
Angka berwarna hijau di atas Lift terus bergerak,tujuan mereka ke lantai 17 yang mana biasa di tempuh oleh Lift kurang lebih 4 menit saja.
Kedua staff itu terus saja saling memberikan kode satu sama lain.
"kau saja.."
"kau saja.."
begitu kira kira kata yang tersampaikan melalui tatapan mata mereka.
Setelah mengumpulkan keberanian,salah satu staff itu membuka mulutnya.
"Bu ..."
"iya??" Fani berbalik badan menatap mereka.
"anu maaf banget sebelum nya, itu resleting baju ibu turun" ujar staff itu,ia merasa segan harus mengatakan nya.
"hah??" Fani langsung menaikkan resleting nya yang memang turun ntah sejak kapan,beruntung ia mengenakan kaos dalam jadi tak terlalu memalukan.
"terimakasih sudah kasih tau saya" ucap Fani menatap canggung pada kedua staff itu.
"i.. iya Bu, sama sama"
...~~~~...
Setelah selesai meeting,Dimas kembali ke kantor nya di dampingi oleh Vino.
namun ia heran saat tak mendapati Fani di sana,padahal dia menyuruh nya menunggu.
Dimas pun bertanya ke karyawan yang ada di sana.
"ada yang melihat istri saya?"
Para karyawan di sana langsung saling menatap bingung. sebab memang mereka tidak melihat Fani sedari tadi.
"memang nya Bu Fani datang pak?"
Dimas langsung menyuruh Vino menelpon para staff yang mengawal Fani tadi.
"tidak di angkat Pak" ujar Vino setelah beberapa kali menelpon.
"cari mereka, Aku akan memeriksa di ruangan cctv" Dimas langsung bergegas.
...-...
...-...
Vino keliling mencari keberadaan kedua staff itu,namun ia hanya menemukan satu orang dari mereka.
"hei...kemana Bu Fani?"
Staff itu bingung,karena pada saat tiba di lantai sepuluh tadi dia keluar lebih dulu untuk mengambil ponsel nya yang tertinggal di ruang keamanan.
"saya turun lebih dulu tadi Pak, Fery yang mengantarkan Bu Fani ke kantor Pak" ujar staff itu.
Di sisi lain Dimas mendapatkan rekaman cctv saat Fani turun dari lift,namun ia kehilangan jejaknya saat Fani melewati titik buta di sebuah lorong yang bahkan panjang nya tak sampai 1 meter.
"periksa bagian mana yang menunjukkan area ini!"
"hanya ada 1 kamera yang menyorot ketitik itu Pak,dan itu sedang dalam perbaikan" jawab staf keamanan itu.
"cepat periksa data pengawal itu!"
Dimas mulai panik.
"Pak...dia tak terdaftar di perusahaan kita"
"apa?!!" Dimas langsung keluar dan menemui staff yang satu nya.
...-...
...-...
Di sisi lain Toni si staff yang mengingatkan resleting baju nya Fani tadi sedang di tahan oleh Vino.
dia mengaku tidak tau apa apa,dia benar benar tak mengenal staff yang bernama Fery itu karena dia juga baru 2 minggu bekerja di perusahaan Dimas,jadi bagaimana mungkin dia mengenal seluruh pengawal yang jumlah nya tak terhitung lagi oleh jari.
Tak hanya Toni,Dimas juga memanggil 4 orang kepala keamanan yang merekrut para staff di perusahaan nya, mereka berlima kini sedang di sidak oleh Dimas dan Vino.
"apa orang ini tidak melewati seleksi kalian?!!"
Dimas meninggikan suara nya sambil menunjukkan rekaman cctv itu.
"k..kami tidak pernah melihat orang itu secara langsung atau bahkan di daftar pelamar kerja Pak" sahut kepala keamanan itu gugup.
"lalu kau tidak mengenal nya?!"
Dimas bertanya pada Toni.
"t..tidak Pak,saya baru bertemu dengan dia pagi ini" jawab Toni sambil mengucurkan keringat dingin.
Tiba tiba seorang staff pengawas cctv masuk.
"Pak!! saya melihat mobil tanpa plat nomor keluar dari basemen pukul 9 tadi."
"tunjukkan pada ku.." Dimas dan staff itu langsung berlari ke ruang cctv.
ia langsung bisa menebak pasti lah mobil itu yang membawa Fani pergi, sebab pukul 9 adalah jam kerja dan semua karyawan sedang sibuk sibuk nya membuka data di komputer mereka pada jam itu.
"ada apa??" tanya beberapa karyawan yang kebingungan melihat Dimas mondar mandir.
"Bu Fani menghilang saat di lift tadi"
" apaa??" mereka langsung bergidik merinding, bagaimana bisa dengan keamanan yang ketat begini masih ada celah bagi orang yang berniat jahat.
...~~~~...
Di sebuah kamar yang temaram,Fani mulai tersadar,ia mengerjapkan kelopak mata nya sembari mencari tau di mana posisi nya sekarang.
tubuh nya yang masih lemas membuatnya tak bisa menggerakkan kepala nya bahkan untuk sekedar menoleh.
"sshh..aahww..." desis nya. ia merasakan nyeri di leher nya. ia pun mencoba mengingat apa yang terjadi.
Ternyata saat menuju ke ruangan Dimas,Fery yang menyamar sebagai staff itu menyuntikkan obat bius ke leher Fani hingga membuat nya tak sadar kan diri.
Mata Fani mulai jelas memandang ke sekeliling kamar yang minim cahaya itu.
kemudian seseorang masuk dan menyalakan lampu nya.
"surprise....."
Fani hampir saja kehilangan kesadaran nya lagi saat melihat orang itu adalah Sean.
"Sean?? bagaimana bisa??"
Fani sangat terkejut hingga jantung nya hampir meledak.
"apa aku harus menjawab pertanyaan mu??"
Sean mendekat ke arah Fani dengan selembar kertas di tangan nya.
"kau kan harus nya di penjara??"
Fani masih saja tak percaya dengan situasi ini.
"hahahha apa kau tidak tau? hukum di Negara kita bisa di atasi dengan uang?"
Sean duduk di sebelah Fani yang kaki dan tangan nya masih terikat.
ternyata Sean hanya beberapa hari di penjara,ia menyogok kepala polisi yang ada di sana dengan jumlah uang yang besar yakni 1,5 triliun dan berjanji akan merahasiakan nya agar posisi mereka sama sama aman.
Fani baru mendapatkan seluruh kesadaran nya,baru lah ia merasakan kalau kaki dan tangan nya terikat.
"apa yang kau inginkan??"
Sean menyerahkan selembar kertas dengan materai di atas nya.
"tanda tangan di sini jika kau ingin ku lepaskan"
"apa??!!"
"kau gila hahh?!!!"
Fani terbelalak melihat kutipan kata di lembaran kertas itu yang bertuliskan aku akan menceraikan Dimas.
"apa mau mu??!"
tanya Fani lagi.
"aku mau kau menceraikan Dimas lalu menikahlah dengan ku" Sean membelai rambut Fani yang menjuntai menutupi setengah wajah nya.
Fani langsung lemas mendengar kata kata itu, ia tak menyangka Sean sedendam itu pada Dimas.
ia berpikir sangat keras, bagaimana cara nya meloloskan diri dari sana.
"nak.. bantu mama..." batin Fani,ia benar benar tak tau lagi harus bagaimana.
"kau mau menandatangani ini,atau aku akan..."
Sean meraba kaki Fani dan menyibakkan dress nya yang menutupi betis.
"baik lah.. aku akan menandatangani nya.."
spontan saja Fani menjawab dengan nafas tersengal.ia tak mau harga diri nya sebagai seorang istri ternodai.
Sean pun tersenyum licik,ia memberikan kertas dan sebuah bolpoin kepada Fani.
"kau tidak akan di rugikan jika menuruti ku"
"kau tidak melepaskan tangan ku? bagaimana aku bisa menandatangi itu"
"jangan coba coba melawan ku!" ujar Sean. ia masih ingat betul bagaimana Fani meloloskan diri dari nya waktu itu.
"aku hampir kehilangan tenaga ku, perut ku pun sudah mulai membesar.
tidak mungkin aku bisa menendang mu seperti waktu itu"
Mendengar jawaban Fani,Sean pun percaya.
lagi pula memang Fani terlibat pucat dan kelelahan.
lalu ia pun melepaskan kedua tangan Fani.
"aku haus.." ujar Fani.
Sean mengambilkan segelas air yang ada di atas meja dekat ranjang itu.
Setelah menghabiskan segelas air Fani menggenggam erat bolpoin itu, ujung nya sudah hampir menyentuh kertas.
"dimana??" Fani berpura-pura bingung.
Sean pun mendekat.
"di sini,dan harus kena di atas materai nya"
tunjuk nya sambil tersenyum penuh percaya diri.
Lalu tanpa aba aba.
"HYAA..!!"
Fani nekat menusuk mata Sean dengan ujung bolpion yang lumayan runcing itu dengan sekuat tenaga nya.
"AAAAAKKK!!!!"
Sean memegangi kelopak mata kanan nya yang mengucurkan darah.
Dengan sisa tenaga yang ada,Fani melepas ikatan kaki nya lalu berlari keluar dari sana.
Tak lupa tas jinjing nya ia ambil agar bisa menelpon Dimas.
"Mas.. tolong... Sean menyekap ku di rumah nya"
Fani mengirimkan pesan suara pada Dimas lalu bersembunyi sebisa mungkin agar tidak tertangkap oleh penjaga di rumah Sean.
Ia berlari kesana kemari mencari tempat aman,namun setiap sudut rumah nya Sean di jaga ketat.
jalan satu satu nya yang paling aman ia pun kembali masuk ke kamar Sean.
Di dalam kamar Sean berusaha menelpon penjaga nya,namun kesulitan karena mata nya sangat sakit dan hampir buta rasa nya.
kesempatan itu pun di ambil oleh Fani,ia mengambil ponsel Sean.
"astaga..." ia terkejut saat melihat mata Sean berdarah darah.
"apa aku menjadi psikopat?" pikir nya.
sebelum nya bahkan untuk memukul seekor nyamuk pun ia tak tega. ntah dari mana dia mendapatkan keberanian yang sangat gila ini.
...*********...