Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 113: Debat kiss


Vino duduk dan menikmati kepulan asap yang ia keluarkan dari mulut nya. ia memandangi ponsel nya dan berpikir masih ingin berbalas pesan dengan Nurul, tapi ia bingung topik apa yang menarik agar Nurul nyaman.


dduuurruuduu..hmmmm ...nanana


Vino langsung merinding kaku mendengar suara wanita bersenandung ria malam malam begini, ia berdiri dan mengikuti suara itu perlahan dengan rasa takut.


"merdu juga suara mbak kunti, walau bikin merinding.." ujar nya sambil terus berjalan merunduk runduk.


Bukan sesosok kunti, melainkan bidadari pujaan hati yang sedang bersenandung sambil memetik bunga bunga untuk di bawa nya ke kamar.


Vino langsung tersenyum sumringah karena pucuk di cinta ulam pun tiba.


Perlahan tapi pasti Vino melangkahkan kaki nya mendekati Nurul.


"ngapain Ran..?" ucap nya dari belakang dengan jarak cukup dekat hingga membuat Nurul tersentak kaget.


"Pak Vino? ngapain bapak di sini?!!"


"saya tidur di sini.."


sahut Vino.


"di taman?"


"hahahaha.. ya bukan lah, maksut saya tidur di kamar biasa yang sudah di sediakan tante" wajah Vino tampak cerah ceria karena bisa melihat Nurul. sementara Nurul yang masih takut tak berani menatap Vino langsung.


"kamu masih bete sama saya?"


tanya Vino.


Nurul hanya menggelengkan kepala nya, keringat nya perlahan menetes padahal cuaca sedang dingin. lalu ia berjalan cepat hendak pergi dari sana, tapi Vino memegang bahu Nurul dari belakang seolah menyuruh nya berhenti.


"Ran,,," panggil Vino lirih.


"jangan Pak! Nur nggak mau di cium!"


ucap nya panik sambil menepis tangan Vino.


Mendengar itu Vino tertawa geli.


"hahaha.. saya cuma mau ngobrol sama kamu Ran, saya rindu sama kamu"


"nggak! bapak nggak boleh kangen sama Nur.


pokok nya mulai sekarang bapak jangan deket deket Nurul lagi"


"sini..sini.. duduk dulu" Vino menarik paksa Nurul agar duduk dan membicarakan kenapa segitu nya ia mau menghindari Vino.


"alasan nya apa Ran? saya janji akan jaga sikap mulai sekarang"


"Bapak jaga hati pacar nya dong. bapak punya pacar tapi bapak begitu ke Nurul" ketus nya dengan mata melotot.


"pacar? saya nggak punya pacar Ran.."


Vino heran dari mana Nurul menyimpulkan hal itu.


"tante Zey"


Vino menatap Nurul sangat dalam lalu tertawa.


"Zey? hahaha.. saya nggak pacaran sama dia, karena kami ada keperluan jadi kami sering bertemu"


"jangan bohong deh, orang Nur lihat kalian ciuman waktu di mobil" Nurul memutar bola mata nya karena jengah.


"kapan?" Vino kaget.


"waktu itu! yang kita nemenin tante Zey berobat"


"ohhw.. kok kamu tau? bukan nya kamu tidur waktu itu? kamu ngintip ya?"


Vino malah menggoda Nurul dengan menjawil lengan nya.


"nggak usah banyak tanya deh bapak!


ciuman begitu apa nama nya kalau nggak pacaran?" alis Nurul naik sebelah karena mendengar alasan Vino yang tak masuk akal.


"nggak pacaran Ran.. itu terjadi begitu saja"


elak Vino.


"alahh!! udah deh pak, mendingan bapak jangan macem macem deh kasian tau tante Zey"


"berarti kita pacaran nih? soal nya waktu itu saya cium bibir kamu" ucap Vino sambil memainkan mata nya.


"nggak! dimana? kapan?!"


Nurul menolak tegas karena memang dia merasa tak pernah melakukan itu.


Vino mendekatkan wajah nya ke arah Nurul.


"waktu kita mau ke museum, kamu ingat kan?


mata saya kelilipan waktu itu"


degg.....


Nurul gugup dan menelan ludah nya yang tersangkut di kerongkongan.


"ii..tu?? be..neran? bu,,bukan nya Nur mimpi?"


seketika seluruh tubuh nya bergetar tak karuan.


"hmm.. kamu pingsan setelah itu, bagaimana? apa kita juga bisa di bilang sedang pacaran?"


"nggak!! itu kan bapak yang cium!


"apa beda nya sayang...??"


Vino semakin gemas melihat tingkah Nurul.


bagi seorang Vino memanggil wanita dengan panggilan sayang bukan lah hal yang sulit.


"beda!! kalau ciuman itu kaya bapak sama tante Zey waktu itu, sama sama mau.


udah ih!! males bahas bahas itu! pokok nya Nur nggak mau bapak ganggu Nur lagi!


inget jaga hati pacar nya kalau mau langgeng"


Nurul mengacungkam jari telunjuk nya ke Vino.


"saya nggak pacaran Ran.."


Vino masih saja bersikeras meluruskan itu.


"bapak ih! kalau main main terus sama perempuan lama lama nggak ada yang mau sama bapak! bisa bisa membujang seumur hidup!"


cerewet nya Nurul sudah kembali, menandakan sudah tidak bete lagi dengan Vino.


Vino hanya tersenyum kecil.


"kan ada kamu.. kalau nggak ada yang mau sama saya, saya akan nikahi kamu"


"hihh!! nggak mau!"


ucap Nurul dengan pandangan jengah.


"nggak perduli.. saya akan paksa kamu"


sorot mata Vino menembus hingga ke jantung Nurul hingga membuat sekujur tubuh nya diam tak bergerak. tatapan mereka saling terpagut satu sama lain dan menciptakan suasana hangat yang sangat mendebarkan.


drrttt..drrt..drrt..drrrttt..


ponsel Nurul bergetar membuat suasana hangat itu buyar. mengetahui bahwa yang menelpon Bian, Vino merebut ponsel nya lalu menjawab nya.


"dek.. sudah tidur"


tanya Bian dari dalam telepon.


"kenapa kau menelpon malam malam begini?"


ketus Vino.


"kenapa anda bersama nya malam malam begini!"


Bian bertanya balik, ia tanda betul kalau itu adalah Vino.


"aku tidur dengan nya malam ini.."


sahut Vino sengaja di dramatisir.


"mmmm...!!"


Nurul mencoba berbicara pada Bian tapi mulut nya


di bungkam dengan tangan nya Vino.


tak hilang akal, Nurul berusaha merebut ponsel nya tapi Vino malah berdiri dan membuat Nurul kesulitan meraih nya. tak sampai di situ Nurul yang berusaha naik ke kursi pun tak berdaya karena lengan Vino melingkar di bahu nya.


"apa!!!" pekik Bian.


Vino lalu memutus sambungan telepon nya.


"Aaaggrr!!!!!!!"


Vino memekik kesakitan karena Nurul menggigit tangan nya.


"bapak apa apaan sih"


Nurul masih berusaha merebut ponsel nya.


"sakit sayang.. nanti saya gigit balik tau rasa kamu" Vino semakin menggoda Nurul habis habisan.


"sayang.sayang! jidat bapak peyang!!"


saking bete nya Nurul pergi begitu saja tanpa menghiraukan ponsel nya. jengkel sekali pasti nya karena Vino terus menganggu nya.


sedangkan Vino malah senang karena ini akan menjadi alasan untuk bertemu lagi besok.


...~~~~...


Di tempat lain, Mila tengah melepaskan rol rambut nya di depan meja rias. tiba tiba datang Riko dengan handuk di bawah pinggang mendekati nya.


"ngapain?!" ketus Mila.


Riko tak menjawab, ia berpura pura mengambil sisir di depan Mila dan menempelkan anaconda nya sebisa mungkin agar Mila merasakan sensasi nya.


"apa itu??!"


batin Mila terkejut saat benda keras menyenggol punggung nya.


Karena Mila tak bergeming, ini saat nya menerapkan saran yang di berikan Dimas.


Riko berakting seolah olah handuk nya tersangkut di rol rambut Mila.


"aahkk!!" Mila yang kesakitan pun menarik paksa kepala nya dan lepas lah handuk Riko hingga menampakkan anaconda nya yang sudah berdiri tegap.


"mama!!!!" Mila langsung terlonjak kaget lalu melarikan diri.


...*********...