
Bukan nya menatap wajah Rey,
Ayu malah salah fokus ke arah kerah
baju Rey yang terbuka karena kancing nya
lepas.
Seperti biasa, si tampan yang sangat
peka itu bisa langsung tau apa isi
pikiran Ayu.
"kancing saya nyangkut di dasi tadi.."
ujar nya enteng lalu berlalu pergi
meninggalkan Ayu.
"waahhhh.. kok dia bisa tau sih..
eh? apa.. bener dia itu si Luwak?
kalau bener... dihh.. jorok banget."
gumam Ayu sambil berlari menuju toilet.
...~~~~...
Di rumah sakit...
Gaby dan Nurul membawa Mei
ke ruang UGD karena terjatuh dari
lantai satu saat di kampus tadi.
Ternyata saat itu ia sedang berusaha
menyelamatkan diri dari amukan
teman satu geng nya yang merasa
tertipu soal liburan ke luar Negeri.
Mei mengajak semua teman nya
untuk liburan akhir semester nanti,
dan ia menjadikan diri nya sebagai
orang yang akan mengurus semua
keperluan mereka, untuk itu Mei meminta
mereka semua mengumpulkan uang
sebesar 15 juta perorangan.
Karena mereka semua sultan ya
oke oke aja,tapi semua berubah
saat semua teman nya mengetahui
kebenaran tentang Mei.
di tambah Mei tak bisa mengembalikan
uang mereka, ya semakin menjadi jadi lah
emosi mereka semua.
Akhir nya mereka menggunakan
hot topik yang ada untuk memojokkan,
membully bahkan menyiksa Mei
habis habisan.
sebenar nya bukan jati diri Mei yang
jadi masalah, hanya saja Mei terlalu
banyak berbohong hingga membuat
semua teman teman nya murka.
Dan puncak nya adalah tadi...
Saat Mei sedang terpojok di sudut koridor.
seorang siswi mendorong tubuh nya
dengan sangat kuat, keadaan pun
menjadi fatal karena pembatas kaca
yang di sandari Mei sudah mengalami
keretakan.
Mei pun terjatuh bersamaan dengan
kepingan kaca yang menghujam
seluruh permukaan kulit nya.
beruntung ia mendarat di atas tanaman
pagar, jadi ia tak mengalami benturan
serius walau badan nya penuh luka.
"dek..? kamu ngapain?"
tanya Dika saat hendak memasuki
ruang UGD.
"itu.. Mei kak. dia luka parah..
semua tangan nya..
kaca.. semua nya tertusuk kaca."
Nurul gemetaran sambil menahan
air mata nya.
Mendengar nama itu, kepala Dika
terasa berkobar panas seperti di siram
timah. namun ia tetap profesional
dan masuk untuk menangani pasien.
"duh.. kamu jangan nangis dong Na..
aku jadi ikutan melow nih...
ngapain sih kamu nangisin dia?"
ucap Gaby sambil mengusap usap
bahu Nurul.
"nggak tau By...
aku sedih aja.. ππ’"
Sepertinya bukan kasihan, melainkan
rasa trauma saat melihat mendiang
Ayah nya yang berlumuran darah
akibat ulah nya.
"udah dong.. jangan nangis ya.."
"Ran....."
panggil Vino dari kejauhan sambil
berlari penuh ke khawatiran.
"Ran.. sayang??
kamu nggak apa apa hmm?
kamu baik baik aja kan?"
dada bidang dan tangan kekarnya
membenamkam wajah Nurul ke pelukan
hangat nya.
"korban nya di dalam.."
ucap Gaby terbata namun tak di hiraukan
oleh Vino.
"kok bisa sih Ran..?
kamu beneran nggak kenapa kenapa kan?"
ia menciumi pucuk kepala Nurul
saking khawatir nya.
"kami pahlawan nya..
kenapa dia memperlakukan Kirana
seperti korban nya? ck...
dasar duda bucin.π"
rutuk Gaby kesal, atau iri lebih tepat nya
melihat besar nya perhatian Vino
pada Nurul.
40 menit kemudian, Dika dan para suster
keluar setelah selesai menjahit hampir
sebagian besar permukaan kulit Mei.
dari tangan, hingga yang terparah di
bagian kepala nya.
Suster membawa nya untuk di pindahkan
ke ruang rawat, Vino Gaby dan Nurul
pun mengikuti.
"kok bisa sih dek? gimana ceritanya coba
dia bisa begitu?"
tanya Dika penasaran, sebab luka nya
persis seperti orang yang kecelakaan
"hei.. jangan tanya tanya dia dulu..
memang nya kamu tidak khawatir
dia ini sedang ketakutan.."
potong Vino.
"tanya aku aja kak..
aku tau kok kronologi nya.."
Gaby unjuk diri sambil tersenyum.
"gimana??"
Dika menoleh dengan tatapan
yang sangat teduh, indah dan uhhh..
mendebarkan pokok nya.
Pikiran nya sudah menjawab, namun
bibir nya tremor hingga tak bisa
bergerak saat menatap mata Dika
yang sangat memabukkan.
"ch.. kejiwaan mereka berdua benar benar
aneh.." lirih Dika tersenyum kecut.
Merasa tak terima, Vino pun angkat
bicara.
"hey.. kamu ngatain kejiwaan
calon istri ku? wahh... tega nya.."
"dia itu adikku.. jadi aku lebih tau."
"yang aneh itu dia tuh.. senyum senyum
nggak jelas, sakit jiwa jangan jangan
tuh dia.." Vino menunjuk Gaby yang
terus memandangi Dika dengan
mata berbinar nya.
"kalian semu aneh.. "
ucap Dika.
"tunggu.. kenapa kamu yang menangani
pasien ini? bukan nya kamu spesalis
kanker?"
"Selain Onkologi, aku juga menyandang
gelar dokter bedah. jadi selain mendiagnosa
dan mengobati aku juga bisa membelah
dan menjahit daging manusia.
jadi diam lah atau bibir mu yang
ku jahit."
Dika mengacungkan jari nya tepat
di depan bibir Vino.
"wah.. kenapa kamu tidak sopan
dengan orang yang lebih tua dari mu?"
"tapi kamu adik iparku kan?"
"ckk.. tetap saja saya lebih tua
dari mu."
"iya tau.. semua orang juga tau
dari kerutan di wajah anda yang
terlihat sangat jelas itu."
tatapan dan senyuman Dika terasa
seperti batu ulekan yang menimpuk
kepala Vino. kecil tapi menjengkelkan.
...-...
...-...
Mei tersadar dari pengaruh bius nya.
walaupun sempat melantur sepatah kata,
kini ia sudah mulai tenang dan bisa
melihat sekeliling dengan jelas.
Ia memandangi sekeliling, wajah
Nurul yang sembab, wajah Gaby yang
penasaran, dan wajah Dika yang menatap nya
sangat dingin.
"bagaimana tekanan darah nya?"
tanya Dika kepada suster.
"masih rendah Pak.."
"detak jantung?"
"stabil Pak.."
"apa ada yang tidak nyaman?
di dada? kepala, atau yang lainnya?"
tanya Dika kepada Mei.
"nggak ada...
cuma seluruh kulit ku rasa nya ngilu.."
lirih Mei menahan perih si sekitaran
lutut nya.
Setelah memastikan keadaan nya,
Dika berniat keluar dan menyerahkan
Mei ke dokter lain.
namun Mei menarik lengan Jas Dika.
"tunggu..
bisa kah,,kita bicara?"
Dika menoleh.
"bicara lah.."
"aku ingin secara pribadi.."
pinta Mei.
"bicara saja, mereka semua keluarga ku.
aku tetap akan menceritakan ini pada
mereka saat di rumah."
Dika mulai jengkel karena Mei bertele tele.
"tapi dia.."
Mei menunjuk Gaby, ia mengisyaratkan
agar Gaby keluar dulu sebentar.
"katakan saja.
saya tidak punya banyak waktu."
ketus Dika.
Walaupun terasa berat, Mei berusaha
bicara semampunya.
"tolong jangan beritahu Ibu ku,,
dan ini.. untuk biaya nya..."
ia menyerahkan gelang emas pemberian
ibu nya untuk di jadikan biaya pengobatan.
Sebenarnya ada banyak yang ingin dia
katakan, namun ia terlalu malu mengingat
perlakuan nya kepada Nurul selama ini.
Dika menerima gelang itu.
"ayo kita pulang.."
Vino, Nurul dan Gaby pun bangkit dari
kursi mereka.
"aku tidak mau menunggu mu di sini.
jadi mintalah bantuan suster kalau
ada apa apa.
dan...
hidup lah dengan baik agar jerih payah
Ayah ku untuk membesarkan mu tidak
sia sia."
ucap Nurul lalu pergi meninggalkan
ruangan itu.
...*********...