
Tak butuh waktu lama untuk Rey belanja,
mereka langsung menuju kembali ke Villa
mengingat hari sudah hampir gelap.
"ini.. untuk mu.."
Rey memberikan sepasang sepatu
berwarna putih kepada Ayu.
"apa ini..?"
tanya Ayu bingung.
"kalau saya nyebut nya sih sepatu."
sahut Rey dengan tatapan lurus
ke depan sambil fokus menyetir.
Ayu sempat ngebug sejenak.
"iya tau.. maksut nya untuk apa..?"
"untuk ganjel jendela biar tidak
jedar jeder kalau kena angin."
ketus Rey tersenyum kesal.
"heh?" Ayu semakin bingung lagi.
"ya untuk di pakai lah Ayu."
"iya saya tau.. maksut saya tuh
ada maksut apa di balik bapak
ngasih sepatu ini ke saya!"
sahut Ayu tak kalah nyolot.
"kalau tidak mau sini.."
Rey menarik kembali sepatu itu.
"nggak.."
lumayankan dapet barang gratisan๐
...~~~~...
Setiba nya di Villa, seluruh keluarga
termasuk Mila dan Riko menyoroti
Ayu dan Rey.
"wihhh.. jalan jalan nggak ajak ajak.."
ucap Fani usil.
"dek.. sini... mama masakin steak
kesukaan kamu.."
seru Nurul bersemangat.
Mereka sedang pesta makanan di sana,
dari mulai steak, sirloid, hingga iga bakar.
namun karena Rey dan Ayu telat, jadi
mereka sudah hampir bubar barisan.
Rianti bangkit dari kursi nya karena
merasa sangat ngantuk.
"mama tidur duluan ya..
ngantuk banget nih,.."
"saya juga deh..
payah orang tua nih, gampang ngantuk.."
imbuh Duma juga bangkit dari kursi nya.
Mengingat jam sudah menunjukkan
pukul 10 malam, di tambah mereka
seharian jalan jalan jadi lelah nya double.
"ayo... siapa yang mau tidur sama Oma.."
ajak Rianti, ia seperti sengaja menawarkan
itu agar para pasutri memiliki kesempatan
baku hantam tanpa gangguan si bocil.
"Ica mau.... Kei juga Oma..
Sam juga mau..."
seru mereka bertiga bersemangat
sambil berlari menyusul mereka duo Oma.
Tidur bersama para Oma menjadi
kesenangan sendiri bagi mereka
karena tentu nya tidak banyak peraturan
seperti tidur bersama orang tua nya.
Namun lain dengan El, ia tetap ingin
tidur bersama Ayah Bunda nya.
"El mau tidur sama Ayah Bunda lagi..
ayo Bunda, kita ke kamar.
El ngantuk banget nih.."
Nurul hanya pasrah menuruti keinginan El.
sementara Vino tersenyum penuh
kemenangan, ya walaupun belum
boleh unboxing.tidur bersama saja sudah
terasa menyenangkan bagi nya walaupun
bolak balik si alex terbangun saat
membayangkan sesuatu.
"akhh.. seperti nya malam malam
di paris sangat indah.."
ujar Vino tersenyum tipis dan menggoda.
Setelah pasangan calon pengantin
masuk ke kamar nya.
giliran Dimas yang memberi kode kode
pertempuran kepada Fani.
"aahwww...
badan Mas pegal pegal banget sayang..
kita istirahat yuk..
kamu pasti ngantuk juga.."
"iya Mas yuk...
kami duluan ya.."
dan juga Rey&Ayu.
Tak berselang lama, Riko juga berniat
mengajak Mila lembur lagi malam ini.
"sayang ayo kita masuk kamar juga.."
ajak nya tanpa basa basi.
"duluan saja, aku masih ingin nonton
Film ini.." sahut Mila tetap mengemil
makanan nya.
Tanpa ba.bi.bu.. Riko menggendong
tubuh Mila dan membawa nya secara
paksa.
"aahhh.. aku masih ingin nonton.."
rengek Mila berusah turun.
"tidak.. ayo kita habiskan satu lagi
malam yang indah.."
bisik Riko sambil tersenyum penuh cinta.
"benarkah..?๐"
ekpresi wajah Mila langsung berubah
saat tau niat Riko yang sebenarnya.
Ayu dan Rey yang mendengar bisikan
mereka pun menjadi akward.
entah bagaimana mereka malah saling
menatap hingga suasana semakin canggung.
"makan Pak.."
tawar Ayu sambil mengunyah pelan
makanan nya.
menyaksikan para pasangan ke kamar
membuat mereka jadi plonga plongo.
"mm...."
Rey mengangguk saja, namun tatapannya
lurus menatap mata Ayu.
Ayu mengalihkan pandangannya
kemakanan, ke kiri kanan, kemudian
ke arah Rey lagi.
"kamu mau ke kamar juga?"
"apa? nggak.! nggak mau saya
satu kamar sama Bapak."
tolak Nurul salah tingkah.
"saya ke kamar saya, kamu ke kamar kamu."
sahut Rey tersenyum dingin.
"oh.. iya.. nanti.. he.he.."
"kamu mikir apa hm?"
Rey tersenyum tipis lalu beranjak ke kamar nya.
"hishh!!! bodoh nya aku!"
rutuk Ayu kesal pada diri nya sendiri.
...~~~~...
"Ran.. sebelah sini dong..."
Vino meminta agar El saja yang di pinggir.
"ih.. nggak mau ahk..
pasti Bapak mau macam macam kan?"
satt... set....
secepat kilat Vino memindahkan El
dari di tengah menjadi ke sebelah nya.
"berapa kali sudah saya bilang
jangan panggil Bapak lagi.
panggil sayang gitu.."
bisik nya sambil mencium kening Nurul.
bughhh!
Nurul menyikut tepat di ulu hati Vino.
"ya ampun... arrgg....
mau saya bawa ke kamar kosong kamu
hmm..??"
"jangan aneh aneh Pak..
nanti di dengar El loh.."
"cium....๐"
pinta Vino manja.
"ihhh.. tidur di bawah sana!
ganggu aja. tuh ada kasur nya tuh di bawah."
kasur empuk berukuran sepuluh centi itu
memang mereka letakkan tepat di bawah
kasur untuk jaga jaga.
Vino yang sedang kumat usil nya pun
memeluk erat Nurul lalu membawa nya
berguling ke kasur bawah.
"aaakk..."
teriak Nurul.
bruk.....
tubuh Vino menjadi landasan mereka.
"Pak?? kalau tadi Nur yang ketimpah gimana?
bisa penyet ketiban kingkong badan Nur."
ia berusaha berdiri namun Vino tak
melepaskan cengkraman tangan nya.
"saya sudah perhitungkan semua nya.."
bisik Vino sambil meraba punggung Nurul.
...**************...