
Vino dan Nurul sama sama tercengang melihat Bian,ternyata dunia ini memang sempit.
"mari silahkan duduk..." Bian juga sama terkejut nya kala mendongakkan kepala dan melihat Nurul di sana.
"ehh.. kamu?" Bian langsung berdiri dari kursi nya. Fani heran saat memperhatian mereka bertiga tampak saling kenal,seperti nya hanya dia yang tidak tau apa apa.
Karena Bian ini sangat profesional,ia pun langsung menyuruh Fani berbaring di ranjang agar segera di periksa.
"suster.." ujar nya memberi kode agar suster membantu Fani naik ke atas ranjang.
"eh bentar pak,saya mau buang air kecil dulu boleh ya.." ucap Fani.
"oh iya silahkan ibu.."
ujar Bian mengiyakan. suster pun mengantarkan Fani ke toilet,kini hanya ada mereka bertiga di ruangan itu hingga membuat suasana seketika senyap.
"duduk dulu.." ujar nya pada Vino dan Nurul.
Bian menunjuk lengan baju Nurul yang sedari tadi turun,jari nya mengisyaratkan agar Nurul menaikkan lengan baju nya.
"hah?" Nurul baru sadar saat itu,ia pun langsung menaikkan baju nya.
"kamu siapa nya Bu Fani?" tanya Bian pada Nurul.
"adik nya pak.."
Di situ Vino baru sadar kalau gelang Nurul ada di tangan Bian.
"hei.. itu kan gelang kamu.." celetuk Vino.
"oh iya.. tempo hari mau saya kembalikan tapi lupa" ucap Bian,ia pun melepaskan gelang itu lalu memberikan nya pada Nurul.
"kalau dia siapa nya kamu?" Bian menunjuk Vino.
"mm.. sepupu nya abang ipar saya pak,apa ya sebutan nya.."
"ahh.. inti nya kalian saudara begitu?"
Bian mengangguk pelan.
"oh iya saya mau ucapin terimakasih untuk malam itu pak,dan juga gelang nya.."
"iya.. sama sama.."
Bian kembali tersenyum manis membuat siapa pun yang melihat nya langsung luluh lantak,ya kecuali Nurul yang belum cukup umur untuk cinta cintaan.
Vino berpikir keras mencerna ada apa dengan malam itu? kenapa mereka bisa saling kenal?
kok bisa gelang nya ada pada Bian,dan apa yang terjadi malam itu.
sedang galau galau nya,tiba tiba ponsel Vino mendapat panggilan masuk dari Zey.
"ya hallo??"
"Vino, kau bisa kesini? aku butuh bantuan mu.."
pinta Zey memelas,ya karena satu satu nya yang bisa membantu cuma Vino.
kalau saja dia lalai sedikit bisa bisa tempat tinggal baru nya di geruduk wartawan.
Vino tak langsung menjawab,ia terpikir adegan mantap mantap malam itu. bagaimana dia menjelaskan nya pada Zey,masa iya mau bilang khilaf tapi menikmati. mau bilang nggak sengaja tapi berkali kali.
"aah.. oke nanti aku kesana.." ucap Vino lalu menutup sambungan telepon nya.
"kalau terdesak pergi aja pak,ntar kami balik naik taksi nggak apa apa.." sahut Nurul yang tak sengaja mendengar percakapan Vino barusan.
ia juga tau kalau yang menelpon barusan adalah Zey.
"nanti saja.." jawab Vino,otak nya seketika ngelag karena memikirkan bagaimana nanti bicara pada Zey,dan memikirkan bagaimana Bian dan Nurul bertemu.
"sekarang aja pak,ntar tante Zey ngambek loh.."
goda Nurul,ya yang dia tau mereka memang pacaran. sebab pernah berciuman di depan mata nya waktu itu.
"tante Zey?" Bian menyahut sambil tertawa kecil.
nama itu terdengar menggelikan di telinga nya.
"pacar nya Pak Vino.." ucap Nurul.
"pacar saya??" Vino heran,kok bisa bisa nya Nurul menyangka Zey dan dia berpacaran.
seketika beban di otak nya bertambah,apa sebenarnya selama ini Nurul tau kalau dia menyukai nya? dan apa karena di pikir nya mereka pacaran maka nya Nurul tidak respek pada Vino?
seketika otak Vino ruwet tak tentu arah.
...~~~~...
Di sisi lain,wanita yang bekerja sama dengan Sean mendatangi nya lagi.
"dia sedang ke luar Negeri untuk 4 hari kedepan, ku rasa ini saat yang tepat untuk menyebarkan Video itu"
"tidak.. jangan sekarang,kita harus bersabar sebentar lagi sampai dia kembali ke sini" ucap Sean tersenyum licik.
"baik lah.. aku akan melakukan sesuai perintah mu"
"hm.. lakukan tugas mu dengan baik,aku menyukai kinerja mu belakangan ini yang tidak ceroboh" ujar Sean.
"tentu saja.. aku menangkap seekor lebah cantik sebagai Vitamin kali ini.." ucap wanita itu tersenyum lebar.
"lebah??" Sean terheran.
"berhati hati lah,kau bisa saja tersengat.."
"lebah tidak akan menyengat bunga yang memberi nya serbuk sari.." wanita itu tersenyum lalu beranjak dari sana.
...~~~~...
Karena hasil USG belum menunjukkan perubahan yang stabil pada air ketuban Fani,Bian menyuruh Fani untuk menginap saja malam ini agar mendapatkan perawatan khusus,mumpung belum bertambah keluhan nya Bian ingin Fani mendapatkan perawatan seintensif mungkin. karena kalau di biarkan berlarut larut bisa berbahaya bagi ibu mau pun janin nya.
Fani pun menyetujui,apapun akan di lakukan demi keselamatan buah hati nya.
suster segera memindahkan Fani ke ruangan rawat inap khusus yang akan di tangani langsung oleh Bian.
Nurul keluar sebentar hendak menelpon mama nya dan memberitahu kalau Fani akan dirawat inap malam ini.
dan tak sengaja pula ia melihat Dika dan teman teman nya yang baru selesai mengerjakan analisis lebih dalam tentang ilmu kedokteran.
"kak... " panggil Nurul.
"loh dek? kok belum pulang? gimana kak Fani?"
Dika langsung berlari menghampiri Fani.
"di rawat kak.."
"hah? apa semakin memburuk?"
"nggak sih, cuma menghindari terjadi nya inflamasi,eh.... apa ya kata dokter nya tadi.."
"untuk mencegah terjadi nya infeksi.."
timpal Bian yang juga keluar dari ruangan menuju ruang rawat inap.
"eh Dika?" Bian terkejut melihat salah satu murid nya itu,ya selain menjadi dokter. ia juga berprofesi sebagai dosen di kampus Dika. tampan,baik,pintar pula benar benar masa depan cemerlang. semua di borong oleh Bian.
"pak Bian?" Dika memberikan salam sambil menundukkan kepala nya.
"aaahhhh.. dunia benar benar sempit" gerutu Vino yang semakin kepanasan melohat orang sekitarnya saling kenal dengan Bian,ia berjalan keluar untuk mencari udara segar dengan wajah bete nya.
"maaf ini ponsel siapa?" ujar suster.
"itu..punya pak Vino.sini biar saya antar" Nurul mengejar Vino keluar,ia pikir Vino akan pulang. maka nya dia segera mengantarkan ponsel itu.
...-...
...-...
Di bantu kedua suster nya,Bian memakaikan infus dan memberikan beberapa suntikan Vitamin untuk mencegah Fani kekurangan cairan.
sebenar nya kondisi Fani ini sedikit mengkhawatirkan,tapi Bian tak tega jika harus memberitahukan nya langsung kepada Fani.
yang ada nanti malah semakin stress dan memperburuk keadaan.
jadi Bian berusaha dulu semampu nya agar kondisi Fani tak semakin memburuk.
"ohw.. jadi kalian semua kakak beradik.."
ucap Bian membuka percakapan agar suasana tidak hening.
"iya pak.."
sahut Dika.
"Bu Fani ini selain usia nya yang masih muda,juga terlalu sering stress. jadi itu yang membuat rentan kondisi di dalam rahim.
apa ada keluhan lain Bu? seperti nyeri atau seperti sering keram di bagian tertentu?"
"tidak Pak,apa anak anak saya baik baik aja pak?"
"syukurlah kalau tidak ada keluhan,sejauh ini baik baik saja Bu. tapi saya sarankan ibu mulai rutin mengonsumsi sayuran dan buah ya Bu,agar cairan dan nutrisi nya terpenuhi"
"iya dok.. akhir akhir ini memang saya kurang suka makan buah dan sayur"
Fani tiba tiba rindu pada Dimas yang akhir akhir ini selalu mengomeli nya karena tak mau makan sayur dan buah barang sedikit saja.
...~~~~...
"pak Vino...!!
ini hp nya ketinggalan..!!" seru Nurul setengah berlari sepanjang koridor.
Vino langsung berbalik dan berjalan ke arah Nurul.
"jangan lari,lantai nya..."
belum sempat meneruskan kata kata nya
Gubrakk!!!!
Nurul kepeleset dan jatuh tersungkur hingga membuat wajah nya menghantam lantai dengan sangat keras.
"astaga..." Vino langsung bergegas membantu Nurul.
"hei,, kamu nggak apa apa? ngapain lari lari sih"
pake di tanya nggak apa apa lagi Vin,dah tau jatoh anak orang.
Nurul mendongakkan kepala nya sambil meringis, hidung nya mengeluarkan darah akibat terbentur lantai sangat keras.
melihat itu,Vino langsung memapah tubuh Nurul dan membawa nya agar segera di obati.
...*********...