
Baru beberapa detik lepas landas
Ayu sudah mengeluarkan seluruh isi
perut nya ke dalam kantong asoy
yang ia bawa sendiri.
hhuuuueeeekkkkkkš¤®
"aaahhhsss....maaa...."
rintih nya tak kuasa lagi.
Rianti langsung menghampiri
Ayu sambil membawa minyak angin.
"haduh.. gimana ini?
padahal tadi sudah suntik loh
kok masih mabuk."
Demi kenyamanan yang lainnya,
Rianti pun membawa Ayu ke kamar
yang ada di bagian belakang pesawat.
"tahan ya sayang... bentar lagi
sampai kok.."
"bentar lagi?? bahkan pesawat ini
belum ada lima menit terbang nya."
batin Ayu lemas.
Beruntung Duma membawa perlengkapan
medis untuk membantu meringankan
gejala mabuk nya Ayu.
"mbak, tolong air jahe hangat ya.."
pinta nya kepada salah satu pramugari.
"baik Bu.."
Sementara di depan Nurul tampak
sangat mengkhawatirkan Ayu.
dulu dia juga gampang mabuk,
tapi karena terbiasa sekarang Nurul
jadi kebal di perjalanan.
tapi entah kenapa Ayu tidak begitu
meskipun ia sering bepergian.
"Ayah, mau duduk sama mama Fani.."
pinta El. ia ingin bergabung dengan
saudara nya yang lain.
"sini El... kita main dokter dokteran.."
Ica melambaikan tangan nya.
ia sedang menempelkan stetoskop
mainan kepada Samuel yang duduk
di pangkuan Mila.
Karena pesawat sudah mulai terbang
stabil, Vino pun membantu melepaskan
sabuk pengaman El lalu memindahkannya
ke kursi Fani dan Mila.
"nah.. sekarang giliran saya yang tidur.."
Vino hendak merebahkan kepala nya
di pangkuan Nurul.
ctakk!!
cepat Nurul menjetikkan jari nya
ke kening Vino.
"awwh... kenapa Ran?"
"malu!" bisik Nurul menggeratkan gigi nya.
"ayo lah.. saya ngantuk nih..
ntar kalau giliran saya menggantikan
Rey jadi ngantuk gimana?"
"ya tidur di sana kan bisa Pak..
tuh lebar tuh di sana.."
Nurul menunjuk ke arah sofa santai
di sebelah kanan pesawat.
"wahh... ide bagus, yuk..."
ia menarik tangan Nurul.
"Bapak aja.. Nur nggak ngantuk.."
"kalau begitu saya tidur di sini..
jangan menolak.."
ia merebahkan kepala nya di bahu Nurul
sambil tersenyum smirk.
"Pak.. ihh berat loh..."
Vino melirik tajam ke arah Nurul.
"Pak.. Bapak.. Bapak..
kapan saya kawin sama ibu kamu?
saya ini CALON SUAMI kamu Ran..."
"hhhhffff......."
Nurul menghela nafas.
"sayang... berat loh, pindah ya.."
ucap nya dengan mimik muka kesal.
"uuuhhh...
panggilan sayang kamu
ngajak ke kasur bawaan nya.."
"tuh.. kan.. jadi gimana?
dasar aki aki."
"dasar nini nini.."
ledek Vino juga sambil mengecup
bahu Nurul.
"kaki nya jangan gitu dong...
agak rapetin, sempit nih.
udah tau badan nya kaya titan."
gerutu Nurul lagi.
"ya ampun apa sih sayang...
kalau kaki saya di giniin.."
Vino mempraktikkan nya.
"nggak bisa.. anu saya masih ngilu
gara gara kamu kemarin.."
lanjut nya lagi sambil memegangi
benjolan si alex yang masih nyut nyutan.
"ya maka nya sana pindah ke tempat
yang agak lebar.."
"ya tidak mau..."
"ihh! udah deh, Nur aja yang pindah.."
"ikut..."
ucap Vino manja.
"Pak!!"
"iya sayang...."
Vino tersenyum manis membuat
Nurul tambah kesal.
"pindah nggak!!"
"enggak...š"
Nurul mengambil bantal nya hendak
pindah dari sana.
Saat nya mengeluarkan ajian semar mesem
yang bisa bikin Nurul tak berkutik.
Vino menahan pinggang Nurul agar
tidak beranjak dari sana.
"Ran..saya rindu sama kamu.."
ujar nya lembut dengan tatapan maut.
"di sini aja.. ya..."
tambah nya lagi sambil tersenyum
manis.
"jangan nempel nempel tapi!"
tukas Nurul.
Bukan nya mendengarkan Nurul,
Vino malah semakin usil, ia meletakkan
kepala nya di paha Nurul.
"kenapa memang nya kalau saya
nempel nempel. kamu kan punya saya."
"mukul kepala orang yang lebih tua dosa
nggak sih.." gumam nya kesal.
"wah.. bibir mu tampak sangat seksi
dari bawah sini."
"ngelempar orang dari atas sini seru
kaya nya ya.." gumam Nurul lagi sengaja
lebih keras.
"ahh.. tidak sabar rasa nya ingin
lembur sampai pagi.."
Mata Nurul seketika terbelalak,
ia langsung paham apa yang di maksut
"siap siap ya bunda..."
goda Vino sambil bermain mata.
...-...
...-...
Sudah hampir enam jam mereka mengudara.
karena Rey mengantuk, ia pun meminta Vino
mendampingi Kapten di depan.
"wah.. aku tak menyangka kau sangat
lihai mengudarakan burung ini."
puji Dimas mengacungkan dua ibu jari nya.
Rey tersenyum masam.
"burung besi lebih tepat nya,
jangan mengurangi kalimat karena
beda kata, beda arti."
"lihat? dia sama seperti mu.
selalu mengkritik ku."
ujar Dimas kepada Riko.
"Aku istirahat dulu ya.."
Rey mengambil selimut nya lalu
pindah ke kursi belakang untuk
berbaring.
"Astaga!!!!"
hampir saja jantung Rey meletup
karena melihat Ayu seperti sosok
astral.
Rambut, berantakan, wajah pucat
serta mata nya yang merah.
membuat siapa saja yang melihatnya
akan mengira dia makhluk goib.
"hei? ada apa dengan mu?"
Rey duduk tak jauh dari tempat
Ayu berbaring.
Saking mabuk nya, untuk menjawab
pertanyaan Rey pun ia tak bisa.
di sisi depan, Duma dan Rianti tertidur
pulas setelah berjam jam mengurus
Ayu.
"mereka sedang makan malam,
kamu tidak ikut?"
Ayu hanya mendelik ke arah Rey.
udah kepala mumet mumet, pake
di tanya tanya lagi.
"chh.. setidak nya rapikan rambut mu."
"Pak.. bisa diam nggak?"
Rey tak mengerti kenapa Ayu
terlihat sangat kesal.
lalu mata nya tertuju pada wadah
berwarna hitam yang berisikan
pasir organik.
"kamu mabuk??"
Ayu mengangguk perlahan.
Perut Rey seketika geli membayangkan
itu.
"hhahhahahaha....ahahahahaha..."
"apa yang lucu sih?"
"hahhaahhahaha....
kamu yang lucu, masa orang kaya
bisa mabuk."
"iya, soal nya organ dalam saya
organ melarat.š jadi tolong diam.
jangan bikin tambah sakit kepala."
"ck..ck.. kalau mabuk tuh jangan
di bawa tiduran terus.
malah tambah terasa jadi nya"
"ya terus saya ngapain?
kayang??"
"duduk lah.. duduk.."
Rey menarik selimut Ayu dan
memaksa nya untuk duduk.
"Pak kepala saya pusing loh.."
"iya tau.. duduk kesini.."
Rey membuka kerai jendela pesawat
agar Ayu dapat melihat pemandangan
langit malam.
Ayu bergeser pelan dengan rambut
seperti mak lampir yang baru keluar
dari goa.
"tuh, lihat pemandangan aja biar rileks.."
"pemandangan apaan? gelap gini."
"ck.. lihat ke bawah..."
Rey menunjukkan pemandangan benua Asia
yang tampak berkilauan dari atas awan.
"waahh... cantik banget .."
Ayu langsung sumringah tanpa
menghiraukan mulut nya yang
bau muntah.
"hmm.. cantik..
seperti bintang kan?"
ia melirik ke arah Ayu yang hanya berjarak
satu meter dari nya.
...~~~~...
Riko dan Dimas sedang membahas
pekerjaan mereka di temani cindil cindil
yang asik bermain menjadi pasien nya
Ica.
"saya suntik dulu ya.."
ucap Ica pada Samuel.
"ihh.. nggak, nggak mau nanti hamil."
ucap Sam enteng.
Keenan dan El pun bingung.
"kok bisa hamil?"
tanya Keenan tak mengerti.
"iya, kemarin Papa ngajak Mama
suntik biar punya dede bayi kata nya."
sahut Samuel sambil mengekpresikan
wajah dingin Riko.
"pppffffttt....
hei.. kalian tidak tidur hah?"
tanya Dimas membubarkan obrolan
absurd mereka.
"wah.. aku tidak menyangka kau
segencar itu." ledek Dimas pada Riko.
Tak mau kalah, Keenan pun menimpali
jawaban Samuel.
"kalau kata Papa kami mereka harus rajin
bercocok tanam agar punya dede bayi."
Kali ini gantian Dimas yang di sudut kan
oleh Riko.
"gas terus.. selagi masih bisa berdiri."
"memang nya adik bayi tumbuh dari tanaman?"
tanya El penasaran.
"iya.. bukti nya Papa bilang begitu."
ujar Keenan yakin.
"bukan nya hadiah minuman?
soal nya Ayah bilang El dapat dari
hasil minum minum."
"mungkin beda Papa beda cara dapat
dede bayi nya.." celetuk Ica tak mau kalah.
"waduh.. waduh.. gawat ini.
maa.. anak kita ma, bawa tidur gih.."
panggil Dimas kepada Fani yang sedang menggibah di kursi lain nya.
Perkumpulan bocil yang penasaran
soal dede bayi pun akhirnya di bubarkan
oleh Fani dan Mila.
...*********...