Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 50: Bingung


"nggak bisa di undur gitu UTS nya?"


tanya Vino lagi. kusut mengkerut,


begitu lah ekspresi Vino saat itu.


"ya.. nggak bisa lah, Mas.."


lagi lagi masih terasa canggung lidah


Nurul menyebut Mas.


"aaaaahh....😩


saya nggak mau mundur pokok nya..


lagi pula kan itu tanggal ulang tahun El.


nggak mau pokok nya nggak mau.."


rengek nya sambil menghentakkan


kaki di lantai persis anak bayi yang


nggak dapat uang jajan.


"ya.. gimana ya..Mas..


Nur juga mau nya.."


Belum selesai Nurul bicara Vino


sudah memotong lagi.


"yakan.. kamu juga nggak mau kan?


aahhh sayanggg...


saya sudah mikir loh padahal


variasi gaya apa saja nanti nya."


plokk..


Nurul menepuk bibir Vino.


"isshh.. gaya mulu yang di pikirin."


"ya emang tujuan kita menikah untuk


itu kan? ya kan?"


"ck... entah lah..


kita susun rencana lagi kalau


sudah di rumah.."


dengus Nurul lesu.


"pokok nya saya nggak mau di undur.


masalah nya UTS kan nggak cuma sehari.


pokok nya nggak mau..."


Vino merengut kesal sambil membawa


koper dan tas nya.


"iya mau gimana...."


"nggak mau pokok nya.."


"tapi kan.."


"nggak mau.. titik."


tegas Vino yakin.


"apasih debat terus kalian berdua?"


tanya Duma terheran.


"maaa... tanggal pernikahan nya


bentrok sama UTS nya Ran.."


"loh.. bukan nya dua minggu


setelah tanggal pernikahan?"


Duma ikutan bingung.


"nah itu dia tante..


ada perubahan mendadak dari


kampus nya. jadi Nur juga bingung.."


"iya ya... mana semua udah Deal


tanggal segitu lagi.."


dari mulai WO, katering, undangan


bahkan dokumen juga sudah di tetapkan


tanggal segitu. akan butuh usaha dan


waktu yang extra untuk mengubah


semua itu.


"UTS kan sebentar..


lagi pula dia kelas pagi."


celetuk Rey sambil berjalan lurus


melewati mereka.


Duma kurang setuju dengan itu


membayangkan akan sangat melelahkan


untuk Nurul.


"capek dong nanti Nur nya,


habis UTS langsung resepsi."


"aaughhh...


entah lah, kita bahas aja nanti di rumah..


yang penting kita selamat dulu sampai


rumah. baru kita bahas.."


ucap Nurul frustasi.


"nah iya bener.. yuk.. "


imbuh Duma setuju.


...-...


...-...


"minum, Mas.. biar nggak ngantuk."


Nurul menawarkan kopi pada Vino.


Namun Vino malah melamun sambil


menatap ke luar kaca pesawat yang


masih bertengger di bandara tersebut.


"bunda.. kamu tau nggak sih berapa


lama saya menahan nya?


bertahun tahun loh..


dan sekarang harus mundur rasa nya


tuh nyesek banget...


saya takut di rentan waktu itu ada


sesuatu yang akan memisahkan kita


seperti di film film.😟"


"ihh.. ya nggak mungkin lah, Mas.."


nggak mungkin terjadi hal aneh,


nggak mungkin pula untuk mengundur


pernikahan mereka.


"usulan Rey tadi ada bener nya sih..


tapi kasian kamu, pagi UTS, sore resepsi,


eh malem nya lembur..


kan nggak lucu kalau kamu merangkak


ntar ke kampus."


"ya kalau gitu malem nya nggak usah


lembur, Mas.."


"yaa....☹️ iya deh tidak apa apa..


tapi kamu emang nya sanggup


begitu? jadwal nya bentrokan?"


"ya berat sih.. pengen nya Nur tuh


bener bener jadi ratu sehari, tanpa


gangguan apalagi UTS.


ihhh... ngeselin ahh..."


"kalau bolos aja gimana?"


tawaran Vino sungguh menyesatkan.


"nilai Nur bisa anjlok ntar pak..


kalau Nur kaya kak Dika mungkin


nggak apa apa, bolos UTS nggak masalah.


lah Nur kan nggak pinter pinter amat.."


"ya udah sih, nggak apa apa anjlok..


nggak akan berpengaruh juga sama


masa depan kamu.."


Ujar Vino enteng.


"ya iya tau.. cuma kan ya percuma.


bertahun tahun Nur berusaha,belajar.


terus anjlok kan nggak etis gitu.


sia sia Nur ngejar nilai selama ini."


"ya sudah gampang lah..


kalau mundur ya mundur lah.."


ujar Vino putus asa.


"hhhfffff....."


Nurul menarik nafas berat sambil


bersandar di bahu Vino.


"hhhhffff...."


Vino pun ikut ikutan menghela nafas


sambil merebahkan kepala nya


di atas kepala Nurul.


"Bunda..? sama Ayah mabuk juga?"


tanya El saat memperhatikan mimik


wajah Ayah Bunda nya.


El langsung saja mendusel di tengah tengah


mereka sambil tersenyum kecil.


rasa hangat dari tubuh Ayah dan Bunda nya


menjadi tempat favorit tersendiri bagi El.


🐈🐈


Sementara itu, sebelum ke depan


Rey melirik ke arah Ayu yang sudah


hampir tewas sejak mesin pesawat


di nyalakan.


"mabuk lagi?"


Ayu hanya melirik dan mengangkat


alis nya.


"tante.. dia saya ajak ke kokpit aja


gimana? kasihan.."


pinta Rey pada Rianti.


Karena biasa nya kan gejala mabuk


akan berkurang saat mata mengirim


sinyal kalau tubuh memang sedang


bergerak, dengan melihat rute di atas awan


langsung dari bagian kokpit (flihgt deck).


"ohh.. boleh kalau kamu mau."


Rianti dengan senang hati kalau


bisa mengurangi penderitaan si bontot.


Di tuntun mama nya, Ayu berjalan


pelan menuju Kokpit.


ia duduk di tengah tengah Pilot dan Rey,


agak mundur dikit sih.


"pastikan jangan menyentuh apapun."


tegas Rey.


"mm"


Ayu mengangguk pelan.


One...two.. three...


wwwwwzzzzzzzzzzz🛫🛫🛫


pesawat mulai berjalan cepat menyusuri


landasan. ajaib nya Ayu tidak muntah


seperti saat duduk di bagian belakang.


nggak mabuk sih iya, tapi dag dig dug serr


nya juga kenceng banget terasa sampai


ke perut karena melihat langsung


seberapa kencang pesawat itu melaju.


...~~~~...


Di rumah sakit...


Jam istirahat makan siang tiba,


seperti biasa, Dika yang menuju ke kantin


menjadi sorotan kaum hawa karena


ketampanan nya.


"Pak... boleh saya duduk di sini?"


tanya salah satu dokter yang juga


penggemar nya.


"tidak.."


sahut Dika datar seperti biasa.


"mm.. kalau begitu, boleh minta no..."


"maaf saya sudah menikah."


"benarkah?💔😦"


Dokter wanita itu langsung pergi


sambil menyusun kembali hati nya


yang remuk karena penolakan Dika.


"wahh.. cara mu menolak sangat intens."


ucap Bian sambil membawa piring makan


siang nya. ia mengambil kursi lalu duduk


di hadapan Dika.


Seketika suasana kantin langsung dingin


karena dua manusia kulkas bersatu.


semakin susah di gapai kalau begitu


tatanan circle nya.


"kapan pernikahan nya?"


tanya Bian.


"17 hari lagi..


kalau belum move on mendingan


jangan datang.."


ledek Dika sambil tersenyum kecil.


"ck.. saya menanyakan pernikahan mu.


kamu bilang sudah menikah tadi kan?"


padahal memang mau nanya sang mantan.


"oohh.. kirain..


Bapak cari lah pendamping untuk datang


ke pernikahan Nurul, agar tak kelihatan


menyedihkan."


walaupun senior sekaligus Dosen nya,


hubungan Dika terhadap Bian tak


kaku kaku amat lah, karena hampir


menjadi calon ipar sebelum negara api


menyerang.


"ayo, aku bersedia menemani mu.."


imbuh Viona yang juga hendak bergabung


makan siang.


"nah, ide bagus tuh.."


ucap Dika.


"aku takut tak bisa mengendalikan


diri nanti di sana haha..."


tawa Bian terlihat sangat terpaksa.


"memang nya apa yang akan kau


lakukan? menangis? hahaha..."


ledek Viona.


"menculik nya mungkin."


sahut Bian sambil tersenyum smirk.


...*********...