
Yang sebenar nya terjadi dengan Riko dan Mila.
Malam ini Riko tengah sibuk memastikan persiapan acara nya,sementara Mila santuy tanpa beban di depan meja rias nya sambil memasang rol rambut.
"awas aja hasil nya jelek, ku kasih bintang 1 ni toko"
ujar Mila saat mengunboxing rol rambut yang ia dapatkan dari promo gratis ongkir. selalu ada selalu bisa,,eh🙈
"kau sudah pastikan catering nya?" tanya Riko.
"kata mu kau yang akan mengurus semua" sahut Mila cuek.
"oke,kau bisa tanyakan pada Fani apa dia masih menyimpan nomor fotografer pernikahan nya kemarin? aku ingin memakai dia karena hasil nya bagus"
"handpone ku lowbat,kau saja yang tanya pada Pak Dimas" ujar Mila beralasan.
Riko pun menekan nomor Dimas,namun karena jaringan sedang jelek jadi agak lama tersambung.
"hei!! hei.. tolong aku... alat sialan ini"
rol rambut yang di kenakan Mila malah membuat rambut nya tersangkut dan kusut jadi sulit di lepaskan.
"kenapa? di apakan??" Riko tampak panik karena tak hanya 1 rol yang tersangkut melainkan 5.
"lepasin.. aaaishhh.. rol sialan" rutuk Mila kesal.
Riko pun menarik rol itu perlahan dari rambut Mila, tanpa sadar telepon nya sudah tersambung 5 detik.
"sshh..awhh.. pelan pelan dong..ahhw"
rintih Mila kesakitan saat rambutnya di tarik oleh Riko.
"iya ini pelan pelan.. tahan dong, baru ujung nya juga"
itu lah yang terdengar oleh Dimas dan Fani.
"aduhh.. jangan di tarik Riko!! kau sengaja?"
"tapi ini susah, rambut mu sangat kusut di buat nya"
"ya pinter pinter lah Pak Riko,gimana cara nya biar lepas tanpa sakit"
"mm... begitu,,"
Riko melirik gunting di atas meja,ia mengambil nya dan tanpa ragu memotong rambut Mila yang tersangkut.
sat..set..sat..set.. dumpak titing josss💃
dalam sekejap 5 gumpalan rambut Mila selesai dari masalah.
Mila mengira Riko hanya menggunting ujung nya saja,tapi ternyata Riko memotong semua hingga menyisakan hanya 10 centi dari kulit kepala.
"Hah!!!! kau Gila?!!"
pekik Mila sangat kesal.
"kenapa? yang penting masalah bereskan?"
"beres sih beres.. tapi liat ni rambut ku jadi pitak, sebentar lagi hari pernikahan kita dan kau malah merusak rambut ku?!"
"wahh.. kau memikirkan penampilanmu? bukan nya kau bilang tak perduli dengan pernikahan kita?"
"hhhkkss..
setidak nya aku ingin terlihat cantik saat mengenakan gaun pengantin nanti... hhhuuuuuuuu...hiks..hiks..."
Mila menangis tersedu sedu sambil memegang rambut nya yang pitak pitak karena ulah Riko.
"hei.. jangan menangis, maafkan aku..
maaf" Riko bingung, ia menyeka air mata Mila dan mencoba menenangkan nya.
"kau tetap terlihat cantik bagaimanapun,jadi jangan khawatir" tambah Riko lagi.
"benarkah..?" Mila mulai menghentikan tangis nya.
"benar.. asal yang melihat mu mata nya begini.."
Riko memutar mata nya seperti orang juling.
"aishhh.. kau ini" Mila sedikit tertawa melihat wajah konyol Riko.
"hahahha.. jangan khawatir,aku akan menyewa penata rambut handal untuk menutupi itu"ujar Riko terkekeh.
"kalau dia tidak berhasil??"
"aku akan membelikan mu helm,jadi tak akan ada yang bisa melihat rambut mu"
"hahahahahaha.....aku akan seperti capung nanti." Mila terbahak bahak membayangkan betapa konyol nya pengantin memakai helm.
Riko pun ikut tertawa geli membayangkan nya, tanpa mereka sadari ini kali pertama mereka tertawa bersama.
"hahahahahah... hahahha..hahaha..."
saking terbawa suasana Mila tanpa sadar memukul bahu Riko. tatapan mereka pun bertemu,lalu kedua nya saling memudarkan tawa di bibir seperti sudah sadarkan diri.
"khmm.."
"ekhem.."
kedua nya berdeham menetralkan suasana.
"kau tampan saat tertawa.." gumam Mila,ya selama ini ia hanya melihat wajah sangar nya Riko saja.
"hah??" Riko langsung tersenyum salah tingkah.
"mm...itu kata nya kau menelpon Pak Dimas tadi"
wajah Mila langsung bersemu merah kala di tatap Riko dengan senyuman lembut,di tambah lesung pipi nya yang tampak berdamage saat dia tersenyum.
mereka berdua pun saling membuang muka melepaskan senyuman,lalu kembali bertatapan dengan wajah pura pura cuek.
...~...
Pagi hari..
Vino dan kedua orang tua nya menginap di rumah Rianti, Vino baru hendak berangkat ke kantor dan tak sengaja bertemu Nurul di halaman depan sambil berjemur.
"kamu tidak sekolah?"
lagi lagi Vino membuat Nurul terkejut.
Nurul: "ng..nggak Pak"
Vino: "kenapa??"
Nurul: "libur Pak.."
"iya saya tau libur,, maksut saya rangka apa libur nya perasaan bukan hari merah"
lagi lagi Vino di buat gemas oleh jawaban Nurul yang sangat konkrit itu.
"habis UAS minggu kemarin pak, tinggal nunggu kelulusan"
"ohh.. mau lanjut SMA mana?"
"belum tau Pak.."
"loh Vino... belum berangkat?? udah jam 8 lewat loh" seru Duma dari depan pintu.
"eh iya lupa ma..." Vino pun melambaikan tangan ke arah Duma lalu ke Nurul juga.
"hihh.." Nurul menaikkan sebelah bibir nya.
"lanjut ke sekolah yang jauh boleh nggak ya sama mama..." Nurul berpikiran agar bisa menghindar dari Vino.
"tapi nanti kalau di tanya alasan nya apa? masa aku bilang biar nggak jumpa Pak Vino"
gumam nya bingung.
...~~~~...
Di perjalanan menuju kantor,Vino menelpon Zey untuk memastikan keadaan nya.
"hallo.. bagaimana keadaan mu?"
"baik.." jawab Zey lesu.
Vino: "kau sudah makan?"
Zey: "belum.."
Vino: "minta kepada resepsionis di sana.."
Zey: "aku bosan dengan makanan itu.."
Vino: "beli saja di luar"
Zey: "wartawan ada di mana mana"
Vino: "suruh manajer mu mengantar makanan"
Zey: "aku di pecat.."
"apa?!! kenapa mereka memecat mu?!
hhffff.. baiklah aku kesana.."
Vino mematikan ponsel nya lalu mencari rstaurant terdekat.
Setelah dapat makanan kesukaan Zey, Vino menitipkan nya ke reseosionis agar di antar ke kamar Zey.
ia pun kembali melanjutkan perjalanannya ke kantor.
...~~~~...
Dimas tiba di kantor bersama dengan Fani, ia meminta ikut saja dari pada bosan di rumah.
para staf dan pengawal pun membari salam pada mereka. baru beberapa langkah memasuki halaman kantor, para wartawan yang masih ingin penjelasan dari Dimas mulai datang berkerumun.
"Pak Dimas..bisa beri kami pernyataan sedikit tentang pemecatan Zey dari kantor dan Agensi nya?"
Fani membalikkan wajah nya dan menatap tajam ke arah mereka.
para wartawan pun langsung mundur teratur melihat tatapan Fani.
"saya berhak memecatnya,karena saya tidak mau nama perusahaan saya tercoreng. tak hanya itu bahkan saya berhak mengusir kalian sekarang juga karena telah mengusik ketenangan lingkungan kantor saya" ujar Dimas tetap tersenyum namun sorot mata nya sangat menusuk.
Dimas dan Fani pun langsung memasuki kantor di ikuti para staff nya.
"kalian sudah mendapat model baru?"
tanya Dimas.
"sudah Pak. banyak manajer yang mendaftarkan artis mereka tapi sesuai perintah bapak saya sudah meletakkan semua profil nya di kantor bapak"
"bagus.." sahut Dimas.
"kalian sudah sarapan?? ini ada roti panggang untuk kalian" Fani membagikan sekotak roti panggang ke para staff yang mengikuti mereka.
"wahh.. terimaksih Bu Fani.."
"sama sama..."
"sayang.. kamu tunggu di kantor Mas aja ya, Mas ada meeting 5 menit lagi"
"oke..."
Fani pun menuju ke kantor Dimas di kawal dua orang staff.Dimas punya firasat pasti kacung nya Sean masih ada yang berkeliaran di sekitar mereka saat ini,karena itu ia memperketat penjagaan kepada Fani.
"Bu.. kita pakai lift sebelah sini saja, yang itu rusak" ujar salah satu pengawal.
"ohh.. bisa rusak juga ternyata" Fani menuruti kata kata pengawal itu.
sementara dua orang staff pengawal itu saling memberikan kode melalui mata mereka.
...*********...
Gedung utama BRAM'S property