Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 38: Saat terakhir


Botol infus yang tadi nya di angkat


tinggi oleh Nurul, kini terjatuh kelantai


hingga darah nya seketika memenuhi


selang infus.


Siapa yang kuat menyaksikan orang


yang selama ini di rindu rindukan


terbaring dingin bersimbah darah


di selimuti kain putih.


Dan yang lebih menyakitkan lagi


nyawa orang itu melayang karena


ulah nya. karena kecerobohan nya.


dengan tangan nya ia menuliskan


kata rindu sambil menahan isak tangis.


dengan tangan nya pula lah ia melenyapkan


nyawa pria yang paling di nanti nanti


kehadiran nya itu.


"hiks..hiks... hhhhhh😭😭😭


ayah......" rintih nya menahan sakit


yang amat sangat di dalam relung hati nya.


Dika, Fani, seperti nya memikirkan hal


serupa. yakni Rudi, Rudi yang mereka


kenal? lalu apakah karena Nurul


sudah tau maka nya ia sangat syok?


Seluruh keluarga Nurul pun


berbondong-bondong menyusul


jenazah korban untuk mengucapkan


bela sungkawa mereka karena telah


mengakibatkan kemalangan itu.


"ma.. Nur membunuh orang ma...


hiks..hiks..." tangis nya di bahu Rianti.


"nggak nak..


ini kecelakaan sayang..


kamu jangan ngomong begitu.."


bisik Rianti sambil mengecup kepala


Nurul berulang kali untuk menenangkan nya.


'Titian Agung.. Rudi..'


kata kata itu terus saja melintas di benak


Dika. itulah identitas ayah nya yang tertera


di lembaran data pasien nya.


sambil melepaskan infus Nurul,


ia ketakutan kalau korban yang


meninggal itu benar benar Ayah mereka.


"suster.. tunggu..!"


seru Nurul berlari ke arah jenazah.


Setelah suster berhenti, Nurul perlahan


memberanikan diri untuk membuka


kain yang menutupi wajah Ayah nya.


tangis nya pun semakin menjadi jadi


kala memandang wajah yang lama ia


rindukan itu.


brakkk!!!!


Fani menjatuhkan tas nya karena terkejut


saat mengenali wajah itu.


"Ayah...."


dengan tubuh gemetar ia pun mendekati


jenazah sang Ayah.


Dimas pun tak kalah terkejut nya.


karena ia sudah mengenal Ayah mertua nya


itu. berbeda dengan Vino yang tak tau


kalau Rudi adalah Ayah kandung Nurul.


PLAAAKKK!!!!!


tamparan keras Evi membuat tubuh


Nurul yang masih lemas tersungkur di lantai.


"jauhi suami ku!!!


pembunuh!!! kamu pembunuh!!!"


pekik nya sambil menangis.


Nurul hanya bisa menangis menerima


cercaan dari Evi.


"Bu..!"


hardik Vino emosi sambil mengangkat


tubuh Nurul.


"Bu! tolong jaga kelakuan ibu ya!!


anak saya bukan pembunuh!


ini murni kecelakaan."


tukas Rianti tak terima.


"kembalikan suami ku!!


dasar pembunuh!!!"


Evi berusaha memukuli Nurul, beruntung


Vino sigap memberikan tubuh nya untuk


tameng Nurul.


"Bu.. maaf.


bisa anda tenang dulu..


ini juga di luar kemauan kita semua.."


timpal Dimas berusaha menenangkan.


"tenang kalian bilang?!!


suami saya meninggal karena ulah dia


dan kalian bilang tenang?!"


kemarahan Evi semakin membuncah


karena ia merasa mereka semua


keterlaluan.


"heh kamu perempuan iblis!!


sampai kemarin aku masih menganggapmu


malaikat! aku bahkan kagum dengan


kedermawanan mu!


tapi hari ini!! kamu membunuh suami ku!!!


kenapa kamu melakukan nya!!!"


ia tetap berusaha mencelakai Nurul dengan


tangan tajam nya.


"Bu.. tolong, kami juga tidak


mau keadaan menjadi seperti ini.."


lirih Fani sambil menangis memohon maaf.


"Keadaan?!! keadaan apa yang kamu


maksut? keadaan mu tetap akan baik baik


saja. kalian semua!!


keadaan kalian tetap baik walaupun


suami ku mati! tapi aku di sini korban nya!


kami mempunyai tiga anak remaja


pernah kah kalian pikirkan bagaimana


nasib ku dan anak anak ku?!!"


ia memekik tepat di hadapan wajah Fani.


Korban yang sebenarnya adalah Fani


dan ketiga adik nya. karena Evi merebut


ayah nya. karena Evi menghancurkan


keluarga mereka, menyisakan luka


berat bahkan hingga saat ini.


Namun keadaan membalik seakan akan


mereka lah pelaku kejahatan yang sebenarnya


hanya karena status dan ikatan yang


bahkan tak di ketahui siapapun.


"cukup!!!!"


bentak Dika tak tahan lagi dengan


keadaan ini.


"memikirkan anak anak?


apakah anda tau siapa suami anda ini?!"


raut wajah Dika tak kalah panas nya


Semua orang disana langsung melihat


ke arah nya.


"jangan bersikap seolah olah


anda korban nya!


tahukah anda?!


mayat ini!! AYAH KANDUNG KAMI!!"


"Anita Sukma Widia. ingatkah anda


dengan nama itu? nama wanita yang


Anda rebut suami nya!!


wanita miskin yang berjuang keras


menghidupi kami karena anda


merebutnya dari kami!!


anda lah pembunuh sebenarnya di sini!!"


Dika menekan kalimat nya agar Evi


sadar betapa keji perlakuan mereka


saat itu..


Pernyataan Dika barusan tentu saja


membuat semua keluarga nya terkejut.


tanpa di duga, tanpa di tata, tanpa rencana.


ternyata satu persatu anak Rudi sudah


mengetahui siapa dia sebenarnya.


namun situasi tak mengizinkan mereka


saling mengakui atau sekedar bertegur


sapa sampat akhir hayat nya.


"tidak mungkin..."


ucap Evi syok. belum selesai duka melanda,


sudah datang lagi kenyataan yang memukul


remuk hati nya hingga berkeping keping.


"chh.. lihat lah seberapa besar karma


berlaku untuk kalian.


bahkan tuhan menentukan nyawa nya


menghilang di tangan adik ku.


perkenalan yang bagus bukan.."


tukas Dika lagi.


"pantaskah seorang anak mengatakan


itu di hari kematian ayah nya?!"


bentak Evi.


"anda membicarakan kepantasan??


agh!! aku bahkan berencana membunuh


kalian dengan tangan ku atas perlakuan


kalian kepada ibu kami!!"


Dika menatap tajam ke arah Evi.


bahkan ia tak keberatan jika Evi


tetap mau membawa ini ke jalur hukum


dengan menunjuk Nurul sebagai pelakunya.


Evi menangis sejadi jadi nya karena


takdir malang ini.


"aku akan menuntut mu!!


kalian semua sama saja!!


nggak punya hati..! hiks..hiks.."


...~~~~...


Hari ini jenazah Rudi akan di bawa pulang


ke desa nya untuk di makam kan.


kemarin keluarga Rianti sudah menawarkan


itikad baik untuk mengantarkan jenazahnya.


namun Evi menolak tegas karena


tak mau proses pemakaman suami nya


di campur tangani mereka.


bahkan Evi melarang Nurul dan saudaranya


untuk datang ke pemakaman.


Walaupun di larang, Fani tetap mengajak


Nurul untuk ikut mengebumikan


jasad sang Ayah.


saat mereka semua bersiap, Dika malah


tampak tak senang.


"mau kemana kalian?!"


"dek, kamu nggak siap siap.


ayo kita lihat Ayah untuk kali terakhir."


sahut Fani di iringi isak tangis.


"iya kak.. bagaimana pun juga


dia Ayah kandung kita. "


imbuh Nurul. di sini dia yang paling


merasa bersalah, karena kesalahannya lah


Ayah nya meninggal.


"kalian lupa? perempuan itu melarang


kita untuk datang.


jadi untuk apa kira repot-repot.


lagi pula selama hidup nya dia nggak


pernah mencari tau tentang kabar kita.


bagaimana kita..


apa dia nggak mikir bagaimana


nasib anak anak nya di sini.


sedangkan dia di sana menghidupi


anak orang lain!"


tukas Dika benar benar marah.


"Dika.. kamu tidak boleh begitu..


Mas tau kamu marah, kamu benci sama dia.


tapi ingat, dia tetap Ayah kamu.


karena dia lah kamu ada di dunia ini.


soal dosa biar jadi urusan dia dengan Tuhan.


yang penting kita jangan melupakan


tanggung jawab kita sebagai seorang anak.


walaupun memang Ayah kalian yang bersalah


di sini. tetaplah berbakti,


setidak nya kali ini..."


tutur Dimas mengingatkan Dika.


ia hanya tidak mau Dika menyesal


nanti nya.


"kurasa bakti ku sudah cukup


karena aku membiarkan nya hidup


nyaman selama ini.!"


Dika naik ke kamar nya meninggalkan


mereka semua. ia sangat bingung


kepada Fani dan Nurul, mengingat


penderitaan ibu mereka, rasa nya sangat


sakit. tapi entah bagaimana Fani


dan Nurul bisa memaafkan nya.


Rianti yang juga akan ikut baru saja


turun dari kamar nya.


ia mendapati Ayu yang masih santai


di depan tv.


"dek.. kamu nggak ikut nak..?"


tanya Rianti.


"nggak ma.. lagian Ayu juga nggak kenal


sama dia.."


"kamu nggak mau ikut dek?


dia Ayah kita.." ujar Fani meyakinkan.


Ayu hanya menggelengkan kepala nya.


wajar saja Ayu tidak mengenal Ayah nya,


karena sejak di lahir kan bahkan ia tak


pernah mendengar dan mengenal


seperti apa sosok Ayah nya itu.


...********...