
"nggak bisa di undur gitu UTS nya?"
tanya Vino lagi. kusut mengkerut,
begitu lah ekspresi Vino saat itu.
"ya.. nggak bisa lah, Mas.."
lagi lagi masih terasa canggung lidah
Nurul menyebut Mas.
"aaaaahh....😩
saya nggak mau mundur pokok nya..
lagi pula kan itu tanggal ulang tahun El.
nggak mau pokok nya nggak mau.."
rengek nya sambil menghentakkan
kaki di lantai persis anak bayi yang
nggak dapat uang jajan.
"ya.. gimana ya..Mas..
Nur juga mau nya.."
Belum selesai Nurul bicara Vino
sudah memotong lagi.
"yakan.. kamu juga nggak mau kan?
aahhh sayanggg...
saya sudah mikir loh padahal
variasi gaya apa saja nanti nya."
plokk..
Nurul menepuk bibir Vino.
"isshh.. gaya mulu yang di pikirin."
"ya emang tujuan kita menikah untuk
itu kan? ya kan?"
"ck... entah lah..
kita susun rencana lagi kalau
sudah di rumah.."
dengus Nurul lesu.
"pokok nya saya nggak mau di undur.
masalah nya UTS kan nggak cuma sehari.
pokok nya nggak mau..."
Vino merengut kesal sambil membawa
koper dan tas nya.
"iya mau gimana...."
"nggak mau pokok nya.."
"tapi kan.."
"nggak mau.. titik."
tegas Vino yakin.
"apasih debat terus kalian berdua?"
tanya Duma terheran.
"maaa... tanggal pernikahan nya
bentrok sama UTS nya Ran.."
"loh.. bukan nya dua minggu
setelah tanggal pernikahan?"
Duma ikutan bingung.
"nah itu dia tante..
ada perubahan mendadak dari
kampus nya. jadi Nur juga bingung.."
"iya ya... mana semua udah Deal
tanggal segitu lagi.."
dari mulai WO, katering, undangan
bahkan dokumen juga sudah di tetapkan
tanggal segitu. akan butuh usaha dan
waktu yang extra untuk mengubah
semua itu.
"UTS kan sebentar..
lagi pula dia kelas pagi."
celetuk Rey sambil berjalan lurus
melewati mereka.
Duma kurang setuju dengan itu
membayangkan akan sangat melelahkan
untuk Nurul.
"capek dong nanti Nur nya,
habis UTS langsung resepsi."
"aaughhh...
entah lah, kita bahas aja nanti di rumah..
yang penting kita selamat dulu sampai
rumah. baru kita bahas.."
ucap Nurul frustasi.
"nah iya bener.. yuk.. "
imbuh Duma setuju.
...-...
...-...
"minum, Mas.. biar nggak ngantuk."
Nurul menawarkan kopi pada Vino.
Namun Vino malah melamun sambil
menatap ke luar kaca pesawat yang
masih bertengger di bandara tersebut.
"bunda.. kamu tau nggak sih berapa
lama saya menahan nya?
bertahun tahun loh..
dan sekarang harus mundur rasa nya
tuh nyesek banget...
saya takut di rentan waktu itu ada
sesuatu yang akan memisahkan kita
seperti di film film.😟"
"ihh.. ya nggak mungkin lah, Mas.."
nggak mungkin terjadi hal aneh,
nggak mungkin pula untuk mengundur
pernikahan mereka.
"usulan Rey tadi ada bener nya sih..
tapi kasian kamu, pagi UTS, sore resepsi,
eh malem nya lembur..
kan nggak lucu kalau kamu merangkak
ntar ke kampus."
"ya kalau gitu malem nya nggak usah
lembur, Mas.."
"yaa....☹️ iya deh tidak apa apa..
tapi kamu emang nya sanggup
begitu? jadwal nya bentrokan?"
"ya berat sih.. pengen nya Nur tuh
bener bener jadi ratu sehari, tanpa
gangguan apalagi UTS.
ihhh... ngeselin ahh..."
"kalau bolos aja gimana?"
tawaran Vino sungguh menyesatkan.
"nilai Nur bisa anjlok ntar pak..
kalau Nur kaya kak Dika mungkin
nggak apa apa, bolos UTS nggak masalah.
lah Nur kan nggak pinter pinter amat.."
"ya udah sih, nggak apa apa anjlok..
nggak akan berpengaruh juga sama
masa depan kamu.."
Ujar Vino enteng.
"ya iya tau.. cuma kan ya percuma.
bertahun tahun Nur berusaha,belajar.
terus anjlok kan nggak etis gitu.
sia sia Nur ngejar nilai selama ini."
"ya sudah gampang lah..
kalau mundur ya mundur lah.."
ujar Vino putus asa.
"hhhfffff....."
Nurul menarik nafas berat sambil
bersandar di bahu Vino.
"hhhhffff...."
Vino pun ikut ikutan menghela nafas
sambil merebahkan kepala nya
di atas kepala Nurul.
"Bunda..? sama Ayah mabuk juga?"
tanya El saat memperhatikan mimik
wajah Ayah Bunda nya.
El langsung saja mendusel di tengah tengah
mereka sambil tersenyum kecil.
rasa hangat dari tubuh Ayah dan Bunda nya
menjadi tempat favorit tersendiri bagi El.
🐈🐈
Sementara itu, sebelum ke depan
Rey melirik ke arah Ayu yang sudah
hampir tewas sejak mesin pesawat
di nyalakan.
"mabuk lagi?"
Ayu hanya melirik dan mengangkat
alis nya.
"tante.. dia saya ajak ke kokpit aja
gimana? kasihan.."
pinta Rey pada Rianti.
Karena biasa nya kan gejala mabuk
akan berkurang saat mata mengirim
sinyal kalau tubuh memang sedang
bergerak, dengan melihat rute di atas awan
langsung dari bagian kokpit (flihgt deck).
"ohh.. boleh kalau kamu mau."
Rianti dengan senang hati kalau
bisa mengurangi penderitaan si bontot.
Di tuntun mama nya, Ayu berjalan
pelan menuju Kokpit.
ia duduk di tengah tengah Pilot dan Rey,
agak mundur dikit sih.
"pastikan jangan menyentuh apapun."
tegas Rey.
"mm"
Ayu mengangguk pelan.
One...two.. three...
wwwwwzzzzzzzzzzz🛫🛫🛫
pesawat mulai berjalan cepat menyusuri
landasan. ajaib nya Ayu tidak muntah
seperti saat duduk di bagian belakang.
nggak mabuk sih iya, tapi dag dig dug serr
nya juga kenceng banget terasa sampai
ke perut karena melihat langsung
seberapa kencang pesawat itu melaju.
...~~~~...
Di rumah sakit...
Jam istirahat makan siang tiba,
seperti biasa, Dika yang menuju ke kantin
menjadi sorotan kaum hawa karena
ketampanan nya.
"Pak... boleh saya duduk di sini?"
tanya salah satu dokter yang juga
penggemar nya.
"tidak.."
sahut Dika datar seperti biasa.
"mm.. kalau begitu, boleh minta no..."
"maaf saya sudah menikah."
"benarkah?💔😦"
Dokter wanita itu langsung pergi
sambil menyusun kembali hati nya
yang remuk karena penolakan Dika.
"wahh.. cara mu menolak sangat intens."
ucap Bian sambil membawa piring makan
siang nya. ia mengambil kursi lalu duduk
di hadapan Dika.
Seketika suasana kantin langsung dingin
karena dua manusia kulkas bersatu.
semakin susah di gapai kalau begitu
tatanan circle nya.
"kapan pernikahan nya?"
tanya Bian.
"17 hari lagi..
kalau belum move on mendingan
jangan datang.."
ledek Dika sambil tersenyum kecil.
"ck.. saya menanyakan pernikahan mu.
kamu bilang sudah menikah tadi kan?"
padahal memang mau nanya sang mantan.
"oohh.. kirain..
Bapak cari lah pendamping untuk datang
ke pernikahan Nurul, agar tak kelihatan
menyedihkan."
walaupun senior sekaligus Dosen nya,
hubungan Dika terhadap Bian tak
kaku kaku amat lah, karena hampir
menjadi calon ipar sebelum negara api
menyerang.
"ayo, aku bersedia menemani mu.."
imbuh Viona yang juga hendak bergabung
makan siang.
"nah, ide bagus tuh.."
ucap Dika.
"aku takut tak bisa mengendalikan
diri nanti di sana haha..."
tawa Bian terlihat sangat terpaksa.
"memang nya apa yang akan kau
lakukan? menangis? hahaha..."
ledek Viona.
"menculik nya mungkin."
sahut Bian sambil tersenyum smirk.
...*********...