
"hah..?"
Ayu sedikit terkejut, bukan karena
papa nya ingin buang hajat.
tapi karena Rey menyebut kata ber@q.
"kenapa?"
tanya Rey sambil mendongak
menatap Ayu yang masih berdiri.
"nggak..
ini..di suruh ngapain Pak?"
Rey mengarahkan laptop Adit
ke arah Ayu.
"pindahkan bagian ini ke folder
yang ini, lalu koreksi sama atau tidak nya.
setelah pas. gabungkan mereka
menjadi satu di folder ini."
"oh.. iya Pak."
Ayu mengangkat laptop nya,
ia hendak pindah ke sofa satu lagi
namun Rey tampak keberatan.
"mau kemana?"
tanya Rey.
"ke situ.."
Ayu menunjuk sofa di hadapan mereka.
"sini saja, siapa tau ada yang
mau kamu tanyakan."
"nggak ada, Ayu ngerti kok.
udah pernah juga ngerjain begini."
"tapi ini beda dari yang kamu kerjakan."
Ayu meneringai canggung.
"tapi Ayu paham, beneran deh."
"duduk saja di sebelah saya.
kamu tenang saja, jangan canggung.
tidak akan terjadi apa apa karena saya
nggak tertarik sama kamu."
ucap nya tersenyum santai.
Wajah Ayu langsung berubah masam.
memang sih dia tak mengharapkan
sesuatu seperti itu, tapi mendengar
kata 'saya nggak tertarik sama kamu'
kok ya makjleb nancep ke pori pori
jantung.
"Ayu duduk di sana aja.
Bapak tenang aja,Ayu paham kok.
jadi Ayu nggak akan butuh bantuan
bapak๐ "
"tunggu..!
kamu paham tentang ini?"
Rey menunjukkan statistik yang akan
di urai ke dalam jumlah harian.
"paham lah."
sahut Ayu sedikit menyombong.
"ajarkan saya, karena saya kurang
paham."
"hhh.. dia pikir aku bodoh apa?
ya kali aku percaya dia nggak paham.
itu kan udah tugas sehari hari nya."
batin Ayu sinis.
"sorry.."
ucap Ayu geleng kepala
lalu mulai mengerjakan tugas nya
tanpa menghiraukan tatapan Rey
yang amat tajam itu.
...~~~~...
Panas dingin, bingung karena habis
ke grebek Dika.
Nurul pun memilih untuk mengantar
Gaby dan Mei sampai ke halaman
depan.
Tak di sadari nya Dika di belakang
tertawa melihat tingkah absurd nya
akibat ketahuan di sosor Vino.
"dek.. mau kemana kamu?"
Dika sengaja menaikkan suara nya.
Nurul berbalik badan, seketika
wajah nya panas dan merah.
"mm!? ini.. mau bantu nuntun Mei.
kasian kaki nya masih pada sakit."
"di tungguin sama Pak duda loh..
kok malah ke sini."
keusilan Dika mulai bangkit.
"ahh.. apaan sih kak."
"hahaha.. ikut ke RS?"
"nggak deh.. hehehhe.."
"ya udah masuk gih, kasian tuh
calon suami mu hahahah.."
Di tengah tengah pembicaraan
mereka, sebuah mobil berwarna
biru tua memasuki perkarangan rumah.
mobil yang tentu nya tak asing bagi
Nurul karena itu milik Bian.
"Pak Bian..?"
gumam Nurul dan Dika
berbarengan.
Gaby yang sudah di dalam mobil nya
Dika pun ikut terkejut.
"wahh.. apa cerita nih?
sang mantan datang menjelang hari
pernikahan, apa mau nikung?"
batin Gaby girang bak
nonton adegan sinetron.
"ada apa.. Pak?"
tanya Nurul gugup.
"mm.. ini mau, jemput Dika.
tadi kamu minta jemput kan?"
Bian mengedipkan sebelah matanya
ke arah Dika.
Tercium bau bau modus oleh
Dika, mau bilang nggak kasihan.
akhirnya Dika mengiyakan konpirasi
tanpa rencana itu.
"iya.. iya tadi mau minta tolong.
tapi nggak jadi sih.."
"oh.. kalau begitu saya pamit ya.."
walau sekejap, jadi lah untuk mengobati
rindu nya akibat gagal move on.
Ibarat pucuk di cinta, rejeki pun tiba.
entah dari mana Duma melihat Bian
di sana.
"eh.. ada dokter Bian..
mau berangkat?" ia kelihatan
sangat ramah kepada junior nya itu.
"e.. enggak Bu, baru pulang ini.."
"ohh.. nggak mau mampir dulu?"
sebenarnya ada yang ingin Duma
sampaikan pada Bian,ia ingin merekrut nya
menjadi dokter utama di klinik nya.
"mampir??"
batin Nurul panik, apa jadi nya jika
Vino melihat Bian ada di sana.
lagian si Duma ada ada saja,
udah tau Bian mantan calon menantu nya.
"boleh deh,..."
Bian dengan senang hati menerima
penawaran Duma.
Tak hanya Duma, Rianti pun tampak
sangat senang melihat kehadiran Bian.
selama dua tahun berpacaran dengan
Nurul memang Bian sudah di anggap
Bian berjalan ke arah ruang tengah
di mana mereka sedang berkumpul.
sementara tak jauh di belakang nya
Vino juga sedang menuju kesana
sambil membantu bibik membawakan
camilan.
"ya ampun.. calon mantu ku datang..
tambah ganteng banget sih kamu."
ujar Rianti antusias dengan mata berbinar.
ya, panggilan 'calon mantu' dari dulu
tak pernah lepas dari hati Rianti.
Mendengar itu, rasa percaya diri Vino
pun melambung. siapa lagi yakan
calon mantu kalau bukan dia.
dia pikir sosok pria gagah di depan nya
itu asisten WO, atau perancang acara.
Sedangkan Nurul hanya bisa garuk kepala.
"perasaan ku nggak enak nih.."
batin nya.
"Pak Bian....."
seru Ayu dari ruang kerja,
sebagai team Bian garis keras ia
masih berharap ada kemungkinan
untuk hubungan kakak nya dan Bian.
"hai..."
Bian melambaikan tangan nya
ke arah Ayu.
"APA??! BIAN??!"
biji mata Vino hampir keluar
saking terkejut nya.
"eh Vino, cepat bawa ke sini camilan nya
kita ada tamu nih.."
titah Rianti, sungguh tak berperasaan
kedua nenek nenek itu.
bisa bisa nya mereka menyambut baik
Bian sementara Vino di sana
di perlakukan bak anak tiri.
"hmmm...๐"
sahut Vino malas.
"modus banget dokter PeAk itu.
awas aja kalau sampai mata nya
jelalatan."
rutuk Vino sambil menatap tajam
Bian.
klotakk!!
Vino menghentakkan nampan
camilan nya ke meja.
"ada perlu apa kau kemari?!"
"Senior ku yang menyuruh ku ke sini."
Bian menunjuk Duma.
"kenapa kau tidak menolak nya saja?
jangan kau pikir aku tidak tau isi kepala mu."
Bian tersenyum tipis.
"ya.. semua orang tau isi kepala ku
ada otak nya. lagi pula mana mungkin
aku menolak ajakan senior terbaikku."
"chh... aku yakin bukan cuma itu
tujuan mu kesini."
"memang.. aku ingin melihat sesuatu
yang sangat indah.."
Bian melirik ke arah Nurul yang
terduduk menunduk di sebelah Rianti.
"Bunda.... kesini sebentar.."
panggil Vino. Nurul pun nurut dan
mendatangi nya.
"k..kenapa Mas..?"
"muuachh......"
Vino mencium pipi Nurul tepat
di hadapan Bian.
Nurul sampai tak bisa berkata kata
mengingat di sekeliling mereka
banyak orang. untung semua sibuk dengan
kegiatan masing masing.
"ini yang ingin kau lihat??"
ujar Vino tersenyum smirk.
Bian terdiam, walau kelihatan baik baik
saja. namun di hati nya terasa sakit
seperti di hujani anak panah dari
busur gandiwa pangeran arjuna.
"Bian.. ayo, ke ruangan sebelah.
ada yang ingin saya bicarakan."
ajak Duma. Bian pun meninggalkan
Vino dan Nurul.
"Mas.. kenapa harus begitu sih?"
tanya Nurul.
"karena saya nggak suka ada dia
di sekitaran kita."
sahut Vino kesal.
Sementara di ruang kerja Ayu
menatap sedih ke arah Bian.
"ck..ck.. kasihan banget Pak Bian.
ganteng ganteng jadi sad boy."
gumam nya.
BRRRAK!!!
Rey membanting beberapa Map
ke meja hingga membuat tubuh Ayu
hampir lompat.
"ssshh!!! bikin kaget aja!"
Ayu mengelus dada nya.
"ada lalat tadi.. berisik.."
sahut Rey santai.
...~~~~...
Sesampai nya di rumah sakit, Dika
menyuruh Gaby masuk duluan
sementara ia mencari tempat parkir.
Karena Mei akan di rawat, Gaby pun
mendaftarkan ulang Mei dengan diri
nya sebagai wali.
"mari saya antar ke ruang rawat inap,
setelah itu kita akan urus administrasi nya."
ajak salah satu suster.
...-...
...-...
Setengah jam kemudian, barulah Dika
masuk menyusul mereka.
"ayo kita pulang.."
ajak Dika.
"bentar lagi ya kak.."
"pulang aja By, aku nggak apa apa kok."
ujar Mei tak enak.
"sebentar lagi.. seenggak nya sampai
suster datang untuk membersihkan
luka mu."
Melihat kebaikan Gaby, Dika jadi tersentuh.
sebenar nya ini bukan kali pertama
Dika terkesima oleh ketulusan Gaby.
namun ia selalu menepis nya karena
sudah berjanji menjaga hati nya
untuk cinta masa kecil nya.
Setelah suster datang, mereka pun keluar.
"mampir ke admistrasi dulu ya kak.."
"mm.."
Dika mengangguk saja.
"atas nama nona Dita ya.."
ujar resepsionis.
Dika langsung mengangkat kepala nya.
...*******...