Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 30:


"ponsel saya mana Ran?"


tanya Vino sambil duduk di sebelah


Nurul.


"e.. nggak tau pak. El tadi yang pegang."


"uhh.. ahh.. ahh.. hmmm..."


tiba tiba suara ******* pemain tinju


di ponsel Vino mendayu dengan volume tinggi.


jari Nurul yang gemetaran lah penyebab


video itu terputar secara tak sengaja.


Secepat kilat, Vino langsung membuka


selimut di lutut Nurul dan benar saja,


koleksi nya terbongkar oleh Nurul.


dan di saat yang bersamaan, kepanikan


Nurul membuat ponsel Vino melayang


ke udara dan mendarat bebas di lantai.


brakkk!!!!


seperti nya ponsel Vino sekarat di sana.


Bukannya memperdulikan ponsel nya,


Vino dan Nurul malah saling bertatapan


penuh kecurigaan.


"..untuk.. apa bapak mengoleksi itu..?"


"ck.. kamu menonton nya diam diam?"


ya, tatapan saling menuduh lebih tepat nya.


"hah?? nggak pak! sumpah!"


"tuu.. bukti nya.."


Vino tersenyum memandangi Nurul sambil


menggigit bibir bawah nya.


"tadi El lagi nonton kartun, terus macet karena memori nya penuh. jadi Nur ikuti arahan pembersihan nya, terus Nur lihat


folder itu paling berat dan Nur buka pakai


angka kesukaan bapak. terus..."


"terus kamu nonton kan??"


tatapan tajam Vino sungguh membuat


Nurul resah.


"nggak ih!! Nur nggak nonton..


lagian bapak ngapain koleksi


video segitu banyak coba? untuk apa?"


walau masih gugup, Nurul berusaha menyerang balik Vino.


"untuk menidurkan anu yang berdiri di


tengah malam." jawab nya santai membuat


Nurul semakin berkeringat.


"ihh..! jorok banget sih bapak!"


"hahahha.. mau saya kirim beberapa?


untuk latihan.."


bugggg...


Nurul melempar bantal ke wajah Vino


lalu meringkuk di dalam selimut.


"dasar kadal gurun!"


rutuk nya kesal.


...~~~~...


Pagi hari nya..


Sambil menunggu Vino di bengkel, Nurul


menemani Evi mengupas kacang kenari


untuk di jadikan makanan lalu di


jual sebagai uang tambahan sehari hari.


"aduh.. nggak usah nak, nanti


tangan kamu kotor.."


"nggak apa apa buk.."


jari lentik Nurul turun tangan mengupas


kacang yang baru di panen itu.


Melihat kepiawaian Nurul,


Evi sangat takjub.


"wah.. kamu hebat banget sih.."


"heheh.. dulu saya juga sering bantu ibu


saya mengupas ini.."


"wah.. udah cantik, rajin lagi.."


orang kaya yang sederhana pikir Evi.


"omong omong usia kamu berapa nak?"


"21 tahun buk.."


"wah.. nikah muda berarti ya..


sama kaya ibuk dulu, umur 17 tahun udah


nikah. ya sama kaya kamu gini,waktu umur


ibuk 21 tahun, udah punya anak dua hahahah.."


"t.. tapi saya belum punya anak buk.."


"oh.. iya iya.. ibu paham, jadi itu anak


bawaan suami kamu ya..?"


"iya buk.."


sahut Nurul mulai masam karena


menurut nya Evi sangat rempong.


Mata Nurul tertuju kepada foto pernikahan


Evi beberapa tahun silam. tampak hanya pernikahan kecil kecilan yang hanya di


hadiri penghulu dan beberapa saksi.


namun yang membuat nya salah fokus


yaitu ketiga anak yang di sebutkan kemarin


ada di sana ikut berfoto.


Menyadari Nurul memperhatikan foto


nya, Evi menjelaskan tanpa di minta.


"sama juga kaya kamu, suami saya


menikahi saya dalam kondisi janda


anak tiga.. heheh.."


"mmmm..."


Nurul mengangguk saja.


dan mata nya tertuju lagi pada piagam


penghargaan yang bertuliskan Universitas


Republik Indonesia Internasional (URI).


"anak ibuk di URI juga?


satu kampus dong sama saya.."


ujar nya sangat antusias, namun ia tak


membaca dengan jelas nama si pemilik


piagam itu.


"hah?? beneran kamu kuliah di sana?


kenal nggak sama anak saya?


Melinda,jurusan Akutansi semester 5."


Evi pun tak kalah antusias nya, ia merasa


bangga bertemu teman satu kampus


Mei.


"Meilinda? Mei? yang pinter itu buk?"


"iya iya.. ini foto nya.."


ia menunjukkan foto Mei melalui ponsel nya.


kok? bukannya dia bilang orang tua


nya pengusaha?seriusan ini orang tua nya?


sangat syok tentu nya, mengingat gaya


Mei yang sangat modis seperti anak


orang kaya pada umum nya.


Nurul prihatin melihat Bu Evi, pastilah


ia tak tau kelakuan anak nya di sana


yang tak mengakui kebenaran tentang


orang tua nya.


"wah.. ibuk nggak nyangka ketemu


sama temen nya Mei, oh iya nanti kalau


kamu pulang ibuk titip sesuatu ya untuk


Mei.."


"heheh.. kami nggak akrab sih, cuma ya


pernah ngobrol beberapa kali."


sungguh prihatin Nurul melihat ekpresi


Bu Evi yang sangat antusias membanggakan


anak nya. prestasi boleh lah di adu,karena Mei memang sangat pintar, tapi attitude


seperti nya BIG NO.


Setelah Vino selesai memperbaiki mobil


nya, mereka pun berpamitan dengan


titipan ibu nya Mei berupa keringan tempe


dan teri beserta jajanan rumah yang di buat


sendiri oleh Evi. ia juga memberikan sedikit


jajanan itu untuk Nurul sebagai ungkapan


terimakasih karena mau membawakan


titipan nya.


...~~~~...


Pukul 14:00, saat matahari tengah


terik teriknya Vino malah terjebak macet.


"panjang ya pak.."


keluh Nurul sambil membuka sedikit


kaca mobil nya karena ia mulai merasa


pengap.


"apa nya Ran??"


pikiran Vino malah melayang ke koleksi


Video mantab mantab nya.


"macet nya.."


"oh.. iya memang.."


"bunda.. El duduk di depan dong,


mau lihat kereta lewat."


pinta El ingin melihat MRT yang melintas


di jalur atas mereka.


"sini.. bunda pangku.."


dengan senang hati Nurul menerima


tubuh mungil El di pangkuan nya.


"periang mu benar benar mirip ayah


dan mama Zey.." puji Nurul.


"bunda sama mama dulu berteman ya?"


tanya El penasaran.


"mm.. iya, tapi nggak lama.."


"mama dulu baik tidak bunda?"


El sangat bersemangat karena ingin


mendengar tentang mama nya dari


orang lain.


"baik.. baik banget, mama Zey itu selain


cantik, dia terkenal dan baik hati.


El tau nggak? dulu mama Zey pernah


tersayat pisau karena nolongin mama


Fani yang mau di tusuk orang jahat."


tutur Nurul bersemangat agar El


juga senang mendengar nya.


"wahh.. berarti mama El pahlawan dong


bunda?? pantas El ganteng, karena


mirip mama.." ia sangat merasa bangga


karena di lahir kan oleh mama yang sangat


baik hati.


"iya.. mama Zey itu memang jagoan.


tapi sorry, El itu mirip Ayah 93 persen."


"iya kah?? masa iya bunda??"


El langsung menarik spion di atas dan


membandingkan wajah nya dengan Vino.


"Ran.. Ran, ada ada saja kamu.


dia mana mau di bilang mirip sama saya."


"kenapa? kan wajar El mirip sama ayah"


"tidak.. El mau nya mirip mama,


karena Ayah itu ganteng dan banyak


tante tante yang suka."


"bagus dong, itu berarti banyak yang


sayang sama ayah kamu.."


ucap Nurul. sedangkan Vino sudah ketar


ketir takut El membongkar kebiasaannya


minum bersama wanita wanita bule di sana.


"tapi El tidak suka, karena Ayah sering


mabuk terus sama tante tante itu."


"apa?!!" bagai pedang menebas lawan,


begitu lah tajam nya sorot mata Nurul


ke Vino.


"El.. kamu jangan ngarang deh, orang


Ayah cuma kerja bareng sama mereka."


"El, seperti nya kamu punya saudara deh......" tukas Nurul menohok.


"Ran.. nggak, beneran. cuma sebatas


minum, nggak sampai ke sana.."


"terus apa lagi El.?"


tanya Nurul. El terdiam, ia mengerti dirinya


sudah salah bicara.


"sumpah demi apapun cuma minum Ran."


"bapak nggak inget ini si El hasil dari


minum minum??!"


bantah nya cepat sampai Vino


tak bisa berkutik.


...******...


Maaf sehari menghilang dari peradaban:-(


karena ofline jaringan di kampuang otor🙃


pengen gantung diri jadi nya di pokok


pare😭