Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
epiaode 126: Sulit di mengerti.


"Mas.. bukan ngebela ayah kamu sayang..


Mas kan cuma bilang bagaimana pun juga dia ayah kandung kamu. urusan dosa biar jadi urusan tuhan, yang penting kewajiban kita sebagai anak itu tetap berbakti kepada orang tua bagaimana pun keadaan nya. kalau kamu belum siap ketemu sama ayah kamu ya nggak apa apa, tapi jangan di tangisi terus. pikirkan juga kesehatan kamu, kesehatan anak kita."


tutur Dimas panjang lebar.


Fani semakin terisak karena ia merasa Dimas tak mengerti perasaan nya.


"iya Mas bisa bilang begitu, Mas nggak ngerasain gimana susah nya kami karena ulah dia!


seandai nya Mas di posisi Fani, apa Mas masih bisa ngomongin soal bakti kepada orang tua. soal kewajiban sebagai anak!"


"Mas tau sayang.. Mas tau..


Mas ini cuma bingung, takut.


kamu nangis terus seharian sementara Mas nggak bisa cari solusi, Mas takut kesehatan kamu terganggu lagi.."


Dimas berlutut dan mengusap air mata Fani yang mengalir tak henti henti.


"coba sekarang kasih tau, Mas harus gimana?"


"Fani kangen sama ayah Mas... tapi Fani benci!


Fani jadi inget semua penderitaan ibuk hiks..hiks.. hikss"


"lihat Mas sini.. lihat mata Mas..


kalau kamu benar benar benci sama ayah..


benci dia dengan sungguh sungguh, jangan menangisi nya. jangan katakan kamu rindu pada nya. tapi kalau kamu benar benar masih menganggap dia sebagai ayah mu, maka cintai dia selayak."


Fani tak menjawab nya, namun ia mencerna apa yang di katakan Dimas. sampai kapan dia akan merasa begini terus? sampai kapan dia membiarkan rasa cinta dan benci itu terus berperang? yang paling menyakitkan bahkan ayah nya tak mengenali nya barang sedikitpun.


begitu tak berartikah diri nya bagi sang ayah?


hingga tak ada kenangan barang secuilpun yang di ingat oleh sang syah.


...-...


...-...


Di luar kamar, Nurul hanya samar mendengar mereka berkali kali menyebut nama Ayah.


"ayah siapa yang di ribut kan kak Fani dan Mas Dimas? apa ayah pak Dimas? eh manggilnya kan papa. ayah kak Fani.. ayah ku juga? tapi kan kami nggak punya ayah.." gumam nya sambil garuk kepala, merasa masalah tak terlalu serius, Nurul pun tak ambil pusing lalu melanjutkan langkah nya menuju kamar.


kkrrtttt.... (suara pintu)


Nurul membuka pintu kamar nya lalu menghidupkan lampu.


"astaga!!! dari mana bapak masuk?"


Nurul merinding seketika karena mengira Vino makhluk halus yang bisa tembus ruangan.


Sedangkan Vino malah asik mengutak ngutik laptop Nurul dengan kaki di angkat ke atas kursi.


"gampang.. tinggal tekan enter"


"kalau gitu sekarang tekan close dan keluar!"


cetus Nurul kesal.


"no.. saya mau tidur di sini.."


"bapak gila?! nggak boleh lelaki dan perempuan berduaan di kamar begini. keluar cepet atau Nur panggil mama ni!"


"hahahaha... bercanda, saya cuma mau ngobrol sama kamu, kangen tau seharian nggak lihat kamu" Vino melemparkan senyum genitnya pada Nurul.


"masuk lah.. kamu mau sampai kapan berdiri di depan pintu gitu?" imbuh Vino lagi.


"bbbrrrh!! pak.. jangan aneh aneh deh, nanti kalau orang rumah lihat, kita di sangka nyeleweng gimana?"


"biasa aja Ran, kan kita ini saudara.. di keluarga kita biasa kok sepupu atau saudara jauh lain nya ngobrol ngobrol di kamar yaa kaya kita gini"


"tapi kan kita bukan saudara!"


"benarkah? aahh jadi kalau nggak saudara boleh lah kita lebih dekat lagi.." Vino sengaja menggoda Nurul dan mengedipkan sebelah mata nya.


lalu ia berjalan mendekati Nurul perlahan dan menutup pintu kamar nya.


"AC nya nggak terasa kalau pintu nya terbuka.."


bisik nya.


"bapak mau yang terasa?"


"boleh.." sahut Vino lembut.


Nurul menekan pintu dengan punggung nya hingga membuat tangan Vino terjepit.


"AAAAAGGGGG!!!!!!!!!!!"


pekik Vino, wajah nya merah padam karena menahan ngilu di ujung jari jari nya.


"gimana? terasa kan?"


senyum palsu bak ibu tiri di layangkan pada Vino.


"iyaa terasa.. enak kok.. lagian saya suka di jepit jepit begini.." elak Vino menahan air mata nya, malu banget lah ya. penampilan udah gagah perkasa masa di jepit pintu mau nangis.


"keluar sekarang.. atau gigi bapak gantian Nur jepit ke pintu!"


"uupss.. santai santai... serius saya cuma mau ngobrol sama kamu, jangan galak galak dong..


yaa ..."


"hhhfff!!


ia menyuruh Vino duduk di sofa kecil dekat jendela kaca, sementara diri nya akan mengerjakan sisa kerajinan yang akan di kumpul besok.


"oke setuju..." sigap Vino langsung berlari ke tempat yang di tunjuk Nurul.


Sedangkan Nurul mulai melepaskan sweeter nya, lalu mengeluarkan perlengkapan yang hendak ia garap sekarang. tak lupa ia mengikat cepol rambut nya keatas hingga membuat tengkuk nya terlihat jelas.


10 menit berlalu, Nurul masih asik menggunting kertas berwarna lalu menempel kan nya ke sebuah papan kecil. tugas nya adalah membuat peta negara asia di sebuah bingkai lalu mewarnai nya sesuai warna bendera negara tersebut.


Sementara Nurul berkarya dengan peta nya, Vino malah berkarya dengan imajenasi nya sambil menggigit bibir bawah nya.


"ssshhh.. aku tak tahan lagi.."


Vino bangkit dari kursi nya lalu menghampiri Nurul. lalu ia mengangkat wajah Nurul hingga membuat Nurul syok.


"e.. ngapain.. Pak?" tanya Nurul gugup.


"fffuhhh..." Vino mendengus kesal, ia mengambil


gunting lalu memutus karet yang mengikat rambut Nurul.


"jangan mengikat rambut lagi di depan ku..


paham.." ucap nya lalu pergi dari sana.


"hah!! sekarang Pak Vino ngatur ngatur gaya rambut ku? orang tua keriput itu minta di gunting bibir nya" rutuk Nurul kesal.


...~~~~...


Setelah menjemput Viona di bandara, Bian dan mama nya mengadakan makan malam di sebuah restaurant dekat sana.


"maaf ya tante.. Bian..


gara gara aku kalian jadi menunggu lama.."


ujar Viona di lanjut senyum mama nya.


"iya santai aja.. aku bebas kok hari ini.."


sahut Bian.


"jadi kapan tanggal lamaran nya di tentukan?"


tanya mama nya Viona.


"terserah anak anak aja mbak, soal nya mereka sama sama sibuk" ucap mama nya Bian sambil tertawa kecil.


Sementara orang tua mereka ngobrol, Viona menagih coklat belgium yang di janjikan Bian tempo hari. "mana coklat ku?"


"kamu ini.. pantang di janjikan, sebentar ya.."


Bian meraih tas ransel nya, ia merasa tas itu sedikit berbeda, tapi apa?


Bian membuka nya dan benar saja, itu adalah tas Zey saat mereka tabrakan di bandara.


"loh.. kok? isi nya.. pasport?"


ia tampak bingung.


"kenapa Bi?" tanya Viona.


"kaya nya tas ku ketuker deh.."


"hah? kok bisa? bukan alasan kamu kan?"


Viona memandang curiga ke arah Bian.


Bian membuka pasport itu dan langsung mengenali siapa pemiliknya.


"perempuan mabuk itu?" gumam nya.


...~~~~...


Pagi hari.....


Di depan gerbang sekolah, Nurul sedang adu debat dengan Vino karena tak memperbolehkan nya mengikat rambut terlalu tinggi.


"iya iya.. udah buruan pergi sana.."


"nah gitu dong..


saya pergi yaa.." pamit nya sambil melambaikan tangan.


"hmm.." balas Nurul sambil tersenyum jengah.


...-...


...-...


Sesudah mengantar Nurul sekolah, Vino menuju kantor nya dengan kecepatan lumayan tinggi karena hampir terlambat.


karena tidak fokus, Vino tak melihat kalau di depan nya ada perempatan dengan lampu merah.


SSSRRRRAAKKKKK!!!!!!!!!!!!!


Vino menekan rem sekuat kuat nya hingga mobil nya berputar dua kali, namun terlambat.


dalam hitungan detik mobil Vino menabrak bagian belakang truk besar hingga hancur remuk tak berbentuk.


"aarghh!!" rintih nya dengan wajah bersimbah darah.


...*******...


Jangan lupa suport nyaa beb๐Ÿ˜