Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 53: Terluka


Bukan nya menatap wajah Rey,


Ayu malah salah fokus ke arah kerah


baju Rey yang terbuka karena kancing nya


lepas.


Seperti biasa, si tampan yang sangat


peka itu bisa langsung tau apa isi


pikiran Ayu.


"kancing saya nyangkut di dasi tadi.."


ujar nya enteng lalu berlalu pergi


meninggalkan Ayu.


"waahhhh.. kok dia bisa tau sih..


eh? apa.. bener dia itu si Luwak?


kalau bener... dihh.. jorok banget."


gumam Ayu sambil berlari menuju toilet.


...~~~~...


Di rumah sakit...


Gaby dan Nurul membawa Mei


ke ruang UGD karena terjatuh dari


lantai satu saat di kampus tadi.


Ternyata saat itu ia sedang berusaha


menyelamatkan diri dari amukan


teman satu geng nya yang merasa


tertipu soal liburan ke luar Negeri.


Mei mengajak semua teman nya


untuk liburan akhir semester nanti,


dan ia menjadikan diri nya sebagai


orang yang akan mengurus semua


keperluan mereka, untuk itu Mei meminta


mereka semua mengumpulkan uang


sebesar 15 juta perorangan.


Karena mereka semua sultan ya


oke oke aja,tapi semua berubah


saat semua teman nya mengetahui


kebenaran tentang Mei.


di tambah Mei tak bisa mengembalikan


uang mereka, ya semakin menjadi jadi lah


emosi mereka semua.


Akhir nya mereka menggunakan


hot topik yang ada untuk memojokkan,


membully bahkan menyiksa Mei


habis habisan.


sebenar nya bukan jati diri Mei yang


jadi masalah, hanya saja Mei terlalu


banyak berbohong hingga membuat


semua teman teman nya murka.


Dan puncak nya adalah tadi...


Saat Mei sedang terpojok di sudut koridor.


seorang siswi mendorong tubuh nya


dengan sangat kuat, keadaan pun


menjadi fatal karena pembatas kaca


yang di sandari Mei sudah mengalami


keretakan.


Mei pun terjatuh bersamaan dengan


kepingan kaca yang menghujam


seluruh permukaan kulit nya.


beruntung ia mendarat di atas tanaman


pagar, jadi ia tak mengalami benturan


serius walau badan nya penuh luka.


"dek..? kamu ngapain?"


tanya Dika saat hendak memasuki


ruang UGD.


"itu.. Mei kak. dia luka parah..


semua tangan nya..


kaca.. semua nya tertusuk kaca."


Nurul gemetaran sambil menahan


air mata nya.


Mendengar nama itu, kepala Dika


terasa berkobar panas seperti di siram


timah. namun ia tetap profesional


dan masuk untuk menangani pasien.


"duh.. kamu jangan nangis dong Na..


aku jadi ikutan melow nih...


ngapain sih kamu nangisin dia?"


ucap Gaby sambil mengusap usap


bahu Nurul.


"nggak tau By...


aku sedih aja.. 😟😒"


Sepertinya bukan kasihan, melainkan


rasa trauma saat melihat mendiang


Ayah nya yang berlumuran darah


akibat ulah nya.


"udah dong.. jangan nangis ya.."


"Ran....."


panggil Vino dari kejauhan sambil


berlari penuh ke khawatiran.


"Ran.. sayang??


kamu nggak apa apa hmm?


kamu baik baik aja kan?"


dada bidang dan tangan kekarnya


membenamkam wajah Nurul ke pelukan


hangat nya.


"korban nya di dalam.."


ucap Gaby terbata namun tak di hiraukan


oleh Vino.


"kok bisa sih Ran..?


kamu beneran nggak kenapa kenapa kan?"


ia menciumi pucuk kepala Nurul


saking khawatir nya.


"kami pahlawan nya..


kenapa dia memperlakukan Kirana


seperti korban nya? ck...


dasar duda bucin.πŸ˜’"


rutuk Gaby kesal, atau iri lebih tepat nya


melihat besar nya perhatian Vino


pada Nurul.


40 menit kemudian, Dika dan para suster


keluar setelah selesai menjahit hampir


sebagian besar permukaan kulit Mei.


dari tangan, hingga yang terparah di


bagian kepala nya.


Suster membawa nya untuk di pindahkan


ke ruang rawat, Vino Gaby dan Nurul


pun mengikuti.


"kok bisa sih dek? gimana ceritanya coba


dia bisa begitu?"


tanya Dika penasaran, sebab luka nya


persis seperti orang yang kecelakaan


"hei.. jangan tanya tanya dia dulu..


memang nya kamu tidak khawatir


dia ini sedang ketakutan.."


potong Vino.


"tanya aku aja kak..


aku tau kok kronologi nya.."


Gaby unjuk diri sambil tersenyum.


"gimana??"


Dika menoleh dengan tatapan


yang sangat teduh, indah dan uhhh..


mendebarkan pokok nya.


Pikiran nya sudah menjawab, namun


bibir nya tremor hingga tak bisa


bergerak saat menatap mata Dika


yang sangat memabukkan.


"ch.. kejiwaan mereka berdua benar benar


aneh.." lirih Dika tersenyum kecut.


Merasa tak terima, Vino pun angkat


bicara.


"hey.. kamu ngatain kejiwaan


calon istri ku? wahh... tega nya.."


"dia itu adikku.. jadi aku lebih tau."


"yang aneh itu dia tuh.. senyum senyum


nggak jelas, sakit jiwa jangan jangan


tuh dia.." Vino menunjuk Gaby yang


terus memandangi Dika dengan


mata berbinar nya.


"kalian semu aneh.. "


ucap Dika.


"tunggu.. kenapa kamu yang menangani


pasien ini? bukan nya kamu spesalis


kanker?"


"Selain Onkologi, aku juga menyandang


gelar dokter bedah. jadi selain mendiagnosa


dan mengobati aku juga bisa membelah


dan menjahit daging manusia.


jadi diam lah atau bibir mu yang


ku jahit."


Dika mengacungkan jari nya tepat


di depan bibir Vino.


"wah.. kenapa kamu tidak sopan


dengan orang yang lebih tua dari mu?"


"tapi kamu adik iparku kan?"


"ckk.. tetap saja saya lebih tua


dari mu."


"iya tau.. semua orang juga tau


dari kerutan di wajah anda yang


terlihat sangat jelas itu."


tatapan dan senyuman Dika terasa


seperti batu ulekan yang menimpuk


kepala Vino. kecil tapi menjengkelkan.


...-...


...-...


Mei tersadar dari pengaruh bius nya.


walaupun sempat melantur sepatah kata,


kini ia sudah mulai tenang dan bisa


melihat sekeliling dengan jelas.


Ia memandangi sekeliling, wajah


Nurul yang sembab, wajah Gaby yang


penasaran, dan wajah Dika yang menatap nya


sangat dingin.


"bagaimana tekanan darah nya?"


tanya Dika kepada suster.


"masih rendah Pak.."


"detak jantung?"


"stabil Pak.."


"apa ada yang tidak nyaman?


di dada? kepala, atau yang lainnya?"


tanya Dika kepada Mei.


"nggak ada...


cuma seluruh kulit ku rasa nya ngilu.."


lirih Mei menahan perih si sekitaran


lutut nya.


Setelah memastikan keadaan nya,


Dika berniat keluar dan menyerahkan


Mei ke dokter lain.


namun Mei menarik lengan Jas Dika.


"tunggu..


bisa kah,,kita bicara?"


Dika menoleh.


"bicara lah.."


"aku ingin secara pribadi.."


pinta Mei.


"bicara saja, mereka semua keluarga ku.


aku tetap akan menceritakan ini pada


mereka saat di rumah."


Dika mulai jengkel karena Mei bertele tele.


"tapi dia.."


Mei menunjuk Gaby, ia mengisyaratkan


agar Gaby keluar dulu sebentar.


"katakan saja.


saya tidak punya banyak waktu."


ketus Dika.


Walaupun terasa berat, Mei berusaha


bicara semampunya.


"tolong jangan beritahu Ibu ku,,


dan ini.. untuk biaya nya..."


ia menyerahkan gelang emas pemberian


ibu nya untuk di jadikan biaya pengobatan.


Sebenarnya ada banyak yang ingin dia


katakan, namun ia terlalu malu mengingat


perlakuan nya kepada Nurul selama ini.


Dika menerima gelang itu.


"ayo kita pulang.."


Vino, Nurul dan Gaby pun bangkit dari


kursi mereka.


"aku tidak mau menunggu mu di sini.


jadi mintalah bantuan suster kalau


ada apa apa.


dan...


hidup lah dengan baik agar jerih payah


Ayah ku untuk membesarkan mu tidak


sia sia."


ucap Nurul lalu pergi meninggalkan


ruangan itu.


...*********...