Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 68: Kapan?


ada yg kangen nggak sama otor๐Ÿ™ƒ๐Ÿ™ƒ


Setelah sehari semalam di rawat, Vino


pulang ke rumah Rianti. namun ia masih


menggunakan pengaman di pinggang


serta mengenakan tongkat seperti aki aki


agar dapat menjaga keseimbangan saat


berjalan.


Bukan nya sambutan prihatin, Vino malah


di sambut oleh tawa mereka semua yang


telah melihat adegan jatuh nya Vino


melalui rekaman cctv.


Namun di antara semua orang, Dimas lah


yang berani membuka majelis untuk


menertawakan Vino.


"HAHAHAHAHAHA.....


mau lagi?? di lantai 3 lebih mantep


tuh tangga nya. siapa tau kan balik lagi


tuh pinggang hahahhaha..."


"sshh!!"


Vino hanya bisa mendengus kesal antara


malu dan sakit.


"ahahahahah.. Ayah seperti Opa.


jalan nya bungkuk hahha..."


timpal El tertawa lebar, sungguh hilang


rasa prihatin mereka semua hari ini.


Melihat ketidakadilan ini, Nurul pun


buka suara.


"Mas.. El, udah dong. jangan di ledekin,


kasian loh. nanti dia ngambek terus main


perosotan dari lantai lima gimana


ffftttt....."


Baru hendak tersenyum karena ada yang


membela, eh ternyata istri nya pun


sama saja.


"ck...."


dengus Vino.


Di tengah tengah suasana absurd mereka,


tiba tiba Keenan buka suara.


"El... ini kan udah lebih dari seminggu.


dede bayi kamu udah jadi?"


"sst.. Kei, jangan gitu ah.


kamu pikir buat dede bayi segampang itu?"


ucap Fani sembari menutup mulut Keenan.


El menatap Vino penuh harap, kemudian


tersenyum dan bertanya.


"mana dede bayi nya Ayah?"


Vino menyeringai bingung.


"mmm... "


"dede bayi nya dari papa Dimas aja gimana?


mau..?" celetuk Dimas.


El memutar bola mata nya, alis nya pun


mengkerut sebelah.


"mmm boleh juga, tapi memang kalau


dari papa Dimas berarti dede nya bukan


dede El dong.."


"nggak! Kei belum mau punya dede bayi!"


bantah Keenan, di antara semua orang


tampak nya hanya ia yang tak terima


dengan candaan papa nya.


Fani tertawa geli melihat ekpresi


putra nya.


"hahahaha...


apasih Kei, santai aja kali.


papamu cuma bercanda kok.."


"siapa yang bercanda?"


lirik Dimas sambil tersenyum tipis.


Senyum geli di wajah Fani jadi canggung


karena semua keluarga nya melempar


tawa kecil dan tatapan penuh arti ke arah nya.


...~~~~...


Beberapa pekan kemudian...


Jam menunjukkan pukul sebelas malam.


sinar bulan yang terang benderang menembus dinding kaca, membuat ruangan megah


di rumah Rianti terhias biasan cahaya rembulan.


Seluruh keluarga tampak nya sudah tidur,


namun entah apa yang membuat El


berlari kencang menuruni anak tangga.


ia menuju ke kamar Dika dengan raut


wajah tegang.


"Om Dika... Om..."


panggil El pelan sembari mengetuk ngetuk


pintu kamar Dika.


Dika yang masih sibuk dengan laptopnya


pun langsung menuju pintu sambil


bertanya dalam hati nya.


"ada apakah gerangan??"


krieett...


pintu terbuka, El langsung masuk lalu


menarik tangan Dika untuk berbisik.


"kenapa sih El? ngigau ya kamu?"


ucap Dika terheran.


"Om.. tolongin Bunda..!


tadi El lihat Bunda di cekik sama Ayah!"


mata El sampai berkaca kaca karena takut.


"hah?!!!"


tentu saja Dika terkejut, tanpa berpikir


panjang ia langsung keluar menuju


kamar Vino dan Nurul.


El dengan langkah gemetarnya mengikuti


Dika, siapa yang tidak takut melihat


tindakan kriminal di tengah malam begini?


Tangan Dika mengepal erat di iringi geratan


gigi geraham nya yang menyatu kuat.


"berani berani nya kau menyakiti


adikku!! dasar lelaki brengshake!!"


rutuk nya geram.


Selama hampir dua bulan pernikahan


mereka, Dika memang masih belum


percaya sepenuh nya kepada Vino.


karena Dika benar benar hapal catatan


amal baik dan buruk Vino selama hampir


7 tahun mereka kenal.


ya.. bisa di bilang catatan amal buruk


Vino memang lebih banyak di mata Dika.


jadi hal yang wajar jika sampai sekarang


ia masih mengawasi betul tingkah dan sikap


Vino terhadap adik perempuan nya.


Tanpa ba.bi.bu. Dika langsung membuka


paksa pintu kamar Vino dan Nurul yang


memang saat itu tidak terkunci.


Dan yang di dapati Dika sungguh di luar


dugaan, ini sih termasuk tindakan kriminal


kelas kakap.


"hei?!! apa yang kau lakukan hah?!"


Vino terkejut setengah mati karena


hampir tertangkap basah oleh Dika.


untung saja kegiatan berkembang biak nya


sudah selesai. jika telat sedikit saja,


mungkin Dika akan menyaksikan Live


adegan 21 plus saat itu.


Vino menghampiri Dika yang berdiri kaku


di depan pintu.


"ssshh!!! dimana etika mu hah?


apa kau tidak tau jam segini jadwal


para suami istri sedang melakukan ritual?


aku tau kau belum menikah tapi setidaknya


ketahui hal hal mendasar seperti itu."


bisik nya dengan intonasi tegas.


Seperti nya bukan Vino pelaku kriminal


di sini, tapi Dika lah pelakunya karena


telah membuka pintu kamar orang sembarangan.


"khm.. eee..


El yang memberi tahuku kalau anda..


sssh, El cepat bilang sama Ayah mu!"


El yang berdiri di belakang Dika menatap


sendu wajah Ayah nya.


"Ayah... kenapa Ayah kasar tadi sama


Bunda?"


"hhh?????"


putra nya itu.


"kasar?? memang nya apa yang kamu


lihat hah?"


"El lihat Ayah cekik Bunda sampai Bunda


kesakitan tadi.."


suara El terdengar parau dan gemetar.


"dia memintaku untuk menolong Bunda nya,


itu sebab nya aku kemari karena menghawatirkan adikku."


bisik Dika menatap tajam Vino.


"jadi.. kamu lihat Ayah tadi?"


Vino panik dong, bisa bisa nya ia lupa


mengunci pintu kamar.


El mengangguk pelan.


"tadi El mau tidur sama Ayah Bunda,


tapi..."


Vino menunduk dan merangkul tubuh


mungil El.


"nak.. Ayah nggak cekik Bunda,


Ayah cuma.. ee, Ayah tadi lagi pijitin Bunda


karena Bunda kelelahan."


"tapi kenapa Bunda tadi gelagapan


sambil bilang ampun,sakit.? pasti Ayah


berbuat sesuatu yang jahat kan sama Bunda?"


"mmm.. nggak El, mungkin karena


Ayah terlalu kuat mijit Bunda tadi,


jadi Bunda kesakitan. nih lihat tangan


Ayah besar bukan? pasti ini terasa sakit


karena punggung Bunda yang kecil."


El memperhatikan tangan Ayah nya


yang memang gagah berurat.


"sekarang El balik tidur gih, besok pagi


kan kita mau jalan jalan sama Bunda yakan?"


"iya..."


El berbalik badan menuju kamar Rianti,


namun sebelum itu ia menyempatkan


melirik ke dalam kamar untuk memastikan


Bunda nya benar benar baik baik saja.


"anda bisa membohongi dia, tapi tidak


dengan ku. sekarang izinkan aku masuk


untuk memeriksa kondisi Nurul."


"ck.ck.. dia tertidur setelah kami


melakukannya, kau yakin mau masuk?


dia bahkan belum memakai pakaian nya."


"anda yakin tidak sedang berbohong kan?


awas kalau besok ku temukan Nurul


kenapa kenapa! xxxxxxzzz!!"


Dika menarik garis lurus di lehernya


menggunakan ibu jari lalu beranjak


dari sana.


"iiish!! dasar anak kecil nggak punya


sopan santun! mentang mentang dia


kakak iparku terus seenak nya gitu?


biar begini kan aku lebih tua dari nya.


ku kira perempuan saja yang punya


masalah dengan ipar nya."


gerutu Vino tak henti henti dengan gestur


bibir jengkel.


"mana mungkin sih aku menyakiti


wanita yang bertahun tahun ku idam idamkan, butuh perjuangan keras untuk bisa


memiliki nya..."


bisik Vino tersenyum tipis sembari


mengamati wajah indah istri nya yang


tengah tertidur pulas.


"mmmhhh..!!!"


Nurul menggeliat dan merubah posisi


kaki nya spontan hingga mengenai pinggang


Vino.


"aaghh!"๐Ÿ˜ณ


pinggang yang belum dinyatakan sehat


wal'afiat itu pun terasa retak saat di tabrak


oleh lutut nya Nurul.


...~~...


Di tempat lain, di sebuah kamar bernuansa


hitam abu abu. sepasang netra tampak


sedang menatap lembaran foto dari balik


lensa nya.


Bukan hanya satu foto, melainkan ada


beberapa lembar foto lelaki yang bisa


di bilang rata rata tampan dan gagah.


salah satu nya ada foto Vino yang terpampang jelas.


...-...


...-...


...-...


Pagi hari nan sejuk menyapa keluarga besar Bramasta. Nurul yang baru membuka


mata nya di kejutkan oleh Vino yang


meringkuk kesakitan.


"Mas??? Mas kenapa?"


tanya nya khawatir.


Vino menatap Nurul sambil meringis kesakitan.


"sshh.. pinggang Saya kumat Ran.


seperti nya karena semalam Saya terlalu


bersemangat."


"ffft..."


hampir saja Nurul melepaskan gelak tawa.


bagaimana tidak, semalam Vino berkata


dengan amat yakin bahwa ia sudah pulih


total. namun yang terjadi justru kebalikan nya.


"kan udah Nur bilang, pelan pelan.


Mas sih ngeyel."


ledek nya dengan tatapan geli.


Nurul pun membantu suami nya berdiri.


"gini nih, kalau punya suami aki aki


encokan mulu hahahah๐Ÿ˜„"


"jangan bawa bawa umur deh Ran.


aki aki gini juga kamu sampai mabuk


kepayang kan."


"dih.. mabuk kepayang? mabuk formalin iya hahahhahah...."


"bukti nya, kamu rela ninggalin abang Bian mu yang paling gagah itu."


bibir Vino miring 80 derajat saat menyebut


nama Bian.


"segala masih nyimpan hadiah sepatu bayi


dari dia. gagal move on ya hahahha.."


tambah nya sambil berjalan tertatih.


"apaan sih Mas, sepatu bayi doang jadi


uringan terus. yang penting kan buat


bayi nya sama Mas."


Walau pinggang nya sedang linu bak


atok atok kena rematik.


Vino sempat sempatnya duduk bergaya


di atas meja rias sambil memamerkan dada bidang serta bibir seksi nya.


"kapan nih bisa buang di dalam?


sayang loh buang di luar terus."


ia menatap genit wajah Nurul.


"pertanyaan ini lagi.."


batin Nurul sedikit risau. mata nya yang


semula menatap Vino kini turun di iringi


raut wajah yang salah tingkah.


"Nur masih belum siap Mas..


lagian kan kita udah punya El."


Ya, dia masih belum siap jika harus


menunda kuliah nya karena menjadi


seorang ibu. jika pun di barengi sambil


kuliah, ia tak ingin anak nya nanti kurang


perhatian karena Nurul takut tak bisa


sepenuhnya fokus pada sang buah hati nanti nya.


"Saya tidak sabar mempunyai anak


dari rahim mu..


rahim wanita yang saangaaatttttt Saya cintai..


lagi pula El terus menagih janji kita


untuk segera memberikan nya adik."


Sebenar nya usia juga menjadi faktor


utama mengapa Vino ingin segera


menimang buah cinta mereka.


"Maaf Mas..."


hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.


senyum ceria yang tadi tersemat di bibir


Nurul berubah menjadi garis murung.


...*******...