
ada yg kangen nggak sama otor๐๐
Setelah sehari semalam di rawat, Vino
pulang ke rumah Rianti. namun ia masih
menggunakan pengaman di pinggang
serta mengenakan tongkat seperti aki aki
agar dapat menjaga keseimbangan saat
berjalan.
Bukan nya sambutan prihatin, Vino malah
di sambut oleh tawa mereka semua yang
telah melihat adegan jatuh nya Vino
melalui rekaman cctv.
Namun di antara semua orang, Dimas lah
yang berani membuka majelis untuk
menertawakan Vino.
"HAHAHAHAHAHA.....
mau lagi?? di lantai 3 lebih mantep
tuh tangga nya. siapa tau kan balik lagi
tuh pinggang hahahhaha..."
"sshh!!"
Vino hanya bisa mendengus kesal antara
malu dan sakit.
"ahahahahah.. Ayah seperti Opa.
jalan nya bungkuk hahha..."
timpal El tertawa lebar, sungguh hilang
rasa prihatin mereka semua hari ini.
Melihat ketidakadilan ini, Nurul pun
buka suara.
"Mas.. El, udah dong. jangan di ledekin,
kasian loh. nanti dia ngambek terus main
perosotan dari lantai lima gimana
ffftttt....."
Baru hendak tersenyum karena ada yang
membela, eh ternyata istri nya pun
sama saja.
"ck...."
dengus Vino.
Di tengah tengah suasana absurd mereka,
tiba tiba Keenan buka suara.
"El... ini kan udah lebih dari seminggu.
dede bayi kamu udah jadi?"
"sst.. Kei, jangan gitu ah.
kamu pikir buat dede bayi segampang itu?"
ucap Fani sembari menutup mulut Keenan.
El menatap Vino penuh harap, kemudian
tersenyum dan bertanya.
"mana dede bayi nya Ayah?"
Vino menyeringai bingung.
"mmm... "
"dede bayi nya dari papa Dimas aja gimana?
mau..?" celetuk Dimas.
El memutar bola mata nya, alis nya pun
mengkerut sebelah.
"mmm boleh juga, tapi memang kalau
dari papa Dimas berarti dede nya bukan
dede El dong.."
"nggak! Kei belum mau punya dede bayi!"
bantah Keenan, di antara semua orang
tampak nya hanya ia yang tak terima
dengan candaan papa nya.
Fani tertawa geli melihat ekpresi
putra nya.
"hahahaha...
apasih Kei, santai aja kali.
papamu cuma bercanda kok.."
"siapa yang bercanda?"
lirik Dimas sambil tersenyum tipis.
Senyum geli di wajah Fani jadi canggung
karena semua keluarga nya melempar
tawa kecil dan tatapan penuh arti ke arah nya.
...~~~~...
Beberapa pekan kemudian...
Jam menunjukkan pukul sebelas malam.
sinar bulan yang terang benderang menembus dinding kaca, membuat ruangan megah
di rumah Rianti terhias biasan cahaya rembulan.
Seluruh keluarga tampak nya sudah tidur,
namun entah apa yang membuat El
berlari kencang menuruni anak tangga.
ia menuju ke kamar Dika dengan raut
wajah tegang.
"Om Dika... Om..."
panggil El pelan sembari mengetuk ngetuk
pintu kamar Dika.
Dika yang masih sibuk dengan laptopnya
pun langsung menuju pintu sambil
bertanya dalam hati nya.
"ada apakah gerangan??"
krieett...
pintu terbuka, El langsung masuk lalu
menarik tangan Dika untuk berbisik.
"kenapa sih El? ngigau ya kamu?"
ucap Dika terheran.
"Om.. tolongin Bunda..!
tadi El lihat Bunda di cekik sama Ayah!"
mata El sampai berkaca kaca karena takut.
"hah?!!!"
tentu saja Dika terkejut, tanpa berpikir
panjang ia langsung keluar menuju
kamar Vino dan Nurul.
El dengan langkah gemetarnya mengikuti
Dika, siapa yang tidak takut melihat
tindakan kriminal di tengah malam begini?
Tangan Dika mengepal erat di iringi geratan
gigi geraham nya yang menyatu kuat.
"berani berani nya kau menyakiti
adikku!! dasar lelaki brengshake!!"
rutuk nya geram.
Selama hampir dua bulan pernikahan
mereka, Dika memang masih belum
percaya sepenuh nya kepada Vino.
karena Dika benar benar hapal catatan
amal baik dan buruk Vino selama hampir
7 tahun mereka kenal.
ya.. bisa di bilang catatan amal buruk
Vino memang lebih banyak di mata Dika.
jadi hal yang wajar jika sampai sekarang
ia masih mengawasi betul tingkah dan sikap
Vino terhadap adik perempuan nya.
Tanpa ba.bi.bu. Dika langsung membuka
paksa pintu kamar Vino dan Nurul yang
memang saat itu tidak terkunci.
Dan yang di dapati Dika sungguh di luar
dugaan, ini sih termasuk tindakan kriminal
kelas kakap.
"hei?!! apa yang kau lakukan hah?!"
Vino terkejut setengah mati karena
hampir tertangkap basah oleh Dika.
untung saja kegiatan berkembang biak nya
sudah selesai. jika telat sedikit saja,
mungkin Dika akan menyaksikan Live
adegan 21 plus saat itu.
Vino menghampiri Dika yang berdiri kaku
di depan pintu.
"ssshh!!! dimana etika mu hah?
apa kau tidak tau jam segini jadwal
para suami istri sedang melakukan ritual?
aku tau kau belum menikah tapi setidaknya
ketahui hal hal mendasar seperti itu."
bisik nya dengan intonasi tegas.
Seperti nya bukan Vino pelaku kriminal
di sini, tapi Dika lah pelakunya karena
telah membuka pintu kamar orang sembarangan.
"khm.. eee..
El yang memberi tahuku kalau anda..
sssh, El cepat bilang sama Ayah mu!"
El yang berdiri di belakang Dika menatap
sendu wajah Ayah nya.
"Ayah... kenapa Ayah kasar tadi sama
Bunda?"
"hhh?????"
putra nya itu.
"kasar?? memang nya apa yang kamu
lihat hah?"
"El lihat Ayah cekik Bunda sampai Bunda
kesakitan tadi.."
suara El terdengar parau dan gemetar.
"dia memintaku untuk menolong Bunda nya,
itu sebab nya aku kemari karena menghawatirkan adikku."
bisik Dika menatap tajam Vino.
"jadi.. kamu lihat Ayah tadi?"
Vino panik dong, bisa bisa nya ia lupa
mengunci pintu kamar.
El mengangguk pelan.
"tadi El mau tidur sama Ayah Bunda,
tapi..."
Vino menunduk dan merangkul tubuh
mungil El.
"nak.. Ayah nggak cekik Bunda,
Ayah cuma.. ee, Ayah tadi lagi pijitin Bunda
karena Bunda kelelahan."
"tapi kenapa Bunda tadi gelagapan
sambil bilang ampun,sakit.? pasti Ayah
berbuat sesuatu yang jahat kan sama Bunda?"
"mmm.. nggak El, mungkin karena
Ayah terlalu kuat mijit Bunda tadi,
jadi Bunda kesakitan. nih lihat tangan
Ayah besar bukan? pasti ini terasa sakit
karena punggung Bunda yang kecil."
El memperhatikan tangan Ayah nya
yang memang gagah berurat.
"sekarang El balik tidur gih, besok pagi
kan kita mau jalan jalan sama Bunda yakan?"
"iya..."
El berbalik badan menuju kamar Rianti,
namun sebelum itu ia menyempatkan
melirik ke dalam kamar untuk memastikan
Bunda nya benar benar baik baik saja.
"anda bisa membohongi dia, tapi tidak
dengan ku. sekarang izinkan aku masuk
untuk memeriksa kondisi Nurul."
"ck.ck.. dia tertidur setelah kami
melakukannya, kau yakin mau masuk?
dia bahkan belum memakai pakaian nya."
"anda yakin tidak sedang berbohong kan?
awas kalau besok ku temukan Nurul
kenapa kenapa! xxxxxxzzz!!"
Dika menarik garis lurus di lehernya
menggunakan ibu jari lalu beranjak
dari sana.
"iiish!! dasar anak kecil nggak punya
sopan santun! mentang mentang dia
kakak iparku terus seenak nya gitu?
biar begini kan aku lebih tua dari nya.
ku kira perempuan saja yang punya
masalah dengan ipar nya."
gerutu Vino tak henti henti dengan gestur
bibir jengkel.
"mana mungkin sih aku menyakiti
wanita yang bertahun tahun ku idam idamkan, butuh perjuangan keras untuk bisa
memiliki nya..."
bisik Vino tersenyum tipis sembari
mengamati wajah indah istri nya yang
tengah tertidur pulas.
"mmmhhh..!!!"
Nurul menggeliat dan merubah posisi
kaki nya spontan hingga mengenai pinggang
Vino.
"aaghh!"๐ณ
pinggang yang belum dinyatakan sehat
wal'afiat itu pun terasa retak saat di tabrak
oleh lutut nya Nurul.
...~~...
Di tempat lain, di sebuah kamar bernuansa
hitam abu abu. sepasang netra tampak
sedang menatap lembaran foto dari balik
lensa nya.
Bukan hanya satu foto, melainkan ada
beberapa lembar foto lelaki yang bisa
di bilang rata rata tampan dan gagah.
salah satu nya ada foto Vino yang terpampang jelas.
...-...
...-...
...-...
Pagi hari nan sejuk menyapa keluarga besar Bramasta. Nurul yang baru membuka
mata nya di kejutkan oleh Vino yang
meringkuk kesakitan.
"Mas??? Mas kenapa?"
tanya nya khawatir.
Vino menatap Nurul sambil meringis kesakitan.
"sshh.. pinggang Saya kumat Ran.
seperti nya karena semalam Saya terlalu
bersemangat."
"ffft..."
hampir saja Nurul melepaskan gelak tawa.
bagaimana tidak, semalam Vino berkata
dengan amat yakin bahwa ia sudah pulih
total. namun yang terjadi justru kebalikan nya.
"kan udah Nur bilang, pelan pelan.
Mas sih ngeyel."
ledek nya dengan tatapan geli.
Nurul pun membantu suami nya berdiri.
"gini nih, kalau punya suami aki aki
encokan mulu hahahah๐"
"jangan bawa bawa umur deh Ran.
aki aki gini juga kamu sampai mabuk
kepayang kan."
"dih.. mabuk kepayang? mabuk formalin iya hahahhahah...."
"bukti nya, kamu rela ninggalin abang Bian mu yang paling gagah itu."
bibir Vino miring 80 derajat saat menyebut
nama Bian.
"segala masih nyimpan hadiah sepatu bayi
dari dia. gagal move on ya hahahha.."
tambah nya sambil berjalan tertatih.
"apaan sih Mas, sepatu bayi doang jadi
uringan terus. yang penting kan buat
bayi nya sama Mas."
Walau pinggang nya sedang linu bak
atok atok kena rematik.
Vino sempat sempatnya duduk bergaya
di atas meja rias sambil memamerkan dada bidang serta bibir seksi nya.
"kapan nih bisa buang di dalam?
sayang loh buang di luar terus."
ia menatap genit wajah Nurul.
"pertanyaan ini lagi.."
batin Nurul sedikit risau. mata nya yang
semula menatap Vino kini turun di iringi
raut wajah yang salah tingkah.
"Nur masih belum siap Mas..
lagian kan kita udah punya El."
Ya, dia masih belum siap jika harus
menunda kuliah nya karena menjadi
seorang ibu. jika pun di barengi sambil
kuliah, ia tak ingin anak nya nanti kurang
perhatian karena Nurul takut tak bisa
sepenuhnya fokus pada sang buah hati nanti nya.
"Saya tidak sabar mempunyai anak
dari rahim mu..
rahim wanita yang saangaaatttttt Saya cintai..
lagi pula El terus menagih janji kita
untuk segera memberikan nya adik."
Sebenar nya usia juga menjadi faktor
utama mengapa Vino ingin segera
menimang buah cinta mereka.
"Maaf Mas..."
hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.
senyum ceria yang tadi tersemat di bibir
Nurul berubah menjadi garis murung.
...*******...