Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 104: Lift dan Vino


"Mas.. jus sirsak,es nya sedikit 1,jus naga 1"


ucap Nurul kepada penjaga kantin.


"jus naga??"


"eh buah naga maksut saya Mas.."


Nurul meralat ucapan nya barusan.


"kopi ya, seperti biasa.."


ujar Bian kepada Mas kantin itu.


"Pak Bian? habis lembur ya?"


Nurul memperhatikan kantung mata Bian yang sedikit menghitam.


"iya dek.."


"jangan kopi dong.. nanti malah asam lambung nya naik Pak, mana habis bergadang kan bapak"


"jadi apa yang bagus?"


tanya Bian.


"ya nggak tau sih,cuma setau Nurul kopi nggak bagus buat lambung"


lagian kan Bian yang dokter,seharus nya Bian lebih tau.


Bian pun mengganti pesanan nya dengan jus buah juga,di pikir pikir benar juga. lebih baik buah dari pada kopi yang bisa membuat lambung perih.


Setelah mendapatkan pesanan nya,mereka kembali bersama ke ruangan Fani.


berhubung jam makan siang sudah berakhir,jadi lift di penuhi para perawat dan dokter yang hendak kembali ke ruangan nya masing masing.


"sini.." Bian menarik Nurul ke belakang dinding lift lalu menjadikan tubuh nya sebagai pelindung agar Nurul tidak tersenggol orang lain.


"sempit ya..?" Bian merasa memang sangat pengap di sana.


"iya pak.." sahut Nurul gugup,tubuh Bian yang tinggi membuat wajah Nurul berpapasan hanya sebatas dada nya.


Satu hal yang mereka tidak ketahui,ternyata Vino juga ada di dalam lift itu tepat nya di barisan tengah. ia di minta Dimas untuk menunggu Fani dulu selama diri nya menyelesaikan urusan kantor.


Dimas selalu khawatir meninggalkan Fani di sana,meskipun ada beberapa pengawal yang menjaga. tetap saja bayang bayang kelakuan nekat Sean terus menghantui kepala nya.


dan karena di rumah sakit ada vitamin nya,Vino pun dengan senang hati menerima permintaan Dimas.


"di minum aja kalau pengap.. agar tidak dehidrasi" ucap Bian.


Nurul menunduk dan mengangkat perlahan cup jus nya agar tidak menyenggol orang lain.


namun karena jarak mereka cukup dekat Nurul malah menyenggol pedang pusaka milik Bian tanpa sepengetahuan nya.


"khmm..."


Bian langsung gugup dan canggung.


"kenapa Pak?"


tanya Nurul.


Bian: "kesenggol.."


Nurul: "hah?"


"ini badan saya di senggol orang tadi.."


ujar nya beralasan,yang tadi nya pandangan nya tak lepas dari wajah Nurul. kini di alih kan ke dinding lift karena gugup.


ting....


Pintu lift terbuka,Vino yang baik hati,tidak sombong serta gemar menabung benih itu membiarkan para perawat dan dokter keluar duluan. dan saat lift mulai longgar,baru lah ia melihat Bian dan Nurul dalam posisi yang sangat dekat.


"Ran..." panggil nya dengan nada ketus.


Tanpa wajah berdosa,Nurul mengeluarkan kepala nya melewati lengan Bian yang menyandar kokoh di dinding lift.


"Pak Vino..?"


"sudah lepas... sudah turun semua orang nya"


Vino menyingkirkan lengan Bian.


"saya duluan ya dek.."


Bian mengambil gelas jus dari tangan Nurul yang sudah ia minum separuh. lalu segera beranjak daru sana dengan langkah jenjang nya.


"loh kok di ambil sih.. kan itu punya ku"


gumam Nurul bingung.


Vino mengangkat dagu Nurul lalu memeriksa bibir Nurul dengan seksama.


"kamu nggak di apa apain sama dia kan?"


"di awain? waksut a himana hak?"


jawab Nurul,pipi nya di pencet oleh Vino hingga membuat bibir nya tak bisa bicara dengan jelas.


"di cium.."


Vino melepaskan tangan nya dari pipi Nurul.


"kok meriksa nya bibir,emang ada orang ciuman di bibir?" ia semakin bingung dengan kelakuan nya Vino.


"jadi dia cium kamu dimana? pipi?! kening?!"


jantung Vino semakin senat senut membayangkan apa yang terjadi di antara Nurul dan Bian tadi.


"ya nggak di cium..,"


Nurul memandang Vino sinis karena tingkah nya yang sangat aneh.


lagi pula memang nya ada orang yang ciuman di dalam lift plus banyak orang begitu? pikir Nurul.


"terus kalian ngapain posisi nya begitu?"


Vino masih belum puas dengan jawaban Nurul.


"mau ciuman! tapi nggak jadi karena lift nya kebuka!!" sahut Nurul kesal sambil berjalan cepat meninggalkan Vino.


bukan karena Vino terus bertanya,tapi pertanyaan Vino yang membuat Nurul risih. karena topik nya soal ciuman.


...-...


...-...


"kok lama banget nak? rame ya kantin nya?"


Rianti menatap Nurul tak tega karena pasti dia kelelahan jika mengantri nya lama.


"karena ciuman di lift tan.... Aaakkhhh!!"


belum sempat menyelesaikan kata kata nya capitan kepiting dari jari Nurul mendarat di lengan nya Vino.


"ini ma jus nya.. sebentar ya.."


Nurul menarik Vino keluar dari ruangan itu.


"bapak apaan sih.. Nurul nggak ciuman pak!


ngapain bapak bilang ke mama?!"


"kan kamu sendiri tadi yang bilang.."


"ishhh!! bercanda pak Vino.. bercanda.


bapak ih!! kalau ntar mama ngira beneran gimana? nanti mama pikir Nurul anak nakal gimana coba?"


"bisa nggak sekali aja sama saya jangan bercanda" ucap Vino serius,tatapan nya menyorot tajam kedua mata Nurul.


"ya maaf kalau bapak merasa tersinggung.."


Nurul menundukkan pandangan nya sambil meminta maaf.


"kenapa kamu minta maaf?"


"karena bapak marah"


ucap Nurul pelan. ia benar benar seperti balita yang sedang di marahi orang tua nya.


"kamu tau penyebab saya marah?"


"karena pikiran bapak kotor.."


celetuk Nurul enteng,ya ini perkara ciuman kan?


"apa ?? kamu bilang otak saya kotor?"


"ya kalau pikiran bapak nggak kotor,bapak nggak bakalan berpikir Nurul dan pak Bian ciuman.


dan bapak nggak bakal marah marah ya kan?"


seperti nya dalam kondisi apapun Nurul selalu bisa membuat Vino terjungkal.


"iya otak saya kotor memang.. kenapa? kamu mau saya cium?" Vino malah bertambah kesal karena kalah telak dari Nurul.


"bisa nggak jangan bercanda pak."


ujar Nurul masih dengan tatapan tertunduk.


"nggak saya nggak bercanda!


saya cemburu tau nggak hah!" ia melonggarkan dasi nya karena suasana tiba tiba panas.


Nurul mengangkat pandangan nya.


"cemburu?


Hahahhahahahahha........."


yang tadi nya Nurul serius menanggapi Vino malah geli saat mendengar kata kata Vino yang seperti gurauan itu.


"diam nggak! atau saya cium beneran kamu!"


"hahahah... cium aja Nur bilangin mama nanti----" kecupan Vino mendarat di pipi Nurul hingga membuat nya seketika mematung.


ia pikir Vino hanya bercanda dan ngawur seperti biasa nya.


"hmmm..? masih mau bercanda?"


ujar Vino sambil mendongakkan wajah Nurul.


Nurul menggeleng gelengkan kepala nya,dan tanpa di duga Nurul kembali pingsan tak sadar kan diri.


Terkejut lah lagi Vino,dengan cepat ia menopang tubuh Nurul.


"lah.. kok pingsan lagi sih,baru di cium juga.. gimana kalau di --++ bisa langsung kritis ni bocah"


"loh Vin?? kenapa anak ku?" tanya Rianti yang baru keluar hendak membuang sampah.


"kecium.. eh kejedot tembok tante"


hampir saja Vino kelepasan.


"waduhh.. kok bisa? bawa masuk sini buruan..


suster.. suster.. tolong anak saya pingsan sus"


Rianti berlari ke ruangan lain memanggil suster.


...-...


...-...


"sebarkan lah Video itu besok,agar orang orang yakin kalau dia benar benar melakukan itu di luar Negeri" ucap Sean kepada wanita kepercayaan nya itu.


"aku butuh banyak biaya untuk membuat beberapa media menggirung opini tentang video ini" ucap si wanita.


"berapa yang kau butuhkan? ambil saja di brankas ku"


"sudah ku habiskan kemarin untuk membayar beberapa stasiun yang akan menyiarkan ini"


"apaa?!! 3 milyar kau habiskan begitu saja?"


Sean terkejut karena wanita itu sangat loyal.


"aku membayar stasiun besar! bayangkan saja jika kita menyiarkan nya sendiri. itu akan membuat masyarakat tak percaya karena kau memang musuh nya"


"chhh..


ambillah lah di brankas satu nya. sandi nya angka favorit ku. ingat!! kau harus melakukan nya dengan baik! aku sudah mengorbankan semua nya demi melihat dia hancur!" tegas Sean.


"kenapa kau selalu mengatakan diri mu yang berkorban? aku juga berkorban disini! kau tau aku bahkan tidak bisa pergi kemanapun karena kau mengungkap jati diri ku"


"ikuti saja langkah ku,maka kau akan mendapatkan kembali semua itu"


ucap Sean tersenyum licik.


si wanita pun pergi dari sana,ia meninggalkan Sean dengan senyuman serupa pula.


...*******...