
Setelah selesai urusan di klinik nya Duma kembali ke rumah sakit sambil setengah berlari.
sementara Duma berlari, Steve malah berjalan santai sambil membawa beberapa tas berisi pakaian ganti Vino.
"Bu Duma? ada perlu apa dia di sini?"
gumam Bian yang juga baru sampai di sana.
"jangan jangan Bu Fani sakit lagi?" sigap ia juga berlari mengikuti Duma.
"Bu Duma...." seru Bian dari ujung koridor.
Duma berbalik badan menyahut.
"iya.. ada apa?"
"siapa yang sakit Bu? apa Bu Fani?"
"anak saya, Vino kecelakaan"
"hah? kapan Bu?
boleh saya menjenguk?"
"boleh, silahkan.."
...~~~~...
Di ruang rawat, setelah selesai membenahkan bantal Vino. Nurul malah jadi korban kejahilan Vino, ia menarik Nurul hingga terjerembab kedalam dekapan nya.
Sepersekian detik mereka bertatapan dengan gemuruh jantung yang beradu.
"tidak bisa kah kita langsung menikah?"
ucap Vino dengan akal sesadar sadar nya, bukan karena pengaruh bius atau karena otak nya error.
"hah?" Nurul membelalak dengan wajah merah padam.
"bapak ngajak nikah anak SMA?situ sehat Pak?"
"saya sakit ni.. kamu nggak lihat?
lagian di umur kamu yang sekarang kan harus nya sudah lulus" ia mengelus kening Nurul yang berembun karena keringat.
"bapak ngeledek saya?"
"nggak.. saya ngajak kamu nikah.."
senyuman maskulin nan manis nya Vino tak hilang walau wajah nya penuh codet.
"k..kalian ngapain??"
Duma dan Bian tercengang melihat posisi mereka yang seperti pengantin baru itu.
Dengan gerakan secepat 100 km cahaya, Nurul langsung bangkit dari dada nya Vino dan merapikan rambut nya.
"eh.. ini tante, pak Vino.. ini saya jatuh ssss.."
Nurul tampak sangat gugup dan bingung bagaimana cara menjelaskan nya.
sedangkan Vino hanya tersenyum tipis tipis melihat Nurul salah tingkah begitu.
Sementara Bian hanya menghela nafas berat sambil menggeratkan gigi nya.
"hhhfff...."
"oohh.. jatuh," sahut Duma tersenyum kecil.
"nyaman ya.." Vino menatap Nurul sambil menepuk nepuk dada nya.
"sss..." bibir atas Nurul naik sebelah dengan tatapan sinis.
"Pak Bian mau meriksa pak Vino?"
tanya Nurul.
"hahah.. nggak lah, saya kan Spog dek"
Bian tersenyum kecut.
"permisi... saya mau mengganti perban pasien, mohon keluarga nya menunggu di luar dulu ya.." ujar dokter yang baru masuk. ia juga saling menyapa dengan Bian melalui senyuman khas mereka.
Mereka semua pun menunggu di luar sebentar.
"kamu nggak pulang dek?"
"nanti pak, belum di jemput.."
"sudah makan?"
Nurul menganggukkan kepala nya sambil tersenyum.
Bian ingin mengobrol lebih jauh lagi, namun saat menatap mata Nurul seisi kepala nya tiba tiba kosong hingga tak tau ingin mengatakan apa.
"bapak udah makan?"
Baru hendak membuka mulut, tiba tiba seorang wanita memanggil Bian dari kejauhan yang tak lain adalah Viona.
"hai Bi..." ia melambai dengan sekotak nasi di tangan nya.
"wahh.. cantik nya.." dalam hati Nurul terpesona dengan keanggunan Viona.
"oh.. hai.." ucap Bian.
"siapa?" Viona menunjuk Nurul dengan pandangan nya.
"dia.. orang spesial seperti mu, namun posisi nya sedikit lebih tinggi." bisik Bian dengan senyum tipis. Viona hanya tertawa mendengar jawaban Bian, ya mereka sudah biasa bercanda seperti itu.
batin Nurul.
...~~~~...
Beberapa hari setelah nya...
Vino yang sedang tertidur santai terbangun karena mendapat notif beruntun di ponsel nya.
ia membuka nya dan ternyata itu Zey yang mengirimkan beberapa pesan dan Video.
"hai Vin.." bunyi pesan pertama.
"*aku sudah sampai di tempat tujuan ku sekarang"
"tempat ini benar benar nyaman, walaupun sangat jauh*.." ia meletakkan emoji gemas di ujung kalimat nya.
"*aku rasa aku merindukan mu.."
"aku ingin menyampaikan sesuatu untuk mu, ku harap kau merelakan ini sebagai kenangan untukku*.."
Vino nyengir kuda membaca pesan ngawur itu.
"apakah dia mabuk lagi di sana?"
iya menyeret lagi layar nya ke atas lalu memutar Video yang di kirimkan Zey.
Tampak Zey sedang duduk tegap di depan kamera dengan beberapa kertas di hadapan nya.
Zey di dalam Video:
"hai Vino... aku tau kau pasti takkan pernah merindukaku hahahah...."
iya tertawa lepas namun raut wajah nya tampak getir.
"maaf karena harus menyampaikan dengan cara ini, dan maaf karena aku tak berpamitan langsung dengan mu.." air mata mulai menitik di pelupuk mata Zey.
Lalu ia mengangkat kertas yang ia dapatkan dari rumah sakit lalu mendekatkan ke kamera.
tulisan positif tertulis jelas di sana.
"aku hamil Vin.." Zey tersenyum namun air mata mengalir deras.
"aku mengandung anak kita ..hiks..hiks..
usia nya sudah 15 minggu.
aku tau kau pasti takkan mempercayaiku karena aku pernah berhubungan dengan beberapa pria.
tapi 10 bulan terakhir ini, aku baru berhubungan dengan mu. tenang saja, aku tau kau tidak mencintaiku, aku tidak akan meminta pertanggung jawaban mu.
niatku hanya memberitahu mu dan meminta izin mu untuk membawa dan membesarkan anak kita di sisi ku. walaupun aku tidak mendapat cinta dari mu, setidak nya aku mendapatkan benih cinta mu"
Video itu di akhiri dengan senyum lebar Zey dan lambaian tangan.
Tangan Vino bergetar saat mendengar kabar yang entah membahagiakan atau tidak.
"Zey.. me.. mengandung anakku?"
gumam nya dengan nafas tersengal sengal.
ia segera menelpon Zey, dari mulai telepon online hingga offline bahkan surel ia coba. namun semua nya tak aktif seakan menghilangkan jejak.
"tidak.. tidak.. apa yang akan terjadi pada nya?
bagaimana dia akan membesarkan anak itu sendiri?"
"aaargghh!!!!" Vino meremas kuat ponsel nya karena merasa frustasi.
Belum sembuh musibah yang menimpa nya, kini datang musibah baru berupa kehamilan Zey.
jika ia mengejar Zey demi anak nya, sudah pasti dia akan kehilangan Nurul.
namun jika ia tetap mengejar Nurul, akankah hidup nya akan bahagia karena telah membiarkan seorang anak tak bersalah lahir dan tumbuh tanpa ayah?
...-...
...-...
Di belahan dunia lain nya, Zey tengah duduk sambil memandangi foto foto Vino yang ia ambil diam diam sewaktu mereka bersama.
ia tak kembali ke orang tua nya di London, melainkan ia membeli rumah di kota Bern-Swiss.
ia memang berencana membesarkan buah cinta nya yang bertepuk sebelah tangan itu seorang diri. "ini papa mu nak, dia tampan kan?" ucap nya sambil tersenyum pilu.
...~~~~...
Sepulang kerja, Dimas menjenguk Vino seorang diri. bukan karena khawatir sih, melainkan ada sesuatu yang ingin ia tanyakan seputar pekerjaan.
"ck.. jadi kau ke sini bukan karena mengkhawatirkan ku hah?" dengus Vino kesal.
"untuk apa aku khawatir dengan mu?" Dimas tertawa jahat kearah Vino.
Vino berniat memberitahu Dimas tentang masalah nya dengan Zey, walaupun mereka sering adu tanduk. kalau ada masalah mereka pasti saling cerita dan berbagi solusi.
"umm.. begini, aku.. Zey dia.."
"Zey?.. ada apa dengan nya?"
Dimas mengernyitkan alis nya.
...********...
Jangan lupa suport nya jempol dan lain lain biar otor semakin semangat๐๐๐๐๐๐
pengen nangis otor karena sinyal di sini patah patah kaya goyang nya inul daratista๐๐