
Malam ini keadaan Nita semakin drop, Fani sudah membujuk nya untuk kerumah sakit tetapi Nita bersikeras untuk di rumah saja.
"Bu.. ayo kita ke rumah sakit." ujar Fani lirih sambil membelai lembut tangan ibu nya.
"iya bu, panas badan ibu sudah tinggi banget ini." sambung Dika sembari mengeluarkan termometer dari balik baju Nita.
"Nggak usah nak, ibu udah mendingan kok."
"Kak, Dika mau pergi beli obat ibu dulu ya." Dika bergegas untuk ke apotek terdekat, walau ia seorang mahasiswa kedokteran, ia belum bisa melakukan banyak hal karena ini baru tahun pertamanya.
"Ada uang nya dek?"
"Ada kak, kakak jaga ibu bentar ya."
Dika segera bergegas keluar kamar.
Fani meneteskan air mata saat mengamati tubuh ibu nya yang terbaring tak berdaya.
"Maafin Fani ya bu, Fani belum bisa merawat ibu, bahagiain ibu."
batinnya sembari menggenggam tangan sang ibu, sambil terus meneteskan air mata.
"Nak, ibuk lapar."
Rintih Nita sambil meringis menahan sakit.
"Iya buk, Sebentar ya Fani ambilkan."
Fani segera keluar dari kamar menuju dapur, raut wajah nya kini sedikit tenang saat melihat ibu nya sudah mau makan.
Dika yang baru saja pulang dari apotek terkejut saat melihat ibunya kejang-kejang di atas tempat tidur. ia panik bukan kepalang sambil berteriak memanggil Fani.
" KAK..!" Teriaknya dari kamar depan.
Mendengar teriakan Dika, Fani dan ke dua adik nya yang sedang belajar pun segera berlarian menuju kamar.
"Ibuk..!" Teriak Fani tak kalah panik nya dari Dika.
Fani segera mengambil ponsel nya dan ia menelpon ambulance dari rumah sakit terdekat.
Sementara Dika terlihat sedang mengompres kepala Nita, ia berusaha sebisa nya untuk menurunkan panas tubuh ibunya sambil menunggu ambulance tiba.
" hhhuuuuuuuu kaakk... ibu kenapa kak?" Ayu menangis ketakutan sambil memeluk Nurul.
"Adek jangan nangis ya, ibu nggak kenapa-kenapa kok." Ucap Nurul menenangkan ayu sambil menahan air mata. Ia juga sebenarnya sangat ketakutan melihat ibu nya seperti itu, namun ia harus tetap terlihat tenang agar adik dan kakak-kakak nya tidak semakin panik.
10 menit kemudian.
Ambulance tiba, perawat dan juga supir segera masuk kerumah Fani. lalu mereka segera mengangkat tubuh Nita yang masih kejang.
Dika,Nurul dan ayu menangis sejadi-jadinya, mereka juga ikut kerumah sakit untuk menemani sang ibu.
"Kamu jaga adik adik ya. Kakak nanti nyusul." Pinta Fani sambil menangis terisak, lalu ia segera berlari meninggalkan mereka.
Belum sempat Dika bertanya kakak nya mau kemana, mobil sudah membunyikan sirine nya dan siap untuk berangkat.
Di tengah keramaian kota, Fani berlari sekuat tenaga sambil menangis tersedu-sedu. Ia bahkan tak menyadari kalau dirinya tidak memakai alas kaki. Sekarang ia hanya memikirkan untuk mencari Adimas, karena dia lah satu-satu nya orang yang bisa membantunya saat ini.
sssrrtttt!!!
Sebuah mobil mewah berwarna hitam mendadak berhenti, karena hampir saja menabrak Fani yang tengah berlari menyeberangi jalan.
Fani langsung terhenti. Antara panik memikirkan ibunya, dan terkejut karena hampir tertabrak, membuat kaki nya terasa lemas dan bergetar.
"Fani..? Kamu kenapa? " Tanya sang pemilik mobil tersebut, yang tak lain adalah Dimas. Ia sangat terkejut melihat orang yang hampir di tabrak nya itu ternyata Fani.
"hiks...hiks...om...๐ญ Tolongin ibu om, ibu di bawa kerumah sakit." Fani mendekat kearah Dimas sambil menangis terisak.
"hah..? Ya sudah sekarang kamu masuk, kita susul ibu kamu." Dimas juga terlihat panik, mereka pun segera menuju rumah sakit.
Di perjalanan Fani tak henti-henti nya menangis, sambil terus memanggil-manggil ibu nya.
...~...
"Wali nya ibu Nita?" Panggil seorang Dokter yang baru saja keluar dari UGD.
"Iyaa...." jawab mereka semua serentak.
sehingga membuat Dokter tersebut bingung.
"Bagaimana ibu saya Dokter?" Tanya Fani sambil menyeka air mata nya.
"Kondisi ibu Nita sudah stabil, namun masih membutuhkan istirahat total sedikit nya dua hari. Jadi saya sarankan ibu Nita di rawat dulu di sini agar proses pemulihan bisa berjalan cepat."
Fani terdiam saat mendengar penuturan dokter yang menyarankan untuk rawat inap.
"Tolong lakukan yang terbaik buat ibu kami dokter." tegas Dimas menyahut.
"Baiklah pak, mohon tunggu 30 menit lagi, agar ibu Nita benar-benar stabil. Baru akan kami pindahkan ke ruangan rawat inap." ujar Dokter itu, lalu ia beranjak dari sana.
Fani dan adik adik nya mulai bernafas lega, mereka saling berpelukan dan saling menyemangati satu sama lain.
Kekompakan mereka membuat Dimas terharu, hingga tak disadari ia meneteskan air mata.
"sshhh..." rintih Fani kesakitan saat berjalan kearah kursi. sepertinya ia baru menyadari kalau kaki nya lecet dan beberapa titik mengeluarkan darah karena terkelupas, mungkin karena ia berlari tanpa alas kaki tadi.
Dimas yang melihat Fani berjalan tertatih langsung menghampiri nya.
"Ayo kita obati." ucap Dimas.
"Kakak kenapa?" imbuh adik-adik nya, terlihat khawatir.
"Nggak usah om, cuma luka kecil doang.."
"Kakak nggak apa-apa kok, kalian nggak usah khawatir." Fani menahan rasa sakit dan perih di kaki nya, ia tidak ingin tambah merepotkan mereka lagi.
"Nanti infeksi kalau tidak diobati." Dimas menatap Fani dengan sangat lembut.
"Nener kata om Dimas kak, mendingan cepat diobati." sahut Dika, ia tidak ingin kakak nya kenapa-kenapa.
"Nggak usah lah dek, kakak nggak apa-apa kok beneran."
Melihat Fani menolak di obati, Dimas mengambil tindakan, tanpa basa-basi ia menggendong tubuh mungil Fani lalu membawanya ke ruangan lain untuk mendapatkan pengobatan.
"Om?! kita mau kemana?" Tanya Fani gelagapan, karena ia tak menyangka kalau Dimas bakal melakukan hal itu.
"Mengobati kakimu." jawab Dimas enteng.
"Turunin Fani om, Fani bisa jalan sendiri." Ia terlihat risih di perlakukan seperti itu.
"Sudah diam, makanya kamu jangan bandel kalau om bilangin."
Fani hanya bisa menelan ludahnya, sambil memandang ke arah Dimas dengan tatapan memelas, namun Dimas tak menggubris nya dan malah tersenyum hangat ke pada Fani, membuat jantung Fani terasa ingin melompat keluar karena terus berdegup kencang.
...**********...