Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 41 : Pucat


Siang hari nya seperti biasa Fani mengantarkan bekal untuk Dimas. walaupun keadaan nya kurang fit, ia tetap pergi karena ia juga merasa bosan di rumah terus.


Sesampai nya di depan kantor,Zey yang sedang buru buru tak sengaja menabrak Fani.untung Fani berhasil menjaga keseimbangan tubuh nya jadi ia tak sampai jatuh.


Beberapa karyawan yang melihat itu pun langsung berlari ke arah Fani untuk menolong nya.


"Ibu tidak apa apa?" ujar karyawan wanita itu.


"maaf ya saya tidak sengaja..." ucap Zey memelas.


"iyaa.. saya nggak apa apa" sahut Fani sambil tersenyum.


Vino yang tak sengaja lewat pun menghampiri Fani, ia sempat khawatir karena Fani kelihatan pucat.


"Fani??. eh kak?? Buk.. aduhh saya harus panggil apa ya."


"Nyaman nya kamu aja Pak Vino," timpal Fani.


Vino: "kamu sakit?"


"pusing dikit aja." ujar Fani tersenyum lemas.


"kalau gitu ayo Saya antar ke tempat Pak Dimas."


Fani pun menurut dan pergi bersama Vino.


Sementara Zey dari tadi tak henti nya terperangah akan pesona Vino yang mendebarkan hati nya begitu dahsyat.


"perempuan tadi siapa?"


Zey bertanya kepada salah satu karyawan.


"dia istri nya presdir"


"kalau laki laki tadi?"


tanya Zey lagi.


karyawan: "dia sepupu nya sekaligus sekertaris Pak presdir"


"aaa... berarti dia sepupu dari laki laki yang mau di usik oleh Sean. berarti perempuan tadi saudara ipar laki laki itu,?!! wahhhh harus kah ku turuti Sean? atau ku kejar si tampan itu. harus kah aku mendekati perempuan tadi?? aihhh seperti nya aku terjebak karena Sean baj*ngan itu!!"


Zey terus saja bergumam sendiri,ia tak sadar kalau para karyawan sedang menatap nya dengan pandangan heran.


...~~~~...


Saat masuk ke kantor Dimas,Fani langsung memeluk nya dari belakang hingga membuat Dimas terkejut, ini adalah kali pertama Fani memeluk nya duluan.


Dimas berbalik badan dan membalas pelukan Fani.


"Kenapa sayang?? kok tiba tiba meluk mas?"


"Fani kangen sama Mas.."


ujar nya manja.


"karena tadi malam nggak mas 'garap' ya.."


sahut Dimas sengaja menggoda Fani.


"nggak ah.. nggak. Fani cuma kangen aja,emang nggak boleh ya kangen sama suami sendiri"


Fani langsung manyun dan melepaskan pelukannya.


Namun Dimas menariknya lagi sambil tertawa.


"hahah... boleh sayang.. boleh.. Mas heran aja soal nya ini pertama kali kamu meluk Mas duluan"


"hehehe.. masa sih Mas,"


Fani jadi malu seketika.


Dimas: "kamu kenapa kok pucet banget??"


Fani: "cuma pusing sedikit Mas,tapi nggak apa apa kok."


"ayo makan Mas, Fani masak spesial banget buat Mas."


"muuacch... istri ku ini memang terbaik"


Dimas mendaratkan kecupan nya di kening Fani.


"ihh.. nafas Mas kok bau sih.."


"apa?? kemarin badan,sekarang nafas. kamu yang bener aja dong sayang. Mas tu nggak pernah bau."


"Mas nggak gosok gigi tadi pagi ya??"


"ya ampun sayang.. Mas gosok gigi loh,mana pernah Mas nggak gosok gigi"


Dimas semakin heran dengan tingkah Fani.


"gini aja, mulai nanti kamu ikut Mas mandi,biar kamu liat sendiri Mas gosok gigi apa nggak."


"ng..nggak.. Fani percaya kok Mas gosok gigi"


"Hahhh..hahhh!!"


Dimas malah membuang nafas lewat mulut nya tepat di wajah Fani.


"Mass... bau ihhh..jangan gitu"


"maka nya nanti kita mandi berdua ya..."


"iya..iya.."


ujar Fani dengan wajah terpaksa.


Sementara Dimas kegirangan dalam hati karena Fani menyetujui ajakan nya.


walaupun ia sedikit kesal karena Fani terus mengatakan kalau diri nya bau.padahal selama ini tidak ada orang yang mengatakan itu kepada diri nya.


"mungkin hidung nya yang kecil itu sedang bermasalah.." batin Dimas sambil senyum senyum memandangi Fani yang tengah menata bekal di atas meja.


...~~~~...


Setelah menemani Dimas makan,Fani ke kantin bersama Mila end geng gosip.


mereka tampak berbincang hangat sambil tertawa ngakak. tebak apa yang mereka gosip kan, ya siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutan nya Mila.


"ahahahha.. hati hati loh buk, nanti ternyata ibuk jodoh sama pak Riko gimana?" ujar Fani terkekeh.


"hahhh!!! nggak mungkin!! kalau memang dia jodoh ku aku akan memilih untuk jadi perawan tua dari pada harus nikah sama laki laki psikopat itu.!!" Mila langsung nyolot dan tak terima.


"kamu ngomongin saya?!" sahut laki laki dengan suara berat yang tiba tiba muncul di belakang mila, ya itu tak lain adalah Riko.


bburrrrr..!!!


Mila langsung menyemburkan air di mulut nya. wajah Riko pun basah dengan es kopi bercampur jigong si Mila.


"aiishh!!!! apa yang kau lakukan?!"


Riko langsung memelototi Mila dengan mata tajam nya.


"m..maaf pak,saya Khilaf kaget jadi.."


"kamu sengaja kan mau balas dendam?!"


Riko memotong kata kata Mila.


"Pak.. saya nggak sengaja.. tapi kalau bapak mau anggap saya balas dendam boleh juga" sahut Mila dengan wajah menantang.


"sudah..sudah.. tetangga saya dulu berantem terus kaya gini ujung ujung nya nikah loh." imbuh Fani melerai mereka sambil menahan tawa.


"idihhh!!!! amit amit jabang bayi..!!!!"


ujar Mila bergidik ngeri.


"saya juga amit amit!!!"


tukas Riko kesal sambil beranjak dari sana dengan wajah basah kuyup.


"ssshhh.. dasar wanita tua tak punya adab."


batin Riko kesal.


Saat semua orang tengah menertawakan Mila dan Riko,tiba tiba Zey datang menyapa Fani.


"Selamat siang Bu Fani.."


Zey melepas masker dan topi nya.


"astaga... kamu model terkenal itu kan?!!" Mila tak percaya dengan apa yang di lihat nya.


beberapa karyawan juga mengenali Zey,hanya Fani dan segelintir lainnya yang kudet dan tak mengetahui siapa itu Zey.


"ahaha.. iyaa benar" sahut Zey malu malu.


"apa yang kau lakukan di sini? bagaimana kalau wartawan tau pasti akan heboh."


"maka dari itu aku meminta kalian untuk merahasiakan nya,saya kesini karena ada urusan dengan Bu presdir" Zey menatap Fani sambil tersenyum.


"Saya??" ujar Fani heran.


"hhh,,dia bahkan menjadi istri orang kaya di usia muda, tidak seperti aku sampai usia ini masih harus bekerja keras." ucap Zey dalam benak nya, ia merasa iri melihat Fani sudah menjadi orang terpandang di usia muda. tapi Zey tidaklah tau bagaimana pahit nya kehidupan Fani hingga sampai di titik ini.


"bisa bicara sebentar Bu?" pinta Zey sopan.


"soal apa ya..?"


Zey membisikkan sesuatu ketelinga Fani,ntah apa yang sedang ia bicarakan. karyawan yang lain hanya menatap mereka dengan wajah penuh tanya.


"ohh...ya udah ayo" Fani menyetuji permintaan Zey. mereka pun segera pergi dari sana dan mencari tempat yang tidak banyak orang.


...******...