Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 72: Video call


Jam berdetak menunjukkan pukul 22:00 malam.


klung...


Ponsel Nurul berdenting menandakan pesan masuk,ia pun memeriksa nya.


"hai.."


begitu bunyi pesan itu.


"nomor baru? siapa?"


gumam Nurul terheran. ia pun mengabaikan pesan itu lalu kembali memejamkan mata nya.


Beberapa menit kemudian ponsel nya berbunyi lagi


Klung...


Klung...


"balas.."


"ini saya.."


Nurul semakin heran membaca pesan itu.


"dih.. saya siapa?? "


Nurul: "siapa?!"


Vino: "saya Vino"


"oh.."


Nurul hanya membalas singkat.


Vino: "belum tidur?"


Nurul: "menurut bapak?"


krik..krik...


Vino langsung mati kutu,lagian pertanyaan nya aneh, ya kali kalau sudah tidur masih balas pesan nya.


"susah juga ya deketin ni bocah..."


Vino memutar otak nya agar bisa mengobrol lebih lama lagi.


Vino: "kamu lagi apa??"


Nurul: "lagi balas chat bapak",


Lagi lagi topik yang di buka Vino di matikan oleh Nurul, ya memang tidak salah sih balasan Nurul.


namun ia tak menyerah dan tetap mengirimi Nurul pesan.


Vino: "besok ada pameran Artefak di museum A,kamu mau ikut?"


ia tau Nurul sangat suka dengan hal hal yang berbau seni.


Nurul tak membalas pesan itu lagi,karena ia barusan tertidur dengan layar ponsel masih menyala dan percakapan online mereka yang belum tertutup,karena sudah tepar tanpa sengaja jari nya Nurul menekan tombol video call.


"hah..."


Vino langsung bangkit dari ranjang nya sambil merapikan rambut nya yang berantakan.


"ekhemm.. khmm.." Vino menetralkan tenggorokan nya lalu menjawab panggilan video dari Nurul.


"kenapa?? mau lihat wajah saya ya .." ujar nya pede.


"buka mata nya.. jangan malu malu"


ia masih senyum senyum salah tingkah.


"Ran??"


sepertinya Vino masih tak menyadari kalau Nurul tertidur.


gggrrhhhhhh.....


nafas berat nya Nurul pun terdengar dari seberang sana.


"ck.. jadi dia tidur? kenapa dia menelpon ku"


Vino tersenyum heran, namun bukan nya mengakhiri panggilan itu. Vino malah mengamati wajah Nurul yang terpampang jelas di layar handphone.


"sshh,,,cantik sekali.. andai saja usia mu sedikit lebih tua" ia tak henti hentinya terkagum dengan pesona wajah natural nya Nurul.


"baik lah.. ayo tidur bersama malam ini,


selamat malam.."


Vino mengecup layar handpone nya dengan hangat. dan ia terus menatap wajah Nurul yang sedang tertidur pulas hingga akhir nya dia sendiri pun tertidur.


...~~~~...


Pagi hari...


Fani berdiri di depan kaca masih dengan handuk dan rambut nya yang basah. ia memandangi perut nya yang sudah mulai menonjol karena sudah mulai memasuki minggu ke 16.


ujar nya sambil mengoleskan gel pelembab ke perut.


"sehat sehat yaa,, jangan bikin mama mual terus"


Sementara Dimas yang masih di atas kasur dengan tubuh bugil nya diam diam memandangi Fani yang asik mengajak bicara sang janin.


"dia benar benar sedang mengandung anak ku..


aku masih tidak menyangka anak ku akan lahir dari rahim keponakan kecil ku..


dia bahkan benar benar bahagia mengandung anak ku.


senyum nya bahkan sangat hangat.."


batin Dimas tak henti henti nya kagum dengan Fani,ia benar benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena Fani membuat nya merasa jadi Suami yang sesungguh nya.


ia merasa sangat bahagia dan bersyukur karena Fani benar benar memenuhi kewajiban nya sebagai seorang istri,yaitu memberikan nya anak.


Dulu mantan istri pertama nya selalu beralasan jika Dimas membahas ingin punya anak.


bahkan sampai memakai alat kontrasepsi tanpa sepengetahuan Dimas.


mantan istri kedua nya pun begitu, mereka hanya mengejar popularitas lewat Dimas yang notabene nya orang terpandang.


mereka sama saja, hanya mementingkan karir di banding kewajiban nya sebagai seorang istri.


"Mas.. bangun.. nanti telat loh ke kantor nya"


bisik Fani sambil mengusap usap punggung Dimas.


"hmm.. iya sayang.. "


sahut nya pura pura bangun tidur.


"hhhhffffmmm.... harum banget sih istri Mas ini.." Dimas menciumi telapak tangan Fani.


"nyenyak tidur nya tadi malam?"


tanya Dimas lagi masih dengan mata terpejam.


"lumayan,udah berkurang mual nya Mas.."


"sabar ya sayang.. kata mama kalau sudah memasuki bulan ke 4 biasa nya mulai reda mual nya" Dimas menyemangati sang istri,ya hanya itu yang bisa dia lakukan. kalau pun bisa di bagi, semua keluhan yang di rasakan Fani pasti sudah ia pindahkan semua ke tubuh nya.


"iya Mas.. Fani menikmati malah, besok kalau mereka udah besar Fani pasti kangen masa masa ini" sahut nya tersenyum manis.


"terimakasih sayang..."


"apa sih Mas.. sering banget bilang terimakasih,padahal Fani nggak ngasih apa apa"


"kamu itu udah memberikan hidup mu untuk Mas,bahkan kamu juga memberikan Mas anak. terimakasih Mas setiap hari nggak sebanding dengan apa yang sudah kamu kasih ke Mas"


"kalau gitu terimakasih juga buat Mas,karena dulu bahkan sekarang mau menolong keluarga Fani"


"kita kan dari dulu keluarga sayang.. jadi jangan bilang gitu..."


"iya... Om Dimas..."


lagi lagi Fani meledek Dimas dengan sebutan itu.


"ihh.. kamu ya... sini Mas mau cium Dimdim dulu." Dimas mengecup perut Fani berulang kali.


"kira kira Dimdim ini laki laki atau perempuan ya sayang? kapan kita bisa lihat jenis kelamin nya? Mas sudah nggak sabar banget pingin tau mereka jagoan atau princess kaya mama nya"


"kaya nya laki laki Mas.. abis Fani suka gedek banget kadang kalau liat Mas.."


"ya ampun sayang? jadi selama ini kamu nyimpan dendam gitu sama Mas?"


"hehehe... bukan Fani Mas. tapi anak kita.."


elak nya sambil terkekeh kecil.


Dimas pun hanya bisa geleng geleng kepala,ia baru tau kalau bawaan orang hamil bisa se ekstrem itu.


...~~~~...


Di sisi lain, Nurul yang juga baru bangun tidur langsung teringat akan Vino.


ia pun memeriksa ponselnya,namun ia malah salah fokus pada riwayat panggilan yang tertera bahwa mereka tadi malam video call selama 3 jam.


"hahh?!!! kok bisa?? kapan aku nelpon Pak Vino?"


"hishhh....habis lah kuota ku"


gerutu nya kesal.


...-...


...-...


Lain hal dengan Vino,yang biasa nya dia kesulitan tidur. pagi ini wajah nya terlihat sangat segar karena tidur nya sangat nyenyak semalaman.


"shh... tidur bersama secara online saja membuat ku nyenyak. apalagi beneran tidur berdua hahaha......"


tawa nya terdengar mempunyai maksut tertentu,ntah apa yang ada di otak nya saat ini.


...**********...