Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 epidpd 44: Di dalam Pesawat


Baru beberapa detik lepas landas


Ayu sudah mengeluarkan seluruh isi


perut nya ke dalam kantong asoy


yang ia bawa sendiri.


hhuuuueeeekkkkkk🤮


"aaahhhsss....maaa...."


rintih nya tak kuasa lagi.


Rianti langsung menghampiri


Ayu sambil membawa minyak angin.


"haduh.. gimana ini?


padahal tadi sudah suntik loh


kok masih mabuk."


Demi kenyamanan yang lainnya,


Rianti pun membawa Ayu ke kamar


yang ada di bagian belakang pesawat.


"tahan ya sayang... bentar lagi


sampai kok.."


"bentar lagi?? bahkan pesawat ini


belum ada lima menit terbang nya."


batin Ayu lemas.


Beruntung Duma membawa perlengkapan


medis untuk membantu meringankan


gejala mabuk nya Ayu.


"mbak, tolong air jahe hangat ya.."


pinta nya kepada salah satu pramugari.


"baik Bu.."


Sementara di depan Nurul tampak


sangat mengkhawatirkan Ayu.


dulu dia juga gampang mabuk,


tapi karena terbiasa sekarang Nurul


jadi kebal di perjalanan.


tapi entah kenapa Ayu tidak begitu


meskipun ia sering bepergian.


"Ayah, mau duduk sama mama Fani.."


pinta El. ia ingin bergabung dengan


saudara nya yang lain.


"sini El... kita main dokter dokteran.."


Ica melambaikan tangan nya.


ia sedang menempelkan stetoskop


mainan kepada Samuel yang duduk


di pangkuan Mila.


Karena pesawat sudah mulai terbang


stabil, Vino pun membantu melepaskan


sabuk pengaman El lalu memindahkannya


ke kursi Fani dan Mila.


"nah.. sekarang giliran saya yang tidur.."


Vino hendak merebahkan kepala nya


di pangkuan Nurul.


ctakk!!


cepat Nurul menjetikkan jari nya


ke kening Vino.


"awwh... kenapa Ran?"


"malu!" bisik Nurul menggeratkan gigi nya.


"ayo lah.. saya ngantuk nih..


ntar kalau giliran saya menggantikan


Rey jadi ngantuk gimana?"


"ya tidur di sana kan bisa Pak..


tuh lebar tuh di sana.."


Nurul menunjuk ke arah sofa santai


di sebelah kanan pesawat.


"wahh... ide bagus, yuk..."


ia menarik tangan Nurul.


"Bapak aja.. Nur nggak ngantuk.."


"kalau begitu saya tidur di sini..


jangan menolak.."


ia merebahkan kepala nya di bahu Nurul


sambil tersenyum smirk.


"Pak.. ihh berat loh..."


Vino melirik tajam ke arah Nurul.


"Pak.. Bapak.. Bapak..


kapan saya kawin sama ibu kamu?


saya ini CALON SUAMI kamu Ran..."


"hhhhffff......."


Nurul menghela nafas.


"sayang... berat loh, pindah ya.."


ucap nya dengan mimik muka kesal.


"uuuhhh...


panggilan sayang kamu


ngajak ke kasur bawaan nya.."


"tuh.. kan.. jadi gimana?


dasar aki aki."


"dasar nini nini.."


ledek Vino juga sambil mengecup


bahu Nurul.


"kaki nya jangan gitu dong...


agak rapetin, sempit nih.


udah tau badan nya kaya titan."


gerutu Nurul lagi.


"ya ampun apa sih sayang...


kalau kaki saya di giniin.."


Vino mempraktikkan nya.


"nggak bisa.. anu saya masih ngilu


gara gara kamu kemarin.."


lanjut nya lagi sambil memegangi


benjolan si alex yang masih nyut nyutan.


"ya maka nya sana pindah ke tempat


yang agak lebar.."


"ya tidak mau..."


"ihh! udah deh, Nur aja yang pindah.."


"ikut..."


ucap Vino manja.


"Pak!!"


"iya sayang...."


Vino tersenyum manis membuat


Nurul tambah kesal.


"pindah nggak!!"


"enggak...😚"


Nurul mengambil bantal nya hendak


pindah dari sana.


Saat nya mengeluarkan ajian semar mesem


yang bisa bikin Nurul tak berkutik.


Vino menahan pinggang Nurul agar


tidak beranjak dari sana.


"Ran..saya rindu sama kamu.."


ujar nya lembut dengan tatapan maut.


"di sini aja.. ya..."


tambah nya lagi sambil tersenyum


manis.


"jangan nempel nempel tapi!"


tukas Nurul.


Bukan nya mendengarkan Nurul,


Vino malah semakin usil, ia meletakkan


kepala nya di paha Nurul.


"kenapa memang nya kalau saya


nempel nempel. kamu kan punya saya."


"mukul kepala orang yang lebih tua dosa


nggak sih.." gumam nya kesal.


"wah.. bibir mu tampak sangat seksi


dari bawah sini."


"ngelempar orang dari atas sini seru


kaya nya ya.." gumam Nurul lagi sengaja


lebih keras.


"ahh.. tidak sabar rasa nya ingin


lembur sampai pagi.."


Mata Nurul seketika terbelalak,


ia langsung paham apa yang di maksut


"siap siap ya bunda..."


goda Vino sambil bermain mata.


...-...


...-...


Sudah hampir enam jam mereka mengudara.


karena Rey mengantuk, ia pun meminta Vino


mendampingi Kapten di depan.


"wah.. aku tak menyangka kau sangat


lihai mengudarakan burung ini."


puji Dimas mengacungkan dua ibu jari nya.


Rey tersenyum masam.


"burung besi lebih tepat nya,


jangan mengurangi kalimat karena


beda kata, beda arti."


"lihat? dia sama seperti mu.


selalu mengkritik ku."


ujar Dimas kepada Riko.


"Aku istirahat dulu ya.."


Rey mengambil selimut nya lalu


pindah ke kursi belakang untuk


berbaring.


"Astaga!!!!"


hampir saja jantung Rey meletup


karena melihat Ayu seperti sosok


astral.


Rambut, berantakan, wajah pucat


serta mata nya yang merah.


membuat siapa saja yang melihatnya


akan mengira dia makhluk goib.


"hei? ada apa dengan mu?"


Rey duduk tak jauh dari tempat


Ayu berbaring.


Saking mabuk nya, untuk menjawab


pertanyaan Rey pun ia tak bisa.


di sisi depan, Duma dan Rianti tertidur


pulas setelah berjam jam mengurus


Ayu.


"mereka sedang makan malam,


kamu tidak ikut?"


Ayu hanya mendelik ke arah Rey.


udah kepala mumet mumet, pake


di tanya tanya lagi.


"chh.. setidak nya rapikan rambut mu."


"Pak.. bisa diam nggak?"


Rey tak mengerti kenapa Ayu


terlihat sangat kesal.


lalu mata nya tertuju pada wadah


berwarna hitam yang berisikan


pasir organik.


"kamu mabuk??"


Ayu mengangguk perlahan.


Perut Rey seketika geli membayangkan


itu.


"hhahhahahaha....ahahahahaha..."


"apa yang lucu sih?"


"hahhaahhahaha....


kamu yang lucu, masa orang kaya


bisa mabuk."


"iya, soal nya organ dalam saya


organ melarat.šŸ˜’ jadi tolong diam.


jangan bikin tambah sakit kepala."


"ck..ck.. kalau mabuk tuh jangan


di bawa tiduran terus.


malah tambah terasa jadi nya"


"ya terus saya ngapain?


kayang??"


"duduk lah.. duduk.."


Rey menarik selimut Ayu dan


memaksa nya untuk duduk.


"Pak kepala saya pusing loh.."


"iya tau.. duduk kesini.."


Rey membuka kerai jendela pesawat


agar Ayu dapat melihat pemandangan


langit malam.


Ayu bergeser pelan dengan rambut


seperti mak lampir yang baru keluar


dari goa.


"tuh, lihat pemandangan aja biar rileks.."


"pemandangan apaan? gelap gini."


"ck.. lihat ke bawah..."


Rey menunjukkan pemandangan benua Asia


yang tampak berkilauan dari atas awan.


"waahh... cantik banget .."


Ayu langsung sumringah tanpa


menghiraukan mulut nya yang


bau muntah.


"hmm.. cantik..


seperti bintang kan?"


ia melirik ke arah Ayu yang hanya berjarak


satu meter dari nya.


...~~~~...


Riko dan Dimas sedang membahas


pekerjaan mereka di temani cindil cindil


yang asik bermain menjadi pasien nya


Ica.


"saya suntik dulu ya.."


ucap Ica pada Samuel.


"ihh.. nggak, nggak mau nanti hamil."


ucap Sam enteng.


Keenan dan El pun bingung.


"kok bisa hamil?"


tanya Keenan tak mengerti.


"iya, kemarin Papa ngajak Mama


suntik biar punya dede bayi kata nya."


sahut Samuel sambil mengekpresikan


wajah dingin Riko.


"pppffffttt....


hei.. kalian tidak tidur hah?"


tanya Dimas membubarkan obrolan


absurd mereka.


"wah.. aku tidak menyangka kau


segencar itu." ledek Dimas pada Riko.


Tak mau kalah, Keenan pun menimpali


jawaban Samuel.


"kalau kata Papa kami mereka harus rajin


bercocok tanam agar punya dede bayi."


Kali ini gantian Dimas yang di sudut kan


oleh Riko.


"gas terus.. selagi masih bisa berdiri."


"memang nya adik bayi tumbuh dari tanaman?"


tanya El penasaran.


"iya.. bukti nya Papa bilang begitu."


ujar Keenan yakin.


"bukan nya hadiah minuman?


soal nya Ayah bilang El dapat dari


hasil minum minum."


"mungkin beda Papa beda cara dapat


dede bayi nya.." celetuk Ica tak mau kalah.


"waduh.. waduh.. gawat ini.


maa.. anak kita ma, bawa tidur gih.."


panggil Dimas kepada Fani yang sedang menggibah di kursi lain nya.


Perkumpulan bocil yang penasaran


soal dede bayi pun akhirnya di bubarkan


oleh Fani dan Mila.


...*********...