Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 21: Usus Buntu


Setelah acara reunian selesai, Fani berniat segera pulang, tetapi tiba tiba perutnya terasa melilit dan panas sampai kepinggang. Ini sudah terlalu sering ia rasakan. Fani langsung terduduk lemas di lantai, sensasi sakit, mulas dan melilit membuat tubuh keringat dingin.


Beruntung Dimas masih ada disana. Tanpa pikir panjang Dimas langsung menghampiri Fani, berlari panik.


"Fani..? Kenapa kamu?" tanya Dimas cemas.


"lohh? kok om bisa disini?" Fani terheran dengan ekpresi wajahnya yang hampir hilang kesadaran.


Fani terus memegangi perutnya sambil meringis kesakitan, menyadari kondisi cukup kronis, Dimas menggendong Fani dan membawanya ke dalam mobil.


...~~~~...


Di rumah sakit....


Setelah menjalani pemindaian CT-scan, dokter mendiagnosa kalau Fani mempunyai usus buntu. Dan selama ini Fani selalu mengabaikan gejalanya karena ia pikir hanya sakit perut biasa.


Sehingga dokter menyarankan untuk segera di oprasi, kalau tidak akan semakin berbahaya.


"Bu... Fani nggak mau di oprasi bu, takut." Fani merengek kepada sang ibu, yabg setia menemani di sisu ranjang.


"Kalau aku operasi, pasti om Dimas lagi yang bayar. Sudah berapa duit yang dihabiskan Om Dimas untuk keluarga ku? Apa aku bisa membayarnya nanti?" gumamnya dalam hati.


Ia sungguh merasa tidak enak dengan Dimas, karena selalu saja Dimas yang menjadi tumpuan mereka. Fani tidak mau lagi merepotkan Dimas seperti ini.


"Jangan takut kak. oprasi nya sebentar aja kok, cuma di potong segini nih..!" ujar Dika sambil menunjukkan ujung jarinya.


"takut dek.. kakak nggak mau perut kakak di sobek." Fani gantian merengek ke arah Dika.


"Kamu harus mau ya.. dari pada nahan sakit terus." imbuh Dimas yang sedari tadi memegangi tangan Fani, bahkan Fani tak menyadari nya karena saking kalu pikirannya. Ia jadi seperti wanita yang hendak melahirkan, karena Dimas begitu setia mendampingi.


"Bu..." Fani menatap nanar wajah ibu nya.


namun Nita hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya.


.


.


Oprasi pun di lakukan,setelah susah payah mereka semua membujuk Fani. Dia bahkan meracau tak henti henti saat hendak memasuki ruang oprasi, seolah olah dirinya akan mati. Padahal hanya operasi kecil saja, tapi Fani terlalu takut dan memikirkan hal yang tidak tidak.


selesai oprasi....


Kini Fani sudah di bawa ke ruang rawat inap,.matanya terbuka sedikit demi sedikit karena pengaruh obat bius yang sudah mulai menghilang.


Setelah membuka mata nya, Fani langsung lesu ketika melihat sekeliling ruangan yang sudah bisa di pastikan bahwa itu ruangan VIP.


"Satu hari di ruangan ini setara gaji ku sebulan." gumam Fani dengan suara lirih.


lalu ia memandang ke arah sofa di samping nya dan dia mendapati Dimas yang sedang duduk sembari mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"om.." panggil Fani dengan pelan.


Dimas segera menghampiri Fani.


"Nggak om, cuma ngilu-ngilu dikit."


"Ibu mana, Om?" Fani bingung karena tak melihat ibu dan adik-adiknya di sana.


"Ibu sama Dika saya suruh pulang, biar saya yang jaga kamu di sini." jawab Dimas lembut.


"Kita pindah kamar aja yuk,om. Fani nggak mau di sini." Fani berusaha membujuk Dimas. Bisa-bisa membengkak biayanya jika ia disana sampai masa pemulihan.


"Kenapa? Apa kurang nyaman?" tanya Dimas khawatir.


"Ma..hal.." sahut Fani lirih sambil menunduk segan pada Dimas.


"Kamu tidak usah memikirkan soal uang,yang penting kamu sehat." tegas Dimas sambil tersenyum. Ya, jangan bahas soal uang dengannya, jika hanya untuk menghidupi Fani sampai 100 kedepan, uangnya akan lebih dari cukup.


"Tapi Fani nggak enak om, uang om selalu terkuras untuk keluarga Fani, om bayarin rumah sakit ibu. Om bayar hutang sama rentenir, bahkan om belikan Dika motor. Fani takut nggak bisa balikin uang om Dimas." tutur Fani, jika suatu saat hubungan mereka tidak baik, ia takut itu semua akan diungkit.


"Fani, kamu tidak perlu memikirkan itu, saya ikhlas kok, memangnya salah ya kalau saya mau bantu keluarga sendiri." jawab Dimas dengan senyuman hangat nya. Ia juga mengelus lembut kepala Fani. Ya walaupun dilubuk hati tersudutnya, Dimas berharap dengan ini cintanya bisa dirasakan oleh gadis muda itu.


"Tapi kan kita bukan keluarga om, mau sampai kapan Fani membebani om terus." ujar Fani lagi, kini wajahnya terlihat sedih dan hampir menangis. Tetapi ia menahan air matanya sebisa mungkin.


"Menikahlah dengan saya, Fani." ucap Dimas sembari mendekatkan wajahnya ke pada Fani. Terdengar buru-buru memang, tapi Dimas tak mau kehilangan kesempatan. Ia tak mau memberi kelonggaran kepada Fani.


Sontak saja Fani terkejut, dan ekspresi wajah yang tadi mnya sedih menjadi terbelalak seketika. Jantungnya serasa memberontak di dalam sana seperti ingin melompat. Pandangannya menatap dalam mata Dimas, tubuhnya pun menggigil seketika itu juga.


"Me..nikah?" ucap Fani terbata. Sungguh Dimas meminta nya, seorang gadis belia untuk menjadi seorang istri?


"Saya jatuh cinta padamu, saya ingin memiliki kamu seutuhnya." Dimas memandang wajah pucat Fani dengan tatapan sendu. Terlihat begitu banyak cinta yang meluap dimata Dimas saat itu.


"Menikahlah dengan saya. Dengan begitu kita akan menjadi keluarga seutuhnya. Dan kamu tidak perlu merasa sungkan kalau saya membantu ibu." tambah Dimas lagi sembari membelai lembut pipi Fani.


Ia tak perduli jika perhatiannya selama ini dianggap umpan. Ia juga tak perduli dengan angka 15 yang menjadi jarak usianya dengan Fani. Ia hanya menyadari, betapa sempurna sosok Fani jika dijadikan seorang istri. Kepolosan dan ketulusan gadis itu menjadi jaminan kuat, untuk meminimalisir penghianatan.


deg.. deg..


deg.. deg..


deg.. deg..


Jantung Fani benar benar tidak teratur lagi, Dimas lah satu satunya orang yang selalu mendebarkan jantung Fani dengan sangat hebat. Fani mengangkat tangan nyaperlahan, lalu tanpa sadar ia menyentuh wajah Dimas. Wajah pria yang selalu memberinya perhatian selayaknya seorang ayah.


Mereka berdua mematung dan saling menatap, hingga hanyut dalam lautan cinta yang di berikan Dimas.


"om Dimas serius? apa om Dimas jodoh ku? Apa aku bisa mencintai om Dimas?"


Fani terus bertanya-tanya dalam hati nya, apakah Dimas takdirnya? Sulit dipercaya, pria yang selama ini terpatri dibenaknya sebagai seorang paman, kini mengajaknya menikah.


Dimas yang selalu lekat di ingatan masa kecil nya sebagai sosok ayah. Dimas yang dulu mengelus kepalanya saat akan ke luar Negeri, dan kini Dimas kembali mengelus kepalanya namun bukan dengan kata perpisahan, melainkan ajakan menikah.


...*********...