
Dimas bingung bagaimana harus menjelaskan nya,karena dia tak berpikiran kalau akan begini. yang ia pikir hanyalah kasihan melihat Zey tadi malam kebingungan tak tentu arah.
"sayang.. kamu nggak percaya sama Mas?"
Tatapan Fani semakin tajam ke arah Dimas.
"jawab dulu pertanyaan Fani.. kenapa harus Mas yang mengantar dia?!"
"Mas cuma merasa kasihan aja nggak lebih sayang..
dengerin Mas ya,, di perut kamu itu tanda cinta Mas yang paling nyata,dan kamu masih meragukan Mas?"
tutur Dimas dengan wajah lembut nan meyakinkan.
"ya wajar dong Fani ragu Mas...kalian dulu pernah pacaran dan sekarang kalian satu lingkungan deket pula. gimana Fani nggak ragu coba" Fani masih belum percaya dengan pembuktian Dimas yang dianggap nya kurang jelas.
"cuma sebatas kerjaan sayang,nggak lebih"
"bahkan kita dulu sebatas Om dan ponakan, siapa yang tau akhirnya kita saling cinta bahkan menikah" suara Fani mulai bergetar, kata kata nya pun lagi lagi membuat Dimas kelabakan.
"hhhfff...ya udah.. Mas akan pecat dia mulai hari ini,biar kami nggak satu lingkungan lagi"
"tapi kalian tetep bisa callingan kan.. jaman sekarang loh Mas,nggak bisa dekat virtual pun jadi"
"terus sayang mau nya gimana?? coba kasih Mas titik terang Mas harus gimana biar kamu percaya?"
"ya nggak tau.. Mas yang berulah kok tanya Fani, pikir sendiri lah gimana cara nya kasih bukti ke Fani!"
degg...
Dimas tersentak,ini pertama kali nya Fani bicara sangat pedas kepada nya. ini membuktikan bahwa Fani sudah benar benar kecewa dengan nya.
"sayang..."
panggil Dimas lirih.
"tau ah! capek Fani Mas.."
ia naik ke kamar dengan air mata berderai.
kecewa? tentu saja. perempuan mana yang tak sakit hati melihat suami nya dekat dekat dengan wanita lain,apalagi wanita itu pernah menjalin hubungan khusus dengan suami nya.
bukan hanya sekali,sering Fani memperhatikan saat di kantor bahwa gelagat Zey berbeda saat di dekat Dimas.
walaupun Dimas sudah tak ada rasa pada Zey,tapi kata bahkan gestur penolakan sama sekali tak terucapkan dari diri Dimas.
alasan nya karena kerja? lalu siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan terbawa perasaan satu sama lain?
"iya kamu berhak marah sayang.. Mas tau ini salah" gumam Dimas pasrah.
ia pun keluar dari rumah,mau tak mau ia harus memberikan pernyataan langsung kepada para wartawan agar gosip itu tak semakin simpang siur.
Para wartawan langsung menggeruduk Dimas,kilatan kamera dan serbuan mikrofon pun merapat ke arah Dimas.
"apa benar berita perselingkuhan itu Pak?"
"bagaimana dan kapan kalian mulai menjalin hubungan?"
"apa benar dia cinta pertama Bapak? lalu jika kalian masih saling cinta kenapa tidak menikah saja?"
para wartawan terus saja menggali kebenaran tentang hubungan masa lalu nya.
"iya..memang benar saya dan Zey dulu pernah menjalin hubungan, tapi itu sudah lama sekali dan sekarang kami hanya melakukan pekerjaan bersama"
tegas Dimas.
"lalu bisa anda jelaskan mengenai foto di hotel tadi malam pak?"
"kenapa kalian berdua ada disana?"
"apakah benar kalian masih menjalin hubungan secara diam diam?"
awak media terus saja menyerbu Dimas dengan pertanyaan itu.
Dimas: "saya hanya mengantar nya,karena posisi Zey sangat sulit saat itu"
"kenapa anda tidak menyuruh orang lain?"
"karena kebetulan saya yang bertemu dengan nya"
"apa benar anda menikah hanya untuk menutupi hubungan gelap anda dengan Zey?"
"oleh karena itu anda menikahi gadis biasa yang tidak di kenal publik?"
"apakah ini semacam pernikahan kontrak?"
"sudahkah istri anda tau kalau dia hanya di jadikan alat untuk menutupi hubungan gelap kalian?"
"ada yang mengatakan bahwa Zey tidak bisa menikah karena tuntutan karir nya,itu lah mengapa anda menjalin hubungan di belakang media lalu menutupi nya dengan pernikahan anda?"
para wartawan itu membombardir Dimas dengan pertanyaan pertanyaan yang menurut Dimas sangat sensitif.
Dimas sudah hampir kehilangan kesabaran nya karena pernikahan nya di ungkit ungkit. ia paling tidak suka jika ada yang mengatakan bahwa pernikahan nya hanya permainan semata.
ya,mereka tidak tau bagaimana susah nya Dimas mempertahankan pernikahan nya walau dulu terluka berulang kai.
Wajah nya mulai merah..ia mengepalkan erat tangan nya dengan penuh amarah.
"saya.."
"APA MAKSUT KALIAN GADIS BIASA!!"
Fani tiba tiba menyeletuk dengan nada tinggi.
ternyata dari tadi ia memperhatikan Dimas yang di pojokkan dengan tuduhan keji itu, walaupun hati nya sendiri sesak. tapi ia tak suka melihat orang lain menuduh Dimas yang tidak tidak.
Para wartawan langsung merapatkan barisan ke arah Fani.
"apakah nyonya tau kalau Pak Dimas menikahi anda hanya untuk pencitraan?"
Fani mengelus perut nya yang sudah kelihatan membuncit.
"apa??pencitraan kata kalian?? lihat lah aku sedang mengandung anak kami. pencitraan apa yang kalian katakan HAH!!!"
Wartawan disana langsung terkejut berjamaah mendengar terikan Fani.
"apa..apa kah nyonya tau tentang hubungan gelap Pak Dimas dan Zey?"
beberapa wartawan bertanya gelagapan karena mereka takut dengan ekspresi wajah Fani yang menyeramkan.
"apa kalian benar benar wartawan?"
Fani bertanya balik kepada mereka.
para wartawam itu langsung saling menatap bingung.
"a..apa maksut pertanyaan anda?"
"jika kalian benar benar wartawan maka carilah FAKTA NYA!! APA KALIAN DI GAJI HANYA UNTUK MENYEBARKAN OMONG KOSONG???!!!
wartawan itu di tugaskan untuk mencari Fakta lalu menginformasikan ke publik,bukan nya mengasumsikan omong kosong lalu di sebarkan menjadi konsumsi publik!!
jika kalian merasa jawaban suami saya tak bisa di percaya maka cari lah FAKTA NYA!!!
apa begini cara kalian mencari uang?? begini cara kalian menafkahi keluarga? dengan menyebarkan omong kosong??!!!"
Para wartawan di sana langsung terdiam.
kewajiban wartawan adalah mencari Fakta,bukan sekedar menyebarkan informasi sesuai dengan apa yang terlihat oleh sebelah mata.
memberikan informasi yang konkrit kepada publik adalah tugas mereka sebagai awak media.
bukan nya menyebarkan gosip lebih dulu lalu memojokkan korban dan pelaku nya.
"sayang.. udah masuk yuk..."
Dimas dengan cepat membawa Fani masuk de dalam rumah.
kalau di biarkan lebih lama bisa kena mental mereka semua, Fani memang lah orang yang kalem,sabar dan ramah. tapi jika dia sudah kesal maka mulut nya bisa setajam mata pedang.
"biarin aja Mas... biar tau rasa mereka,nyebarin berita seenak jidat! nanya pas di jawab malah ngelunjak nuduh yang nggak nggak!"
Fani menatap ke arah awak media dengan mata bulat nya yang barapi api.
Para wartawan itu pun langsung menundukkan wajah nya,mereka seperti akan di tembak oleh sorot mata Fani yang seram mencekam.
...*********...