
Setelah menutup telpon nya dengan Sean, raut wajah Zey langsung berubah menjadi kesal.
"bedebah sialan itu terus saja memperalatku"
rutuk nya kesal.
"kalau bukan karena ketenaran aku tidak akan mau menuruti kata kata mu. sialan!" tambah nya lagi sambil berjalan cepat.
Zey tau betul kalau ia sedang di peralat oleh Sean, tapi dia belum mengetahui bahwa Sean akan menjadikan nya umpan untuk kehancuran Dimas.
jika dia menolak permintaan Sean,ia akan di keluarkan dari agensi secara tidak hormat. di tambah Sean pasti akan membuat artikel buruk tentang nya agar dia tidak bisa di terima agensi manapun.
Sambil mengantarkan Zey ke hotel,Sean membahas niat busuk nya.
"apa kau ingat Dimas?"
"Dimas yang mana?" jawab Zey dengan wajah malas.
Sean: "Adimas bramasta. cinta pertama mu saat masih kuliah."
Zey: "ntah lah.. banyak laki laki dengan nama itu jadi aku tidak terlalu ingat"
"bukan nya kau bilang belum bisa move on sampai sekarang?" Sean tampak terkejut melihat reaksi Zey yang biasa saja.
"kapan aku bilang begitu?"
Zey terlihat bingung.
"Kau yang bilang waktu itu bahwa kau belum bisa move on dari Dimas." Sean semakin bingung dengan ekspresi datar nya Zey.
"Bapak dengar tadi? aku bilang banyak laki laki di masa lalu ku yang bernama Dimas. dan ya aku bilang belum bisa move on karena dari 99% mantan ku hampir setengah nya bernama Dimas.tentu saja aku tidak bisa lupa dengan nama itu, yang bapak tanya sekarang Dimas yang mana?" Zey membombardir Sean dengan ocehan nya bak seorang Rapper.
Sementara wajah Sean kaku seketika mendengar penuturan Zey.
"hiishhhh... aku tak percaya akan menjadikan manusia basi ini sebagai umpan."
batin Sean sambil mengusap wajah nya yang terasa kaku.
"Sebenar nya apa tujuan bapak membawa saya kesini? kenapa malah membahas hal yang tidak penting." ujar Zey sambil terus menepukkan cusion di wajah nya. namun hati nya terus merutuki bahkan mengumpat Sean dengan kata kata kasar.
"baiklah... aku akan menjelaskan tugas mu, anggap saja sekarang kau sedang bermain drama." Sean pun menjelaskan rencana nya kepasa Zey,dan mau tak mau Zey harus menuruti apa yang di perintahkan.
Sean juga memberikan foto Dimas kepada Zey agar dia bisa menjalakan remcana nya dengan mudah.
...~~~~...
"Sayang ..." panggil Dimas yang baru saja pulang dari kantor.
biasa nya Fani selalu ada di ruangan depan saat Dimas pulang kerja,namun kali ini Dimas tak melihat nya disana.
Dimas memeriksa ke kamar dan ternyata Fani sedang tertidur pulas.ia berjalan perlahan menghampiri Fani lalu duduk di sebelah ranjang.
"hhh... wajah mu benar benar indah.."
gumam Dimas sambil mengelus lembut pipi Fani.
"kamu tau? saat kita pertama ketemu,waktu itu kamu masih berumur 10 tahun. jantung ku berdebar kencang saat itu,aku pikir karena aku menabrak mu.
tapi kemudian kita sering bertemu,dan jantung ku masih terus berdebar. ntah kenapa dada ku sesak mendengarmu memanggil ku om. aku sangat bodoh bukan? memang nya apa yang ku harap kan dari anak kecil seperti mu. hahahha.... tapi aku nggak nyangka bakalan jatuh cinta bahkan setelah kamu dewasa.
ssshhhhhh.. kalau tau aku akan menikah dengan mu,pasti aku nggak bakalan nikah dengan 2 wanita itu dan membuang waktu ku dengan mereka." ntah apa yang membuat Dimas meracau tidak jelas begitu. ia senyum senyum sendiri mengingat betapa konyol perjalanan cinta nya. jauh jauh dia ke luar Negeri ternyata Cinta nya tetap pulang ke dalam Negeri.
"Mas kenapa?" tanya Fani terheran,ia terbangun karena mendengar ocehan Dimas.
"Mas cinta sama kamu..." Dimas menatap Fani dengan mata sendu nya.
"Mas mandi gih... bauk keringet"
Fani menutupi hidung nya yang merasa tertusuk oleh bau badan Dimas.
"hah...?" Dimas terheran sebab baru kali ini Fani mengeluh soal bau keringat. kita semua tau bahwa tidak mungkin seorang Adimas yang selalu di balut parfum harum dan mewah bisa memiliki bau keringat yang tak sedap.
"i..ya udah Mas mandi dulu deh.. kamu nggak ikut??"
"Fani udah mandi Mas.."
ucap Fani dengan suara bindeng karena hidung nya ia tutup serapat mungkin.
"hhh... baru kali ini ada yang mengatakan keringat ku bau. ntah kenapa harga diri ku seperti tercoreng mendengar itu." batin Dimas sambil tersenyum kecut. menyebalkan rasa nya ada yang mengatakan itu,tapi ntah kenapa ia juga senang karena yang mengatakan itu Fani.
...~~~~...
Zey datang ke perusahaan Dimas, tampak Dimas dan Vino baru saja turun dari mobil dan hendak masuk.
Zey langsung terpesona dengan ketampanan laki laki itu.
"astaga.. dia tampan sekali,,, tapi aku seperti pernah melihat nya di mana ya.." gumam Zey sambil terperangah akan ketampanan Vino.
mata nya langsung tertuju kepada Vino dan ia tak henti henti nya berdecak kagum akan aura dan kharisma Vino. ya,Vino bukan Dimas.
"oh.. dia laki laki yang Sean bilang. kenapa aku harus mendekati nya,dia sama sekali bukan tipe ku." ujar Zey sambil memandangi Dimas dari kejauhan.
"ssshhhh.. aku akan sangat senang jika harus mendekati yang satu nya. wahhh dia bahkan tersenyum kepada semua orang." tak henti henti nya Zey memuji Vino.
Tiba tiba mata Zey tertuju pada cincin di jari manis Dimas, ia langsung bisa menebak kalau Dimas sudah menikah.
"apaa?!!! Sean menyuruh ku untuk mendekati pria yang sudah menikah?? aishhh dasar baj*ngan!!!"
rutuk Zey kesal. ia tak menyangka kalau Sean menyuruh nya untuk merusak rumah tangga orang.
...~~~~...
Sementara itu di rumah Fani yang sedang menyirami bunga nya di kejutkan oleh Sean yang ntah datang dari mana.
"hai.. Selamat pagi." sapa Sean sok ramah.
"Suami saya lagi nggak di rumah"
jawab Fani datar dan jutek.
"ah, benarkah?"
Sean menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Fani langsung masuk meninggalkan Sean tanpa menoleh ke arah nya sedikit pun.
lalu ia berpesan kepada penjaga agar lain kali tidak membiarkan nya masuk.
"pak.. besok dia jangan boleh kesini lagi ya.."
"Maaf karena saya membiarkan nya nyonya,soal nya dia bilang teman nya pak Dimas. lain kali saya akan mencegah nya masuk." ujar penjaga bertubuh kekar itu,ia terlihat sungkan karena sudah membuat Fani merasa tak nyaman.
Fani pun masuk ke rumah dengan wajah kesal,tiba tiba ia merasa tubuh nya melayang dan kepala nya pusing.
"aawwhh.. kepala ku kok pusing ya"
ujar nya meringis kesakitan,ia memutuskan untuk berbaring di sofa sejenak karena ia merasa tubuh nya lemas seketika.
...*********...