Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 73: Bikin heboh


Saat hendak menyiapkan baju untuk Dimas,tiba tiba lemari otomatis yang super canggih itu tak mau terbuka, ya lemari yang di desain sendiri oleh Dimas itu memiliki fitur canggih yang mana hanya bisa di buka jika sidik jari mereka berdua menyentuh pelatuknya.


seperti nya lemari itu error karena Fani membanting pintu itu dengan sangat keras tempo hari saat kesal dengan Dimas dan Zey.


"sayang.. baju Mas sudah siap?" tanya Dimas memasuki ruang pakaian.


"lemari nya nggak bisa di buka Mas.."


"hah...kok bisa? coba sini.."


Dimas mencoba membuka lemari itu namun tetap saja tidak mau terbuka.


"kok bisa rusak ya? padahal alat sensor nya yang bagus loh ini" gumam Dimas terheran.


sementara ekpresi Fani langsung tegang karena takut ketahuan.


"setelan Jas yang di luar nggak ada sayang??"


"baru di cuci sama bibik.."


sahut nya menyeringai.


Dimas pun bingung,sebab 30 menit lagi ada acara peluncuran Furniture terbaru. sedangkan 30 menit itu adalah jarak dari rumah nya ke kantor itupun kalau tidak macet.


mau beli baru? ya kali Dimas ke toko Jas pakai handuk doang.


suruh ART yang beli? waktu nya mepet.


Tiba tiba Fani teringat baju yang Di pakai Dimas saat mereka keluar tadi malam masih tergantung di pojokan.


"baju yang tadi malam mau?"


"ada? ya udah itu aja sayang.."


ujar Dimas terburu buru.


Fani pun segera mengambil seperangkat baju dinner mereka tadi malam.


"tapi ini kan nggak formal Mas, memang nya nggak apa apa di pakai ke kantor?"


"darurat sayang.. dari pada Mas ke kantor pakai handuk lebih gawat nanti"


Setelah mengenakan pakaian nya,Dimas pun langsung berpamitan pada Fani dengan terburu buru. bahkan rambut nya pun tidak di tata karena waktu nya sangat mepet.


"hati hati Mas..."


seru Fani sambil melambaikam tangan nya mengiringi keberangkatan Dimas.


ntah kenapa perasaan nya tidak rela melepaskan Dimas dengan pakaian seperti itu.


...~~~~...


Beruntung jalanan tidak terlalu macet hari ini,jadi Dimas hanya terlambat 15 menit.


saat memasuki gedung kantor,semua mata langsung tertuju pada nya yang berpakaian sangat berbeda dari biasa nya.


ia kelihatan tambah menawan dengan gaya casual itu, dengan rambut yang di biarkan berantakan semakin menambah damage seorang Adimas yang memang banyak di kagumi kaum hawa.



"astaga....suami orang cakep banget woy..."


"ya ampun.. mata ku.. fresh banget tampilan nya gaes..."


"Pak Dimas? salah kostum kok tambah aaaggrhhhh...."


"orang ganteng bebas yaah๐Ÿ˜ญ"


"bukan karena ganteng sih.. karena dia presdir maka nya bebas.."


"sumpahh...Bu Fani tiap bangun tidur pemandangan nya indah banget yaa๐Ÿคค๐Ÿคค"


"iyaa nggak kaya aku bangun tidur pemandangan nya dinding yang penuh pajangan upil"


para karyawan betina tak henti henti nya mengagumi ketampanan Dimas yang tampil beda hari ini.


mereka sampai berulang kali menelan air liur saking terpesona nya dengan tampilan menawan Dimas hari ini.


Dengan percaya diri,Dimas pun naik ke atas podium sambil memberikan kata kata sambutan.


di ujung ruangan tampak Zey yang duduk di sebelah Vino juga tak kalah terperangah nya.


Vino juga geleng geleng kepala melihat kelakuan saudara nya itu yang membuat heboh sejagat kantor.


"ck..ck.. bisa bisa nya dia tetap tampan dengan rambut seperti itu"


"dia selalu tampan dalam keadaan apapun.."


sahut Zey tanpa sadar.


"apa??" Vino terkejut.


"eh..itu.. sangat bagus dan kelihatan mewah"


ujar Zey sambil menunjuk ke arah pajangan furniture yang akan di luncurkan.


drrttt..


Ponsel Vino berdering, tertulis nama sang pengirim pesan *Gadis*ku dengan lambang hati berwarna biru yang tak lain adalah Nurul.


Nurul membalas pesan mengenai pameram artefak itu.


"jam berapa pameran nya pak?"


Vino: "nanti sore,kamu mau pergi?"


Nurul: "mau..๐Ÿ˜"


Vino: "oke.. nanti sore saya jemput jam 5"


Nurul: "๐Ÿ‘๐Ÿ‘"


Vino tersenyum girang karena rencana nya berhasil.


"yess..."


"m..adik nya Fani"


"kalian cukup dekat ternyata"


ujar Zey sedikit sebal, tentu saja ia merasa cemburu melihat Vino tersenyum sebahagia itu pada gadis lain.


"ya tentu saja,kami sudah menjadi keluarga"


jawab Vino enteng,karena memang mereka sudah menjadi keluarga kan karena dia adik ipar nya Dimas.


"aahh... aku jadi ingin makan samyang"


gumam Zey mengecapkan bibir nya.


seperti nya makanan pedas bagus untuk melampiaskan kekesalan nya.


"aku juga ingin samyang.. mau pergi bersama nanti?" dengan santai nya Vino merangkul bahu Zey sambil tersenyum manis. nggak jadi sebal dong si Zey,malah tambah baper.


"mm.." Zey menganggukkan kepala nya sambil tersenyum.


"jika aku menyatakan perasaan ku apa dia akan menerima?" batin nya dengan wajah penuh harapan pada Vino.


Sementara tak jauh dari mereka Mila yang baru saja memasuki ruangan di panggil oleh CS nya untuk duduk bersama.


sial nya posisi mereka melewati Riko yang sedang duduk diam dengan wajah beku nya.


mau tak mau Mila pun menuju kesana karena memang tak ada kursi kosong lagi.


posisi kursi di sana seperti di bisokop,jadi sangat kecil kemungkinan untuk tidak menyenggol orang yang di lewati Mila.


"permisi...maaf.. permisi.."


ujar Mila sambil menundukkan badan saat melewati orang orang.


Hingga tiba tepat di depan nya,Riko dengan sengaja menjulurkan kaki nya hingga membuat Mila tersandung dan jatuh ke pangkuan nya.


"ciee...." ledek teman teman nya Mila setengah berbisik.


"hishhh!! kau mau mati hah?!!" rutuk Mila sambil berdiri.


"bokong mu empuk.." bisik Riko dengan senyum smirk nya.


ttakkk!!


Mila menendang kaki Riko tepat di tulang kering nya sambil berlalu pergi dengan wajah jengah.


"sss!!!" Riko pun meringis kesakitan sambil berusaha menahan wajah nya tetap stay cool.


"gimana Bu rasa nya duduk di pangkuan cogan"


ledek salah satu karyawan sambil cekikikan.


"cogan..?! mata mu sakit? manusia kaya gitu di bilang cogan." sahut Mila sewot.


"ganteng lo Bu,kalian benar benar sangat serasi"


ujar karyawan itu lagi.


Mila bergidik merinding mendengar kata itu, kenapa semua orang menjodohkan diri nya dan Riko,padahal mereka semua tau kalau dia dan Riko seperti kucing dan doggy kalau bersama.


...~~~~...


Setelah acara selesai,semua orang berhamburan keluar dari ruangan itu.


para betina masih saja memuji muji penampilan Dimas sambil berkhayal bertukar posisi dengan Fani.


Dimas dan kru langsung menuju ke studio untuk melanjutkan proyek iklan mereka.


"Vino.. tolong ambil kan falshdisk di laci meja ku"


"baik pak.." Vino pun langsung beranjak dari sana.


Hanya ada Zey dan Dimas di barisan belakang karena para kru dan staff berjalan lebih cepat.


Dimas tetap fokus membaca konsep yang telah di perbarui sesuai keinginan nya.


"shuzy.. tolong kau pahami di bagian ini.."


Dimas menggaris bawahi bagian yang di maksut,lalu menyerahkan nya pada Zey.


"baik pak.." jawab Zey.


"pak..."


Dimas langsung menghentikan langkah nya.


"apa?"


"kenapa bapak masih memanggilku shuzy?"


tanya Zey ragu ragu.


ia mengira kalau Dimas masih menganggap nya spesial.


"kenapa?"


tanya Dimas dengan wajah datar.


"bukan kah itu panggilan spesial untuk ku"


"bukan nya dulu kau yang mengenalkan diri mu dengan nama itu?


teman teman yang lain juga memanggilmu begitu kan? jadi di mana letak spesial nya.."


Dimas tak paham dengan perkataan Zey.


ia pun melanjutkan langkah nya dengan santai.


"b..begitu ya.." Zey merasa sangat malu karena sudah memikirkan hal itu.


bisa bisa nya ia beranggapan diri nya masih memiliki tempat spesial di hati Dimas hanya karena Dimas memanggil nya begitu.


...*********...