Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 100: Nasi goreng


"ini,makan lah"


sepiring nasi goreng sederhana telah disajikan oleh Vino. walaupun bahan seadanya Jadilah untuk mengganjal perut Zey yang kelaparan.


Zey yang masih terisak perlahan menghentikan tangisnya .nasi goreng itu memang tidak semenarik kelihatannya tapi karena yang membuat Vino jadi nasi goreng itu terasa lebih spesial daripada kelihatannya.


Zey memasukkan suapan pertama nasi goreng itu ke mulut nya.


"bagaimana apakah rasanya enak?" tanya Vino.


Zayn menggelengkan kepalanya.


"tidak enak.." ucapnya


"itu karena bahannya terbatas kalau kau tidak suka tidak usah dimakan tidak apa-apa aku akan membelikanmu makanan lainnya" ujar Vino.


"tidak tidak apa-apa ini saja,


Kau sudah berusaha membuatkannya untukku, jadi aku akan memakannya" Zey tersenyum pada Vino,karena di buat oleh orang yang dia cintai jadi hambar nya nasi goreng itu tak terasa.


Tiba-tiba mata Vino terfokus kepada laptop Zey yang terbuka dengan video terjeda didalamnya "kau sedang menonton film?"


"Ah,tidak.."


Zey langsung menutup laptopnya.


"aku hanya mengedit video-video lama ku, mencerahkan warnanya untuk kenang kenangan.


ya kau tahu kan pekerjaanku sekarang bekerja di industri hiburan hanya tinggal kenangan bagi ku"


terang Zey sambil terus menikmati nasi goreng nya.


"lalu kau akan begini terus?"


tanya Vino.


"Ya...setidaknya aku akan menghabiskan uang ku dulu,lalu aku akan mencari pekerjaan.


mungkin aku akan pindah ke luar negeri atau ke pelosok hutan sekalipun di mana tidak ada orang yang mengenaliku"


tutur Zey dengan tatapan kosong,tampak nya ia sudah benar benar frustasi dengan keadaan ini.


Bukan nya fokus mendengarkan Zey, Vino malah ngelag karena di kepala Vino terus aja lewat bayang-bayang perbuatannya waktu itu dengan Zey.ia memberanikan diri membahas dan meluruskan itu agar Zey tak salah tanggap.


"begini aku ingin bicara tentang malam itu"


baru membuka tema nya Vini sudah gugup,bagaimana kalau Zey menuntut di nikahi?


"malam yang mana?"


"malam pindahan itu,


aku ingin meminta maaf karena melakukan itu denganmu" nafas Vino tak beraturan,ia membayangkan akan bagaimana reaksi Zey.


"apa kau menyesal melakukan itu dengan ku?"


Zey menatap Vino penuh harap.


"iya tentu saja aku menyesalinya.


kita melakukan itu padahal kita tidak ada hubungan apa-apa" sahut Vino tanpa rasa bersalah.


"maka itu Buatlah hubungan denganku"


ujarnya Zey memelas.


"tapi aku tidak bisa"


"Hahahaha....


sudahlah aku hanya bercanda lupakan saja.


walaupun kau tidak mencintaiku setidaknya kita pernah menghabiskan malam indah bersama"


Zey tak keberatan dengan itu,lagi pula ia sudah terbiasa melalukan nya,hanya saja kali ini berbeda karena Vino adalah orang yang dia cintai.


Zey tau Vino melakukan nya hanya karena *****,bukan Cinta. karena ia terus menyebut nama Ran waktu itu.


Seketika Vino pun menjadi canggung ia Sungguh tidak enak kepada Zey.


kesannya seperti memberi harapan palsu kepada Zey. tapi melihat Zey tidak mempermasalahkan nya Vino jadi lega,setidak nya tak ada yang mengganjal langkah nya untuk tetap maju mengejar Nurul.


...~~~~...


Sesudah dari rumah nya Zey,Vino kembali ke rumah sakit. ia membayangkan pasti Bian dan Nurul akan semakin akrab karena terus bersama sepanjang hari ini.


"loh..pak Vino balik lagi?"


Nurul terkejut saat melihat batang hidung Vino muncul lagi.


"iya saya dengar tante Rianti tidak bisa datang. Jadi dia saya disini untuk menemani kalian"


kalau soal beralasan memang Vino jago nya.


"nggak perlu pak,kita nggak papa kok."


ujar Nurul dan Dika.


"kamu sudah makan Ran?"


tanya Vino pada Nurul.


"sudah Pak..." Nurul mengangguk pelan.


"Ran??"


celetuk Bian terheran, karena Nurul tadi mengenalkan namanya sebagai Nurul, kenapa Vino memanggilnya Ran?


"ahh..itu panggilan spesial dariku untuk nya"


ucap Vino mantap,seketika ia merasa bangga karena bisa membuat Bian akan iri dengan itu.


Bian mengangguk pelan,raut wajah nya?ya biasa saja.


"saya mau ngecek pasian lain dulu ya..


kalau ada apa-apa panggil saja saya"


pamit nya kepada Fani dan Dika.


"dek?!!"


Vino hampir syok mendengar Bian memanggil Nurul adik. seketika ia merasa lebih tersaingi oleh Bian.


"kenapa dia panggil kamu adek?" Vino menatap heran kearah Nurul.


Nurul hanya mengangkat bahu nya sambil geleng kepala,ia pun tak tau kenapa Bian ikut ikut memanggil nya adik seperti Fani dan Dika.


Di ujung ruangan Dika tersenyum tipis melihat tingkah Vino yang kelihatan kesal pada Bian.


ia mulai mencurigai kalau sebenarnya Vino ada rasa pada Nurul. tapi ia segera menepis nya.


"ahh.. nggak mungkin.."


batin Dika.


...~~~~...


Orang tua Riko dan Mila berpamitan pulang.


orang tua Mila memberikan Mila rumah baru sebagai hadiah pernikahan. sementara orang tua Riko membelikan perabotan komplit sampai ke barang terkecil sekalipun.


mau tak mau Mila dan Riko pun pindah ke rumah baru mereka Namun karena masih lelah dan repot mengurusi pekerjaan mereka yang tertunda.


mereka mengundur hari untuk pindah rumah agar siuasi tidak merepotkan.


"haishhh...!aku tidak mengerti kenapa orang tua kita sangat antusias. untuk apa mereka membelikan kita rumah lagi?untuk apa juga mereka membelikan perabot dan segala macamnya? akan dikemanakan barang-barang kita di sini."


Mila terus saja mengomel tidak jelas,


ia merasa kedua orang tua mereka hanya membuang-buang uang dengan membelikan rumah dan perabotan baru.


padahal harapan Mila mereka tetap tinggal terpisah seperti sekarang ini.


"kita jual saja.." sahut Riko santai,seperti biasa Riko akan memilih jalan yang lurus dan gampang.


"apa kata mu?jual?


aku membeli semua ini dengan hasil kerja kerasku dan dengan mudah kau bilang jual?"


Mila tak setuju dengan saran yang diberikan Riko.


"lalu kau pikir aku membeli barang-barang ku dengan hasil mencuri?


aku juga membelinya dengan hasil kerja kerasku. sebagai anak yang baik kita harus menghargai pemberian orang tua" ujar Riko.


"tetap saja,seharusnya mereka tidak usah berlebihan" gerutu Mila.


perdebatan di antara mereka pun berlanjut.


mereka seperti sedang debat di persidangan karena terus saja menggunakan bahasa baku seperri atasan yang sedang ngomel pada bawahan nya.


"ahh...sudah pulang lah!


tidur di rumahmu sendiri sana, Jangan berharap tidur bersamaku lagi malam ini!"


Mila mendorong Riko keluar dari rumahnya.


"owhh begitu....


baiklah aku akan menelepon papa mertuaku dan mengatakan kalau aku diusir oleh anaknya"


Riko mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nomor papa nya Mila.


"hishhh!!! kau ini benar-benar!"


Mila langsung berbalik badan dan membiarkan Riko tetap di sana.


"tidak bolehkah aku tidur sekamar dengan istri ku? apa kau tidak ingin tidur dipeluk dengan laki-laki tampan sepertiku?" tingkat kepercayaan diri Riko kini naik 7 level kala berhasil menyadap Mila dengan ancaman akan menelpon papa nya.


"aku lebih bahagia jika orang sepertimu menjauh dari hidupku. jadi Jangan berpikiran untuk tidur lagi denganku malam ini...."


disaat Mila sedang ngomel-ngomel tak jelas, dengan santainya Riko masuk ke kamar Mila dan berbaring di atas kasur.


"hehh!! apa-apaan kau?! aku bilang jangan tidur di kasur!"


"kemarilah istriku.."


ajak Riko sambil menepuk-nepuk kasur agar Mila tidur di sebelah nya.


"jangan panggil aku istri mu!!"


Mila sudah mulai mengeluarkan tandung banteng nya. ia berlari sambil membawa raket nyamuk untuk memukul Riko yang sangat usil itu.


Tetapi karena tak melihat lihat jalan Mila malah tersandung karpet hingga membuat jidat nya kepentok pintu lumayan keras.


Riko langsung bangkit dari posisi nya dan menolong Mila.


"hei.. kau tidak apa apa?"


"mata mu buta?! aku kebentur pintu dan kau masih bertanya tidak apa apa? ya sakit lah!!"


Mila mengusap-usap jidat nya yang sedikit benjol itu.


"hahahaha.. maka nya sama suami jangan galak galak,kena karma nya kan"


Riko menertawakan Mila sembari mengelus jidat Mila dengan lembut.


"ya kalau suami nya modelan gini siapa yang tidak kesal? ngajak ribut mulu.."


gerutu Mila sambil meringis kesakitan.


"hahaha...harus ku ajak melakukan apa memang nya? ku ajak 'main' kau tidak mau" jawab Riko tertawa kecil.


"tuu.. otak mu lagi lagi isi nya begituan terus!


aku tidak mau 'main' dengan mu! aku tidak mau sampai punya anak dengan mu! lagian siapa suruh kau setuju waktu papa ku memaksa kita menikah!" saking semangat nya Mila bicara sampai muncrat muncrat kuah bakso dari mulut Mila.


"kalau aku memaksa bagaimana?"


lagi lagi Riko menggoda Mila,ia mendekat dan memojokkan tubuh Mila ke tembok.


tangan nya pun merayap ke leher Mila hingga membuat nya merinding.


...**********...