Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 129 : Akhirnya


"kami sudah pernah melakukan nya.."


Vino memberi kode dengan tangan nya bahwa mereka pernah berhubungan badan.


"chh.. lalu kenapa? kau memang sudah biasa melakukan nya kan? kau pikir aku akan terkejut?"


sahut Dimas tertawa masam.


"tidak.. kali ini berbeda, dia hamil.."


Dimas langsung terkejut berdiri mendengar itu.


(orang nya ya bun yang berdiri๐Ÿ˜‚)


"hah?!! lalu apa yang kau lakukan di sini? kenapa kau tidak mendatangi nya?"


"sss!! kau tidak lihat leher ku patah?"


gerutu Vino.


"apa orang tua mu sudah tau?"


"belum.. minggu depan dokter bilang aku sudah bisa pulang, dan aku akan berangkat menyusul Zey" Vino sudah memikirkan itu matang matang, walaupun ia sendiri ragu apakah ini keputusan yang tepat atau bukan.


"pergi lah.. anak mu lebih berhak mendapatkan kehadiran mu" ini lah yang dari dulu di takutkan Dimas.


Dan itu satu satu nya jalan yang menurut Dimas paling baik, namun bagi Vino tentu ini pilihan yang sulit. cinta dan benih nya benar benar tumbuh ke arah yang berlawanan.


...~~~~...


Minggu berikut nya....


Sehari sebelum keberangkatan nya, Vino menemui Nurul dan mengajak nya bicara secara pribadi.


"mau kemana pak?" tanya Nurul saat diri nya di seret paksa ke dalam mobil.


Vino tak menjawab, ia hanya tersenyum dingin dengan pikiran kacau nya.


Nurul pun terheran, apa ada sesuatu yang salah?


apa saraf otak nya terganggu? pikir nya terheran heran.


Sesampai nya di tujuan mereka, Nurul terheran heran saat melihat sekeliling. bukan taman, pantai atau pun tempat santai lain nya. melainkan bandara. Vino hendak memesan tiket nya secara langsung di sana sekalian mengucapkan beberapa kalimat perpisahan.


"bapak mau pergi? ke London?"


Nurul membaca tiket pesawat dengan jam keberangkatan besok tepat pukul 14:40.


"perjalanan bisnis? terus Nur ngapain di ajak ke sini?"


Vino menggeleng lalu menundukkan pandangan nya. "saya akan menetap di sana.."


"untuk melanjutkan studi? S2?" Nurul tersenyum menggoda Vino, dia pikir Vino akan menambah gelarnya di sana.


"untuk membesarkan anak saya.."


"hahhaha... anak apa sih pak?"


Nurul tak paham apa maksut perkataan Vino.


lah orang kawin aja belum. eh udah sering deng..


maksut nya nikah.


"aku akan memberitahu mu, walaupun pasti terdengar menjijikan" ucap Vino menarik nafas sejenak.


"aku... mencintai mu.." ia menatap dalam wajah sendu Nurul.


Tentu saja jantung Nurul berdebar tak karuan, ntah itu rasa senang atau takut yang pasti ini tak seperti yang ia harapkan.


"kenapa itu menjijikkan?"


"aku dan Zey mempunyai anak, jadi aku akan meninggalkan mu di sini.." Vino merebahkan wajah nya di bahu Nurul sambil meneteskan air mata. ia menggenggam erat tangan gadis yang sangat di cintai itu, tangan yang sampai kapan pun takkan bisa ia miliki karena terhalang dinding yang amat besar.


Nurul mematung dengan mata berkaca kaca.


rasa sesak mengaliri relung dada nya.


"apa ini? kenapa dada ku sesak dan perih?"


batin nya sambil mengalihkan pandangan ke atas agar air mata nya tak menetes.


Ia mendorong Vino agar segera mengangkat wajah nya.


"pak.. malu di lihatin orang..


apa ada lagi yang mau bapak sampaikan?"


Vino menggelengkan kepala nya dengan pandangan kabur karena mata nya masih di penuhi genangan air.


"kamu? tidak adakah yang mau kamu sampaikan pada saya?"


"umm.. selamat.." ucap Nurul menatap nanar kearah Vino.


"selamat??"


"iya.. selamat karena bapak akan mempunyai anak" senyum pahit tersungging di bibir Nurul.


Mereka hanya saling menatap tanpa kata, dari pandangan mereka seperti nya masih banyak yang ingin di ungkapkan. masih banyak kata yang belum terlepaskan untuk mengisi hari terakhir mereka, namun dinding kaca nan tebal seakan menjadi pembatas di antara mereka.


Cinta, sayang, dan rasa ingin memiliki begitu jelas terpancar dari mata Vino. namun berbeda dengan Nurul yang hanya menatap tanpa tau apa sebenarnya perasaan nya terhadap Vino.


...~~~~...


Di hari keberangkatan..


Semua keluarga Vino telah tau kalau ia akan menyusul Zey (yang di ketahui keluarga sebagai pacar nya) ke luar Negeri. ia juga berkata jujur pada semua keluarga nya kalau Zey tengah mengandung anak nya. jadi ia memohon agar kelak saat Vino kembali ke sini mereka semua menerima Zey selayak nya keluarga.


Di bandara yang akan menjadi tempat perpisahan mereka, semua berkumpul.


Fani,Dimas, Rianti, Duma serta Nurul yang masih memakai seragam sekolah nya turut mengantar kepergian Vino yang ntah kapan akan kembali.


"hati hati nak.. jangan lupa selalu mengabari mama dan juga yang lain nya.." Duma menitikkan air mata nya, bagaimana bisa dia merelakan kepergian Vino yang begitu tiba tiba ini.


"iya ma.. mama jaga kesehatan ya.."


Vino mencium lembut kening Duma.


"Dim, Fani.. aku titip Ran ya.." ucap Vino monoton.


"ck.. tentu saja aku akan menjaga nya, dia kan adikku" tukas Dimas sambil berkacak pinggang.


"tante... doakan Vino ya.."


ucap nya pada Rianti.


"isss.. anak nakal ini.." Rianti memukul lengan Vino sambil tertawa masam.


Terakhir ia berjalan ke arah Nurul yang sedari tadi diam menunduk.


"Ran.. saya pergi.."


lagi lagi ia tak sanggup menahan air mata nya.


"i love u...." bisik nya lalu berbalik badan dan pergi.


Air mata yang sedari tadi sudah di tahan nya pun pecah juga. kali ini tak memandang ada keluarga nya atau tidak, ia menangis sesenggukan di pelukan Fani. entah ini cinta atau bukan, yang jelas ia tak ingin Vino pergi meninggalkannya.


"dek... kita pulang yuk.." ucap Fani mengelus lembut kepala Nurul.


Mereka semua pun bersiap untuk pulang, namun baru beberapa detik melangkah, Fani merasakan mulas yang amat dahsyat.


"ssss...!!! aduhh tolong Mas.. Mas..


perut Fani sakit..." ia hampir terduduk lemas, beruntung Dimas sigap mengangkat tubuh Fani.


"pak.. cepat siapkan mobil nya ya.."


ucap Dimas.


"baik pak.." Pak supir segera berlari keluar bandara.


"tarik nafas nya sayang.... " ucap Duma menuntun Fani agar tetap rileks.


"sssff...!!!di tarik doang tante?" sahut Fani meringis kesakitan.


"di buang juga nak.. tarik.. buang..."


imbuh Rianti dari sisi kanan Dimas sambil mengipas ngipasi Fani dengan tangan nya.


"aaaaahhgg!!!!!" Fani menggigit lengan Dimas sekuat kuat nya karena tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu.


"sabar ya sayang.. sabar..


dimdim.. dengerin papa nak..


jangan keluar dulu ya, belum sampai rumah sakit nih" oceh Dimas sambil berlari lari kecil dengan nafas ngos-ngosan karena menggendong Fani.


...~~~~...


Sesampai nya di rumah sakit...


Rianti dan Duma langsung berlari untuk memberi kode kepada perawat bahwa ada pasien darurat.


sigap para perawat itu langsung mengeluarkan brankar lalu berlari menghampiri mereka.


Sesampai nya di ruang persalinan, Dimas di buat kalut karena yang akan menangani nya dokter Bian. nggak mau dong dia ibu kota istri nya di lihat oleh laki laki lain.


"panggilkan dokter wanita cepat..!"


gretak bapak bapak posesif itu.


"baik pak.." ucap kedua suster yang merinding karena di bentak Dimas.


Beberapa menit kemudian Dokter wanita yang biasa menangani persalinan pun tiba, di dampingi


Bian yang memberi arahan dari atas kepala Fani.


Bu dokter itu memandu Fani untuk mengejan dari bawah.


Lahir normal tampak nya suatu kemungkinan besar, pasal nya Dimas sangat mematuhi anjuran dokter untuk rajin berhubungan di akhir trimester agar mempermudah proses lahiran.


saking rajin nya bahkan sampai sehari 3 kali, bisa di bilang doyan sih.


"iya.. terus Bu.. tarik nafas nya.. buang..


tarik.. buang.. iyaa..." ujar Bu dokter menuntun.


"HHHHHHFFFF!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"


Fani menjambak rambut Dimas sekuat tenaga nya.


"HHHHHAAAHHH......!!"


ikut teriak lah Dimas karena kulit kepala nya terasa hampir lepas.


"HHHHHFF... HHHUUUAAAAA!!!"


satu kali lagi teriakan dari Fani dan...


"owwweee......." tangisan bayi mungil pertama mereka terdengar sangat lantang hingga membuat orang yang menunggu di luar ruangan juga dengar.


"aahhh.. anak ku.." ucap Dimas dengan mata berbinar binar. ia bangkit hendak menghampiri anak nya. namun Fani menarik nya lagi sekuat tenaga, seperti nya dia lupa kalau masih ada satu bayi lagi di dalam perut istri nya.


"HHHHUUUUFFF!!! AAAAA....."


tenaga Fani sudah hampir hilang, dan bayi kedua mereka pun lahir dengan tangisan tak kalah lantang nya.


"mwaaahh.. mwaahh...


terimakasih sayang.. terimakasih.." Dimas mengecup kening Fani berkali kali sambil meneteskan air mata.


"terimakasih sayang..."


...~~~~...


Setelah selesai persalinan, kini Fani sudah di pindahkan ke ruang rawat bersama dimdim yang tengah di susui untuk mendapatkan Asi pertama mereka.


Rianti, dan Duma terus saja memandangi cucu mereka sambil memainkan kaki kaki mungil dimdim. Nurul juga tak kalah antusias nya, ia tak henti henti nya mengambil gambar si kembar dari mulai arah kiri hingga kanan. sementara Dimas sedari tadi hanya termenung sambil mengusap usap lembut pipi Fani dan tak henti henti nya mengucapkan terimakasih.


"permisi... sekali lagi selamat ya untuk kelahiran


anak pertama kalian.. ini obat dan Vitamin untuk Bu Fani." ucap Bian tersenyum ramah.


"terimakasih dokter.." sahut mereka hampir berbarengan.


Bian membalasnya dengan senyuman manis yang ia tujukan kepada Nurul, lalu Nurul pun membalasnya.


"selamat..." ucap Bian tanpa suara.


Nurul mengangguk pelan lalu mengucapkan terimakasih juga tanpa suara.


Akhir nya kebahagian Dimas dan Fani lengkap sudah dengan lahir nya buah hati mereka, walaupun banyak rintangan yang harus mereka lalui, mereka dapat melewati nya dengan keyakinan takdir baik yang sudah di tentukan tuhan.


...ENDING...........



Adisha Khayla Bramasta/ perempuan (kanan)


Adifa Keenan Bramasta/ laki laki (kiri)


Terimakasih atas suport para bebeb readers semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


terimakasih nemenin otor sampai END.


love u bebeb bebeb kuhh๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Bagi yang masih menantikan Nurul,Bian dan Vino.


komen sebanyak2 nya biar otor punya dorongan untuk buat sesaon 2 nyaโ˜บ๏ธ


dari awal memang udah terencana sama otor kalau cerita cuma sampe sini. tapi kalau banyak peminat ntar otor lanjutin lagi halu nya๐Ÿ˜


Love u๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜