
"bisakah kau menyingkir agar aku bisa melepaskan ini" ujar Dimas sambil menahan tiang lampu itu,memang tidak berat. tapi beberapa kabel yang tersangkut membuat lampu itu tak bisa di geser.
"ohh.. iya.." Zey langsung beranjak dari kursi nya dengan wajah panas dan merah.
"pergi lah.. waktu makan siang mu sudah hampir habis" ucap Dimas.
tanpa banyak bicara Zey pun langsung pergi dari sana.
Tak lama,masuk seorang karyawan dengan nampan makan siang di tangan nya.
"loh.. pak Dimas tidak menemui Bu Fani?"
"hah? memang nya dia datang?" sahut Dimas heran.
"iya.. tadi saya lihat Bu Fani lagi di kantin dengan pak Vino"
Dengan wajah kecut,Dimas pun melenggang dari studio itu. walaupun Vino sepupu nya,tapi tetap saja rasa nya panas hati Dimas mendengar itu.
Langkah nya yang bergema di lantai dengan cepat menunjukkan suasana hati nya sedang tidak baik baik saja.
"kenapa dia malah menemui Vino? bukan nya menghampiri suami nya dulu" gerutu Dimas dengan wajah di tekuk.
ya.. kita sama sama tau kalau si Dimas ini cemburu nya setengah mati bila menyangkut Fani.
padahal sendiri nya barusan ..... ahh sudah lah.
...-...
...-...
...-...
Di salah satu meja kantin,Vino dan Fani tampak sedang mengobrol sembari memakan es krim yang di rekomendasikan Vino.
"Bisa tidak menyebut diri mu 'aku' saja.. dalam hirearki keluarga kau ini kakak ku. aku tidak nyaman mendengar mu menyebut diri sendiri dengan nama" pinta Vino,ya sedikit canggung rasa nya mendengar Fani menyebut nama nya.
"tapi anda 10 tahun lebih tua dari saya pak Vino.."
sahut Fani tak enak.
"tetap saja kau ini kakak ku.. kakak ipar lebih tepat nya.." Vino mulai meluncurkan simulasi buaya nya untuk menggaet Nurul lewat jalur orang dalem.
"hhhahhaha... kakak ipar? tidak mungkin.. adik kedua Fani laki laki jadi....... hh??? jangan bilang Nurul??" Fani membelalakkan bola mata nya.
Vino menaikkan kedua alis nya sambil tersenyum penuh makna.
"hishhh.. sudah kubilang jangan sebut nama mu.."
"hahahah...maaf, baiklah mulai sekarang akan ku ubah menjadi Aku." sahut Fani sambil terkekeh.
"Fani...!" suara Dimas yang sangat dalam itu mengejutkan Fani.
"Mas..?"
Dimas langsung duduk di sebelah Fani dengan tampang be-te.
"ngapain kamu di sini sama Vino?"
"nungguin Mas meeting.. udah selesai?"
Fani balik bertanya ke Dimas.
"meeting??"
"iya meeting di studio tadi.."
sahut Fani dengan wajah polos nya.
Seketika wajah be-te Dimas berubah menjadi bingung. lalu ia menatap Vino dengan penuh tanda tanya.
"aku menyelamatkan mu hari ini! jika tidak ntah bagaimana Fani akan menyikapi mu. dan kau malah menatap ku seperti itu??! aishh tak tau terimaksih!!!!"
batin Vino kesal.
"ayo ke ruangan Mas..."
Dimas berdiri dan menarik lengan Fani.
Namun Fani tak beranjak dari sana,mata nya malah menangkap sesuatu yang janggal di kancing kemeja Dimas.
"rambut siapa Mas?? panjang banget.."
Fani menarik helaian rambut bergelombang yang tersangkut itu.
"ahh.. itu..M,,Mas juga nggak tau.."
Dimas gelagapan. walaupun tidak terjadi apa apa antara diri nya dan Zey,tetap saja Fani akan salah paham jika di jelaskan bukan? jadi Dimas memilih untuk mengelak.
"aku sudah membantu mu... sisa nya kau selesaikan sendiri" batin Vino lagi sembari mengetuk ngetuk meja dengan jari nya.
Dimas yang berbuat malah diri nya yang takut apalagi kondisi Fani kini sedang mudah stress,kalau sampai jadi persoalan pasti nya akan sangat berdampak buruk untuk Fani dan janin nya.
"rambut perempuan? Mas nggak mungkin macem macem kan? tapi meeting nya gimana emang? kok bisa rambut orang nyangkut di baju Mas"
Fani berusaha menetralkan otak nya,ia tak ingin berburuk sangka seperti yang di lakukan Dimas pada nya waktu itu.
"Vino...!!" seru Zey dari kejauhan, Vino pun segera berdiri dan mengajak Zey pergi dari pandangan Fani.
"rambut nya...."
Fani terus mengamati helaian rambut yang di pegang nya dan rambut Zey yang terlihat sama.
dari panjang nya,gelombang nya, hingga warna nya yaitu abu abu di atas nya dan sedikit merah muda di bagian bawah nya.
"sayang..?"
...~~~~...
"satu...dua...ti..ga..."
lampu foto di sekeliling mereka berkedip terang membuat Mila terkejut.
sementara Riko tetap dengan wajah datar nya.
"astaga.. mata ku hampir buta.." gerutu Mila sambil mengerjapkan kelopak mata nya.
"ulang ya...untuk kakak nya jangan kaget say.. santai aja.." ucap si potografer setengah perempuan itu.
"gini dong.. di pegang ayank beb nya.. biar romance cin..." si potografer meletakkan lengan Mila di leher Riko.
"nahh.. iyaa trus saling tatap penuh cintahhh gitu biar uwuuwuu..." imbuh nya lagi.
"hhhhffff.....!!! udah ni buruan potret!!" ketus Mila. ia sangat risih dengan posisi ala prewedding itu.
"mendekat lah.. dan tutup mulut mu"
ujar Riko sambil menarik pinggang Mila hingga menempel ke diri nya.
"jangan ambil kesempatan kalau kau masih ingin hidup!!" bisik Mila menggerutu.
"maka biarkan aku hidup agar kau tidak jadi janda sebelum menikah.." balas Riko,ia semakin mengeratkan lingkar lengan nya di pinggang Mila.
semakin di larang ya semakin menjadi, itu lah Riko. kalau nggak begitu bukan Riko nama nya😎
"shhh!!!!"
Mila tak bisa berkata kata lagi. semua umpatan nya kepada Riko pasti selalu di balikkan.
📸📸📸📸📸
cekrak..cekrek...cekrak..cekrek.. prettt....
Berbagai gaya dan angle pun akhir nya rampung di potret.
kini mereka tengah memilih yang mana yang akan di jadikan Foto undangan.
"ternyata badan mu lebih besar dari ku anak kecil.." ucap Mila sambil melirik sinis pada Riko.
"berhenti menyebut ku anak kecil!! aku ini calon suami mu"
"tapi kau memang lebih muda dari ku kan? salah memang nya?"
seperti nya kali ini Mila mendapatkan kelemahan Riko.
"iya.. kau memang yang paling tua! lihat wajah itu wajah mu ada kerutan halus.. ck..ck.. harus nya kau bersyukur masih ada pria muda dan tampan yang mau menikah dengan mu.."
🗡️🗡️🗡️🗡️SAVAGE!! untuk soal ini memang Riko jago nya.
"ya.. aku sangat bersyukur menikah dengan anak kecil yang memiliki barang kecil dan tak bernyawa"
SAVAGE II 🗡️🗡️🗡️🗡️ Mila mengarahkan pandangan nya ke bawah di mana tempat anaconda Riko sedang bersemayam.
seperti nya Mila masih kesal jika teringat bualan Riko tentang baku hantam mereka malam itu.
"chh.. kalau ku perlihatkan pada mu pasti kau tercengang dengan keperkasaan nya" ucap Riko membanggakan sang anaconda kesayangan nya.
"hhh..! perkasa apa nya?!"
"kau lupa bagaimana rasa nya??"
lagi lagi Riko membahas kebohongannya tentang pembukaan segel malam itu.
"chh!!aku tidak lupa! tapi memang aku benar benar tidak merasakan apapun malam itu. pasti karena hanya sebesar itu.."
DOUBLE KILL🗡️🗡️🗡️
Mila menunjuk sebuah squishi berbentuk timun di lantai yang berukuran sangat kecil dan kisut pula.
Tentu saja harga diri Riko semakin merosot,seperti nya ia termakan oleh omong kosong nya sendiri.
sedangkan Mila dengan wajah puas dan tawa nya yang lepas sengaja memainkan squshi timun itu dengan jempol kaki nya.
"inihh contoh desain undangan nya.. gimana pada suka nggak.." ujar si lekong itu menengahi perang di antara Mila dan Riko.
"hmm.." sahut Riko dengan wajah datar.
tampak nya kali ini Mila berhasil membuat mood Riko ambyar.
"hahahah...iya.. itu bagus.." sahut Mila dengan penuh semangat dan wajah girang cekikikan.
"diihh....kesambet setan apa sih mereka..
kok malah ketuker gitu,tadi ciwi nya yang galak binggo.. sekarang laki nya.. ihhh pusying deh..."
gumam si potografer lekong itu dengan centil nya.
Setelah semua nya rampung,Mila dan Riko pun keluar dari studio itu dengan jiwa yang tertukar.
si Mila yang tak henti henti nya tersenyum meledek,sedang kan ekpresi wajah Riko jadi sedingin kulkas 32 pintu.
...**********...
🖐️🖐️😁
*Pas otak encer mah enak aja ngetik ceri nya nya,tapi kalau otak ngadat. jangan kan ngetik,mikir aja nggak bisa beb🙉
Terimakasih buat dukungan para readers semua♥️♥️♥️♥️♥️*