Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 10 : Hari Pertama Kerja


Dengan wajah merah merona, Dimas menoleh kearah karyawan tersebut. Ia memasang raut datar seolah tak terjadi apa-apa.


"Ada apa..? " Tanya Dimas membulatkan matanya, membuat sorot tajam terlihat jelas.


Karyawan tersebut malah salah Fokus kepada Fani, yang sedang di sembunyikan didalam Jasnya Dimas.


"hah? apa yang terjadi?apa perempuan itu pacar om Dimas? gawat dong.! eh tapi kan aku keponakannya om Dimas, jadi seharusnya nggak jadi masalahkan?" Batin Fani ketakutan sambil menahan pengap di dada lebarnya Dimas.


Setelah mengamati bahwa yang di peluk Adimas benar-benar wanita, karyawan itu pun segera pergi sambil tersenyum malu-malu. Karena sepertinya dia paham bahwa Bosnya sedang tidak ingin di ganggu.


Dimas pun bernafas lega melihat karyawan tersebut pergi. Namun ia tidak langsung mengeluarkan Fani dari balik Jasnya. Ia malah senyum-senyum sendiri, ntah kenapa dekat dengan Fani begini membuat hati nya senang tak karuan.


Sementara di dalam Jas, Fani mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar tidak ketahuan. Ia merasa, bisa jadi orang itu akan tanda dengannya melalui suara yang tak sengaja kelepasan.


"Waduh.. kayaknya gawat banget ini,pasti jadi masalah nanti. Soal nya jantung om Dimas sampai mau meledak gitu." ujar Fani dalam hati, ia bisa dengan jelas mendengar detak jantung Dimas yang bergemuruh, bak guntur yang tengah mengamuk.


"Om.. Fani udah boleh keluar belum?" Bisiknya pelan.


Dimas pun mengeluarkan badan mungil Fani dari dalam jasnya, sambil tersenyum kecil. Seketika mereka pun menjadi canggung dan saling melempar tatapan akward sambil menyeringai.


"ekhm.. hmm.." Dimas berusaha menetral situasinya.


"Kamu mau kerumah sakit?" Tanya Dimas sambil menggaruk kepalanya dengan ujung jari.


"Rencana sih iya om.." jawab Fani membuang muka.


"Kalau gitu ayo om antar, " Ajak Dimas.


ia segera beranjak dari sana sambil memegangi dada nya yang seperti mau meledak. Diikuti Fani yang berjalan di belakang nya sambil berusaha mengatur nafas.


...~...


Di dalam mobil Fani terganggu akan rasa penasarannya dengan wanita tadi. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Perempuan tadi pacar om?" tanya Fani ragu-ragu.


"Bukan..." jawab Dimas santai.


"Terus..,kenapa om malah takut dan ngumpetin Fani?"


"Di kantor kita ada geng yang mencari gosip terhangat dan menggorengnya sampai hangus. Gosip sekecil apapun bakalan cepat menyebar kemana-mana. Makanya sebisa mungkin tadi om menyembunyikan mu." Terang Dimas sambil tetap fokus menyetir.


"Ya kan Fani keponakan om, kenapa harus takut di gosipin? " Fani masih tidak mengerti alasan Dimas.


"Tetap saja, mereka akan melebih-lebihkan cerita." ujar Dimas lagi. Ia merasa keputusan tadi sudah sangat tepat.


Fani pun hanya menganggukkan kepala nya. Sungguh debaran didadanya tak kunjung berhenti, bukan karena kelakuan Dimas saja. Melainkan karena pekan depan ia sudah mulai bekerja.


...~...


Keadaan Nita kini sudah membaik, Fani dan adik adik nya pun sangat senang mendengar kabar bahagia itu.


Saat ini semua adik nya Fani sedang di Rumah Sakit menemani ibunya. Karena mereka tahu betul kalau Nita akan semangat dan kuat bila melihat mereka, anak-anak nya.


"Bu, Fani udah di terima kerja." Ujar Fani dengan wajah yang sangat gembira dan antusias.


"Dan Fani kerjanya di kantor om Dimas bu..." Sambung nya lagi.


"wahh.., beneran? Syukur lah kalau begitu..." Sahut Nita yang masih terbaring di ranjang pasien. Ia tersenyum lebar kearah putri sulung nya itu, ia sangat bersyukur memiliki anak-anak yang pantang menyerah, dan mau berusaha.


"Terimakasih ya Dimas. Kamu udah banyak banget bantu keluarga ibu." Ujar Nita memegang tangan Dimas, ia tidak tahu lagi harus membalas kebaikan Dimas dengan apa.


"Sama-sama bu. Kita kan keluarga, jadi harus saling membantu." Balas Dimas seraya memandang lembut wajah pucat Nita.


"Maafkan Dika ya kak, kakak jadi harus kerja keras buat biaya sekolah kami, Dika janji kalau sudah lulus nanti Dika bakal bekerja keras untuk membahagiakan kalian semua." Ujar Dika tersenyum haru, ia memeluk wanita dengan bahu setegar karang itu.


"Apaan sih dek, ini udah kewajiban kakak sebagai anak pertama. Fan kakak harap, kalau Dika lulus nanti bisa jadi Dokter yang sukses. Biar bisa bahagiakan ibu." Fani membalas pelukan hangat Dika, seraya menepuk pelan adik lelakinya itu.


"Nur,Ayu. Sini peluk kakak juga dong." Pinta Fani pada dua adik perempuannya.


Fani membungkukkan badannya agar sama tinggi dengan Ayu. Mereka pun berpelukan bersama dengan hangat.


Dimas yang menyaksikan itu jadi terharu, ia sangat salut dengan keharmonisan dan kehangatan 4 bersaudara itu.


Nita juga tersenyum bahagia melihat kekompakan anak-anak nya, ia sangat bersyukur memiliki buah hati seperti mereka.


"mmm... wangi rambut kak Fani sama kaya wangi nya om Dimas." Celetuk Ayu dengan wajah polosnya, sambil menghirup dalam-dalam aroma mewah di rambut kakaknya.


Fani dan Dimas langsung tersentak mendengar perkataan si bungsu. Mereka melempar tatapan canggung sekilas.


"ah masa sih dek..?" Fani terkekeh hambar, ia mengibaskan rambutnya agar aroma itu hilang.


"iya kak, kakak tadi minta parfumnya om Dimas yaa." Ucap Ayu sambil tersenyum.


"Iya... iya tadi kakak minta parfum sama om Dimas." Sahut Fani dengan wajah memerah, ia merasa seperti maling yang tertangkap basah.


Dimas juga jadi salah tingkah sendiri,


bagaimana bisa mereka kepergok oleh anak sekecil Ayu.


"aduh, hari ini jantungku berdebar terus... bisa bahaya nih.." Batin Dimas sembari mengatur nafas.


...~...


Nita kini sudah mulai sehat, dan ia juga sudah pulang kerumah nya. Fani menyuruh ibu nya jangan berjualan dulu, agar kondisi nya benar-benar stabil.


Fani juga menghandle semua kegiatan yang biasanya di lakukan Nita. Dengan ulet Fani mengurus semua adiknya, sifat Fani yang keibuan sudah terbentuk sedari kecil. Jadi ia dengan mudah mengarahkan adik-adik nya, mengurus dan juga memastikan sekolah mereka tidak terganggu.


-


-


Awal pekan.....


Fani tengah bersiap untuk berangkat ke Kantor. Ia sedang bercermin dan kagum pada dirinya sendiri, yang sedang mengenakan kartu karyawan di lehernya.


Walaupun statusnya masih magang, namun ia sudah sangat senang.


"Aku nggak nyangka sekarang bisa kerja di perusahaan besar. Berkat om Dimas aku jadi bisa merasakan impianku sejak dulu, untuk bekerja di perusahaan ternama." Gumam Fani kegirangan, sambil mengangkat tinggi kartu nama yang ia kalung kan.


Tibalah Fani di kantor, dengan hati yang masih berbunga-bunga Fani masuk kekantor sambil terus tersenyum.


"Selamat pagi semua... Perkenalkan saya Mila, Supervisor kalian. Semoga kita bisa bekerja sama." Sapa wanita berumur 30 tahun tersebut. Mila orang yang sangat ramah, ia juga di kenal dengan predikatnya yaitu ratu gosip.


"Saya Riko, manajer kalian. Saya menantikan potensi kalian." Ucal Riko datar, lalu pergi meninggalkan mereka.


Riko adalah manajer termuda di perusahaan,usia nya masih 28 tahun dan dia juga merupakan manajer yang paling berkompeten.


Fani di tempatkan di departemen perancangan furniture, juga Interior yang diawasi langsung oleh presdir mereka yang tak lain adalah Adimas.


Ada sekitar 25 orang di dapartemen tersebut, dan 5 di antara nya adalah karyawan magang termasuk Fani.


ya.. tentu saja keberadaan Fani di sana tak lepas dari campur tangan Dimas.


-


-


Jam makan siang pun tiba.


Para karyawan berkumpul jadi satu di meja kantin, baik pria atau pun wanita semua nya kompak saat jam makan siang melakukan rutinitasnya yaitu menggoreng gosip terbaru.


ting ting ting....


Mila memukul gelas dengan sendoknya.


"Untuk para karyawan yang baru bergabung, kalian harus membiasakan diri dengan rutinitas kami saat makan bersama yaitu BER..GO..SIP. Jadi saya harap kerjasamanya dalam memberikan gosip terhangat." terang Mila sambil terkekeh riang. Akan hampa hari-hari nya bila sedetik saja tidak bergosip.


"Bu, saya ada gosip PANASSS...!" Celetuk salah satu karyawan lama, ia mengangkat tangannya dengan antusias.


"Apa? Cepat keluarkan." Ujar Mila sambil menepuk meja, bak bandar judi.


"Akhir pekan lalu, saya melihat pak Dimas memeluk perempuan didekat taman kantor." Ujar nya sambil menambahkan nada yang tentu membuat semua orang penasaran.


"uhukk..huk..!" Fani langsung tersedak oleh makanannya. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang memergokinya tempo hari ternyata satu Divisi dengannya.


...***********...