Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 Episode 17: Handbody.


"hmm?" sahut Vino terkejut seperti


tersadar dari mimpi.


Nurul juga sama terkejut nya karena tingkah


Vino itu, jantung nya hingga berdisko ria


karena terkejut sekaligus terbawa perasaan.


"ee.. hh..


handbody, iya handbody kamu harum nya


seger banget." sahut Vino dengan rona wajah


memuncak.


"hh?. iya pak, harum memang.."


Nurul juga menjadi sangat gugup.


padahal kan yang pakai handbody di


sebelah kanan tadi.


"khmm..tekstur nya juga lembut,


tak terlalu lengket."


"i..iya pak, ada SPF 30 nya juga, bagus untuk


melindungi kulit."


"wah.. sangat bagus, aku juga akan memakai


nya mulai sekarang."


mereka terus bersahutan tanpa saling menatap


karena sama sama salah tingkah.


"Nur masuk ya pak..


makasih.."


ia langsung berlari memasuki rumah tanpa


membawa kantong belanjaan nya.


"i..iya.."


"hisss... harus nya ku cium saja bibir nya tadi.


ihss.. pacar orang woy.."


gerutu Vino seperti orang gila.


...-...


...-...


Sepanjang jalan menuju kamar nya Nurul


terus saja mengelus dada karena hampir meledak.


"ini pasti karena sakit..


iya gara gara cincin itu nih..


duh.. kok panas ya.."


ia mengibaskan telapak tangan nya


ke wajah yang merah merona.


"bunda..."


sambut El yang sudah siap tidur di dalam


kamar Nurul. ia sudah mengenakan piyama


dan juga membawa selimut princess nya.


"El.. kamu siaga banget sih.."


kagum Nurul.


"hehehe..


tapi sebenarnya El ingin ayah juga tidur


di sini."


"waduh... jangan ya, nanti mm..


bunda.." ia bingung bagaimana cara


menjelaskan yang baik dan benar agar El tidak


penasaran lagi.


"Ran.." panggil Vino membuat Nurul


hampir melompat kaget.


"ayah mau tidur di sini?" tanya El kegirangan.


"tidak sayang..


Ayah cuma mau antar kantong belanja


bunda yang ketinggalan."


"oh iya.. makasih pak." Nurul langsung


menerima kantong itu lalu menutup pintu nya.


jderrr...!!


"ck..ck.. apa Bian tak pernah memberikan


pelatihan mental?


aku baru mencium tangan nya dia sudah begini.


apalagi ssshh... demam 2 minggu 3 hari 1 malam tu anak." gumam Vino sambil tersenyum


kecil di sana.


"bunda sama ayah lagi bertengkar ya..?"


tanya El segan, raut wajah nya juga


menunjukkan kekhawatiran.


"El.. jangan tanya yang aneh aneh sama


bunda, atau ayah angkat kamu."


ujar Vino dari luar kamar, ternyata ia mendengar


pertanyaan El. sekalian saja ia jawab agar Nurul


tak di teror El dengan pertanyaan pertanyaan aneh.


"iya ayah..." seru El dari dalam kamar.


...~~~~...


Jam setengah dua malam, El terbangun dan


minta di buatkan susu oleh Nurul.


bingung lah Nurul sebab ia tak pernah


membuatkan susu bahkan untuk si kembar.


"bunda.. mau susu..." rengek El.


"iya iya.. sebentar ya, bunda buat ke dapur dulu.." ia segera keluar kamar. bukan menuju


dapur melainkan menuju kamar Vino


yang terletak di ujung dekat balkon depan.


"Pak.. Pak Vino.."


ia memanggil seraya mengetuk pintu.


"buka aja Ran.."


Nurul pun membuka pintu nya perlahan,


ia terheran melihat Vino yang masih begadang


di temani puntung rokok berserakan.


"kenapa?" tanya Vino.


"mau susu pak.."


"hah? mau kalau boleh.."


sahut Vino dengan lirikan nakal nya.


"eh. maksut Nur, El mau susu.


Nur nggak tau cara bikin nya pak."


"kamu balik aja ke kamar,


biar saya yang buatin."


"iya pak.." Nurul kembali dengan bayang bayang


penasaran, apa sekira nya yang menjadi beban


pikiran Vino kok sampai jam segini belum tidur.


ia juga melihat puluhan puntung rokok


berserakan di depan pintu balkon kamar Vino


tadi. di tambah raut wajah Vino yang sepertinya


sedang banyak pikiran membuat Nurul


semakin prihatin.


...-...


...-...


Setelah menghabiskan segelas susu, El kembali


tertidur di bantu oleh Vino. ya kalau terbangun


tengah malam El memang susah tidur lagi.


Sementara Nurul menunggu di balkon kamarnya


sambil menahan kantuk.


"Ran.. maaf ya El jadi merepotkan kamu."


"nggak apa apa pak.. itung itung latihan kalau besok punya baby.."


Bukan nya keluar, Vino malah duduk di


samping Nurul sambil mengeluarkan


sebatang rokok lagi.


"bapak kok belum tidur?"


"belum bisa.."


sahut Vino.


Nurul merebut rokok yang hendak di bakar


Vino lalu membuang nya.


"bapak udah banyak banget ngerokok


tadi, sayangi kesehatan bapak."


"hh.. cuma itu yang bisa merilekskan saya."


"apa ada masalah?" tanya Nurul ragu ragu.


"tidak ada.."


"hhff.. ya udah keluar gih, Nur mau tidur."


"sebentar.. 5 menit saja."


wajah memelas Vino persis sekali


dengan El.


Vino mendekat, ingin rasa nya ia mengarungi


benua rindu yang selama ini tertahan.


tapi status mereka seakan menjadi


penghalang terbesar nya.


perlahan Vino menggerakkan jemari nya membelai leher Nurul dan semakin


mendekatkan wajah nya.


Nurul langsung mencegah bibir Vino


dengan telapak tangan nya.


"bau rokok.."


"sshhh...


hahhahah....


aku semakin candu belakangan ini."


"keluar sana..


Nur ngantuk.." ia mendorong Vino keluar


dari kamar nya.


"kamu mau saya berhenti merokok?"


"mm.. coba lah kalau bisa.


itu baik untuk kesehatan bapak."


"baik lah..


selamat tidur.... bunda.."


ujar Vino tersenyum lalu menutup pintu


kamar Nurul.


"selamat tidur...


ayah nya El." lirih Nurul di iringi senyum tipis.


...~~~~...


Saat jam makan siang, Bian dan Viona


ke kantin bersama. kebetulan jam tugas mereka


sama hari ini.


Semua rekan rekan Bian sampai tercengang


karena setelah bertahun tahun bekerja disini


baru kali ini Bian makan bersama seseorang.


ya, semua orang mengenal Bian sebagai


lelaki yang lebih suka sendiri. jadi wajar jika


mereka bertanya tanya ada hubungan apa


antara Bian dan Viona.


"wah, kamu memesan ini?


kamu kan tidak suka pedas?"


ucap Bian menunjuk sambal matah milik Viona.


"sesekali mencoba hal yang berbeda itu


nikmat." sahut Viona tersenyum.


"wah.. kamu banyak berubah sekarang."


Bian geleng geleng kepala melihat perubahan


Viona.


"hmm. aku banyak berubah setelah di


campakkan."


"maaf,untuk itu..


tapi ketahuilah masih banyak lelaki yang mencintaimu di luar sana."


"benarkah..


tapi aku hanya mencintai mu."


sahut Viona sambil terkekeh.


"tapi aku mencintai pacar ku.."


Bian juga tertawa enteng.


"ch.. udah tau.."


sahut Viona tersenyum kecut.


"tapi.. apa yang akan terjadi jika


seumpama dia mencintai orang lain?"


tanya Viona bercanda.


Bian: "maka aku akan melepaskan nya.."


Viona: "hahh? kenapa? semudah itu?"


Bian: "karena hanya seumpama hahahha..."


Viona: "kalau ternyata benar?"


Bian: "aku akan tetap melepaskan nya."


Viona: "kenapa.?"


"karena memaksa orang yang tidak mencintai


kita untuk bertahan itu sangat tidak nyaman.


benar kan?"


"i.. iya benar.."


kata kata itu juga terasa sangat cocok untuk


Viona yang harus merelakan cinta nya ke


tangan wanita lain.


"makan lah.. nasi mu mulai dingin."


"aku suka yang dingin.."


"kenapa? hangat kan lebih nikmat?"


"kita berbeda.. jadi jangan tanya kenapa


aku suka atau tidak.!" Viona menghentakkan sendok nya dengan wajah bete.


Sontak saja para perawat dan juga dokter yang


sedang makan siang di sana menerka kalau


mereka sedang berpacaran.


Viona langsung berdiri tanpa menghabiskan


makanan nya.


"aku duluan.." ucap nya datar.


"hmm.." sahut Bian tanpa basa basi.


malah ia memindahkan lauk Viona


ke piring nya.


"ck.. kenapa wanita kalau makan selalu


begini.." gumam nya heran.


...~~~~...


Siang ini Dika sedang santai di dekat kolam renang. ia terkejut saat melihat grup obrolan kerja nya ramai membahas Bian dan Viona.


ada beberapa foto juga yang di ambil


diam diam oleh rekan rekan nya.


"wah.. itu Bian kan?"


celetuk Vino mengintip.


...********...