
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Vino malah melamun membayangkan apa yang ada di balik handuk merah muda tersebut.
"Mas...!" panggil Nurul lagi hingga lamunan Vino buyar.
"hm? iya.. apa sayang??"
"di tanya malah ngelamun, apa nya yang bablas tadi?"
Vino memutar otak untuk mencari jawaban yang masuk di akal. "ini loh, hampir Mas kebablasan jalan di sini. kalau bablas bisa libur berkembang biak lagi nanti hahahhaha..."
Nurul mengernyitkan alisnya, entah kenapa semua orang yang ia temui hari ini terlihat mencurigakan. entah itu Rey dengan perlakuannya tadi, Ayu dengan tatapan nya, serta Vino yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya.
"akh.. mungkin ini cuma perasaanku aja.." batin Nurul menetralkan pikirannya.
Vino melangkah perlahan ke arah Nurul, senyum maut andalan pun ia sigarkan untuk membuat Nurul terhipnotis seperti biasanya. "sayang..." bisiknya pelan sembari membelai pipi sang istri.
"h..hmm..?" sahut Nurul gugup, walau entah yang keberapakali Vino menatapnya dengan tatapan itu. jantungnya tetap saja berdebar kencang seperti gemuruh.
Vino mendekat dan menatap teduh wajah wanita yang di cintainya itu.
"tahukah kamu? ada dua kategori wanita mulia di bumi ini, yang pertama dia yang berhasil mendidik anak anak nya. dan yang kedua dia yang berganti gelar dari Single menjadi seorang ibu."
"lalu..?" sahut Nurul tak mengerti, sebenarnya anak balita pun pasti paham kemana arah perkataan Vino barusan. namun Nurul yang tengah berperang menahan kerasnya dentuman di dada menjadi hilang akal seketika.
"kalau kamu mau, kamu bisa menjadi kedua nya." bisiknya bernada erotis. tangan yang tadinya bersandar di bahu kini bergerak turun menelusuri setiap inci tubuh Nurul.
Hanyut nya Vino dalam suasana, dan terbuainya Nurul dalam belaian suaminya membuat mereka berdua tak menyadari ada makhluk mungil di bawah selimut yang tak lain adalah El.
El diam diam masuk ke kamar sebelum Nurul dan Vino tiba tadi, niatnya ia hendak mengejutkan orang tua nya, sekalian melepas rindu karena seharian ia tak bertemu Ayah dan Bunda nya.
"Saya menginginkannya Ran..." bujuk nya sambil mengecup lembut bagian tengkuk Nurul.
"apa...?" tanya Nurul dengan nafas berderu kencang.
"Baby....." bisik Vino tepat di telinga Nurul. kemudian ia mulai membuka tali handuk yang melilit pinggang Nurul.
"Ayah sama Bunda lagi ngapain sih..?" tanya El sontak membuat Vino membalikkan badan dan melompat sejauh satu meter.
Sementara Nurul langsung membenarkan posisi handuknya "aduhh.. kok El bisa di sini sih?" gerutunya, wajah nya sampai merah karena malu telah mempertontonkan hal tidak pantas kepada El.
Raut wajah El terlihat bercampur antara rasa penasaran dan jengkel, sebab sudah hampir setengah jam ia bersembunyi di balik selimut namun Ayah dan Bunda nya tak kunjung berbaring di ranjang.
"heh.. s..sejak kapan kamu di situ hah?" tanya Vino gelagapan, tombak sakti yang tadi berdiri kokoh jadi layu seketika.
"sejak Ayah dan Bunda belum pulang, El sampai kepanasan nih karena Ayah sama Bunda lama tidur nya." sahutnya sedikit manyun.
"khm.. memangnya El mau ngapain di sini?" tanya Nurul tersenyum, ia bersikap seolah olah tenang.
"tadi nya mau suprise Ayah sama Bunda, tapi gagal.."
"oh iya.. malam ini El tidur bareng ya? ☺️" pinta nya dengan wajah berbinar.
"bole..." belum sempat Nurul selesai bicara, sudah di potong oleh Vino.
"nggak El. kan ada si kembar tuh di kamar Oma, kamu ngapain malah kesini?"
El menundukkan pandangannya "El rindu sama Ayah..."
Sebagai seorang wanita, Nurul sedikit iba melihat raut wajah El. "Mas, udah lah nggak apa apa kasihan..."
"terus kamu nggak kasihan sama Saya, hm?" bisiknya tak terima.
Saat saat seperti ini lah yang membuat Nurul Dilema, harus memilih anak atau Bapak nya. "gini deh.. biarin El tidur di sini, nanti kalau dia udah tidur kita pindah kamar sebentar hehe.."
Vino mengehela nafas "hhh.. janji?"
"mm.." sahut Nurul mengangguk.
"iya boleh kok sayang..." sahut Nurul lembut.
"yeeayy...! Bunda memang terrrrrbaik.." ucap El jingkrak jingkrak kegirangan. sementara Vino beserta si alex hanya bisa menunduk lesu.
"tunggu giliranku..Bunda" batin nya melirik ganas ke Nurul.
Memang kalau sudah El yang menyainginya Vino tak bisa lagi berbuat apa apa.
...~~~~...
Di rumah sakit...
Jam berdentang pelan menandakan memasuki hari baru. di antara senyapnya suasana rumah sakit, Gaby menangis sesenggukan sembari merebahkan kepala nya di salah satu ranjang.
"Gaby??" ucap Mei yang baru tersadar dari masa kritis nya.
"hh.. kau sudah sadar?! apa kau gila hah! kenapa kau melakukan tindakan bodoh seperti itu? kau tidak lihat Gaby seperti orang gila karena mengkhawatirkan mu.!" hardik Dika, ia langsung meluapkan amarahnya karena tak tega melihat Gaby menangis sedari tadi.
"kak.. jangan, udah ya.." Gaby memohon agar Dika berhenti memarahi Mei.
"kenapa kamu nolongin aku By.. kenapa!! hiks..hiks..hiks..." bukannya berterimakasih, Mei malah kecewa karena tindakan bunuh dirinya gagal.
Gaby menangis sejadi jadi nya, ia tau kepedihan apa yang sedang di alami sahabatnya itu hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidup. "Mei.. tolong tenanglah.. jangan memperparah keadaanmu hiks..hiks.."
Dengan sisa tenaga nya, Mei mencabut semua alat yang di pasang Dokter untuk memulihkan nya dari mulai oksigen hingga infus. "aku nggak butuh ini! biarkan aku mati! biarkan aku mati!!" pekiknya penuh keputusasaan.
Gaby berusaha menghentikan Mei, namun Dika tak menggubris sikap Mei yang menurutnya sudah tidak waras.
Mei yang seperti kehilangan akal dengan mudah mencabut perban di pergelangan tangannya, lalu merobek kembali jahitan luka itu dengan amat bringas hingga darah segar kembali mengalir.
"kau benar benar mau mati HAH!!?" teriak Dika sangat marah sambil menggenggam pergelangan tangan Mei agar darah nya berhenti mengalir.
"tolong.. hentikan hiks..hiks.. tolong..😭" pinta Gaby, ia terduduk lemas di lantai kala melihat darah Mei mengalir.
"YA! biarkan aku mati!!!" teriak Mei berusaha melepaskan genggaman Dika.
Tanpa rasa iba, Dika menyeret paksa Mei menuju balkon di ruangan itu.
PRANGGG!!! Dika menendang pembatas kaca setinggi satu meter itu hingga hancur berkeping-keping lalu ia melepaskan tangan Mei.
Gaby tak sanggup lagi melihat kegilaan Dika, tangannya bergetar hebat sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
"lompat lah.. kau akan langsung mati jika terjun dari sini!"
"CEPAT!" suara Dika yang menggelegar membuat Mei terkejut.
Mei menatap kebawah, lampu mobil yang amat jauh hanya terlihat seperti kilauan kunang-kunang. tentu saja ia tak memiliki keberanian, karena semua hal gila yang ia lakukan barusan merupakan kemarahan serta keputusasaan sesaat.
Melihat Mei yang hanya diam, Dika langsung berbalik badan sambil menelpon rekan kerja nya "aku butuh bantuan. ruangan 2670 segera!"
Kemudian ia membopong tubuh Gaby untuk di bawa ke ruangannya.
...~~~~...
Pagi harinya...
Ayu bangun sedikit terlambat, ia terburu buru menuruni anak tangga sambil memasang dasi sekolahnya. entah dia yang di bangunkan tidak dengar, atau memang tidak ada yang membangunkan karena tampak seluruh keluarga sudah selesai sarapan.
Ia hanya melihat bibik yang sedang merapikan sisa piring di sana, lalu pendengarannya terfokus pada suara ramai orang bercakap di ruang tengah.
Ternyata cerita di telantarkan nya Ayu kemarin sudah sampai di telinga Adit. kita sama sama tau siapa orangnya yang menceritakan itu pada Adit.
...**********...