
drrtt..drrrt...
Nurul membuka pesan masuk nya.
"Ran.. saya minta maaf..
saya tidak berniat menyelakai kamu.."
"hh..! dasar katak tua nggak beradab!
dia nggak tau apa takut nya aku tadi gimana?
ku kira aku akan mati di sana karena kehabisan
oksigen.!" gerutu Nurul. ia mematikan layar
ponsel nya lalu lanjut berbaring.
*drrtt..drtt....
"Ran...."
drrt..drtt..
"bunda..."
drrrt..drttt..
"bunda.. maafin ayah yaa..๐ฟ๐ฟ*"
Pesan terakhir Vino membuat Nurul
tersenyum kecil.
"hhhh.. kenapa pakai emot kucing?
karakter nya bertolak belakang banget.."
"jangan ganggu.."
baru hendak mengetik balasan. telepon
dari Bian masuk.
"hallo bang..?"
ia langsung terduduk dari ranjang.
"dek.. saya di bawah.."
"Nur di atas bang.."
"jadi.. adek yang turun, atau saya yang naik?"
"ohh.. abang di bawah. di rumah Nur maksut nya?" Nurul baru menyadari maksut Bian.
"iya sayang.. turun yaa..."
"oke bang... bentar ya.."
Nurul langsung menyisir rambut dan
mengoleskan sedikit lipblam di bibir nya agar kelihatan fresh di mata babang pacar.
...-...
...-...
"tadaaa....."
Bian memberikan buket coklat mini kesukaan
Nurul.
"wahhh... makasih bang.."
ujar Nurul berbinar kegirangan.
"oh iya. abang kenapa sih seharian kemarin
nggak ngabarin Nur?"
"ponsel saya rusak dek, pas nelpon kamu itu.
maka nya saya itu rindu banget sama kamu"
Bian mengecup pucuk kepala Nurul.
"oalah.. kirain abang marah sama Nur.."
"marah?? kenapa? memang nya
kamu buat kesalahan?"
Nurul bingung menjawab nya, lagian ngapain
sih pake acara bilang marah.
"nggak bang.."
"jalan yuk.."
ajak Bian.
"mm.. Nur ganti baju dulu deh ya.."
"nggak usah.. bentar aja kok..
yuk.." Bian langsung menggandeng tangan
Nurul.
...~~~~...
Sampai lah mereka ke pinggir pantai yang
sedang mengadakan festival kembang api.
Bian tampil gagah menawan dengan setelan
jas nya, sementara Nurul hanya memakai
kaos oblong berwarna merah muda dan
Rok jeans di bawah lutut. rambut nya pun
tergerai tanpa riasan, bertambah minder
lah Nurul dengan orang orang yang berpenampilan modis di sana.
namun Bian dengan bangga nya menggandeng tangan Nurul dengan senyum lebar nya.
"bang.. kita ngapain sih kesini?
Nur malu banget ini baju nya compang
camping kaya gembel."
"cantik kok.. sayang ku ini cantik banget
mau gimanapun pakaian nya."
ia menyentuh pucuk hidung Nurul.
Bian melihat permainan menembak di
arena festival itu.
"dek.. kita main itu yuk..
yang kalah harus jujur dan ceritain semua
yang kita nggak tau. gimana?"
"hah?? oke ayuk.."
Nurul terheran dengan konsekuensi kekalahan
yang di buat Bian, kalau dia kalah.
apa yang harus di beritahu?
soal kebersamaan nya dengan Vino?
atau soal diri nya yang .....
Proses menembak berlangsung sengit
dengan skor 9-8.
dengan sangat gigih, akhirnya Nurul berhasil
memenangkan permainan itu.
"yesss... hayo abang.."
ia santai saja, karena sudah pasti tak ada hal
yang di tutupi Bian. karena Bian selalu jujur
dan apa ada nya di depan Nurul.
"karena saya kalah, saya akan jujur sama
kamu.." tatapan Bian tampak sangat serius.
".. soal apa bang??"
"soal Viona..."
"hhmm??"
"sebenarnya dulu kami hampir bertunangan,
tapi saya membatalkan nya karena saya suka
sama kamu, saya memutuskan pertunangan
itu dan menjalin hubungan dengan mu."
mengatakan itu seperti melepaskan kยฃntut
yang berhari hari di tahan, sangat lega namun
meninggalkan kekhawatiran.
Ekpresi Nurul tentu saja terkejut, ia ingin
sekali marah. namun untuk apa?
toh semua nya sudah berlalu.
"mmm.. pantas dia memandang abang seperti
ada sesuatu.."
"adek nggak marah?"
"entah lah.. semua nya masa lalu.
tujuan abang cerita apa?"
"saya cuma mau jujur aja, saya takut kamu
mendengar ini dari orang lain."
"dia masih cinta sama abang kan?"
tanya Nurul lagi.
"iya dek.. tapi saya sudah memberi nya
pengertian bahwa saya sampai saat
ini tidak mencintai nya."
Nurul hanya mengangguk, batin nya terusik.
bukan karena Viona, melainkan karena diri
nya sendiri yang sampai saat ini masih
sering dekat dengan Vino.
"kami sama sama di cintai orang yang
salah. apa sebenernya kami juga salah
saling mencintai dan menjalin hubungan?"
"saya sudah jujur sama kamu.
adakah yang mau kamu sampai kan juga?
tentang Vino.."
laki laki satu ini memang sangat tak pandai
berbasa basi. tentu saja itu membuat Nurul
terkejut. ini lah yang dari tadi di takut takutkan Nurul.
"dia juga masih cinta kan sama kamu.."
"hhhfff ... entah lah bang.
apa pembahasan ini hal wajar jika
kita bicarakan sementara kita sepasang
kekasih?"
"lalu, apakah hal wajar jika kamu terus
bersama nya sementara kamu punya
kekasih?"
Sekarang Nurul tau kemana sebenar nya
arah pembicaraan Bian hari ini.
ya, sudah pasti untuk meminta penjelasan
atas kejadian kemarin, kemarin, dan
kemarin karena ia dan Vino selalu bersama.
"bang.. Nur nggak tau apa yang ada
di pikiran abang. yang pasti sejauh ini
Nur masih sadar akan batasan kami."
"batasan apa? batasan antara kamu
dan dia yang belum selesai dengan kenangan
masa lalu?"
"oke..
iya Nur juga masih cinta sama dia..
Nur masih sayang sama dia..
apa itu yang mau abang dengar?"
mata Nurul mulai berkaca kaca.
tangan nya pun gemetar karena ini kali
pertama mereka bertengkar.
"dek..? saya tau kamu juga sayang sama
saya.dan saya tau,kamu masih cinta sama dia.
tapi saya cuma minta kamu ngerti posisi kita.
tolong...
jangan tempat kan dia di posisi pertama.
kamu sadar nggak sih, senyum mu,
pandangan mu, semua nya hanya ada Vino.
Vino dan Vino.
saya ini pacar kamu dek, saya yang berhak
di posisi itu."
"apa beda nya kita?
karena abang mengungkit ini.
Nur juga akan jujur!
kemana kita waktu jalan jalan?
taman? pantai? restaurant? Mall?
bioskop? semua nya rekomendasi Viona.
semua tempat yang kita datangi tak lepas
dari campur tangan Viona.!
Viona dan saya pernah kesini..
ini rekomendasi dari Viona...
Viona bilang tempat nya nyaman..
makanan ini kesukaan Viona..
semua tentang Viona!!
abang sadar nggak?! isi kepala abang
juga Viona,Viona dan VIONA!!!!"
Nurul benar benar tak bisa membendung
unek unek yang bersarang selama 2 tahun
di dada nya.
"kenapa kamu nggak jujur sama saya
dari awal kalau kamu nggak nyaman?"
"hmm.. memang Nur yang salah di sini.
seharus nya Nur jujur dari awal.."
ia pergi meninggalkan Bian sambil
menangis sesenggukan.
awal nya ia tak ingin mengungkit itu, tapi
jiwa wanita yang sejati nya tak mau di salahkan
terpaksa membuat persoalan banding agar
perseteruan seimbang.
Tanpa ponsel, tanpa tas, Nurul berjalan kaki
pulang kerumah nya. air mata tak henti hentinya
mengalir deras hingga mata nya terasa rimang.
Sedangkan Bian memalingkan wajah nya dari
keramaian agar tak ada yang melihat nya
menangis.
perih, tentu saja. hal yang ia takutkan ternyata
benar terjadi,yakni cinta Nurul yang belum
lepas untuk Vino.
Sementara Nurul berjongkok sebentar di pinggir
jalan karena merasa tak sanggup berdiri.
kenapa itu menjadi kesalahan nya?
ia menahan semua rasa cemburu nya
tentang hal yang berkaitan dengan Viona
agar hubungan nya tentram. namun kini
ia merasa diri nya lah yang paling di salahkan
oleh keadaan karena tak bisa terbuka
dan berterus terang.
Di tengah hingar bingar nya kendaraan yang
berlalu lalang, Nurul membenamkan wajah
nya sejenak untuk melepaskan semua
kesedihan nya.
para pejalan kaki yang lewat sampai terheran
melihat Nurul menangis tersedu sedu seperti
itu.
...********...
Maaf ya beb.. Up nya masih bolong2๐๐
soal nya otor belum sehat beber๐๐
terimakasih untuk doa kalian semua..
love uuu๐๐๐๐