Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 58: Modus


"hah..?"


Ayu sedikit terkejut, bukan karena


papa nya ingin buang hajat.


tapi karena Rey menyebut kata ber@q.


"kenapa?"


tanya Rey sambil mendongak


menatap Ayu yang masih berdiri.


"nggak..


ini..di suruh ngapain Pak?"


Rey mengarahkan laptop Adit


ke arah Ayu.


"pindahkan bagian ini ke folder


yang ini, lalu koreksi sama atau tidak nya.


setelah pas. gabungkan mereka


menjadi satu di folder ini."


"oh.. iya Pak."


Ayu mengangkat laptop nya,


ia hendak pindah ke sofa satu lagi


namun Rey tampak keberatan.


"mau kemana?"


tanya Rey.


"ke situ.."


Ayu menunjuk sofa di hadapan mereka.


"sini saja, siapa tau ada yang


mau kamu tanyakan."


"nggak ada, Ayu ngerti kok.


udah pernah juga ngerjain begini."


"tapi ini beda dari yang kamu kerjakan."


Ayu meneringai canggung.


"tapi Ayu paham, beneran deh."


"duduk saja di sebelah saya.


kamu tenang saja, jangan canggung.


tidak akan terjadi apa apa karena saya


nggak tertarik sama kamu."


ucap nya tersenyum santai.


Wajah Ayu langsung berubah masam.


memang sih dia tak mengharapkan


sesuatu seperti itu, tapi mendengar


kata 'saya nggak tertarik sama kamu'


kok ya makjleb nancep ke pori pori


jantung.


"Ayu duduk di sana aja.


Bapak tenang aja,Ayu paham kok.


jadi Ayu nggak akan butuh bantuan


bapak๐Ÿ˜ "


"tunggu..!


kamu paham tentang ini?"


Rey menunjukkan statistik yang akan


di urai ke dalam jumlah harian.


"paham lah."


sahut Ayu sedikit menyombong.


"ajarkan saya, karena saya kurang


paham."


"hhh.. dia pikir aku bodoh apa?


ya kali aku percaya dia nggak paham.


itu kan udah tugas sehari hari nya."


batin Ayu sinis.


"sorry.."


ucap Ayu geleng kepala


lalu mulai mengerjakan tugas nya


tanpa menghiraukan tatapan Rey


yang amat tajam itu.


...~~~~...


Panas dingin, bingung karena habis


ke grebek Dika.


Nurul pun memilih untuk mengantar


Gaby dan Mei sampai ke halaman


depan.


Tak di sadari nya Dika di belakang


tertawa melihat tingkah absurd nya


akibat ketahuan di sosor Vino.


"dek.. mau kemana kamu?"


Dika sengaja menaikkan suara nya.


Nurul berbalik badan, seketika


wajah nya panas dan merah.


"mm!? ini.. mau bantu nuntun Mei.


kasian kaki nya masih pada sakit."


"di tungguin sama Pak duda loh..


kok malah ke sini."


keusilan Dika mulai bangkit.


"ahh.. apaan sih kak."


"hahaha.. ikut ke RS?"


"nggak deh.. hehehhe.."


"ya udah masuk gih, kasian tuh


calon suami mu hahahah.."


Di tengah tengah pembicaraan


mereka, sebuah mobil berwarna


biru tua memasuki perkarangan rumah.


mobil yang tentu nya tak asing bagi


Nurul karena itu milik Bian.


"Pak Bian..?"


gumam Nurul dan Dika


berbarengan.


Gaby yang sudah di dalam mobil nya


Dika pun ikut terkejut.


"wahh.. apa cerita nih?


sang mantan datang menjelang hari


pernikahan, apa mau nikung?"


batin Gaby girang bak


nonton adegan sinetron.


"ada apa.. Pak?"


tanya Nurul gugup.


"mm.. ini mau, jemput Dika.


tadi kamu minta jemput kan?"


Bian mengedipkan sebelah matanya


ke arah Dika.


Tercium bau bau modus oleh


Dika, mau bilang nggak kasihan.


akhirnya Dika mengiyakan konpirasi


tanpa rencana itu.


"iya.. iya tadi mau minta tolong.


tapi nggak jadi sih.."


"oh.. kalau begitu saya pamit ya.."


walau sekejap, jadi lah untuk mengobati


rindu nya akibat gagal move on.


Ibarat pucuk di cinta, rejeki pun tiba.


entah dari mana Duma melihat Bian


di sana.


"eh.. ada dokter Bian..


mau berangkat?" ia kelihatan


sangat ramah kepada junior nya itu.


"e.. enggak Bu, baru pulang ini.."


"ohh.. nggak mau mampir dulu?"


sebenarnya ada yang ingin Duma


sampaikan pada Bian,ia ingin merekrut nya


menjadi dokter utama di klinik nya.


"mampir??"


batin Nurul panik, apa jadi nya jika


Vino melihat Bian ada di sana.


lagian si Duma ada ada saja,


udah tau Bian mantan calon menantu nya.


"boleh deh,..."


Bian dengan senang hati menerima


penawaran Duma.


Tak hanya Duma, Rianti pun tampak


sangat senang melihat kehadiran Bian.


selama dua tahun berpacaran dengan


Nurul memang Bian sudah di anggap


Bian berjalan ke arah ruang tengah


di mana mereka sedang berkumpul.


sementara tak jauh di belakang nya


Vino juga sedang menuju kesana


sambil membantu bibik membawakan


camilan.


"ya ampun.. calon mantu ku datang..


tambah ganteng banget sih kamu."


ujar Rianti antusias dengan mata berbinar.


ya, panggilan 'calon mantu' dari dulu


tak pernah lepas dari hati Rianti.


Mendengar itu, rasa percaya diri Vino


pun melambung. siapa lagi yakan


calon mantu kalau bukan dia.


dia pikir sosok pria gagah di depan nya


itu asisten WO, atau perancang acara.


Sedangkan Nurul hanya bisa garuk kepala.


"perasaan ku nggak enak nih.."


batin nya.


"Pak Bian....."


seru Ayu dari ruang kerja,


sebagai team Bian garis keras ia


masih berharap ada kemungkinan


untuk hubungan kakak nya dan Bian.


"hai..."


Bian melambaikan tangan nya


ke arah Ayu.


"APA??! BIAN??!"


biji mata Vino hampir keluar


saking terkejut nya.


"eh Vino, cepat bawa ke sini camilan nya


kita ada tamu nih.."


titah Rianti, sungguh tak berperasaan


kedua nenek nenek itu.


bisa bisa nya mereka menyambut baik


Bian sementara Vino di sana


di perlakukan bak anak tiri.


"hmmm...๐Ÿ˜"


sahut Vino malas.


"modus banget dokter PeAk itu.


awas aja kalau sampai mata nya


jelalatan."


rutuk Vino sambil menatap tajam


Bian.


klotakk!!


Vino menghentakkan nampan


camilan nya ke meja.


"ada perlu apa kau kemari?!"


"Senior ku yang menyuruh ku ke sini."


Bian menunjuk Duma.


"kenapa kau tidak menolak nya saja?


jangan kau pikir aku tidak tau isi kepala mu."


Bian tersenyum tipis.


"ya.. semua orang tau isi kepala ku


ada otak nya. lagi pula mana mungkin


aku menolak ajakan senior terbaikku."


"chh... aku yakin bukan cuma itu


tujuan mu kesini."


"memang.. aku ingin melihat sesuatu


yang sangat indah.."


Bian melirik ke arah Nurul yang


terduduk menunduk di sebelah Rianti.


"Bunda.... kesini sebentar.."


panggil Vino. Nurul pun nurut dan


mendatangi nya.


"k..kenapa Mas..?"


"muuachh......"


Vino mencium pipi Nurul tepat


di hadapan Bian.


Nurul sampai tak bisa berkata kata


mengingat di sekeliling mereka


banyak orang. untung semua sibuk dengan


kegiatan masing masing.


"ini yang ingin kau lihat??"


ujar Vino tersenyum smirk.


Bian terdiam, walau kelihatan baik baik


saja. namun di hati nya terasa sakit


seperti di hujani anak panah dari


busur gandiwa pangeran arjuna.


"Bian.. ayo, ke ruangan sebelah.


ada yang ingin saya bicarakan."


ajak Duma. Bian pun meninggalkan


Vino dan Nurul.


"Mas.. kenapa harus begitu sih?"


tanya Nurul.


"karena saya nggak suka ada dia


di sekitaran kita."


sahut Vino kesal.


Sementara di ruang kerja Ayu


menatap sedih ke arah Bian.


"ck..ck.. kasihan banget Pak Bian.


ganteng ganteng jadi sad boy."


gumam nya.


BRRRAK!!!


Rey membanting beberapa Map


ke meja hingga membuat tubuh Ayu


hampir lompat.


"ssshh!!! bikin kaget aja!"


Ayu mengelus dada nya.


"ada lalat tadi.. berisik.."


sahut Rey santai.


...~~~~...


Sesampai nya di rumah sakit, Dika


menyuruh Gaby masuk duluan


sementara ia mencari tempat parkir.


Karena Mei akan di rawat, Gaby pun


mendaftarkan ulang Mei dengan diri


nya sebagai wali.


"mari saya antar ke ruang rawat inap,


setelah itu kita akan urus administrasi nya."


ajak salah satu suster.


...-...


...-...


Setengah jam kemudian, barulah Dika


masuk menyusul mereka.


"ayo kita pulang.."


ajak Dika.


"bentar lagi ya kak.."


"pulang aja By, aku nggak apa apa kok."


ujar Mei tak enak.


"sebentar lagi.. seenggak nya sampai


suster datang untuk membersihkan


luka mu."


Melihat kebaikan Gaby, Dika jadi tersentuh.


sebenar nya ini bukan kali pertama


Dika terkesima oleh ketulusan Gaby.


namun ia selalu menepis nya karena


sudah berjanji menjaga hati nya


untuk cinta masa kecil nya.


Setelah suster datang, mereka pun keluar.


"mampir ke admistrasi dulu ya kak.."


"mm.."


Dika mengangguk saja.


"atas nama nona Dita ya.."


ujar resepsionis.


Dika langsung mengangkat kepala nya.


...*******...