Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 82: Tak di sangka..


Jam makan siang kantor sudah berakhir,para karyawan sudah mulai memasuki ruangan masing masing di iringi dengan obrolan ringan.


"hei kau tau? dapartemen pemasaran kabar nya sedang heboh karena pak Riko menyebarkan undangan pernikahan"


"aahh.. jadi itu benar? siapa calon istri nya?"


"yang pasti harus orang yang tahan banting dengan sifat beku nya itu hahahha..."


"tapi kita belum terima undangan nya.. apa orang tertentu saja?"


"ntah lah.. mungkin Pak Riko tak ingin geng gosip seperti kita menyampah di pernikahan nya hahahahhaha"


antek antek nya Mila itu bergantian menceritakan Riko.


Saat mereka sampai di ruangan kerja,Mila sudah berdiri di sana dengan wajah jengah nya.


para karyawan langsung berpikir apa mereka melakukan kesalahan? tidak.


terlambat masuk? tidak juga.


Untuk mencairkan suasana,salah satu karyawan membuka obrolan mengenai pernikahan Riko biasa nya Mila suka nih yang anget anget begini.


"Bu.. ibu tau Pak Riko akan menikah,dia sudah menyebarkan undangan di kantor"


ujar nya sangat semangat karena menyuguhkan hidangan spesial untuk sang ratu gosip.


"mm.. saya sudah tau duluan.."


sahut Mila datar.


"wah?? nggak seru Bu Mila ih nggak bagi bagi bahan"


"ini untuk kalian..." Mila membagikan satu persatu undangan pernikahannya.


"apa.. ini?" karyawan di sana tampak kebingungan. mereka tak berfokus pada nama kedua mempelai yang tertera di atas nya.


"pernikahan saya.."


Mila tersenyum kecut ke arah mereka.


"WAAHHHH daebakkk!!! dua ikon jomblo abadi di kantor kita sama sama akan menikah.. waahhh"


"ihiwww... makan enak kita.."


"yoi.. dua kali lagi.."


ujar mereka masih tak sadarkan diri.


Tak lama kemudian masuklah beberapa orang lain nya dengan membawa undangan juga.


"gaes... berita hangat nih, pak Riko mau nikah.."


"di sini juga nggak kalah anget bray.. Bu Mila juga mau.... eh kalian udah tau toh?"


perkataan nya terputus saat melihat undangan yang di bawa si A sama dengan undangan nya Mila .


"apa ?? Bu Mila kenapa??" mereka yang baru datang penasaran.


"loh kalian juga sudah dapat undangan dari pak Riko?" sambung salah satu dari mereka.


"Belum ini undangan Bu Mila..


kalian udah dapet dari Bu Mila??"


ujar si B.


"tunggu kok undangan nya.."


si A mulai merasa kan kejanggalan. setelah beberapa detik mereka saling bertatapan,mereka pun segera membuka undangan nya masing masing.


"HAAAHHHHHH!!?????????"


mereka hampir terkena serangan jantung massal saking terkejut nya saat melihat foto Mila dan Riko yang terpanjang di undangan tersebut.


"sshhh.." Mila menutup telinga nya karena ruangan berubah menjadi heboh.


"Bu jelasin.. kok bisa?!!"


"kalian berdua?? Mila dan Riko nikah?!!"


"kapan kalian berdamai?"


"backstreet yang sangat mulus"


"konspirasi apa ini?"


"perubahan elit global kah?"


"Aaaaggrrrrrhhhh... aku sampai merinding,ini pasti prank ni"


"kalian berdua ini saling senyum aja nggak pernah..??"


"cinta macam apa ini??"


"wahhh... tahun ini tahun paling mengejutkan"


"aihhhh... berhentilah bertanya, memang nya kenapa kalau kami menikah? saya perempuan dan dia lelaki jadi di mana aneh nya?"


sahut Mila sambil tersenyum penuh kepalsuan. padahal asli nya malu setengah mampus.


Booommmmmm💥💥💥


Seantero gedung kantor pun heboh, setelah heboh nya pernikahan Dimas yang sudah mereka percayai sebagai homo.


kini kegemparan tak kalah heboh nya menyusul dengan menikah nya dua kepala suku yang selalu bertolak belakang antar RAS dan golongan.


padahal meledak nya skandal Zey masih menjadi topik panas di kantor.


kini mereka harus menyiapkan kesadaran diri untuk percaya bahwa musuh berujung cinta bukan hanya mitos belaka.


...~~~~...


Fani sedang terbaring di atas kasur sembari mencari tau semua postingan Zey sampai ke akar di laman sosmed nya.


sudah lebih dari satu jam ia terus menscroll beranda milik Zey, namun bukan nya kesal ia malah kasihan kepada Zey karena semua orang menghujat nya habis habisan.


"kenapa mereka sangat keterlaluan.."


gumam nya.


"sayang..." panggil Dimas membuat nya terkejut,ia pun langsung menghapus riwayat pencarian.


"kamu udah makan??" tanya Dimas lagi sambil duduk di sebelah Fani.


"udah" Fani masih saja ketus pada Dimas.


"Mas udah batalin kontrak nya Zey, jadi kamu nggak perlu khawatir Mas deket sama dia lagi"


"hm.. bagus kalau gitu" sahut Fani.


padahal dalam hati masih khawatir.


Dimas: "gimana sekarang udah percaya sama Mas kan?"


Fani: "sedikit.."


Dimas: "banyakin dong.."


Fani: "apa nya??"


"sambel nya trus saus kecap nya pisah..


percaya nya dong sayang..." Dimas mencolek lembut hidung Fani sambil tersenyum manis.


"oh iya siap siap yuk.. mama ngajakin makan bersama di rumah sekalian menyambut tante Duma"


"mama nya Vino??"


"iya.. yuk mandi dulu.."


"Mas duluan aja.."


"mungkin Fani masih kesal pada ku .."


batin Dimas, tak ingin memperburuk mood Fani ia pun segera bergegas ke kamar mandi.


"sayang apa ini??"


ia terkejut kala memegang gagang pintu kamar mandi eh malah pintu nya lepas.


"pintu.." jawab nya santai.


"kok..bisa?? jadi lepas gini??"


"itu.. tadi susah buka nya jadi Fani tendang. eh malah lepas,lagian Mas ngapain sih bikin pintu kamar mandi aja rumit banget"


glekk..


Dimas menelan liur nya, kemarin lemari sekarang kamar mandi, Dimas tak bisa membayangkan jika diri nya benar benar selingkuh mungkin rumah ini di roboh kan oleh Fani,belum lagi jurus tendangan nya. ntah karena ini bawaan si dimdim,atau memang bakat terpendam yang Fani miliki.


"Mas... kok ngelamun?"


"ng..besok Mas ganti pakai gorden aja deh pintu nya" sahut Dimas gugup. ia pun melanjutkan langkah nya ke kamar mandi dengan tubuh merinding.


...~~~~...


Di rumah Rianti,semua orang sudah berkumpul dan tengah menyiapkan alat dan bahan untuk memanggang. mereka akan mengadakan barbequan di taman agar ala ala camping di alam bebas.


Vino dan papa nya menyiapkan peralatan makan, adit dan Dika menyiapkan alat pemanggang,Duma dan Rianti menyiapkan bahan makanan nya di bantu oleh si bungsu Ayu.


Sementara Nurul sedang menyiapkan alat makan seperti piring,gelas dan lain nya di dapur.


sebenar nya ia sudah di larang oleh Rianti untuk melakukan aktivitas nya,tapi Nurul bosan jika hanya diam di kamar jadi ia memilih menyiapkan alat makan saja yang kebetulan memisahkan diri khusus nya dari Vino.


"tujuh... delapan..ah masih kurang, lebihin aja deh siapa tau butuh nanti nya.." ia menghitung jumlah piring yang akan di bawa.


"perlu saya bantu?" ujar Vino yang tiba tiba nongol ntah dari mana.


prraaangg....


Nurul sampai menjatuhkan beberapa garpu karena terkejut.


Vino berjongkok dan mengambil sendok itu,sementara Nurul yang tadi nya tenang dan santuy malah jadi grogi.


"Nur duluan ya Pak.. tolong bawa sisa nya"


ia segera pergi dengan membawa piring yang sudah ia siapkan tadi.


"sshh.. dia semakin menggemaskan"


ucap Vino sambil tersenyum tipis.


"apa aku pura pura sakit aja ya,biar Pak nggak jumpa sama pak Vino. tapi pengen makan bareng apalagi nanti ada kak Fani.. tapi muka nya pak Vino nggak bisa di ajak damai kaya mengintimidasi aku terus.."


setelah berpikir,Nurul pun berbalik badan bermiat kembali saja ke kamar nya.


tapi saat berbalik tiba tiba Vino sudah ada di belakang nya.


"mau kemana??" tanya Vino.


"ke depan Pak.."


"kok malah puter balik?"


...*************...