Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 123: Malam minggu


Di halaman rumah, Rianti dan Fani sedang menyirami bunga bunga kesayangan nya.


mertua dan menantu itu mempunyai hobi yang sama yaitu senang dengan bunga.


matahari sore memancarkan bayangan yang jelas dan membuat suasana semakin hangat.


"nyonya... ada telepon penting.." seru bibik art dari depan pintu.


"oh.. iya bik..


mama masuk dulu ya.." ia meletakkan selang nya lalu masuk ke rumah.


Tak lama berselang Rianti masuk ke rumah, satpam datang dengan membawa beberapa kotak


belanjaan online Fani.


"Bu, mau saya yang tanda tangan?"


tanya satpam itu.


"saya aja pak, taruh di kamar saya aja ya paket nya"


"baik Bu.."


Fani pun menuju gerbang untuk menemui kurir nya. tapi tubuh nya langsung bergetar kala melihat kurir itu adalah ayah kandung nya.


mata nya mulai berkaca kaca memandangi pria paruh baya itu dengan pakaian lusuh dan wajah renta nya.


"ayah..." batin nya lirih, air bening mulai memenuhi ujung kelopak mata nya.


"tanda tangan di sini buk.."


Rudi menyodorkan kertas nya.


Dengan tangan bergetar ia mengambil bolpoin yang di berikan ayah nya, dengan sengaja ia menyentuh tangan rentah yang lama ia rindukan itu. tangan nya sampai bergetar saat menyentuh kulit keriput ayah nya.


"terimakasih ya ibuk..."


Rudi segera berbalik badan beranjak dari sana.


ingin rasa nya Fani memanggil pria itu, ingin memeluknya, ingin merebahkan kepala di pundak nya. kenangan bermanja masa kecil nya terlintas keseluruhan di otak nya. air mata pun tak dapat di bendung, ia menangis sesenggukan memandangi punggung ayah yang lama ia rindukan itu.


Dari arah depan, Dimas yang baru pulang kerja langsung turun dari mobil nya dan menghentikan langkah sang ayah mertua.


"sebentar Pak.." ujar nya memegang lengan Rudi.


ia memandang ke arah Fani seakan bertanya haruskah ku katakan kebenaran nya?


Fani menggelengkan kepala nya sambil terus menangis terisak, kenangan pahit yang ia dapatkan bersama sang ibu seakan meruntuhkan rindu yang menggunung selama bertahun tahun. rasa rindu itu beradu dengan kebencian yang amat besar.


"ohh.. Bapak?" Rudi teringat kalau Dimas adalah orang yang membantu nya saat di peras di halaman kantor pengadilan.


Dimas tak mendengarkan Rudi, ia bertanya sekali lagi melalui sorot mata nya. namun Fani tetap menggelengkan kepala nya. belum siap rasa nya ia menerima sang ayah yang sudah memberikan derita yang amat pahit pada adik adik dan mendiang ibu nya.


"ada apa pak?" tanya Rudi.


Dimas mengerti maksut Fani, mungkin jika ia di posisi nya pun juga perlu waktu untuk menyiapkan diri dan pikiran untuk menerima ayah nya kembali.


"eh.. saya hanya ingin menyapa, bapak ingat saya kan? bagaimana kabar bapak?"


"ingat pak.. tentu saja ingat..


maaf karena saya belum menepati janji untuk mencicil uang bapak, tapi saya selalu ingat dengan bapak. dan secepat mungkin saya akan mengembalikan uang bapak"


"tidak usah di pikirkan pak, saya ikhlas menolong bapak. tapi kalau boleh saya ingin meminta nomor bapak" ujar Dimas.


Rudi pun memberikan kartu nama nya lalu berpamitan karena masih banyak barang yang harus ia kirim.


Lalu Dimas menghampiri Fani yang dan memeluknya.


"sayang..? kamu nggak apa apa hm..?"


"hiks...hiks... " Fani malah menangis semakin keras.


"tenang lah sayang.. jangan menangis, nanti dimdim kita ikutan sedih" Dimas membelai lembut pucuk kepala sang istri.


"loh.. kenapa nak? Dimas? kenapa?"


Rianti langsung berlari dari dalam rumah karena mendengar tangisan Fani.


"ini.. anu ma.." Dimas bingung harus menjawab apa.


"Mas Dimas ngeledekin Fani ma, kata nya Fani gendut.." ia langsung masuk kedalam rumah, agar bisa melepaskan tangis nya lebih leluasa.


"kamu ini Dimas, Dimas.. bujuk sana nanti cucu mama kenapa kenapa mama botakin kamu"


"lahh.. kok? hhhfff....."


...~~~~...


Malam minggu kali ini, Dimas mengundang teman teman lama nya main ke rumah sambil membakar jagung dan ayam. di dasana sudah ada Mila,Fani dan istri istri teman nya Dimas yang sedang asik mengobrol bersama Duma dan Rianti.


Sedangkan Riko,Dimas dan yang lain nya tengah menunggu panggangan nya.


Dimas tampak asik membahas bisnis bersama sahabat karib nya yang tak lain abang kandung Riko, nama nya Sandy, ia sudah memiliki 1 anak berusia 8 tahun dan satu nya lagi masih 5 bulan di perut istri nya.


Sementara Vino memainkan gitar dan bernyanyi dengan teman teman bujangan lain nya.


jreng..jrengg..jrengg..jreng...(suara gitar)


"begini nasib.. jadi bujangan


kemana pergi.. asalkan senang


tiada orang yang melarang..


hati senang walaupun tak punya uang.."


"Bohooong..!" (pakai nada lagu nya)


Celetuk Nurul yang menyuguhkan minuman dingin kepada mereka, ia menatap sinis ke arah Vino dengan alis naik sebelah.


"hidup senang kalau punya pacar cantik


oooyyyyy...." lanjut Vino sambil menampol rambut Nurul yang menjuntai.


"hahahhhahaha... gawat kamu Vin.


anak kecil di goda godain, btw siapa?"


teman teman nya merasa penasaran.


"kasih nomor handphone ku lah sama dia,


aku siap nunggu sampai matang hahaha..."


"ops.. yang itu sudah aku booking untuk jadi bunda nya anak anakku... hahahaha"


sahut Vino dengan suara lantang hingga membuat Nurul semakin sinis.


Dimas yang mendengar itu langsung melemparkan kulit jagung ke arah Vino, nyangkut lah rambut jagung yang pirang itu di kepala Vino.


"sadar woy.. udah tua kamu. nggak pantes buat dia yang masih muda"


"Fani.. lihat tuh, ada pedofil ngatain kawanan nya" ledek Vino tak terima. gelak tawa nya pun pecah. Fani hanya tertawa dari kejauhan melihat ekpresi Dimas.


Karena melihat Nurul sangat cuek, Vino berniat menjahili nya. selesai membagikan minuman dingin, Nurul kembali ke dapur untuk membantu bibik bibik nya menyiapkan piring. namun saat melewati Vino ia malah di jegal oleh Vino hingga hampir terjungkal. niat Vino sih agar Nurul jatuh kepada nya, eh tapi nasib nya kurang mujur karena Bian lebih dulu menangkap nya.


"waduh.. nggak apa apa dek?"


"makasih pak, nggak apa apa kok"


senyum Nurul mengembang manis kepada Bian.


"siapa yang ngundang kamu?"


Vino mulai sewot.


"Pak Dimas.." jawab Bian datar.


"Nur kebelakang dulu ya pak.." pamit nya kepada Bian.


"ia dek.. hati hati awas jatuh lagi.."


"Hai bro.. wahh ternyata kau kenal Dimas juga?"


sapa Sandy abang nya Riko.


"hahahha.. iya nih, baru kenal sih"


sahut Bian, mereka juga merupakan teman akrab dari mulai kuliah dulu. namun kedua nya jarang bertemu karena di sibukkan dengan pekerjaan.


terakhir mereka ketemu saat nikah nya Riko dan Mila.


"chh.. dia benar benar mengingkari janji nya"


gumam Vino, ia meletakkan gitar nya lalu menyusul Nurul kebelakang.


Duma dan Rianti memandangi Vino sambul tersenyum geli, bisa bisa nya ia mengganggu Nurul dengan kata pacaran.


...*******...