
"ponsel saya mana Ran?"
tanya Vino sambil duduk di sebelah
Nurul.
"e.. nggak tau pak. El tadi yang pegang."
"uhh.. ahh.. ahh.. hmmm..."
tiba tiba suara ******* pemain tinju
di ponsel Vino mendayu dengan volume tinggi.
jari Nurul yang gemetaran lah penyebab
video itu terputar secara tak sengaja.
Secepat kilat, Vino langsung membuka
selimut di lutut Nurul dan benar saja,
koleksi nya terbongkar oleh Nurul.
dan di saat yang bersamaan, kepanikan
Nurul membuat ponsel Vino melayang
ke udara dan mendarat bebas di lantai.
brakkk!!!!
seperti nya ponsel Vino sekarat di sana.
Bukannya memperdulikan ponsel nya,
Vino dan Nurul malah saling bertatapan
penuh kecurigaan.
"..untuk.. apa bapak mengoleksi itu..?"
"ck.. kamu menonton nya diam diam?"
ya, tatapan saling menuduh lebih tepat nya.
"hah?? nggak pak! sumpah!"
"tuu.. bukti nya.."
Vino tersenyum memandangi Nurul sambil
menggigit bibir bawah nya.
"tadi El lagi nonton kartun, terus macet karena memori nya penuh. jadi Nur ikuti arahan pembersihan nya, terus Nur lihat
folder itu paling berat dan Nur buka pakai
angka kesukaan bapak. terus..."
"terus kamu nonton kan??"
tatapan tajam Vino sungguh membuat
Nurul resah.
"nggak ih!! Nur nggak nonton..
lagian bapak ngapain koleksi
video segitu banyak coba? untuk apa?"
walau masih gugup, Nurul berusaha menyerang balik Vino.
"untuk menidurkan anu yang berdiri di
tengah malam." jawab nya santai membuat
Nurul semakin berkeringat.
"ihh..! jorok banget sih bapak!"
"hahahha.. mau saya kirim beberapa?
untuk latihan.."
bugggg...
Nurul melempar bantal ke wajah Vino
lalu meringkuk di dalam selimut.
"dasar kadal gurun!"
rutuk nya kesal.
...~~~~...
Pagi hari nya..
Sambil menunggu Vino di bengkel, Nurul
menemani Evi mengupas kacang kenari
untuk di jadikan makanan lalu di
jual sebagai uang tambahan sehari hari.
"aduh.. nggak usah nak, nanti
tangan kamu kotor.."
"nggak apa apa buk.."
jari lentik Nurul turun tangan mengupas
kacang yang baru di panen itu.
Melihat kepiawaian Nurul,
Evi sangat takjub.
"wah.. kamu hebat banget sih.."
"heheh.. dulu saya juga sering bantu ibu
saya mengupas ini.."
"wah.. udah cantik, rajin lagi.."
orang kaya yang sederhana pikir Evi.
"omong omong usia kamu berapa nak?"
"21 tahun buk.."
"wah.. nikah muda berarti ya..
sama kaya ibuk dulu, umur 17 tahun udah
nikah. ya sama kaya kamu gini,waktu umur
ibuk 21 tahun, udah punya anak dua hahahah.."
"t.. tapi saya belum punya anak buk.."
"oh.. iya iya.. ibu paham, jadi itu anak
bawaan suami kamu ya..?"
"iya buk.."
sahut Nurul mulai masam karena
menurut nya Evi sangat rempong.
Mata Nurul tertuju kepada foto pernikahan
Evi beberapa tahun silam. tampak hanya pernikahan kecil kecilan yang hanya di
hadiri penghulu dan beberapa saksi.
namun yang membuat nya salah fokus
yaitu ketiga anak yang di sebutkan kemarin
ada di sana ikut berfoto.
Menyadari Nurul memperhatikan foto
nya, Evi menjelaskan tanpa di minta.
"sama juga kaya kamu, suami saya
menikahi saya dalam kondisi janda
anak tiga.. heheh.."
"mmmm..."
Nurul mengangguk saja.
dan mata nya tertuju lagi pada piagam
penghargaan yang bertuliskan Universitas
Republik Indonesia Internasional (URI).
"anak ibuk di URI juga?
satu kampus dong sama saya.."
ujar nya sangat antusias, namun ia tak
membaca dengan jelas nama si pemilik
piagam itu.
"hah?? beneran kamu kuliah di sana?
kenal nggak sama anak saya?
Melinda,jurusan Akutansi semester 5."
Evi pun tak kalah antusias nya, ia merasa
bangga bertemu teman satu kampus
Mei.
"Meilinda? Mei? yang pinter itu buk?"
"iya iya.. ini foto nya.."
ia menunjukkan foto Mei melalui ponsel nya.
kok? bukannya dia bilang orang tua
nya pengusaha?seriusan ini orang tua nya?
sangat syok tentu nya, mengingat gaya
Mei yang sangat modis seperti anak
orang kaya pada umum nya.
Nurul prihatin melihat Bu Evi, pastilah
ia tak tau kelakuan anak nya di sana
yang tak mengakui kebenaran tentang
orang tua nya.
"wah.. ibuk nggak nyangka ketemu
sama temen nya Mei, oh iya nanti kalau
kamu pulang ibuk titip sesuatu ya untuk
Mei.."
"heheh.. kami nggak akrab sih, cuma ya
pernah ngobrol beberapa kali."
sungguh prihatin Nurul melihat ekpresi
Bu Evi yang sangat antusias membanggakan
anak nya. prestasi boleh lah di adu,karena Mei memang sangat pintar, tapi attitude
seperti nya BIG NO.
Setelah Vino selesai memperbaiki mobil
nya, mereka pun berpamitan dengan
titipan ibu nya Mei berupa keringan tempe
dan teri beserta jajanan rumah yang di buat
sendiri oleh Evi. ia juga memberikan sedikit
jajanan itu untuk Nurul sebagai ungkapan
terimakasih karena mau membawakan
titipan nya.
...~~~~...
Pukul 14:00, saat matahari tengah
terik teriknya Vino malah terjebak macet.
"panjang ya pak.."
keluh Nurul sambil membuka sedikit
kaca mobil nya karena ia mulai merasa
pengap.
"apa nya Ran??"
pikiran Vino malah melayang ke koleksi
Video mantab mantab nya.
"macet nya.."
"oh.. iya memang.."
"bunda.. El duduk di depan dong,
mau lihat kereta lewat."
pinta El ingin melihat MRT yang melintas
di jalur atas mereka.
"sini.. bunda pangku.."
dengan senang hati Nurul menerima
tubuh mungil El di pangkuan nya.
"periang mu benar benar mirip ayah
dan mama Zey.." puji Nurul.
"bunda sama mama dulu berteman ya?"
tanya El penasaran.
"mm.. iya, tapi nggak lama.."
"mama dulu baik tidak bunda?"
El sangat bersemangat karena ingin
mendengar tentang mama nya dari
orang lain.
"baik.. baik banget, mama Zey itu selain
cantik, dia terkenal dan baik hati.
El tau nggak? dulu mama Zey pernah
tersayat pisau karena nolongin mama
Fani yang mau di tusuk orang jahat."
tutur Nurul bersemangat agar El
juga senang mendengar nya.
"wahh.. berarti mama El pahlawan dong
bunda?? pantas El ganteng, karena
mirip mama.." ia sangat merasa bangga
karena di lahir kan oleh mama yang sangat
baik hati.
"iya.. mama Zey itu memang jagoan.
tapi sorry, El itu mirip Ayah 93 persen."
"iya kah?? masa iya bunda??"
El langsung menarik spion di atas dan
membandingkan wajah nya dengan Vino.
"Ran.. Ran, ada ada saja kamu.
dia mana mau di bilang mirip sama saya."
"kenapa? kan wajar El mirip sama ayah"
"tidak.. El mau nya mirip mama,
karena Ayah itu ganteng dan banyak
tante tante yang suka."
"bagus dong, itu berarti banyak yang
sayang sama ayah kamu.."
ucap Nurul. sedangkan Vino sudah ketar
ketir takut El membongkar kebiasaannya
minum bersama wanita wanita bule di sana.
"tapi El tidak suka, karena Ayah sering
mabuk terus sama tante tante itu."
"apa?!!" bagai pedang menebas lawan,
begitu lah tajam nya sorot mata Nurul
ke Vino.
"El.. kamu jangan ngarang deh, orang
Ayah cuma kerja bareng sama mereka."
"El, seperti nya kamu punya saudara deh......" tukas Nurul menohok.
"Ran.. nggak, beneran. cuma sebatas
minum, nggak sampai ke sana.."
"terus apa lagi El.?"
tanya Nurul. El terdiam, ia mengerti dirinya
sudah salah bicara.
"sumpah demi apapun cuma minum Ran."
"bapak nggak inget ini si El hasil dari
minum minum??!"
bantah nya cepat sampai Vino
tak bisa berkutik.
...******...
Maaf sehari menghilang dari peradaban:-(
karena ofline jaringan di kampuang otor🙃
pengen gantung diri jadi nya di pokok
pare😭