Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 103: Jus


Dimas kembali ke ruang rawat Fani dengan wajah lesu dan layu. tapi ia tetap tersenyum walaupun hatinya terasa remuk karena keterangan dokter Bian tadi.


Bian menepuk bahu Dimas dan tersenyum kepadanya untuk memberikan semangat.


"kau harus positif thinking Dimas,masih ada harapan jangan terlalu dipikirkan" batinnya sambil menatap Fani. ia tak bisa membayangkan bagaimana jika dalam seminggu kedepan tak ada perubahan. Fani akan sangat sedih jika mengetahui ini.


Fani merasa ada yang aneh saat mendapati ekspresi Bian dan Dimas seperti menghawatirkan sesuatu.


"ada apa mas?" tanya Fani


"tidak apa apa sayang...


Dokter cuma menyampaikan kondisi anak kita"


"kok wajahnya tiba-tiba murung?"


"Mas kesal sama pak dokter ini karena menaikkan administrasi perawatan kamu, padahal kemarin sama dokter okta nggak segitu" elak Dimas agar Fani tak curiga,namun Fani tetap bertanya tanya dalam benak nya. karena Dimas bukanlah orang yang hitung-hitungan kalau soal uang apalagi untuk kesehatan


"karena sift saya berakhir Pagi ini,saya akan menyerahkan Ibu Fani pada dokter lain untuk mengontrol keadaan Ibu sementara"


Bian pun berpamitan dulu karena sifatnya hari ini telah selesai.


Disisi lain Dika menyuruh Nurul untuk pulang dulu untuk istirahat di rumah.


"kalau kalian berdua mau istirahat,


pulang aja nggak apa-apa biar Mas di sini yang gantian jaga kakak"


Dimas meminta kedua adik iparnya untuk pulang saja karena mereka sudah semalaman di sana.


"mau bareng saya..?"


tawar Bian karena rumah mereka kebetulan sejalan, hanya beda RT istilah nya.


"eh,nggak udah Pak, ntar ngerepotin.."


ucap Nurul dan Dika.


"nggak apa-apa lagian rumah kita satu jalan.."


Dika dan Nurul menyetujui untuk pulang bersama Bian.


sedangkan Vino sudah pergi sebelum mereka terbangun tadi sebab dia akan menyiapkan pekerjaan di kantor.


Mereka pun akhirnya pulang bertiga.


di dalam perjalanan mereka mengobrol santai


obrolan mereka tampak sangat nyambung satu sama lain karena minat dan wawasan mereka terlihat sama. namun Dika tampak lebih canggung karena ia segan terhadap Bian yang merupakan Dosen di kampus nya.


...~~~~...


Disisi lain Mila baru terbangun dari tidurnya


matanya membuka perlahan dan berusaha memandangi sekeliling kamar yang remang-remang.


ia menggeliatkan tubuh nya


"sshhh...awhhh.." rintih nya saat


pinggang dan pahanya terasa sakit ketika ia menggeliat.


lalu kemudian ia menyadari bahwa ia tertidur tanpa busana. dengan wajah panik dia juga menoleh ke sebelah karena di dapati tangan Riko berada di bawah kepala nya.


Dan betapa mau lompat jantung nya saat mendapati Riko yang masih tertidur lelap tanpa selembar kain pun.


Mila langsung terlonjak kaget saat menyadari pasti terjadi sesuatu dengan mereka tadi malam.


ia memaksakan diri berdiri dari kasur walaupun kepalanya masih sakit dan sedikit pengar.


"Riko!!!!"


teriaknya.


Riko terbangun mendengar teriakan Mila.


"ada apa sayang tanyanya?"


"hei!! apa yang kita telah lakukan tadi malam?"


"tadi malam umm,,,


aahhh..kita berolahraga"


jawab Riko sambil tersenyum penuh rasa puas.


"kau jangan coba coba menipu ku lagi!!"


Mila berharap itu hanya omong kosong nya Riko saja.


Riko tersenyum lalu ia menunjuk ke arah sprei yang terdapat sedikit bercak darah di sana.


"lihat aku tidak berbohong,


apakah masih sakit?"


"tidak..tidak..tidak mungkin kita,agrhhh!!!"


Mila kelihatan sangat frustasi membayangkan adegan itu,tadi nya ia berpikir itu hanya mimpi.


"kenapa kau melakukannya? aku tidak mau tahu pokoknya kau harus tanggung jawab karena sudah mengambil keperaw*nanku!!"


"kau masih mabuk hah?


tanggung jawab dalam hal apa?"


Riko tertawa melihat Mila yang seperti orang linglung itu.


Mila terdiam,seketika otak nya bertempur antara malu dan marah. bisa bisa nya ia menyuruh Riko yang sudah menjadi suami nya untuk bertanggung jawab. Mila sendiri pun tak tau tanggung jawab apa yang di maksut nya.


Dari sorot dan raut wajah Mila,Riko paham pastilah Mila sedang memaki nya dalam hati.


"aku tau kau memaki ku dalam hati kan.


cepat pakailah baju mu.. atau aku akan mengulangi lagi pertempuran kita"


"hishh!! baj!ngan ini benar benar tak tau malu!!"


rutuk Mila dalam hati nya.


ia pun segera kekamar mandi sambil menutupi tubuhnya dengan kain seadanya.


...~~~~...


Dimas dan Vino pergi sebentar menemui orang yang bisa membantu menghancurkan Sean.


tampak mereka bertiga tengah mengobrol di sebuah ruang VIP di restaurant ternama dan membahas tentang Sean.


Sebut saja orang yang akan membantu Dimas dan Vino itu CJ. ia datang ke kesana dengan mengenakan pakaian serba hitam hingga membuat kesan misterius.


"kenapa anda cepat sekali kembali? aku kan belum menyusun rencana" ujar si CJ sambil menyeruput kopi nya.


Dimas: "istri ku sedang di rawat,jadi aku mendadak pulang. bagaimana? kau mendapatkan berkas kasus itu?"


CJ: "tentu saja sudah.. aku sangat kasihan kepada para korban nya karena mereka tak bisa memenangkan kasus ini"


Vino menerima berkas itu lalu membaca nya dengan seksama.


"kasus ini sudah lama di tutup, apa kau yakin akan membuka ini kembali?"


"tentu saja,setidak nya kita bisa membuat Sean di hukum mati atau penjara seumur hidup.


dan kita juga bisa membantu para korban itu.." Dimas sangat yakin dengan keputusan nya.


CJ: "tapi membuka kasus ini kembali membutuhkan anggaran yang tidak sedikit Pak Dimas,anda yakin?"


"tidak masalah memakai sedikit uang ku..


untuk memancing ikan yang besar memang di butuhkam umpan yang besar"


Dimas tersenyum smirk ke arah CJ.


...~~~~...


Malam hari tiba...


Bian kembali bekerja di sift nya, dan mendatangi Fani."apa ada keluhan Bu Fani?"


"tidak ada pak.. hanya saja saya sering mengantuk" jawab Fani.


"apa tidak apa apa kalau sering mengantuk seperti itu dokter?" tanya Dimas sangat khawatir.


"tidak apa apa pak,itu normal"


jawab Bian. seorang suster masuk dan memberikan hasil pemeriksaan Fani oleh dokter yang tadi menggantikan nya.


untuk memastikan valid atau tidak,Bian pun melakukan pemeriksaan ulang melalui USG.


"suster,tambahkan antibiotik di infus nya"


"baik pak.."


"lumayan ada perkembangan walaupun sedikit,tapi itu bisa menjadi harapan penuh untuk kita" ujar Bian pada Dimas.


"harapan? memang nya hampir tidak ada harapan?" celetuk Fani yang terheran dengan penyampaian Bian.


"harapan untuk segera pulih Bu" sahut Bian sedikit gugup karena keceplosan.


Dimas sudah sangat senang mendengar perubahan baik yang hanya sekian persen itu,walaupun pun sedikit setidak nya ada perkembangan dan harapan agar anak anak nya lahir dengan selamat.


perlu di ketahui,Bian menyuruh Dimas untuk tak memberitahu Fani tentang kondisi nya untuk menghindari stress.


air ketuban Fani yang keruh ini di sebabkan oleh stress berlebih pada janin sehinga membuat si janin mengeluarkan feses/kotoran yang seharusnya keluar saat mereka baru di lahirkan,dan itu membuat air ketuban Fani terkontaminasi jika tidak segera di tangani maka di khawatirkan seiring tumbuh nya janin ketuban itu bisa saja tertelan dan bahkan menyebabkan infeksi pada organ tubuh mereka . itulah mengapa Bian berusaha menjaga emosi Fani agar tetap stabil.


...~~~~...


Menjelang siang hari,Rianti dan Nurul datang menjenguk Fani.


"ya ampun... anak mama kok pucet banget..


sudah makan nak?" Rianti tampak sangat menghawatirkan mantu kesayangan nya itu.


ia membawakan segala macam buah buahan,roti dan juga berbagai makanan kesukaan Fani.


ia sendiri yang memasak makanan itu di bantu oleh Nurul.


"karena mama datang,Dimas ke kantor sebentar ya ma.. kasihan si Vino kewalahan pasti"


"iya.. tenang aja mama dan Nurul bakalan jagain Fani"


"iya Mas Dimas ke kantor aja nggak apa apa, kasian nanti Pak Vino garuk tembok karena kewalahan" imbuh Nurul juga.


Mendengar Nurul mengkhawatirkan Vino,Dimas dan Fani langsung saling memandang sambil tersenyum kecil.


"ya sudah Mas tinggal bentar ya sayang..."


Dimas mengecup kening istri nya lalu mencium punggung tangan Rianti kemudian segera pergi.


terlihat bodyguard yang stanby di depan pintu rumah sakit memberikan hormat saat Dimas keluar dari sana.


...-...


...-...


"nak,mama minta tolong belikan jus di kantin bawah mau? mama haus banget" pinta Rianti kepada Nurul.


"mau ma, jus apa?"


"buah naga ya.. kamu mau Fani?"


"pengen sih.. tapi apa boleh Fani minum es ma?"


Rianti langsung menanyakan pada suster.


"suster.. apa anak saya boleh minum jus pakai es?"


suster: "boleh Bu,asal es nya jangan banyak banyak ya.."


"tuh.. boleh sayang. kamu mau jus apa?"


"mmm..sirsak deh,enak kaya nya asem asem seger"


"ini nak,kamu juga beli aja jananan yang kamu mau" Rianti memberikan uang 400 ribu kepada Nurul.


"kebanyakan ma..."


"nggak apa apa,siapa tau kamu ingin beli makanan di bawah"


Nurul pun menurut lalu pergi,memang selama hidup dengan keluarga baru nya Nurul benar benar mabuk uang. di tambah Rianti yang sangat tulus menyayangi mereka,membuat Nurul dan saudara nya semakin sayang dan tak bisa lepas dari Rianti.


...*********...