
Setelah acara makan malam tim selesai dan karyawan sudah pada pulang, Dimas mengantar Fani pulang kerumah dengan mobilnya.
Di dalam mobil, Fani terus memandangi Dimas yang tengah fokus menyetir dengan tatapan prihatin.
"huufftt...Om Dimas kok kasian banget ya, segitu trauma nya dia sama perempuan sampai-sampai..."
"shhhhh...aduh..." Rintih Dimas memotong Fani yang sedang berbicara dalam hati. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit, karena dari pagi tidak memakan apapun saking sibuknya mengurus perubahan mendadak.
"Om kenapa..?" Fani menjadi panik seketika.
"Perut saya sakit..." Rintih Dimas menahan rasa melilit yang begitu hebat diperut.
"Kalau gitu kita kerumah sakit aja sekarang om." Fani menjadi kalut melihat keadaan Dimas, ditambah ia tidak bisa menggantikan Dimas yang sedang sakit, untuk menyetir mobil.
Dimas segera memutar balik mobilnya dan menuju ke rumah sakit yang mereka lewati beberapa menit lalu.
Setelah sampai di rumah sakit, Fani segera keluar dari mobil dan memapah Dimas yang kelihatan sudah lemas dan pucat.
"Suster..! tolong ..!" Teriak Fani kepada suster yang sedang bertugas.
Dokter memeriksa Dimas dan memberikan infus karena keadaan perut Dimas sudah tak terkendali, antara sakit, mual dan pusing.
"Ini gejala tukak lambung Pak. Apa Bapak tidak makan seharian tadi?" Tanya Dokter yang baru selesai memeriksa kondisi Dimas.
"Tidak.." Dimas menjawab dengan suara yang hampir hilang.
Karena kondisi Dimas yang lemas dan tidak bisa menelan makanan ataupun obat, jadi Dokter mengharuskan nya menghabiskan minimal 1 botol infus baru di perbolehkan pulang.
"Kenapa om sampai nggak makan seharian?" Tanya Fani dengan raut wajah khawatir namun sedikit canggung. Ia tampak begitu cemas.
"Saya bahkan lupa kalau belum makan dari tadi pagi." Lirih Dimas yang masih terbaring lemas.
"Fani tau kalau om udah tua, tapi masa bisa lupa kalau belum makan." Celetuknya dengan kedua alis terlipat.
Dimas hanya tersenyum melihat tingkah Fani yang mencoba perhatian namun terlihat canggung. Ia meraih tangan Fani dan meletakkandi dahinya.
"Ngapain om?" Wajah Fani bersemu merah, tak bisa dielakkan debaran jantung yang meningkat drastis.
"Sebentar saja, agar bisa terpejam. Saya mengantuk sekali." Dimas memejamkan mata nya, lalu ia mengingat masa 10 tahun lalu dimana Fani masih kecil.
Jika sedang demam Fani selalu meminta Dimas meletakkan telapak tangan didahinya, agar bisa tidur.
Akan tetapi Fani sama sekali tidak mengingat kenangan manis yang sangat membekas diingatan Dimas tersebut.
Fani mengamati wajah Dimas, dan tanpa disadari ia terpaku pada bibir tipis nan indah milik Adimas, di tambah garis rahang yang terpahat sempurna semakin membuat ketampanan seorang Adimas terpancar sempurna. Tak dipungkiri sebagai wanita, ia menilai ketampanan Dimas memang diatas rata-rata.
"Kasian om Dimas. ganteng-ganteng malah H*MO." Gumamnya,ia tidak menyadari kalau Dimas masih bisa mendengarnya itu.
"Apa..?!" Dimas tiba-tiba membuka mata nya dan menatap tajam kearah Fani.
Fani yang terkejut langsung mengangkat tangannya dan langsung berdiri dari kursi.
"Kenapa om..?!" Ia tak kalah terkejut, karena mengira Dimas kesurupan.
Dimas langsung duduk di atas ranjang nya. "Saya senang kamu barusan bilang ganteng...tapi H*mo? Apa,,apa maksut kamu?"
"Bukan apa-apa om.. Om salah dengar deh kayanya." Fani beralasan sambil menjauh dari Dimas.
"Jangan bilang kamu percaya sama gosip di kantor?" Hardik Dimas dengan tatapan tajam.
"Jadi om tau gosip nya? Terus kenapa om diam aja? Kenapa nggak menjelaskan ke mereka?" Tanya Fani menuntut,ia juga memastikan agar mulutnya tidak salah bicara.
"Saya malas menanggapi mereka. Dan suatu hari nanti saya akan buktikan kalau prasangka mereka terhadap saya salah." Tatapan Dimas kini menjadi pasrah, selama ini ia menganggap gosip-1gosip itu sebagai penyemangat hidup nya.
"Dengan cara..?" Fani tampak penasaran, dengan apa Dimas akan membuktikan.
"Nikah sama perempuan kan om?" Tanya Fani ragu, dengan wajah polosnya.
"Sama kucing..." jawab Dimas mendengus kasar.
"Kucingnya perempuan kan om?" Lagi-lagi Fani bertanya dengan tatapan polos.
"Tidak jadi, saya tidak akan menikah..!" Ucap Dimas kesal sambil membalikan badannya, membelakangi Fani.
"fftt..." Fani hampir tertawa melihat sisi lain dari om nya yang kekanak-kanakan itu.
...~~~~...
Pagi hari nya....
Fani yang hendak berangkat ke kantor mendapati ibunya sedang menyusun bekal.
"Loh bu..? Kok Fani dibawain bekal? Kan Fani makan dikantor."
"Ini bubur buat om Dimas. Pastikan dia makan ini ya, bubur ini bagus buat orang yang punya penyakit lambung." Nita lalu memasukkan bekal tersebut kedalam tas dan memberikannya kepada Fani.
--
Setibanya dikantor, Fani memperhatikan semua orang tengah sibuk dengan komputernya. Lalu Fani mengendap ngendap berjalan ke kantor Dimas sambil membawakan bubur buatan ibu nya, mengingat saat ini jam nya sarapan, dan Fani belum melihat Dimas keluar dari ruangannya.
"Om.. maaf mengganggu, ini ibu buatin bubur untuk om." Fani meletakkan bubur itu di meja Dimas. Kemudian hendak melangkah mundur beranjak dari sana.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Dimas sambil tersenyum manis. Ia memamerkan tatapan teduh yang amat menyejukkan.
"b.. belum om," Fani menelan ludahnya yang tercekat ditenggorokan, karena perasaannya mulai tak enak.
"Kalau begitu ayo makan bersama." Ajak Dimas, ia lalu berdiri dan menarik tangan Fani ke sofa yang juga ada di ruangannya.
Tangan Fani bergetar saat di pegang oleh Dimas, ia merasa benar-benar gugup dan malu.
"Tenang Fani.., jangan takut, om Dimas menganggap kamu keponakan, jadi jangan over thingking." batin Fani menenangkan dirinya sendiri.
Dimas tersenyum lebar saat merasakan tangan Fani yang bergetar dalam genggamannya, entah kenapa melihat Fani gugup seperti itu membuat Dimas semakin bersemangat untuk lebih dekat lagi dengannya.
Mereka pun menyantap bubur buatan Nita, diruangan tertutup dan hanya ada mereka berdua, membuat suasana malah menjadi canggung dan dingin.
Dimas berusaha membuka topik namun Fani yang terlanjur gugup panas dingin hanya menanggapi dengan iya.ohh dan hmm.
"Kenapa kamu canggung sekali?" Dimas sepertinya mengamati Fani sedari tadi.
"Nggak kok om. Fani bisa aja tuh." Jawabnya tersenyum hambar.
Dimas mengarahkan sendoknya ke mulut Fani, "aaak...." Dimas menyodorkan sendok selayaknya orang tua menyuapi anak balita.
Fani tertegun melihat tingkah Dimas yang menurut nya semakin aneh.
"Kenapa? Padahal dulu kamu paling suka kalau saya suapin." Dimas menarik kembali sendoknya dengan senyum yang memudar, karena Fani tidak membuka mulutnya. Ia hanya ingin hubungan mereka kembali hangat, tak berjarak seperti sepuluh tahun silam.
"Orang tua ini..! bisa nggak sih nggak usah bandingin dulu dan sekarang, dulu kan aku masih kecil.. masa iya di samain terus." Batin Fani kesal. Namun ia tetap tersenyum kepada Dimas walaupun terpaksa.
Tok..tok..tok..
"Pak Dimas..?" Panggil Mila dari luar dengan beberapa Map hitam menumpuk di tangannya.
"Bu Mila om..!" Fani panik dan langsung berdiri dari kursi. Kalau sampai Mila melihat mereka sedang berduaan, bisa gawat reputasinya.
Dimas juga panik, ia tau resiko apa yang akan dihadapi jika ratu gosip itu mengetahui mereka tengah makan bersama, secara privat pula. Ia pun menarik tangan Fani dan menyuruh dia bersembunyi di bawah meja kerjanya.
...*********...