
Botol infus yang tadi nya di angkat
tinggi oleh Nurul, kini terjatuh kelantai
hingga darah nya seketika memenuhi
selang infus.
Siapa yang kuat menyaksikan orang
yang selama ini di rindu rindukan
terbaring dingin bersimbah darah
di selimuti kain putih.
Dan yang lebih menyakitkan lagi
nyawa orang itu melayang karena
ulah nya. karena kecerobohan nya.
dengan tangan nya ia menuliskan
kata rindu sambil menahan isak tangis.
dengan tangan nya pula lah ia melenyapkan
nyawa pria yang paling di nanti nanti
kehadiran nya itu.
"hiks..hiks... hhhhhh😭😭😭
ayah......" rintih nya menahan sakit
yang amat sangat di dalam relung hati nya.
Dika, Fani, seperti nya memikirkan hal
serupa. yakni Rudi, Rudi yang mereka
kenal? lalu apakah karena Nurul
sudah tau maka nya ia sangat syok?
Seluruh keluarga Nurul pun
berbondong-bondong menyusul
jenazah korban untuk mengucapkan
bela sungkawa mereka karena telah
mengakibatkan kemalangan itu.
"ma.. Nur membunuh orang ma...
hiks..hiks..." tangis nya di bahu Rianti.
"nggak nak..
ini kecelakaan sayang..
kamu jangan ngomong begitu.."
bisik Rianti sambil mengecup kepala
Nurul berulang kali untuk menenangkan nya.
'Titian Agung.. Rudi..'
kata kata itu terus saja melintas di benak
Dika. itulah identitas ayah nya yang tertera
di lembaran data pasien nya.
sambil melepaskan infus Nurul,
ia ketakutan kalau korban yang
meninggal itu benar benar Ayah mereka.
"suster.. tunggu..!"
seru Nurul berlari ke arah jenazah.
Setelah suster berhenti, Nurul perlahan
memberanikan diri untuk membuka
kain yang menutupi wajah Ayah nya.
tangis nya pun semakin menjadi jadi
kala memandang wajah yang lama ia
rindukan itu.
brakkk!!!!
Fani menjatuhkan tas nya karena terkejut
saat mengenali wajah itu.
"Ayah...."
dengan tubuh gemetar ia pun mendekati
jenazah sang Ayah.
Dimas pun tak kalah terkejut nya.
karena ia sudah mengenal Ayah mertua nya
itu. berbeda dengan Vino yang tak tau
kalau Rudi adalah Ayah kandung Nurul.
PLAAAKKK!!!!!
tamparan keras Evi membuat tubuh
Nurul yang masih lemas tersungkur di lantai.
"jauhi suami ku!!!
pembunuh!!! kamu pembunuh!!!"
pekik nya sambil menangis.
Nurul hanya bisa menangis menerima
cercaan dari Evi.
"Bu..!"
hardik Vino emosi sambil mengangkat
tubuh Nurul.
"Bu! tolong jaga kelakuan ibu ya!!
anak saya bukan pembunuh!
ini murni kecelakaan."
tukas Rianti tak terima.
"kembalikan suami ku!!
dasar pembunuh!!!"
Evi berusaha memukuli Nurul, beruntung
Vino sigap memberikan tubuh nya untuk
tameng Nurul.
"Bu.. maaf.
bisa anda tenang dulu..
ini juga di luar kemauan kita semua.."
timpal Dimas berusaha menenangkan.
"tenang kalian bilang?!!
suami saya meninggal karena ulah dia
dan kalian bilang tenang?!"
kemarahan Evi semakin membuncah
karena ia merasa mereka semua
keterlaluan.
"heh kamu perempuan iblis!!
sampai kemarin aku masih menganggapmu
malaikat! aku bahkan kagum dengan
kedermawanan mu!
tapi hari ini!! kamu membunuh suami ku!!!
kenapa kamu melakukan nya!!!"
ia tetap berusaha mencelakai Nurul dengan
tangan tajam nya.
"Bu.. tolong, kami juga tidak
mau keadaan menjadi seperti ini.."
lirih Fani sambil menangis memohon maaf.
"Keadaan?!! keadaan apa yang kamu
maksut? keadaan mu tetap akan baik baik
saja. kalian semua!!
keadaan kalian tetap baik walaupun
suami ku mati! tapi aku di sini korban nya!
kami mempunyai tiga anak remaja
pernah kah kalian pikirkan bagaimana
nasib ku dan anak anak ku?!!"
ia memekik tepat di hadapan wajah Fani.
Korban yang sebenarnya adalah Fani
dan ketiga adik nya. karena Evi merebut
ayah nya. karena Evi menghancurkan
keluarga mereka, menyisakan luka
berat bahkan hingga saat ini.
Namun keadaan membalik seakan akan
mereka lah pelaku kejahatan yang sebenarnya
hanya karena status dan ikatan yang
bahkan tak di ketahui siapapun.
"cukup!!!!"
bentak Dika tak tahan lagi dengan
keadaan ini.
"memikirkan anak anak?
apakah anda tau siapa suami anda ini?!"
raut wajah Dika tak kalah panas nya
Semua orang disana langsung melihat
ke arah nya.
"jangan bersikap seolah olah
anda korban nya!
tahukah anda?!
mayat ini!! AYAH KANDUNG KAMI!!"
"Anita Sukma Widia. ingatkah anda
dengan nama itu? nama wanita yang
Anda rebut suami nya!!
wanita miskin yang berjuang keras
menghidupi kami karena anda
merebutnya dari kami!!
anda lah pembunuh sebenarnya di sini!!"
Dika menekan kalimat nya agar Evi
sadar betapa keji perlakuan mereka
saat itu..
Pernyataan Dika barusan tentu saja
membuat semua keluarga nya terkejut.
tanpa di duga, tanpa di tata, tanpa rencana.
ternyata satu persatu anak Rudi sudah
mengetahui siapa dia sebenarnya.
namun situasi tak mengizinkan mereka
saling mengakui atau sekedar bertegur
sapa sampat akhir hayat nya.
"tidak mungkin..."
ucap Evi syok. belum selesai duka melanda,
sudah datang lagi kenyataan yang memukul
remuk hati nya hingga berkeping keping.
"chh.. lihat lah seberapa besar karma
berlaku untuk kalian.
bahkan tuhan menentukan nyawa nya
menghilang di tangan adik ku.
perkenalan yang bagus bukan.."
tukas Dika lagi.
"pantaskah seorang anak mengatakan
itu di hari kematian ayah nya?!"
bentak Evi.
"anda membicarakan kepantasan??
agh!! aku bahkan berencana membunuh
kalian dengan tangan ku atas perlakuan
kalian kepada ibu kami!!"
Dika menatap tajam ke arah Evi.
bahkan ia tak keberatan jika Evi
tetap mau membawa ini ke jalur hukum
dengan menunjuk Nurul sebagai pelakunya.
Evi menangis sejadi jadi nya karena
takdir malang ini.
"aku akan menuntut mu!!
kalian semua sama saja!!
nggak punya hati..! hiks..hiks.."
...~~~~...
Hari ini jenazah Rudi akan di bawa pulang
ke desa nya untuk di makam kan.
kemarin keluarga Rianti sudah menawarkan
itikad baik untuk mengantarkan jenazahnya.
namun Evi menolak tegas karena
tak mau proses pemakaman suami nya
di campur tangani mereka.
bahkan Evi melarang Nurul dan saudaranya
untuk datang ke pemakaman.
Walaupun di larang, Fani tetap mengajak
Nurul untuk ikut mengebumikan
jasad sang Ayah.
saat mereka semua bersiap, Dika malah
tampak tak senang.
"mau kemana kalian?!"
"dek, kamu nggak siap siap.
ayo kita lihat Ayah untuk kali terakhir."
sahut Fani di iringi isak tangis.
"iya kak.. bagaimana pun juga
dia Ayah kandung kita. "
imbuh Nurul. di sini dia yang paling
merasa bersalah, karena kesalahannya lah
Ayah nya meninggal.
"kalian lupa? perempuan itu melarang
kita untuk datang.
jadi untuk apa kira repot-repot.
lagi pula selama hidup nya dia nggak
pernah mencari tau tentang kabar kita.
bagaimana kita..
apa dia nggak mikir bagaimana
nasib anak anak nya di sini.
sedangkan dia di sana menghidupi
anak orang lain!"
tukas Dika benar benar marah.
"Dika.. kamu tidak boleh begitu..
Mas tau kamu marah, kamu benci sama dia.
tapi ingat, dia tetap Ayah kamu.
karena dia lah kamu ada di dunia ini.
soal dosa biar jadi urusan dia dengan Tuhan.
yang penting kita jangan melupakan
tanggung jawab kita sebagai seorang anak.
walaupun memang Ayah kalian yang bersalah
di sini. tetaplah berbakti,
setidak nya kali ini..."
tutur Dimas mengingatkan Dika.
ia hanya tidak mau Dika menyesal
nanti nya.
"kurasa bakti ku sudah cukup
karena aku membiarkan nya hidup
nyaman selama ini.!"
Dika naik ke kamar nya meninggalkan
mereka semua. ia sangat bingung
kepada Fani dan Nurul, mengingat
penderitaan ibu mereka, rasa nya sangat
sakit. tapi entah bagaimana Fani
dan Nurul bisa memaafkan nya.
Rianti yang juga akan ikut baru saja
turun dari kamar nya.
ia mendapati Ayu yang masih santai
di depan tv.
"dek.. kamu nggak ikut nak..?"
tanya Rianti.
"nggak ma.. lagian Ayu juga nggak kenal
sama dia.."
"kamu nggak mau ikut dek?
dia Ayah kita.." ujar Fani meyakinkan.
Ayu hanya menggelengkan kepala nya.
wajar saja Ayu tidak mengenal Ayah nya,
karena sejak di lahir kan bahkan ia tak
pernah mendengar dan mengenal
seperti apa sosok Ayah nya itu.
...********...