Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 51 : Haruskah?


Hari ini Dimas sudah kembali aktif ke kantor nya seperti biasa,karena kondisi Fani sudah berangsur membaik.


"Pak.. hari ini kita ada meeting untuk program iklan Tower 4A yang akan rampung minggu depan." ujar Vino sembari menyerahkan data proyek mereka.


"Jam berapa?"


"15 menit lagi pak.." sahut Vino.


Dimas hanya menganggukkan kepala nya lalu menyuruh Vino menyiapkan semua keperluan meeting mereka.


Vino pun pergi ke bagian pemasaran,ia menemui manajer di sana dan meminta profil aktris yang akan bergabung dalam perusahaan mereka.


mata nya langsung terbelalak saat melihat nama Zey tertulis di sana.


"dia model yang akan bergabung?"


gumam Vino. ia langsung pergi dari ruangan manajer sambil mengeluarkan handphone nya untuk menelpon Zey.


"Zey.. kenapa kau menerima kontrak dari perusahaan kami? bukan kah kau berjanji tidak akan masuk ke dalam kehidupan Dimas?"


Vino dengan cepat bertanya ketika Zey menjawab telepon nya.


"Sean yang mengatur nya.. aku tidak bisa menolak. aku bahkan sangat berharap kau bisa mengeluarkan ku dari sana" sahut Zey putus asa dari seberang telepon.


Vino pun termenung,ia memikirkan bagaimana cara nya agar Zey tidak bergabung dengan perusahaan mereka.


dia tidak punya wewenang untuk mendepak Zey begitu saja,karena pihak agensi tidak akan tinggal diam.


"aku janji tidak akan merusak rencana awal kita.."


ujar Zey lagi, nada nya terdengar sangat frustasi.


lalu ia menutup telpon nya.


...~~~~...


Tiba lah saat rapat berasama para atasan beserta orang orang dari agensi. Zey dan Vino juga sudah ada di sana,mereka semua sudah siap untuk memulai rapat.


beberapa menit kemudian,Dimas memasuki ruang rapat sambil memberi salam ke semua orang yang ada di sana.


Rapat pun di mulai,mereka terlihat sangat kooperatif dan antusias membahas proyek kali ini.tentu saja,pilihan lokasi dan desain yang di buat Dimas tak pernah menggagalkan pemasaran.


setelah membahas bagian ini dan itu,tiba lah saat pihak agensi memperkenalkan Zey selaku model iklan ke pada Dimas.


"kami merasa sangat bangga bisa bekerjasama dengan perusahaan besar ini..." manajer Zey melirik ke arah nya mengisyaratkan agar Zey memperkenal kan diri.


Zey pun membuka mulut nya yang sedari tadi tertutup rapat.


"hallo semua,,selamat siang. saya Shu Zeyra."


Para karyawan di sana membalas sapaan Zey dengan senyuman ramah tamah terutama kaum lelaki.


Dimas yang sedari tadi tak memperhatikan orang sekitar seketika menggerakkan bola mata nya ke arah Zey saat mendengar suara nya.


"Shuzy??" ucap Dimas sambil terus memperhatilan Zey dari kejauhan.


ya.. tak salah lagi,Dimas mengenali Zey lalu tersenyum tipis.


Bukan...bukan karena Zey cantik, atau karena dia mantan pacar nya. tetapi 'Narkoba' itu yang terlintas di benak Dimas ketika melihat Zey.


dan ia tersenyum karena merasa bersyukur kehidupan Zey baik baik saja.


Pandangan Zey pun langsung berpendar kala mendengar sebutan Shuzy. yang mana hanya ada satu orang yang memanggil nya begitu,yaitu Dimas.


Seketika Zey mematung dan teringat akan sosok Dimas yang dulu selalu menerima nya kembali bahkan saat dia tahu kalau Zey memakai obat obatan haram. namun Zey malah menganggap Dimas terlalu ikut campur.


"ahh..Dimas yang itu ternyata.."


batin nya dengan tatapan kosong.


"Jangan coba coba berubah pikiran!!" bisik Vino dengan nada mengancam kepada Zey.


ia memperhatikan sikap Zey yang berbeda ketika Dimas mengatakan Shuzy.


Zey menganggukkan kepala nya pelan.


"ssit.. kenapa dia membuat jantung ku berdebar"


batin nya sembari mencuri curi pandang ke arah Vino yang terlalu dekat dengan nya tadi.


Andai Vino tau,bahwa keberadaan nya disana membuat Zey nyaman. apalagi saat Vino mengatakan bersedia membantu nya lepas dari cengkraman Sean. Zey benar benar semakin terpikat dengan Vino.


...~~~~...


Sementara itu di rumah Fani sedang berjalan jalan di sekitar rumah nya,ia merasa bosan karena seminggu lebih tidak menghirup udara segar di luar rumah.


"hh..apa dia pengangguran? ngapain dia jam segini malah keliaran bukan nya kerja."


rutuk Fani sebal sambil berjalan cepat meinggalkan Sean.


Beruntung dua orang penjaga segera menghampiri Fani,karena mereka ingat kalau Fani tidak suka bertemu dengan Sean.


"nyonya.. sebaik nya anda istirahat."


ujar salah satu penjaga kompleks itu sambil mengiri langkah Fani dari belakang.


"iyaa bapak benar.." sahut Fani sambil tersenyum.


"chhh...kenapa dia tidak bisa tersenyum dengan ku." gumam Sean kesal,ia merasa kalau Fani benar benar sulit untuk di racuni pikiran nya.


brukk.!!


Tak sengaja bik siti yang baru pulang belanja menyenggol Sean hingga membuat kantong belanjaan yang berisi buah buahan jebol dan buah nya berserakan.


"maaf tuan.. saya nggak sengaja." ujar bik Siti memelas.


Bukan nya membalas ucapan bik Siti,jiwa kepo nya Sean malah terusik dengan jumlah buah yang sangat banyak dan beragam yang di beli bik Siti.


"untuk apa buah sebanyak itu?"


"ohh.. ini non Fani lagi hamil muda dan lagi suka banget sama buah buahan." jawab bik Siti yang masih sibuk menata kembali buah itu ke kantong yang satu nya.


"apaa?!! hamil!!? sshh!!!" Sean menjadi panas saat mendengar kabar itu. tentu saja kebahagiaan Dimas akan semakin lengkap dengan kehamilan nya Fani.


dan sudah pasti jiwa iblis Sean semakin membara.


"Dimas.!! kenapa kau selalu bahagia setelah menghancurkan keluarga ku!!" gumam Sean sambil mengepalkan tangan nya.


mata nya memandang sinis ke arah rumah Dimas, seperti nya niat yang lebih jahat sedang di pikirkan oleh Sean.


"jika aku tidak bisa membuat mu menderita. maka akan ku buat anak mu merasakan penderitaan!!"


Senyum picik terbesit di bibir Sean. pikiran nya benar benar sudah tertutupi oleh kotoran akibat terlalu banyak menghisap barang haram.


ia pun kembali ke rumah nya dengan senyuman iblis nya.


...~~~~...


Kembali ke kantor..


Zey sedang duduk menyendiri di kamar rias nya, sedangkan para manajer dan yang lainnya sedang sibuk menyiapkan perlengkapan syuting iklan di luar.


ia meremas kuat telepon nya sambil meneteskan air mata,


ya. Sean baru saja menelpon nya dan memastikan kalau Zey harus berhasil mengacaukan Dimas.


Ia menangis karena merasa sangat hina jika harus mengacaukan lelaki yang sudah beristri.


walaupun ia bejat dan pernah tidur dengan banyak lelaki,tapi ia tidak pernah terpikirkan untuk menyakiti sesama wanita dengan kelakuan nya.


Ceklek.


Vino masuk dan ia melihat Zey yang sedang menghapus air mata nya. ia mendekati Zey perlahan dan mengamati wajah Zey yang benar benar sedang bersedih. Vino pun menjadi iba melihat nya.


"kenapa hm??"


tanya Vino lembut sambil duduk di atas meja rias Zey.


"aku tidak pernah memikirkan ini, tapi kali ini aku benar benar merasa sesak. apa aku menyerahkan diri saja ke kantor polisi agar bebas dari Sean.."


ucap Zey dengan suara gemetar menahan air mata.


Melihay Zey seperti itu hati Vino merasa sangat kasihan, jiwa pahlawan nya memberontak. ingin sekali dia memeluk Zey dan menenangkan nya karena Zey terlihat sangat rapuh saat itu.


"hei..dengarkan aku. jika kau ingin bebas maka kau harus menghentikan kebiasaan mu lebih dulu."


Vino mengisyaratkan tangan nya ke bibir, ya Vino menyarankan agar Zey berhenti memakai sabu.


"sisa nya aku akan membantu mu."


tambah nya lagi sambil menepuk pelan kepala Zey.


Zey yang memang dari awal sudah jatuh hati pada Vino pun semakin klepek klepek. perhatian Vino semakin membuat hati nya meleleh dan luluh lantak di buat nya.


"ayo keluar.. mereka semua sudah menunggu."Vino bangkit dari sana sambil menggandeng tangan Zey.


Yang publik tau Zey adalah seorang wanita yang sangat sempurna. namun ini lah sisi asli dari seorang Zey,nama nya bisa sebesar ini karena dia di bawah naungan Sean. jika tidak mungkin dua sudah mendekam di penjara dan bahkan menjadi sampah yang tidak berguna.


...*******...