang terjadi
sebenar nya karena dia baru saja tiba
pagi ini. sedangkan Mei, dia sudah tau
semua nya....
"kita nggak berhak minta dia
bertanggungjawab. karena dia
anak kandung bapak.."
timpal Mei dengan tatapan kosong.
"dari kecil dia nggak pernah dapat
kasih sayang bapak, karena bapak
membesarkan kita yang bukan anak nya.
apa pantas menyalahkan dia?
yang pantas di salahkan itu ibuk!!
karena ibuk yang menghancurkan
dia.. dan juga kita..!!"
tangis Mei tak terbendung lagi.
hancur.. semua nya hancur..
sekarang semua orang sudah tau siapa
dia sebenarnya.
"tenang lah Mei..
ini bukan kali pertama kehidupanmu
berjalan tak sesuai harapan.."
batin nya menahan perih yang melebur
relung jiwa nya.
...********...