
Fani membasahi sapu tangan nya, lalu mengusap ke baju Dimas secara berulang hingga bekas kopi nya berkurang. Dimas terlihat sangat bahagia akan perlakuan Fani yang menurut nya sangat keibuan.
"Apa yang membuat om jatuh cinta sama Fani?" tiba-tiba Fani penasaran dengan alasan Dimas mencintai nya. Padahal kan di luar sana banyak perempuan yang lebih pantas untuk Dimas.
"Karena kamu cantik..". Dimas tersenyum dengan wajah berbinar.
"Cuma karena cantik? Entar kalau tua juga Fani nggak bakal cantik lagi." Fani sedikit kecewa dengan jawaban Dimas.
"Apa kamu berharap kita selalu bersama sampai tua?" tanya Dimas sedikit menggoda. Apa itu tandanya ia mendaoat lampu hijau?
"hiishh..! bodoh banget sih aku.. kenapa kedengerannya aku jadi berharap dicintai sampat tua.!" batin Fani menggerutuki diri nya sendiri.
"Ya.. nggak gitu... maksud Fani apa yang membuat om cinta sama Fani, padahalkan om tau Fani jauh di bawah om dari segi umur, kasta...bahkan perasaan." Fani menekan kata kata nya, entah kenapa ia menjadi sedikit kesal.
"Justru karena saya tau kamu, saya kenal kamu dari kecil, saya juga tau sifat kamu, kebiasaan kamu, apa yang kamu suka dan tidak. Saya tau kamu punya hati lembut dan juga sifat keibuan yang sangat melekat didiri kamu. Itu yang buat om jatuh cinta sama kamu." tutur Dimas panjang lebar sambil membelai lembut kepala Fani.
"Berarti om Dimas bisa cinta sama aku karena udah kenal betul siapa aku. Apa aku nggak cinta sama om Dimas karena aku belum mengenal om Dimas? Apa kalau aku udah tau sifat om Dimas aku bakal jatuh cinta sama om Dimas juga? duhh... kok merinding ya bayangin nya."
Fani terus mengoceh tidak jelas di dalam benak nya sambil menatap kosong ke wajah Dimas, sampai tubuhnya tiba-tiba bergidik saat membayangkan dirinya dan Dimas saling jatuh cinta. Mereka memang pantasnya menjadi om dan keponakan saja.
"Kok ngelamun?" Dimas mencubit pelan pipi Fani.
"Sudah bersih baju nya om, ayo kita balik kesana." Fani mengalihkan pandangannya dan segera beranjak.
"Fani..? kamu Fani kan?" ujar seorang pria sebaya sambil memegang lengan Fani.
Fani pun menoleh dan ia mencoba mengingat lelaki itu. "kak Dio?"
Dio adalah kakak kelas Fani saat SMA dulu, dan Dio pernah menyatakan perasaan pada Fani beberapa kali, namun Fani terus menolak karena Fani tidak pernah tertarik untuk berpacaran.
"Apa kabar kamu, dek?" Dio memberikan senyum hangatnya. Tak disangka setelah sekian tahun ia bertemu lagi dengan wanita itu.
"Baik kak.. kakak apa kabar?" balas Fani sambil menepis tangan Dio dari lengannya.
"Kakak baik juga. btw kamu tambah cantik ya."
Belum sempat Dio melanjutkan basa basi nya, tiba-tiba Dimas datang dan langsung berdiri di tengah tengah Fani dan Dio. Ia juga menghunuskan tatapan tajamnya kearah Dio.
Kemudian Dimas menggenggam tangan Fani dan mengajak nya pergi. "ayo..."
"Fani duluan kak..." pamit Fani terburu karena Dimas menariknya dari sana.
"iya.. sampai jumpa.." balas Dio melambaikan tangannya. Sayang sekali pertemuan itu sangat singkat.
Fani juga menaikkan tangan nya berniat untuk membalas lambaian Dio, tapi dengan cepat Dimas menurunkan tangan Fani agar tidak melambaikannya.
"turunkan tangan mu.." ujar Dimas memandang sinis pada gadis itu.
"Kenapa lagi ni orang tua.. kok tiba tiba jadi serem gini." batin Fani sambil menelan ludahnya yang tercekat di tenggorokan.
...~~~~...
Hari ini Mila berulang tahun, dan ia mengundang semua rekan dan atasannya untuk makan bersama di sebuah cafe setelah pulang kerja nanti.
"Pak Dimas sudah... Pak Vino sudah... ohh, tinggal Riko si kampret yang belum ku kasih tau." gumam Mila saat keluar dari kantor Dimas. Ia pun segera menuju ke kantor Riko.
Tok..tok..
"Permisi pak.." panggil Mila dari luar pintu.
"Masuk." jawab Riko datar.
"Pak, saya mau mengadakan makan malam bersama rekan yang lain, untuk merayakan ulang tahun saya. Saya ingin mengajak bapak juga kalau berkenan." ujar Mila sambil menahan wajah nya untuk tetap tersenyum.
"Oh iya pak, semua karyawan pria yang tampan dari perusahaan kita bakalan datang juga." tambahnya seraya melirik jahil.
"Terus hubungannya sama saya apa?" Ketus Riko mengangkat satu alisnya.
"Kan bapak suka tu sama pria tampan."
"Jangan sembarangan kamu, saya masih normal ya.!" Riko terlihat tak terima dengan perkataan Mila.
Mila malah menyeringai ke arah Riko seolah-olah dirinya meremehkan Riko.
"Bukannya bapak ada sesuatu dengan Pak Dimas?" Mila sedikit terkekeh saat itu. Meledek Riko seperti ini seperti berbalas dendam baginya, karena Riko sering menindasnya dengan tugas berlebihan.
"Saya normal dan masih suka perempuan... nih, buktinya barang saya bangun karena melihat paha kamu." celetuk Riko enteng, membuat Mila seketika menurunkan rok nya.
"hishhh..! jangan frontal banget dong kasih buktinya." Mila terlihat kesal lalu segera pergi dari sana sambil berusaha menurunkan roknya yang memang di atas lutut.
Mila adalah senior Riko saat masih berkuliah, karena sifat Riko yang selalu ingin terlihat unggul Mila jadi kesal dengan nya. Ditambah saat ospek Riko selalu membantah Mila dan selalu menanggapi Mila dingin. Semakin menjadi jadi lah Mila mengumpat bahkan menyumpahi Riko yang tidak-tidak.
Tapi sekarang Riko malah menjadi atasan nya. Mila merasa kalau Riko selalu membalas dendam terhadap dirinya. Karena Riko selalu membebani Mila dengan pekerjaan yang seharusnya di tangani oleh Riko.
...~~~~...
Makan malam pun tiba...
Setelah selesai memotong kue, mereka bersama-sama bersulang dengan segelas mojito di tangan masing masing.
Cersss!!!! Ucap mereka bersamaan.
Fani duduk di tengah Vino dan Dimas, sementara Mila duduk berhadapan dengan Riko. Tak henti-hentinya mereka bertatapan seperti seekor kucing yang siap menerkam tikus.
Tidak sengaja Vino menyenggol sikut Fani saat hendak melahap kue ulang tahunnya Mila. Sehingga membuat pipi Fani belepotan.
"maaf..maaf..saya nggak sengaja."
Vino segera mengambil tissu hendak membersihkan pipi Fani.
Fani menepis tangan Vino dengan cepat, namun Vino malah memegangi tangan gadis itu agar tidak menolak untuk dibersihkan.
"uwuuuu....." Ujar para karyawan di sana hampir berbarengan, sehingga membuat Vino dan Fani menjadi canggung.
"ciieee.. sepertinya ada yang bakal tukaran nomor handpone nih..." ujar salah satu karyawan.
"btw kalian serasi juga. Fani dan Vino, tuhh dari nama nya aja udah cocok banget." tambah yang lainnya.
Vino tersenyum lebar mendengar orang-orang mencomblangkan dia dengan Fani. Sementara Fani malah menjadi sangat canggung karena dia tidak enak dengan Dimas.
Ya, mereka semua tidak menyadari ekspresi wajah Dimas yang sedang mendidih dengan biji mata yang hampir keluar.
"heh...! Ini jadi makan apa tidak? Malah berisik.! " Dimas menaikkan suara nya, sehingga para karyawan disana langsung menutup mulut. Mereka semua sama-sama tahu kalau Dimas sedang marah benar-benar menyeramkan.
Dimas merampas tissu di tangan Vino lalu dia menyeka wajah Fani dengan cepat.
"Apa kamu tidak bisa bersihkan wajahmu sendiri?"
Fani hanya bisa membelalak sambil mencerna tatapan sinis Dimas.
"iihh...muka serem om Dimas timbul lagi." batinnya bergidik merinding.
...**********...
*Terimakasih banyak buat kalian semua yang selalu support otor😍 semoga kalian semua juga sehat selalu. Dan buat yang bertanya-tanya tentang jarak usia Dika dan Nurul nih otor kasih penjelasan.
Latar belakang adik-adiknya Fani otor ambil dari kisah adik otor sendiri, jadi mengenai Dika yang baru 17 tahun tapi sudah kuliah itu dikarenakan si Dika ini jenius.
Jadi waktu kelas 1 SMA dia langsung diajukan sama guru untuk langsung ikut ujian kelulusan dan dapet beasiswa. Paham lah yaa.. namanya Akselerasi.
Pokoknya makasih banyak lah buat kalian yang udah suport otor sejauh ini😽 lafyu gaes♥️
ini bonus foto DIMAS&FANI beserta tim horenya.