
Setelah sampai di rumah,Dimas membantu Fani membersihkan diri nya.
ia menyeka tubuh sang istri menggunakan handuk dan air hangat agar terasa segar,sebab dua hari di rumah sakit Fani tidak di bolehkan mandi.
"punggung Fani Mas.. lengket banget di situ rasa nya"
"iya sayang.."
Dimas pun pindah ke belakang Fani,setelah selesai ia berjongkok membersihkan kaki nya juga agar terasa nyaman.
"awhh... jangan di tekan Mas,ngilu di situ"
rintih Fani saat Dimas menggenggam pergelangan kaki nya.
"hhh..." Dimas malah tersenyum lebar.
"ih Mas,orang lagi sakit malah senyum senyum"
"Mas berpikir aja,kalau dulu kamu nggak ketabrak mobil Mas mungkin kita nggak saling kenal sampai sekarang" tatapan mereka pun beradu lagi,saling melemparkan banyak cinta yang tak terucapkan.
"iya Fani nggak menyangka bisa berjodoh sama Om Om"
"Om Om? jadi kamu menyesal karena menikah sama laki laki tua kaya Mas hm?"
Dimas mencubit kecil hidung Fani.
Sedang asik bercanda,tiba tiba kepala pengawal di rumah mereka menelpon.
"ada apa ?" Dimas menjawab telepon nya.
"maaf pak,ada perempuan yang bersikeras ingin bertemu bapak. saya sudah menyuruh nya pergi tapi dia tidak mau" ucap pengawal itu.
"perempuan?" Dimas heran.
"siapa nama nya?" Dimas memastikan apakah orang itu kenalan nya atau bukan.
"keisya Pak"
Dimas langsung terkejut mendengar nama itu,ia menatap ke arah Fani yang juga terheran siapa kah gerangan orang itu.
"usir saja!" tegas Dimas,ia yakin wanita itu pasti akan membicarakan hal hal aneh.
karena beberapa hari terakhir ini perempuan itu terus saja mengusik nya bahkan mengikuti kemana Dimas pergi.
"siapa Mas?" Fani menaikkan sebelah alis nya.
mode sangar on.
"bagaimana menjelaskan nya ya.." Dimas bingung karena jika salah 1 kata dalam penjelasannya pasti akan jadi perang dunia ke tiga.
"dia hamil anak Mas?" celetuk Fani.
"hahh? nggak lah sayang.. kamu ini overthinking banget"
"terus ngapain dia di sini?"
"minta di nikahi.." jawab Dimas gugup.
"apa? kok bisa? dari mana Mas tau?"
"dia membawa dokumen pernikahan di tangannya.. andai Mas belum punya istri tidak apa apa" perempuan itu seperti penggemar berat nya Dimas.
"apa! ulangi Mas Fani kurang denger.."
Dimas: "dia membawa dokumen.."
Fani: "bukan itu, yang sesudah nya"
Dimas: "andai Mas.. eh.. nggak gitu maksut Mas sayang, Mas kasihan aja lihat dia kaya mengharap banget di nikahi laki laki super tampan kaya Mas ini"
Fani: "cantik ya.."
Dimas: "lumayan.."
"Mas!!!" Fani menarik telinga Dimas.
bisa bisa nya dia ngomong begitu.
"ahhh.. aduh aduh.. bercanda sayang bercanda.." hampir putus tu telinga di buat Fani.
mereka pun terus bergurau sambil sesekali Fani mencubiti perut Dimas.
"rasain.. maka nya jangan macem macem Mas, baru telinga ini belum yang lain" ancam Fani.
Dimas hanya bisa meringis namun sambil tertawa karena melihat tingkah Fani yang memggemaskan saat sedang cemburu.
...~~~~...
Jam 22:00
Nurul hendak ke kamar mandi membersihkan wajah nya sebelum tidur,ia membuka laci di lemari nya dan ternyata ia kehabisan pembalut.
"waduh.. habis lagi,," gumam nya.
ia pun turun ke lantai bawah,namun di lihat nya keadaan sudah sepi. ya orang orang di rumah memang cepat tidur kalau tidak ada acara.
Karena tak ada orang,ia pun berniat meminta pak supir menemani nya ke toserba terdekat untuk membali pembalut.
tetapi saat sampai di depan rumah,ia melihat pak supir tengah tertidur di pos satpam.
Nurul tak tega jika harus membangunkan mereka.
"beli sendiri aja deh" ucap nya,kebetulan toserba terdekat tidak terlalu jauh hanya 20 menit berjalan kaki sudah sampai.
"non mau kemana malam malam begini??" sapa pak satpam yang berjaga di gerbang utama.
"mau ke toserba pak, ada yang perlu saya beli"
sahut nya.
"saya anterin ya"
"nggak usah pak, lagian deket kok.."
tolak nya segan. lagi pula satpam itu terlihat sudah lelah dan mengantuk.
...-...
...-...
Nurul keluar dari toserba dengan sekantong pembalut dan beberapa susu botol di tangan nya.
terlihat jalanan sudah sepi,karena jalan menuju rumah nya bukan di jalan utama perkotaan.
Ia melewati sekumpulan pemuda yang sedang merokok dan minum di salah satu tongkrongan.
"cantik.. mau kemana malem malem begini.."
panggil salah satu pemuda itu di iringi siulan teman teman nya.
Nurul langsung panas dingin, ia tetap cuek dan pura pura tak mendengar mereka.
namun pemuda berandalan itu malah mendekati Nurul dan mengelilingi nya.
"ikut kita yuk.."
Nurul semakin ketakutan melihat mereka,sampai ia tak bisa berkutik. pikiran nya menyuruh untuk teriak namun bibir nya kaku hingga tak bisa bergerak.
"cantik banget sih..."
Merasa kelewatan,Nurul pun memukul nya dengan kantong plastik berisi pembalut dan botol susu itu.
"jangan kurang aja ya!!"
"wihh.. cantik cantik kok galak sih.."
orang yang satu nya menyentuh bahu Nurul.
plakk...
lagi Nurul memukul orang itu sekuat tenaga menggunakan kontong plastik nya hingga jebol dan isi nya berserakan.
"makin asik nih kalau galak.. makin menantang buat kita" mereka pun beramai ramai memegangi tangan Nurul agar tidak melawan, bau alkohol terasa menyengat dari mulut mereka hingga membuat Nurul sedikit pusing.
"TOLONG......." Nurul mencoba teriak namun tak sekuat ekpestasi nya.
"lepaskan dia atau saya telpon polisi!!"
ujar seorang lelaki bersuara berat yang ntah datang dari mana.
"jangan bang.. kita cuma main main kok,
cabut woy cabut.." mereka langsung tunggang langgang melarikan diri.
Nurul menoleh ke arah sumber suara itu,lelaki berwajah tampan dengan perawakan kekar.
Lelaki itu mendekati Nurul dan mengutip barang barang Nurul yang berserakan.
"nih.. kamu sendirian?"
"iya.. terimakasih Pak.."
Nurul mengambil barang nya lalu menjauh,ia mengira lelaki itu sama dengan pemuda yang tadi.
"jangan takut, saya orang baik baik kok"
senyuman lembut keluar dari bibir lelaki itu.
"rumah kamu di mana?"
tanya lelaki itu.
"di jalan cempaka Pak.."
"kalau gitu ayo sekalian kita jalan, kebetulan rumah saya juga melewati jalan itu"
Lelaki itu pun menawarkan diri menemani Nurul pulang,ya walaupun dia juga jalan kaki tapi jadi lah buat menghilangkan ketakutan Nurul pada orang orang tadi.
"kalau malam jangan keluar sendiri, di sini banyak anak anak seperti mereka tadi"
si lelaki membuka obrolan agar perjalanan mereka tidak hening.
"iya Pak..
Bapak dari mana?"
Nurul juga berusaha menanggapi obrolan agar tidak canggung.
"saya pulang kerja"
"jam segini?"
"iya kebetulan ada pasien darurat tadi jadi saya lembur"
"bapak dokter?"
"mm iya..."
dari cara nya berbicara memang sudah kelihatan kalau dia seorang dokter,tutur kata nya yang sopan dan terdengar rapi menonjolkan ciri khas seorang dokter.
mobil nya sedang bermasalah,jadi dia tinggalkan di rumah sakit lalu pulang naik Bus.
dan karena Bus hanya berhenti di jalan raya,dia pun melanjutkan pulang dengan berjalan kaki.
"kamu pucat banget,hari pertama datang bulan?"
ia memperhatikan Nurul dan pembalut di tangan nya.
"hah.. iya Pak.." Nurul seketika kikuk saat di tanya hal yang menurut nya sangat pribadi itu.
"jangan kelelahan dan banyak minum air putih,atau bila perlu minum pil tambah darah"
"baik Pak.." sahut Nurul bak mengiyakan perintah guru.
"Masih sekolah?"
"masih Pak.."
sahut nya menangguk,tak terasa mereka pun sudah sampai di depan rumah Nurul.
"Kirana..." seru Vino dari depan pagar.
dia baru saja tiba bersama mama nya,mereka berniat tidur di sana lagi sebab besok pagi pagi sekali Duma harus berangkat ke kantor Dinas kesehatan untuk mempersiapkan surat praktik nya kembali sebagai dokter.
Vino dan papa nya sama sama sibuk di kantor masing masing,jadi Duma meminta Rianti menemani nya.
"Bu Duma??" lelaki itu langsung mengenali senior nya.
"Bian? ya ampun ini Bian?? apa kabar kamu?"
Duma tercengang melihat junior nya saat masih di rumah sakit dulu.
"baik Bu.."
mereka pun saling bertukar kabar.
"oh ibu mama nya anak ini?" Bian menunjuk Nurul.
"dia keponakan saya.."
jawab Duma.
"ohh begitu.."
Bastian atau yang akrab di sapa Bian itu mengangukkan kepala nya. obrolan mereka pun berlanjut saling bertukar cerita.
"kamu ngapain malem malem keliaran sama laki laki nggak jelas?" tanya Vino sambil menarik tangan Nurul masuk.
"orang dia dokter,nggak jelas dari mana?"
Vino: "kamu kenal dia?"
Nurul: "belum kenalan sih.."
"tu .. itu nama nya nggak jelas"
Vino tampak kesal melihat Nurul dekat dengan lelaki lain apalagi tampan nya sangat menyaingi.
Nurul: "tapi mama Bapak kenal itu"
Vino: "tapi kamu nggak kenal kan?"
Nurul hanya menggelengkan kepala nya,memang tidak kenal sih,tapi dia juga belum mengucapkan terimakasih pada dokter itu karena telah menolong nya tadi.
gara gara Vino main tarik aja.
...********...