
Setelah Fani disembunyikan di bawah meja. Dimas berdiri di depan meja sambil berdeham, dan mengatur nafasnya yang tersengal karena tergesa-gesa.
"Masuk lah." Jawab Dimas tampak kaku.
"Ini beberapa rancangan terbaru untuk Tower A pak." Mila sambil menyerahkan tumpukan Map tersebut.
"Tapi bagian akhir rancangan belum selesai Pak. Saya sudah meminta Fani meninjau dokumennya, tapi sekarang dia sedang tidak ada di mejanya. " Tambahnya lagi sambil membatin, habislah ia kalau sampai Dimas meminta rancangan akhir itu sekarang.
"Tidak apa-apa, nanti suruh saja dia mengantar sisanya ke sini." Sahut Dimas sambil terus mengusap hidungnya, sungguh ia gugup kalau-kalau ratu gosip itu mengetahui Fani ada disana.
Setalah itu Mila beranjak, namun baru beberapa melangkah ia menangkap sesuatu yang aneh, yaitu dua mangkuk bubur di meja, didepan sofa.
"Bapak makan bubur 2 mangkuk?" Tanya Mila sambil menelisik sang Bos dengan tatapan menyipit. Kuat sekali instingnya sebagai ratu gosip.
"Saya sengaja membaginya, agar cepat dingin."
Mila hanya menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan langkah kaki keluar dari sana.
Dimas pun menarik nafas lega, sedari tadi nafas nya tak tentu arah, karena menahan rasa gugup. "Fani, keluar lah. Mila sudah pergi."
"huuuufftt..."
Fani mendengus panjang sambil merayap untuk duduk di kursinya Dimas, tubuhnya terasa lemas karena sedari dari jantungnya tidak berhenti berdetak kencang.
"Kenapa om nyuruh Fani ngumpet sih..?" ujar Fani sambil berusaha mengatur nafas nya.
"Kan bisa aja Fani bilang lagi nganter laporan atau apa gitu." imbuh nya lagi masih dengan nafas tersengal.
Dimas mendekat ke arah Fani yang masih terduduk lemas. "Habis kamu panik tadi, ya saya ikutan panik." lirihnya dengan tatapan dalam.
Dimas membungkukkan tubuhnya, sehingga posisi mereka menjadi lebih dekat, tangannya meraih kepala Fani dan merapikan rambut anak yang berantakan.
Fani seketika melebarkan mata bulatnya,
baru berusaha mengatur kembali nafas, kini Fani merasa tubuhnya bergetar lagi. Jantungnya kembali berdetak kencang seperti akan melompat.
Tatapan mereka terkunci satu sama lain, irama mafas yang berderu seolah mengantarkan debaran yang lebih laju.
Dimas memandangi wajah Fani dalam-dalam. Sementara tanpa disadari bibir Fani bergetar seperti orang yang sedang kedinginan. Giginya sampai beradu, menimbulkan bunyi halus.
Tiba-tiba...
Ceklek...!
Riko masuk dan memergoki mereka yang sedang saling memandang.
Fani dan Dimas reflek menoleh ke arah Riko berbarengan, lalu mereka kembali saling menatap namun kali ini dengan tatapan mata yang sama-sama panik. Seolah mereka baru tersadar, atas posisi dekat yang menimbulkan banyak arti itu.
Fani langsung bangkit dari duduk nya.
jduugg.!!
Karena saking terburu-buru, kepala Fani sampai membentur bibir Dimas lumayan keras.
"sshhh...uuuhhh." Rintih Dimas sambil memegangi bibirnya, terasa perih dan pecah, mungkin juga berdarah.
Fani segera pergi dari sana dengan wajah malu, bahkan ia tidak menghiraukan Dimas yang meringis kesakitan akibat ulahnya.
Sementara Riko menghampiri Dimas dan memandanginya dengan tatapan miris.
"ck..ck.ck.. bisa bisa nya kau meyaru anak di bawah umur."
"heii, jangan bicara sembarangan ya!" Tukas Dimas tak terima, karena di anggap begitu oleh Riko, ia juga merasa kesal pada Riko karena kedatangannya menganggu momen manis tadi, momen dimana ia sangat menikmati keindahan wajah Fani.
"Aku mengerti kau kesepian, tapi jangan dia juga kali. Dia masih sangat muda dan kau sudah TUA." Ledek Riko lagi sambil tertawa tipis, tatapannya benar-benar membuat harga diri Dimas merosot.
"hisssh..! Kau mau ku tendang hah?" Dimas membekap leher Riko dengan sikunya, hingga pria berwajah songong itu kesakitan.
"Sakit..!sakit..!" Riko memukul-mukul lengan Dimas agar dilepaskan.
Dimas pun melepaskan cengkramannya dari leher Riko. Lalu ia melempar tubuh pria itu. "Ada apa kau ke sini?"
"Klien kita dari luar Negeri ingin langsung bertemu dengan mu, pekan depan. Dan dia meminta kita membawakan contoh interior penthouse yang akan mereka pesan." Tutur Riko sambil menyerahkan proposal desainnya, dengan satu tangan memijat leher yang hampir terkilir oleh ulah Dimas.
Dimas menghela nafasnya. "ssh... baiklah, aku rasa kita akan sering lembur pekan ini."
"Manusia itu..!Seharusnya ku plintir saja lehernya tadi." Dimas menyeringai kesal sambil memandag kearah pintu.
"Jodoh kan nggak pandang umur." Gumam Dimas menyemangati diri nya sendiri.
...~~~~...
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19:00. Dimas tampak sedang duduk di dalam mobilnya yang masih terparkir, sembari menunggu Fani.
Mengetahui kalau Dimas sudah menunggu nya di mobil, Fani berpura-pura tidak melihat Dimas dan sengaja berjalan cepat agar Dimas tidak melihatnya.
🔊Tiinnn..
Dimas sengaja menekan pelan klakson nya, ia sengaja memberikan kode itu karena ia mengira Fani tidak mengetahui keberadaannya.
"haduh..! kok om Dimas nampak aku sihh.." Batin Fani, dengan terpaksa ia pun berbalik badan menuju ke mobil Dimas.
Fani mengepalkan erat tangannya, berusaha menetralkan wajah yang terasa tegang. Niat nya mau menghindari Dimas, tapi ternyata ia tidak sepintar itu.
"Sudah?" Tanya Dimas memastikan Fani untuk memasang sabuk pengaman.
"Udah om.." jawab Fani sambil mengangguk cepat.
Padahal ia belum memasang sabuknya, karena gugup, tangannya tidak kuat bahkan hanya untuk memasang sabuk pengaman. Kalau ia mengatakan belum pasti Dimas akan memasangkannya bukan? Itu lah yang di hindari Fani.
"Kita mampir ke apotik sebentar ya."
"Kenapa? om sakit lagi?" Fani menatap khawatir pria di sebelahnya itu.
"Mau beli salep buat ini." Jawab Dimas sambil menunjuk bibirnya yang sedikit luka gara-gara Fani tadi.
"Maaf ya om, tadi Fani kaget." Lirih Fani, dengan suara goyang, rasa nya untuk berbicara dengan Dimas pun dia tidak kuat karena teringat kejadian tadi siang.
Dimas mengangguk sambil tersenyum hangat kepada Fani. "Santai, cuma luka kecil ini."
Setelah membeli salepnya, Dimas masuk kembali ke dalam mobil. Tetapi ia tidak langsung mengemudi melainkan ingin mengoleskan salepnya terlebih dahulu, karena ia merasa sangat perih dan semakin lama semakin nyut-nyutan.
Dimas berusaha mengaca di ponsel nya,tetapi susah, lalu ia mencoba memakai kaca spion yang di dalam mobil, masih juga susah.
Fani yang melihat itu hanya Diam saja, walaupun ia sedikit geregetan melihat Dimas yang tidak bisa diam.
"Tolong Fani, kacanya tidak ada yang bisa membantu." Pinta Dimas dengan enteng lalu menyerahkan salep itu kepada Fani. Sekalian modus...
"hah? kok Fani?" Sontak ia terheran.
"Saya tidak tahan, perih banget soalnya. Sampai tidak bisa mmm... dari tadi." Ia mencoba mengatupkan bibirnya.
Dengan terpaksa, Fani mengoleskan salep itu dengan lembut ke bibir Dimas. Tak ada alat bantu disana, jadi ia menjulurkan tangannya sepanjang mungkin, agar wajah mereka tidak berdekatan lagi.
"shhh...." Rintih Dimas saat salep itu diusapkan.
"Sakit..?" Fani mengangkat jemarinya sejenak, lalu kembali mengoleskan lagi.
Seketika Dimas merasakan jantungnya berdebar kencang, saat jari telunjuk Fani menyentuh bibirnya.
Tanpa di duga, Dimas mengecup lembut jari telunjuk Fani. Entah apa yang sedang dipikirkan Dimas saat itu, sampai-sampai ia tidak bisa mengontrol dirinya.
Fani langsung menarik tangan nya, dengan kedua mata terbelalak. Ia mematung dengan kedua tangan dikepalkan. Hendak marah, namun seperti tertahan oleh tatapan sendu dari Dimas.
"Saya suka sama kamu." Ucap Dimas lirih.
deg..deg..
deg..deg..
deg..deg..
Fani tertegun, ia mematung seraya berusaha menyadarkan diri sendiri.
"Apa aku nggak salah dengar.." Batinnya dengan derap jantung yang tak terhitung kecepatannya.
...*********...